Cinta pertama, semua orang pasti pernah merasakan, itulah yang di rasakan Briana gadis cantik yang baru saja menginjakkan kakinya di sekolah menengah atas atau SMA.
Briana dia mengagumi kakak kelasnya yang merupakan ketua team basket, hanya saja sampai si pria lulus sekolah Briana tidak pernah mengungkapkan perasannya dia hanya menyimpan rasa suka itu di hatinya.
Hari-hari di sekolah Briana lewati dengan santai walau permasalahan mulai muncul namun dia tidak pernah ambil pusing.
Tiga tahun sudah dia sekolah disana dan saat masuk universitas Briana di pertemukan lagi dengan sang pujaan hati.
Apakah Briana mengambil kesempatan ini untuk mendekati sang pujaan hati?....
Yu baca kisahnya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astri Reisya Utami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di hadang pacar orang.
Setelah satu jam dapat hukuman akhirnya aku bisa ikut pelajaran.
"Lo kenapa bisa ke siangan? " tanya Zahara.
"Motor abang gue mogok, " jawab ku dengan nada kesal.
"Abang, jadi yang kemarin jemput lo tuh abang lo? " kaget Zahara.
"Iya, emang lo pikir siapa? " tanya ku balik.
"Gue pikir pacar lo, " jawab nya sambil menunjukan gigi putihnya.
"Dih, ogah gue punya pacar kaya dia, " ucap ku dengan ekspresi jijik.
"Kenapa dia ganteng lo, " puji Zahara dengan ekspresi genit.
Aku hanya memutar bola mata dengar Zahara muji bang Rian.
"Briana, " panggil Tiara teman satu kelas ku.
"Ada apa? " tanya ku.
"Lo di panggil ke kantor tuh, " jawab nya.
Aku melirik Zahara dan Zahara hanya mengangkat bahu tidak tau. Aku pun akhirnya beranjak dari kursi lalu pergi menuju kantor. Jalan ke kantor melewati kelas tiga dan saat aku melirik ke salah satu kelas pandangan ku langsung tertuju ke arah kelas Haidar.
"Ganteng nya, " gumam ku. Namun tiba-tiba Haidar melirik ke arah ku dan aku langsung berpaling dan mempercepat langkah ku. Aku pun sampai di kantor dan langsung mengetuk pintu dan tak lupa mengucap salam. Setelah mendapat jawaban dan langsung di persilahkan masuk baru aku masuk.
"Kamu Briana kan? " tanya salah satu guru yang belum aku kenal dan dia lumayan cantik.
"Iya bu, " jawab ku.
"Sini ada yang mau ibu tanyakan, " panggilnya dan aku pun mendekat.
"Ibu di beritahu sama ketua yayasan kalau kamu adik ipar pak Indra dan ibu dengar kamu pintar dalam pelajaran matematika, " beritahu guru cantik itu.
"Ah enggak bu biasa aja, " balas ku karena aku gak mau sombong juga.
"Ibu ingin tau benar gak, jadi tolong isi soal ini, " ucapnya memberiku sebuah kertas dengan soal matematika.
"Sekarang bu? " tanyaku.
"Iya pengen tau kamu bisa jawab soal-soal itu dalam waktu berapa menit, " jawab nya.
Aku pun langsung duduk dan mengisi soal-soal itu. Tak butuh waktu lama aku mengisi soal itu hanya dengan waktu lima belas menit aku sudah selesai.
"Ini bu, " aku menyerahkan soal tadi.
Guru cantik itu kaget dan langsung memeriksa jawab ku dan semua jawabannya benar.
"Benar kata pak Indra, sekarang ibu sudah dapat kandidat buat mengikuti lomba matematika, " ucapnya.
"Apa bu?, aku gak mau bu, " tolak ku karena dari awal aku gak pernah mau ikut perlombaan seperti itu.
"Kamu gak bisa nolak ini sudah keputusan ibu, " balasnya membuat aku kaget.
"Gak bisa gitu dong bu, aku lo yang akan ikut lomba itu, kalau aku bikin kesalahan gimana karena dari awal aku gak mau, " penjelasan ku.
"Briana, kamu hanya menggantikan kakak kelas kamu yang gak bisa hadir lusa karena sakit. Jadi ibu tolong sama kamu ini buat nama sekolah karena kita sudah akan mengirimkan peserta kalau di batalkan bakal dapat pinalti, " bu guru cantik itu menjelaskan dan memohon padaku.
"Oke tapi kali ini saja untuk kedepannya aku gak mau, " ucapku setuju namun dengan syarat hanya kali ini saja.
"Oke ibu setuju, "balas ibu guru cantik itu.
Aku pun kembali ke kelas dan baru saja tiba sudah bel istirahat dan akhirnya aku gak jadi masuk tapi langsung ke kantin. Di kantin aku ikut kumpul dengan teman satu kelas ku yang lain. Tiba-tiba cowok yang tadi dapat hukuman bareng aku lewat.
"Eh kalian kenal sama tuh cowok? " tanya ku pada teman-teman ku.
"Dia, namanya Zidan, " beritahu Tiara.
"Gue suka deh gayanya, " ucap ku dan mereka malah ngeledek ku padahal aku cuman bilang suka gayanya bukan orang nya.
"Terserah kalian deh, " ucap ku.
Jam istirahat pun selesai dan semua murid masuk dan pelajaran pun dimulai. Semua murid mengikuti pelajaran dengan serius sampai jam pulang. Hari ini aku pulang di jemput kak Kanya karena dia ingin ajak aku belanja.
"Kakak kenapa gak ajak mama aja? " tanya ku.
"Kalau sama mama gak bisa nongkrong dulu harus langsung pulang, " jawab nya saat aku setelah naik mobil.
"Emang kakak mau nongkrong dimana? " tanya ku.
"Ada kafe baru, " jawab nya lalu fokus menyetir.
Tak butuh waktu lama kami sampai di mall dan kak Kanaya hanya beli beberapa barang baru kita pergi ke tempat yang di bilang kakak Kanaya. Sebuah kafe baru dan di sana lumayan rame. Aku hanya pesan minuman saja karena makanannya kurang aku suka.
"Ini enak lo dek, " ucap kakak Kanaya sambil menyuapi ku.
"Enak apaan biasa aja, " jawab ku.
"Dih kamu mah, " balasnya.
"Kak, bang Indra cerita sama siapa tentang aku pintar matematika? " tanya ku.
"Kamu di panggil Sintia? " kak Kanya malah balik nanya.
"Mungkin, aku gak tau siapa nama gurunya., " jawab ku.
"Dia cerita sama kakak dan bang Indra kalau muridnya yang akan mengikuti Olimpiade sakit dan gak mungkin bisa ikut, karena kakak tau kamu pintar ya udah kaka saranin kamu, " penjelasan kakak Kanya.
"Kakak kan tau kalau aku gak suka ikut kaya gitu, " ucap ku kesal.
"Kali-kali napa sih, " ujar nya.
"Ya bukan gitu kak, aku cuman males aja, " ucap ku marah.
"Ya udah kakak minta maaf deh, lain kali gak akan gitu, " ucapnya minta maaf.
Aku pun hanya mengangguk lalu menghabiskan minum ku karena kak Rian sudah jemput aku.
"Kak aku pulang ya, " pamit ku.
"Rian nya udah sampai? " tanya kak Kanaya.
"Udah kak, aku pulang, " ucapku lalu keluar dari kafe itu.
Aku pun pulang dengan bang Rian dan seperti biasa dia menjalankan motor kaya di kejar polisi aja.
Besoknya aku sekolah seperti biasa dan saat ini aku aku berjalan di koridor setelah menemui bu Sintia untuk membahas persiapan besok lomba. Namun tiba-tiba beberapa cewek menghadang ku lalu menarik ku ke samping gedung kosong.
"Mau ngapain kalian? " tanya ku.
"Lo Briana kan? " tanya salah satu cewek yang sepertinya bosnya.
"Iya kenapa? " tanya ku dengan tidak takut.
"Gue April ceweknya Zidan, " beritahu nya dan aku hanya mengerutkan kening karena bingung.
"Gue gak tanya, " ucap ku.
"Eh, lo jangan harap bisa dekati Zidan. Karena dia tuh pacar gue, " bentak April pada ku.
"Siapa juga yang mau dekati Zidan, " balas ku tak kalah membentak.
"Berani ya lo, " teriaknya dan hendak menjambak ku namun aku langsung menghindar.
"Gue cuman suka gaya cowok lo bukan berarti gue suka sama dia, " ucap ku lalu pergi ninggalin mereka yang sudah jatuh karena mengejar ku.
Lagian aku gak ada pikiran buat pacaran apa lagi ngerebut pacar orang.