Devina Putri Ananta berusaha menata hati dan hidupnya setelah bercerai dari suaminya, Arthur Ravasya Barnett. Perceraian yang terjadi lima tahun yang lalu, masih menyisakan trauma mendalam untuknya. Bukan hanya hati yang sakit, namun juga fisiknya. Terlebih ia diceraikan dalam keadaan hamil.
Devina dituduh berselingkuh dengan adik iparnya sendiri. Akibat kejadian malam itu, saudari kembar Devina yakni Disya Putri Ananta harus meninggal dunia.
"Menikahlah dengan suamiku, Kak. Jika bersama Kak Arthur, kakak enggak bahagia dan terus terluka. Maafkan aku yang tak tahu jika dulu Kak Reno dan kakak saling mencintai," ucap Disya sebelum berpulang pada Sang Pencipta.
Bayang-bayang mantan suami kini kembali hadir di kehidupan Devina setelah lima tahun berlalu. Arthur masih sangat mencintai Devina dan berharap rujuk dengan mantan istrinya itu.
Rujuk atau Turun Ranjang ?
Simak kisah mereka yang penuh intrik dan air mata 💋
Merupakan bagian dari novel : Sebatas Istri Bayangan🍁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 - Kepergian (Berduka)
"Itu masa lalu, Dis. Aku cinta kamu. Percayalah padaku," jawab Reno terpaksa berbohong.
Sebenarnya dalam hatinya masih tersimpan nama Devina. Walaupun ia juga menyayangi Disya dan tak ingin menyakiti wanita yang sebenarnya sudah dianggapnya sebagai sahabat sejak kecil namun berubah status menjadi istrinya.
Disya enggan bertanya kembali. Ia pun memilih untuk memejamkan matanya dan tertidur.
Keesokan paginya, Devina menyambangi Disya. Sejak kejadian petaka itu, Devina tak pernah keluar rumah. Arthur melarangnya. Pagi ini sang suami mengizinkannya, namun tetap ia temani.
Arthur menatap tajam Reno yang tengah duduk di luar ruangan ICU. Kebetulan para orang tua sedang pulang sejenak ke rumah. Berencana siang hari akan kembali ke rumah sakit. Sedangkan Devina kini berada di dalam kamar ICU dan hanya berdua dengan Disya.
Devina pagi ini mengenakan pakaian warna hitam dan serba tertutup. Sebab ia tak ingin ada satu pun orang lain terlebih keluarganya, tahu kondisi fisiknya yang penuh memar akibat K D R T dari sang suami.
"Kak," sapa Disya lirih.
"Hem,"
Saat matanya terbangun, Disya sempat terkejut melihat Devina sudah duduk di kursi dekat brankarnya. Devina memakai kacamata hitam yang bertengger di hidungnya yang mancung. Balutan hijab pashmina hanya ia sampirkan biasa.
Disya cukup terkejut melihat perubahan penampilan saudari kembarnya itu karena tak seperti biasanya. Jarak yang begitu dekat, ekor mata Disya menatap sebuah kecurigaan terutama pada area wajah Devina.
"Pelipis Kak Devi kenapa? Kok kayak memar,"
Deg...
Dibalik kacamata hitam yang ia gunakan, bola mata Devina bergulir resah. Ia terus menunduk lalu mengangkat pandangannya guna menatap sekilas wajah Disya.
"Enggak apa-apa kok, Dek. Tadi enggak sengaja kebentur meja di rumah pas buru-buru mau ke sini,"
"Aku lihat memar itu bukan baru," ucap Disya seraya menelisik kembali tubuh dan penampilan Devina. "Apa Kak Arthur yang pukul?" sambungnya.
Hening tercipta. Devina bingung menjawab pertanyaan Disya.
"Kakak enggak perlu jawab," ucap Disya seraya menghela napas beratnya. Ia sudah menebaknya walaupun sang kakak bungkam. Akhirnya Devina pun bersuara sebab ia tak mau jika Disya mengadukan pada keluarga besar.
"Mas Arthur cuma emosi sebentar saja beberapa hari yang lalu. Tapi, sekarang sudah enggak kok. Buktinya dia anterin aku ke sini buat jenguk kamu. Malahan sebelum ke sini, kita berdua mampir sarapan ke tempat bubur ayam langganan yang jadi favoritku. Sekarang Mas Arthur lagi nunggu di depan," jawab Devina.
Ia berusaha jujur pada Disya, namun juga terselip kebohongan. Sebab Arthur belum sepenuhnya memaafkan Devina. Bahkan sarapan bubur ayam di tempat favorit mereka itu pun hanya sebuah kamuflase Devina agar Disya tak terlalu banyak pikiran terutama perihal rumah tangganya bersama Arthur.
"Menikahlah dengan suamiku, Kak. Jika bersama Kak Arthur, kakak enggak bahagia dan terus terluka. Maafkan aku yang tak tahu jika dulu Kak Reno dan kakak saling mencintai," pinta Disya secara tiba-tiba.
Sontak Devina yang awalnya menunduk, kini mengangkat pandanganya dan menatap Disya.
"Reno mencintaimu, Dis. Aku dan Reno sama sekali enggak pernah berkhianat atau selingkuh,"
"Aku percaya sama Kak Devi. Biarpun seluruh dunia bilang kalian berselingkuh, aku tetap percaya sama suamiku dan Kak Devi. Aku yakin Kak Reno akan bahagia bersama Kak Devi. Riri juga pasti dapat kasih sayang berlimpah dari kalian berdua. Kak Devi selama ini sangat sayang sama putriku, Riri. Titip Kak Reno dan Riri ya, Kak."
Devina menggelengkan kepalanya. Ia berusaha menjauhkan hati dan pikirannya dari sebuah perasaan atau prasangka yang tak enak. Kehilangan.
"Kamu pasti sembuh, Dis. Aku mohon bertahanlah demi Reno dan Riri. Maafkan kakak. Maaf, jika karena kejadian ini kamu kehilangan calon adiknya Riri." Devina sangat merasa bersalah pada Disya.
"Bukan salah kakak. Semua sudah takdir. Aku ikhlas," ucap Disya lirih sekaligus terdengar sendu.
Ya, itulah perbincangan terakhir antara Devina dan Disya.
☘️☘️
San Diego Hills, Karawang.
Keluarga besar Irjen Pol. (Purn) Arjuna Sabda Mahendra tengah berduka. Disya tak mampu bertahan dengan kondisi yang ada. Beberapa hari kemudian setelah berbincang dengan Devina, Disya menghembuskan napasnya untuk yang terakhir kalinya.
Opa Arjuna dan Oma Bening hanya mampu menahan perih di hatinya melihat cucu yang selalu ceria di mata mereka berdua, harus berpulang terlebih dahulu.
"Disya, cucu Oma. Kenapa kamu yang pergi dulu? Kenapa bukan Opa atau Oma? Hiks...hiks...hiks..." jerit Bening dengan linangan air mata dan terdengar begitu memilukan.
Sedangkan Opa Arjuna tak dapat berkata apapun. Ia hanya mampu duduk di kursi roda dan memeluk tubuh sang istri seraya menangis bersama.
Beberapa kali Binar pingsan sebab tak kuasa menahan kesedihan ditinggal Disya, putri cadel kesayangannya. Belum genap usia si kembar satu tahun, Binar lah yang mengasuh Devina dan Disya sebagai ibu sambung mereka. Kasih sayang Binar curahkan penuh pada si kembar dari kecil hingga dewasa. Bahkan tak ada perbedaan dengan ketiga buah hatinya yang lahir dari rahimnya sendiri. Si kembar tetap sebagai putri yang lahir dari hatinya.
Devina hanya bisa menatap acara pemakaman Disya dari kejauhan. Banyak dari keluarga besarnya yang mengucilkannya. Mereka menuding bahwa dirinya adalah penyebab Disya meninggal.
Arthur sengaja tak menghadiri pemakaman Disya. Sebab, ia masih malas bertatap muka dengan Reno. Arthur mengizinkan Devina pergi ke pemakaman Disya dengan didampingi anak buahnya. Namun Devina tak mendekat, ia memutuskan bersembunyi di balik pohon yang berada tak jauh dari makam Disya.
Cahaya matahari bersinar lembut dan angin berhembus tenang menyambut jasad Disya dipeluk bumi. Seakan bumi juga bersedih atas kepergian seorang Disya Putri Ananta yang secara tiba-tiba.
Semua sudah tertulis dalam Lauhul Mahfuz. Takdir adalah rahasia Sang Pemilik Kehidupan. Kita sebagai manusia yang masih hidup hanya bisa mendoakan mereka yang sudah pergi terlebih dahulu.
Acara pemakaman berlangsung lancar. Dion pun tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Walaupun ia masih marah dan kecewa dengan menantunya yakni Reno, Dion tetap mengizinkan lelaki itu berada dekat dengan jenazah Disya hingga masuk ke dalam liang lahat.
"Maafkan aku, Dis. Aku sayang kamu, tapi aku belum bisa melupakan cintaku pada kakakmu," batin Reno.
☘️☘️
Kondisi area pemakaman sudah sepi, karena semua telah kembali ke Jakarta. Keluarga besar memutuskan berkumpul di kediaman Arjuna dan Bening.
Perlahan tapi pasti langkah Devina mendekat pada makam Disya yang berdampingan dengan makam ibu kandung mereka yakni Berliana Cahaya Mahendra. Gundukan tanah merah yang masih basah dengan banyak bunga di atasnya, sebagai pertanda bahwa itu menjadi rumah baru almarhumah Disya. Seketika membuat hati Devina semakin sesak seakan sulit untuk bernapas.
Ia bersimpuh di samping makam Disya. Tak lama gerimis datang menyambutnya. Devina tak peduli dengan gerimis yang turun membasahi tubuhnya. Baju dan kerudung senada warna putih yang ia gunakan, seketika kotor akibat penuh jejak tanah bercampur air hujan.
"Bangun, Dis. Hiks...hiks...hiks..." jerit Devina seraya menangis pilu di pusara Disya. Bahkan akibat kesedihan yang terlalu mendalam hinggap di batinnya saat ini, Devina menelungkupkan wajahnya pada tanah makam Disya.
"Jangan tidur di sini, Dek. Kakak enggak mau kamu kedinginan. Kamu kan suka flu kalau kena air hujan. Bangun, Dis. Pulang yuk sama kakak. Nanti kakak janji belikan permen kapas buatmu yang banyak. Yang penting kamu bangun dan pulang bareng kakak ke rumah," ucap Devina yang belum rela melepas kepergian Disya secepat ini. Ia terus larut dalam tangisan seraya memeluk makam Disya.
Bersambung...
🍁🍁🍁
Sebenarnya dr awal arthur tidak setuju bertunangan dgn lisa krn desakan orgtua terpaksa arthur setuju......
Lisa percuma menikah dengan arthur hatinya hanya miliknya devina seorang,,,
Sebaiknya mundur aja lisa drpd sakit hati,,,
Arthur bertekat akan rujuk kembali sm devina krn terbukti test dna Aaron anak kandungnya,,,,
arthur sangat menyesal telah menyakiti devina sampai melakukan KDRT dan tidak percaya sm devina hamil anaknya.....
thor jd pinisirin Siapakah dalang utama/biangkeroknya merusak hubungan arthur dan devina berpisah...
lanjut thor makin menarik...
Tidak semudah itu jg dimaafkan sm devina dgn keluarganya.....
ijinin Devina buat maafin dan balik lagi sama Arthur thor, bikin Devina ga trauma lagi sama Arthur thor
lanjuuuuut thor
semangaaaaats 💪🏻💪🏻💪🏻