Luna, masuk kedalam buku.
dia masuk kedalam cerita tentang bos yang menyayangi istrinya.
sayangnya Luna bukan sang istri, bukan juga pemeran penjahatnya, dia bahkan bulan salah satu tokoh penting dalam cerita itu.
dia hanya hidup dalam satu episode dan mati kemudian?
Void Specter, penguasa keluarga Specter yang juga merupakan penjahat terbesar dalam cerita itu, bagaimana bisa menjadi ayahnya?
Evelyn Harold, kekasih masa kecil pemeran utama pria. Tidak hanya cantik tapi juga berbakat, apa itu ibunya?
Namun sayang sekali dia tidak punya banyak waktu dalam cerita, hanya jika ia mati lebih awal ceritanya bisa di mulai, itulah peran ibunya.
Dan dia seorang anak yang meninggal dan hanya muncul dalam beberapa episode kecil.
Tapi siapa takut, pasti ada jalan keluar.
Dia putri surga dengan kemampuan metafisik super, pasti bisa hidup dengan baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PeachyNight, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Luna melihat area penukaran di mal sistem. Yang bisa dia tebus adalah berbagai jimat. Mulai dari jimat berkah, jimat keberuntungan, jimat penangkal bencana, dan masih banyak lagi. Dengan nilai pahala 100-1000, dan berbagai buku lima elemen, trigram, fisiognomi, fengshui, dan seterusnya dengan nilai pahala 1000-10.000.
"Apa ini ?" Tanya Luna.
"Ini di wariskan kepadamu oleh keluarga Specter dari generasi ke generasi." Jawab Cinki dengan sedikit gemetar. Luna menggerutu dia dalam hati, ini keterlaluan, sudah cukup sulit baginya harus mengumpulkan pahala untuk hidup, tapi dia masih harus menukarkan pahala itu dengan benda milik keluarganya sendiri?
"Tuan, jasa keluargamu yang di wariskan secara turun temurun telah membawamu ke kelahiran kembali." Cinki mengingatkan.
"Baiklah, aku akan bersyukur dengan itu."
Kata Luna.
"Luna kemunculan mu di sampingmu, kurang lebih sebagai sebuah plug-in, yang hanya bisa membantumu untuk sementara. Yang harus kau lakukan segera adalah menemukan ayahmu, dia di kelilingi aura ungu yang akan membantu hidupmu."
Cinki berkata lagi.
"Lihat aku? Aku baru berusia tiga tahun. Orang besar itu ada di kota R, dengan tangan dan kakiku yang pendek, bagaiman mungkin aku bisa menemukannya? Aku akan di bunuh jika bertemu para pedagang manusia itu, dan bahkan jika aku pergi, saat aku mengatakan padanya jika adalah anaknya, apa dia akan percaya?" Luna berpikir karena mereka tidak bisa keluar, dan panti asuhan ini sangat membutuhkan dana, sehingga orang-orang di panti telah menyembunyikan hal-hal berharga yang mereka miliki akhir-akhir ini. Dia memang harus menghubungi ayahnya terlebih dahulu untuk memperbaiki taraf hidup anak-anak di sini.
Ketika seorang anak yang tidak bisa membedakan baik dan jahat, juga karena seorang anak tidak mengetahui apa-apa, ada baiknya dia meminta bantuan polisi. Nyonya Eva akan menjemput anak-anak pulang dari sekolah nanti dan akan membutuhkan waktu lebih dari satu jam untuk menjemput mereka semua. Jadi Luna pergi ke meja NYonya Eva mengambil kertas dan pulpen, menulis beberapa kata lalu memasukan catatan itu kedalam sakunya.
"Cinki, bisakah kau memberiku Foto Void?" Tanya Luna.
"Tuan rumah, saya tidak bisa memberikannya, kecuali kau menukarnya dengan poin pahalamu."
"Apa kau pikir aku punya?" Tanyanya sambil memutar mata dengan kesal.
"Orang lain memiliki paket pemula namun aku harus mencari semuanya sendiri, huh."
Sambung Luna.
"Tuan baiklah, aku akan memberikanmu nomor telepon Void." Kata Cinki setelah sedikit pertimbangan.
Luna mengeluarkan catatan tadi dari sakunya dan menambahkan nomor telepon Void kedalamnya. Dia kemudian merangkak melalui lubang anjing di bawah pagar panti asuhan itu, berkat tubuhnya yang kecil dia berhasil lolos dengan mudah. Namun dia masih seorang anak yang baru berusia tiga tahun, jadi untuk membuat orang lain tidak terlalu mencurigainya, saat di merangkak tadi, dia mengusap wajahnya dengan sedikit tanah. Memang kotor, tapi tanpa dia bisa melihatnya, iu sedikit mengurangi dampak psikologis padanya.
Luna keluar dan melihat sekeliling, Ada bangunan rendah di samping panti asuhan, juga selokan di sampingnya, yang baunya sangat menusuk hidung kecil Luna. Ada banyak anak-anak yang baru selesai sekolah di jalan. Luna yang kecil terlihat tidak mencolok di antara anak-anak yang lain, dan dengan tubuhnya yang kecil juga, mustahil baginya untuk berjalan terlalu jauh.
Luna memperhatikan kakek-nenek yang sedang bermain dengan cucu mereka, dia memperhatikan mereka beberapa saat dan meastikan jika mereka adalah orang-orang yang ramah, jadi dia melangkah mendekati mereka dan bertanya dengan mata polos.
"Permisi, nenek dimana kantor polisi di dekat sini?"
Tanya Luna dengan ramah.
Wanita tua itu menatap seorang gadis kecil yang wajahnya tertutupi oleh tanah. Dia sangat kotor, dia tampak seperti baru saja berguling-guling di lumpur. Namun meski begitu, fitur wajahnya yang menawan tidak bisa di sembunyikan dengan baik, matanya yang bersinar cerah seperti permata, hidungnya yang kecil dan halus dan bibirnya yang menguncup seperti buah ceri.
Dia mengenakan pakaian yang penh dengan tanah, tapi sama sekali tidak bisa menyembunyikan ke polosan dan kelucuannya.
"Oh anak kecil, apa yang terjadi padamu? Mengapa kau kotor sekali?" tanya wanita tua itu dengan sedikit prihatin.
"Nenek, aku tidak sengaja terjatuh dan tidak bisa menemukan ayahku, ayahku berkata aku harus menemukan polosi jika tidak bisa menemukannya."
Kata Luna memberi tahu situasi. Para orang tua di sekelilingnya yang juga sedang membawa anak-anak mereka bermain mulai mengerumuni Luna, membuatnya yang tidak suka keramaian menjadi merasa sangat tidak nyaman.
Wanita tua itu mengira Luna ketakutan jadi dia memeluk Luna dengan lembut dan menenangkan.
"Kalian semua pergilah, kalian membuat anak ini ketakutan." Katanya kepada semua orang, lalu menunduk dan menatap Luna dengan ramah.
"jangan khawatir, nenek akan membawamu menemui paman polisi." Setelah mengatakan itu dia berbalik dan menatap anak laki-laki di sampingnya dan berkata,
"Clay ayo pergi dulu mengantar adik kecil ini ke kantor polisi, nanti kita bermain lagi."
Anak laki-laki itu memandang gadis kecil yang sedang di peluk neneknya dan memegang baju neneknya pelan, mengikuti mereka menuju kantor polisi terdekat.
*********
Di kantor polisi, wanita tua itu menyerahkan Luna pada petugas wanita yang ada di sana, dan bergegas kembali bersama cucunya. Sebelum pergi, dia mengatakan akan berkunjung lagi nanti malam.
Clay memandang adik kecil yang terlihat imut itu dan melambaikan tangannya dengan penuh semangat sebelum pergi mengikuti neneknya.
"Anak kecil, Siapa namamu?" tanya polisi wanita itu kepada Luna dengan nada yang sangat lembut, khawatir membuat gadis kecil itu takut.
"Halo, kakak, namaku Luna." Jawabnya sambil tersenyum dengan mata yang sangat cerah.
"Halo Luna, nama kakak Ella." Polisi bernama Ella itu tersenyum sambil menyebutkan namanya.
"Luna di mana orang tuamu?" Tanya Ella lagi.
"Kakak, aku tidak bisa menemukannya, bisakah kau membantuku?" Tanya Luna dengan suara yang manis. Luna memiringkan kepalanya sedikit agar terlihat lebih lucu.
Ella yang melihatnya sedikit terpesona, meskipun wajah gadis kecil itu berlumuran tanah, dia masih terlihat imut.
"Apa kau ingat jalan pulang ke rumah mu atau nomor telepon ayahmu?"
Luna menggelengkan kepalanya dan mengeluarkan secarik kertas dari sakunya. Dia mengulurkan tangannya dan menyerahkan catatan itu kepada Ella.
"Kakak, ini adalah yang di berikan kepadaku." Kata Luna.
Ella melihat catatan kusut yang di serahkan Luna. Dia membukanya dengan hati-hati dan melihat tulisan tangan yang terlihat agak acak-acakan. Ya, itu adalah tulisan tangan Luna, bagaimana pun ia baru berusia tiga tahun, tangannya kecilnya masih belum mahir dalam menggenggam pulpen, itu membuat tulisannya tidak bisa di tulis dengan rapi.
Luna Specter, ayah adalah Void Specter dari Waverly grup, nomor telepon 00XXXXXXXX.
Di sana juga tertulis jika dia bersedia tes DNA, Luna takut jika Void aka mengabaikan polisi dan tidak mau mengakuinya jadi dia menuliskan itu supaya Void bisa lebih percaya jika dia adalah putrinya.
Tapi bagaimanapun dia takut anak tiga tahun itu selalu sulit untuk di percaya.
Ella menatap tulian itu dengan bingung, dia melirik ke anak yang duduk di sampingnya, matanya yang besar berwarna lavender menampakan kepolosan yang agak terlihat bodoh di matanya. Lupakan saja, mari kita menghubunginya dulu.
********
Di gedung lantai atas Waverly grup di kota R, kantor presiden yang luas dan mewah, dengan kombinasi warna hitam dan abu-abu, menghadirkan suasana yang terlihat megah secara keseluruhan, jendelanya dari lantai hingga kelangit-langit, memungkinkan cahaya matahari memasuki ruangan dengan leluasa. Perlengkapan kantor di letakan di atas meja, menunjukan martabat dan keungan pemilik ruangan. Sofa kulit dan karpet yang terbentang menambah nuansa hangat dan elegan. Simbol-simbol ke suksesan terlihat di sekeliling ruangan kantor itu.
Void Specter, sedang duduk di mejanya, wajahnya memiliki kontur yang jelas, dengan garis-garis tegas namun halus, matanya dalam dan samar dengan semburat warna unggu yang terlihat sangat jelas pada irisnya. Rambut pendeknya di sisir dengan rapi ke belakang, membuat penampilan keseluruhannya agung dan menawan.
Void yang sedag berkonsentrasi pada pekerjaan membuatnya terlihat serius, memancarkan aura dingin dan bermusuhan membuat orang lain tanpa sadar ingin menjauh darinya.
Telepon di sampingnya berdering, Void mengerutkan keningnya saat dia melihat nomor yang tidak di kenal memasuki nomor pribadinya. Cody asisten di sebelahnya akhirnya yang mengangkat telepon.
"Halo, siapa ini?" tanya Cody pada orang di seberang.
"Halo, apakah ini tuan Void Specter?" tanya suara di seberang.
"Iya betul."
"Saya Ella dari kepolisian kota B. Putri anda Luna telah hilang dan di kirim ke kantor kepolisian kami . Anda di persilahkan datang dan menjemputnya."
Mata Void menampakan ketidaksabaran sementara Cody di sebelahnya sedikit terkejut.
"Aku tidak memiliki anak perempuan." Kata Void dengan dingin.