NovelToon NovelToon
Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku

Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku

Status: tamat
Genre:Menikah Karena Anak / Pihak Ketiga / Pengganti / Diam-Diam Cinta / Persahabatan / Cintapertama / Tamat
Popularitas:445.9k
Nilai: 4.8
Nama Author: Mrlyn

Banyak yang bilang jika persahabatan antara seorang pria dan wanita tidak akan bisa terjalin dengan murni, selalu ada perasaan cinta tersembunyi yang tertutup oleh status sahabat dan itu terjadi pada ku ...
Entah sejak kapan itu bermula, nama ku Jasmine, aku memiliki sahabat sejak kecil bernama Gibran, kami tumbuh besar bersama bahkan kedua keluarga kami juga kenal dekat sampai suatu hari ada usulan untuk menjodohkan kami berdua, saat itulah aku sangat senang tapi tidak dengan dia.
Dia mencintai orang lain, sahabat ku yang lain, Ruby.
Aku mencoba ikhlas, aku merelakan cinta pertama ku menikah dengan wanita pilihannya, tapi aku tidak pernah berpikir kalau takdir mengejutkan akan membawaku pada posisi menjadi istri ke dua Gibran.
Hanya saja kisah kami bukan kisah manis yang bisa membuatku mengungkapkan bahwa aku bahagia dapat menikah dengan sahabat sekaligus cinta pertama ku.

...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrlyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Apa pantas meminta perhatiannya?

"Gibran, sebenernya gue-"

"Bentar, ada telepon masuk."

Aku masih belum mengutarakan apa yang ingin aku katakan padanya, tapi Gibran sudah lebih dulu melangkah menjauh sambil mengangkat panggilan teleponnya.

Sekali lagi hatiku merasa sesak karena sebelumnya Gibran tidak pernah menjauh saat menerima telepon.

Aku merasa perasaanku semakin aneh setiap harinya.

Apa yang salah?

Kenapa setiap hal yang berkaitan dengan Gibran selalu menyesakkan dadaku sekarang?

Tidak lama setelah itu Gibran kembali dengan wajah sumringah, "Lo harus makan ya, gue pergi dulu. Bye!" Dia begitu cepat dan terburu-buru.

Dia hanya berpamitan, tapi rasanya seperti dia membawa pergi semua ketenangan hatiku.

Aku kembali mengintip kepergiannya dari balik jendela kamarku, dia berjalan lebih cepat dari biasanya. Apa yang membuatnya sampai seperti itu?

Kulihat dia berhenti sejenak lalu mengangkat panggilan teleponnya dan ekspresi sumringah yang sebelumnya terpancar darinya kini hilang.

Apa yang sebenarnya terjadi? Dia kemudian melangkah kembali memasuki rumahku dan dengan cepat aku kembali menuju meja belajarku karena aku tidak ingin dia sampai tahu kalau aku mengintip kepergiannya.

Sayangnya aku tidak tahu harus melakukan apa, aku menjadi panik sampai saat Gibran membuka pintu kamarku hingga aku begitu terkejut dan akhirnya membuat piring yang terletak tidak jauh dari jangkauanku terjatuh pecah dan menumpahkan segala isinya hingga berserakan di lantai.

"Jasmine!" Gibran begitu terkejut. Ia langsung menghampiriku yang dengan panik mengumpulkan serpihan beling itu dan akhirnya membuat jariku terluka dan mengeluarkan banyak darah.

Darah itu menjadi alasan untukku menangis padahal rasa sakit yang disebabkan oleh pecahan piring itu tidaklah sebanyak rasa sesak di dadaku yang kini sudah tidak mampu lagi menahannya.

"Lo kenapa sih? Udah duduk aja disini, biar gue yang beresin." Dari omelannya, aku masih dapat menangkap getaran khawatir dari sorot mata Gibran yang membawaku duduk di tepi tempat tidur lalu memberikanku sapu tangannya untuk menutup lukaku setelah itu ia dengan sigap membersihkan sisa serpihan piring sekaligus makanan yang sudah kotor.

"Ada apa?" Nenekku datang dengan wajah khawatir, ia masih mengenakan mukena-nya tanda ia baru saja menyelesaikan sholat Ashar. "Nenek denger suara piring jatuh tadi," sambungnya yang terburu-buru melangkah menghampiriku dan langsung memelukku yang masih menangis.

"Sakit, Nek ..." Aku merintih dalam tangisanku dan Nenek langsung menyeka darahku yang terus mengalir dengan sapu tangan milik Gibran.

Sakit sekali, Nek ... Hanya saja sakitnya berasal dari dalam hatiku dan aku tidak tahu kenapa aku kesakitan begini?

"Tunggu disini, Nenek ambilkan kotak obat. Mas Gibran, maaf ya jadi ngerepotin," ucap Nenekku yang langsung melangkah keluar dari kamarku.

Gibran hanya tersenyum menanggapi ucapan Nenekku dan setelah selesai, ia kembali menghampiriku.

Kedatangannya membuat rasa sesak dalam dadaku semakin mencekik, dia yang biasanya selalu menjadi penenang handal yang meredam kegelisahanku saat terkadang merindukan Ayahku kini menjadi bumerang yang seakan membawa rasa sakit yang semakin banyak memasuki hatiku yang sedang kacau ini.

Gibran menghela nafas. "Maaf karena gue udah marah-marah tadi," ucapnya menyesal.

Aku tidak dapat menjawab permintaan maafnya bukan karena aku masih menangis, tapi aku bingung kesalahan apa yang sudah Gibran perbuat padaku hingga aku harus merasa sesak berada di dekatnya karena aku tahu kemarahannya tadi di sebabkan oleh rasa khawatir.

Apa mungkin karena aku merasa Gibran mengabaikanku belakang ini? Apa aku berhak meminta perhatiannya?

"Di cuci dulu nanti infeksi," ucap Gibran yang langsung menggandengku dan membawaku keluar dari dalam kamar berbarengan dengan Nenekku yang baru akan kembali ke kamarku.

Gibran lantas membantuku mencuci tangan, "Sakit, Gibran ..." aku meringis ketika ia tidak sengaja menekan lukaku.

"Maaf, makanya bersihin yang bener."

"Ya makanya gak usah ikut campur sok bantu cuci. Emangnya tangan gue ini cucian kotor main pencet-pencet aja!"

Nenekku hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah ku dengan Gibran yang kembali bertengkar hanya karena hal sepele.

Dia tidak akan menginterupsi pertengkaranku dengan Gibran karena kami memang selalu begini sejak kecil.

"Ini obatnya, Nenek letakan disini, habis itu kalian makan ya. Nenek mau siram tanaman di belakang bentar," ucap Nenekku yang memilih meninggalkan kami berdua daripada pusing terus menerus mendengar kami bertengkar.

Aku yang merasa sedikit jengkel pada Gibran segera melangkah meninggalkannya yang masih belum selesai mencuci sapu tangannya yang terkena noda darahku.

Tanpa meminta bantuan Gibran, aku mengobati lukaku sendiri walaupun sedikit merepotkan dan membuat obatnya berceceran di meja, tapi aku tetap melakukannya, toh Gibran sudah sering mengabaikanku, dia tidak akan mungkin peduli pada hal seperti ini.

Dan sekali lagi hatiku sakit ...

"Gibran yang ganteng tolong dong bantuin obatin ... Kan bisa bilang gitu jadi obatnya gak tercecer kemana-mana. Lo seneng ya buat Nenek cape beresin rumah," ucap Gibran yang kembali marah-marah padaku sambil menyeka tetesan obat yang menetes di meja dengan tissue lalu setelah itu tanpa permisi dan masih dengan mengomel. Ia mengobati luka di tangan ku hingga memasangkan plester untuk menutupi luka ku agar darahnya tidak lagi keluar.

"Ini tuh rumah gue, nenek juga nenek gue! Jangan sok perduli macem lo aja yang bantu nenek bersihin rumah! Lo kan cuma asik numpang makan aja disini."

"Eh ... Eh ... Mulut lo butuh di laundry, ya? Gue itu gak cuma numpang makan ya, gue kan antar jemput lo ke sekolah ya wajar lah nenek kasih gue makan soalnya gue udah bersusah payah jagain cucunya yang nyebelin ini biar pulang-pergi selamat."

"Ya udah kalau begitu gak usah anter jemput lagi kalau gak ikhlas!"

"Bener-bener lo, ya!" Gibran sepertinya sudah habis sabar menghadapi ku hingga melayangkan jitakkan-nya ke atas kepalaku seperti apa yang biasa ia lakukan kalau kalah berdebat dengan ku.

"Dah lah dari pada lo marah-marah gak jelas padahal gak lagi PMS, mending kita makan yuk ...," ajak Gibran yang tersenyum penuh makna diakhir kalimatnya.

"Bilang aja lo itu kemari karena mau makan masakan Nenek bukan mau tanya gue kenapa kan? Lo mana bisa bener-bener peduli sama gue. Marah-marah aja terus kaya cewe PMS!" tukas ku yang langsung melangkah pergi meninggalkan Gibran dan mengurung diriku di dalam kamar.

Tanpa aku tahu respon apa yang Gibran tunjukkan setelah aku mengatakan hal seperti itu.

***

Keesokan harinya aku sengaja berangkat sekolah lebih pagi dari biasanya supaya aku tidak bertemu dengan Gibran, tapi entah kenapa aku tidak bisa berhenti kesal padanya.

Mungkin terlalu pagi aku datang ke sekolah hingga masih belum ada satu orang pun murid yang datang. Hanya ada aku di kelas. Dulu biasanya kalau aku dan Gibran datang sepagi ini meskipun hanya pernah beberapa kali sih, tapi kami selalu melakukan permainan XOX. Permainan sederhana mencoret-coret buku dengan huruf X dan O dan setiap kali yang kalah harus melakukan hal konyol sesuai permintaan yang menang, tapi karena Gibran sudah lulus duluan jadi kami sudah tidak pernah lagi melakukan permainan itu.

Aku merindukan saat-saat itu, saat dimana hanya ada Jasmine dan Gibran.

Apa mungkin kami bisa seperti itu lagi sekarang bila selalu ada Ruby diantara kami?

Aku menghela nafas sekali lagi, rasa sesaknya masih belum juga hilang sejak beberapa hari belakang hingga membuat semangatku juga ikut redup sambil membaringkan kepalaku di atas meja. Aku menatap kosong ke arah jendela yang menampilkan langit pagi yang sedikit mendung, mungkin itulah salah satu penyebabnya kenapa pagi ini terasa lebih gelap dari biasanya.

“Jasmine!!!”

***

1
Felycia Fernandez
Remaja labil, Jasmine cinta tapi gak berani ngomong.merasa posesif ke Gibran padahal hanya sahabat.kalau mank cinta ngomong donk.gak ada salahnya Gibran dekat ma Ruby karena kalian tidak ada hubungan.hanya pertemanan
Shifa Burhan
thor jika kau diposisi gibran manta, kau ketemu mantan dan dia bahagia berhubungan dengan wanita lain, dan kau berkali2 melihat kemesraan mereka, kau berkali2 ditolak dan tidak dianggap, apakah kau masih mau mengemis cinta pada mantan mu itu

jadi novel adil tu buang sisi wanitamu, bersikaplah netral lihat dari semua sisi, rasakan posisi semua sudut padang, jangan hanya melihat dan merasakan dari sudut padang pemeran utama wanita saja karena itu membuat jadi egois karena
Mrlyn: makasih kak masukannya 🫶🏻
total 1 replies
Rika
bagus
Kurnia Hany Aljafar
greget sma jasmin yg lemah
Siti Aminah
kayanya Gibran terpaksa menikahi Ruby krn desakan Bpknya Ruby krn Ruby mengidap suatu penyakit. sdngkan Gibran sblnya cintanya sm Jasmin.
Siti Aminah
sukurin....mkn tuh cinta kamu yg gila
Siti Aminah
jasmin mau jd pahlawan dgn mati sekatar krn sllu tersakiti.
Siti Aminah
malas bahas Jasmin
Siti Aminah
aku malas sama Jas.in terlalu cinta membuat dia jd wanita lemah.
Siti Aminah
jgn cpt terbuai Jasmin. ttp kamu hrs cuekin Gibran
Siti Aminah
kamu egois Gibran. sangat2 egois
Siti Aminah
apa mungkin papanya Jasmin jg papanya Ruby
Siti Aminah
nah loh
Siti Aminah
gibran kmbali baik sm Jasmin..jgn2 dia sdh putus sm Ruby makanya balik lg
Siti Aminah
awas hati2 Jasmin..kau akan lbh sakit lg nantinya teteplah jaga jarak
Siti Aminah
menjauhlah dan fokus lah Jasmin hindari mereka sebisa mungkin agar hatimu tdk lbh sakit lg.
Siti Aminah
seru thor...
Siti Aminah
bqru nyimak thor. kayanya ceeita nya bagus
Mrlyn: makasih kak, selamat membaca 💚✨
total 1 replies
Miche Rahmaya
mampus...😁
Miche Rahmaya
serah kau lah jasmine
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!