NovelToon NovelToon
OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH

Status: tamat
Genre:Horor / Tamat
Popularitas:303.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mari Ani

Mohon maaf untuk tidak boom like reader!
terimakasih.

Omah simbah ini, merupakan cerita fiksi
penulis saja, omah simbah adalah rumah yang sudah di tempati tiga generasi.

Rumah besar dengan gaya kuno ukiran pintu dari kayu jati dengan model kupu tarung semakin memberikan kesan aneh dan seram.

Prameswari merupakan gadis generasi keempat usianya kini memasuki enam belas tahun dengan postur tinggi, kulit coklat, dan tomboy.

Mempunyai kelebihan yang tak di sadarinya
hingga perjalanan mistis yang di laluinya dengan tanpa sengaja membawanya mundur beberapa puluh tahun silam.

Perjalanan yang membawanya mengenal siapa dia sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mari Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 . PENAMPAKAN

Setelah semalam Nur pingsan dan percakapan Nur kemarin, pagi ini ibu benar-benar mencari Prameswari.

"Nur, di mana Prameswari ibu cari kemana mana kok nggak ada?"

"Itu di kamar Bu," jawab Nur.

"Panggil sini Nur!"

Kemudian ibu duduk di bangku yang menghadap ke kamar, sejenak terlihat tersenyum. Melihat Prameswari datang menghampiri.

"Sini-sini sama Simbah," ucap Simbah sembari menepuk bangku kosong di sisinya, setelah itu mengusap mata Prameswari tiga kali.

"Sudah, habis ini sekolah yang pinter."

Prameswari yang masih empat tahun hanya manggut-manggut saja dengan polosnya sambil bermain bumbu kinangan yang ada di hadapan ibu.

"Lihat Nur, anakmu itu masih saja bisa merasa meski Ibu sudah melindunginya."

Ibu terdiam beberapa saat. "Nur, habis ini sebaiknya kamu pulang kerumah suamimu,

ini juga demi kebaikanmu dan juga anakmu. Nur kasihan kalau dia di sini terus, bisa-bisa kesurupan terus Nur."

Setelah mengatakan ini, Nur melihat ibu menghela napas panjangnya sembari meracik bumbu kinang, kemudian ibu berucap lagi.

"Beda kalau dia bisa melihat makhluk astral Nur, mereka akan saling bertegur sapa seperti kita berbicara Nur," ucap ibu sembari mengunyah bumbu kinangnya, sesaat kemudian membuang ludah yang berwarna merah kecoklatan, di tempatnya.

"Ya, Bu kalau itu mau ibu, Nur akan tinggal di rumah Mas Sipun," jawab Nur lagi.

Setelahnya Nur terdiam, masih berfikir. 'Ini kesalahan leluhur , kutukan, atau, ah ... entahlah.'

Melangkahkan kaki Nur menuju ke dapur, sekilas menatap Prameswari sedang bermain bumbu kinangan, hingga terdengar suaranya berguman. "Hm ... enaknya Prameswari mau di kasih."

Mendengar ucapan Prameswari akhirnya Nur mengurungkan niatnya menuju dapur, Nur kembali ke ruang tengah, mengambil Prameswari dan mengajaknya ke kamar.

Betul kata ibu jika Nur dan Prameswari masih di sini. Banyak hal yang akan menganggu Nur dan Prameswari. Memasuki kamar, tiba-tiba suasana jadi hening masih siang pikir Nur.

Angin yang berhembus tiba-tiba serasa menusuk tulang. "Kenapa dingin sekali," ucap Nur perlahan.

Mendekap tubuh Prameswari dengan sedikit erat, aroma melati tiba-tiba memenuhi ruangan kamar. Memindai semua sudut ruangan kamar, melihat Srikanti berdiri di depan pintu mengisyaratkan Nur untuk diam.

Prameswari yang dalam dekapan Nur tiba-tiba tertidur, ada sedikit perasaan lega di hati Nur.

Merebahkan tubuh Prameswari di ranjang begitu juga dengan Nur, tak berapa lama, Nur juga sudah ikut terlelap. Nur terbangun saat Prameswari menangis. "Kok nangis?" tanya Nur sembari mengucek matanya.

"Sini ibu puk-puk, tidur lagi ya?" ucap Nur

sambil mendekat.

Karena Prameswari nggak mau tidur kembali, akhirnya Nur mengajaknya keluar kamar, entah kenapa kini Prameswari kembali menangis.

"Duh ... anak ibu tumben rewel, mau mandi?" tanya Nur. Prameswari hanya mengangguk yang Nur lihat, kemudian Nur menuntunnya ke kamar mandi untuk memandikan Pramesawari, tak berapa lama keluar dengan wajah yang lebih segar.

Belum lama keluar dari kamar mandi kini Prameswari sudah kembali rewel hingga malam menjelang. "Aduh ... Nduk jangan rewel," ucap Nur sembari menggendongnya.

"Mau apa Nak? Jangan buat ibu bingung," ucap Nur, sembari melihat jam. Kini sudah hampir jam sepuluh malam.

"Bobok yuk, ke kamar yuk! Ajak Nur lagi."

Memasuki kamar, Prameswari sedikit tenang. Kembali angin yang dingin dan menusuk tulang kembali berhembus, kembali Nur mendekap tubuh Prameswari. Aroma melati kembali tercium dan kini semakin menyengat, kembali Nur melihat Srikanti berdiri di depan pintu dan kembali mengisyaratkan Nur untuk diam. Masih pukul sebelas malam dan Srikanti masih setia berdiri di depan pintu.

Daun pohon sawo terdengar berisik di terpa angin malam dan semakin lama menjadi angin yang cukup besar dan berhembus kencang.

Nur masih terheran dari mana masuknya angin ini, seakan menabrak daun pintu hingga akhirnya seperti ada sesuatu yang ingin masuk ke kamar, seperti dorongan paksa namun tak berhasil, agak lama, hingga hanya ada suara yang menggema besar.

"OJO MBOK GOWO NGALIH BOCAH IKU SOKO KENE."

( jangan kau bawa pergi anak itu dari sini )

Mendengar suara yang besar, seketika

Srikanti langsung mengibaskan selendangnya. Tiba-tiba kabut tipis mulai muncul, bukan aroma melati yang Nur cium tapi bau ini, ya, bau dari sesuatu yang di bakar, perlahan lahan sosok yang bersuara besar menampakkan wujudnya.

Menyeringai terlihat menyeramkan badannya besar setinggi rumah, kuku yang panjang, matanya merah melotot ke arah Nur dan rambutnya menutupi seluruh tubuhnya nampak hitam legam.

Nur yang mendapati penampakan seperti itu

seketika kakinya lemas dan badannya roboh

dan Nur tak tahu lagi apa yang terjadi selanjutnya.

Saat Nur tersadar sudah ada di atas ranjang dan melihat ibu sedang membalurkan sesuatu di tubuh Nur, baluran yang terasa hangat, tetapi ada bau yang menyengat. Samar Nur melihat Srikanti masih berdiri di sisi Prameswari, kini tersenyum saat Nur melihatnya.

Ibu masih duduk di sisi Nur. "Bu, kenapa sejak kelahiran Prameswari mereka selalu menganggu, dulu Nur juga nggak pernah di ganggu?" tanya Nur pada ibu.

Ibu tak menjawab pertanyaan Nur, hanya tersenyum sambil membuka jendela kamar, ternyata masih pukul dua dini hari dan ibu berdiri di depan jendela cukup lama.

"Cepet pindah sesuk Nur, jangan di tunda-tunda jangan kelamaan kamu di sini, kamu yang bakal di ganggu terus nantinya," ucap ibu.

Kini ibu kembali menutup jendela kamar dan berbalik ke arah Nur, menatap tajam dan

sedikit mendekat ke arah Nur.

"Sudah cepat tidur besok ibu bantu bersih-bersih Nur."

Setelah mengatakan itu kemudian ibu berlalu begitu saja mencium Prameswari sembari tersenyum.

Selepas kepergian ibu. Nur masih belum tenang juga, rasa penasaran dengan apa yang terjadi beberapa hari ini membuat Nur pusing.

"Aneh, semua itu terjadi setelah permintaan Nur pada ibu untuk melindungi Prameswari."

'Kenapa jadi Nur yang bisa melihat dan di ganggu mereka? Memang ada apa dengan rumah ibu ini, pikir Nur lagi.'

Karena lelah dengan perasaannya sendiri dan tak mendapatkan jalan keluar akhirnya mata Nur kembali terpejam. Masih pagi saat ibu membangukan.

"Ayo Nur, cepat keburu siang dan cepat mandi ibu akan bereskan ini." Ibu kini sudah menata rapi semua barang begitu Nur keluar dari kamar mandi.

"Membawa baju secukupnya Nur, toh barang barang mu di sana juga masih ada," ucap ibu.

Setelah beberes membantu, ibu beralih melihat Prameswari yang masih tertidur. "Nanti kalau ada apa-apa bilang ibu Nur," sembari memasukkan baju Nur dan Prameswari kedalam tas cukup besar.

"Nanti berangkat nunggu Prameswari bangun Nur, kamu siap-siap yang lainnya saja."

Nur kembali membereskan beberapa mainan Prameswari untuk Nur bawa ke rumah Mas Sipun.

Hampir satu jam menunggu akhirnya Prameswari terbangun dengan masih terbengong, mengangkat tubuh Prameswari.

"Mandi ya Nduk?" tanya Nur. Kemudian segera memandikannya dan mengganti bajunya.

Berhenti sejenak menatap dua tas besar mungkin agak berlebihan menurut Nur.

Rumah Mas Sipun hanya beberapa gang dari rumah ibu.

"Ayo," ajak ibu sembari melangkah lebih dulu. Berjalan beriringan, ibu dan Nur masing-masing membawa tas besar, sambil menggendong Prameswari.

Setelah berjalan hampir sepuluh menit akhirnya sampai juga Nue di rumah Mas Sipun, melangkahkan kaki untuk pertama kali setelah Nur meninggalkan rumah ini.

"Ya ... empat tahun yang lalu tepatnya."

Rumah yang masih nampak rapi dan terawat, sedikit sedih mengingat semuanya, langkah Nur kembali terhenti saat melewati teras rumah, ayunan yang di buat Mas Sipun pun masih terawat dengan baik.

Nur terkejut saat ibu memanggil.

"Ayo, Nur ..."

1
Nur Bahagia
lhah sejak kapan bu Nur mahfum dgn hal2 seperti ini.. biasanya dia menolak, menentang, menghindar.. sueerr aku pusyiiingg Thor 😵😫
Nur Bahagia
hal lain yg bikin bingung adalah penulisan kalimat saat ngobrol.. campur baur.. tolong di koreksi kak 🙏
Nur Bahagia
ceritanya bagus.. tp penyebutan tokohnya bikin bingung
Nur Bahagia
tau2 penyebutan Nur menjadi ibu 😅
Nur Bahagia
takut mulu.. protes mulu.. pingsan mulu ntar 🤣
Nur Bahagia
yaa kamu juga kenapa ga bisa menerima keadaan?
Nur Bahagia
etdah sering banget pingsan Nur 🤦‍♀️
Nur Bahagia
kok bisa gatau ya.. emang selama ini gimana keseharian Nur dan mbah Rum
Nur Bahagia
om wowo kah yg ganggu? 😱
Nur Bahagia
kayaknya perewangan nya mbah Rum ini.. melindungi Nur dan Prameswari
Nur Bahagia
apa kegiatan mu mbah Rum.. kok sering bepergian 🤔
Nur Bahagia
tersenyum misterius.. hemmm nek 🤨
Nur Bahagia
ohh bayi nya terbungkus air ketuban thoo.. kirain tadi bayi nya suruh bungkus Rum 🙏😅
Nur Bahagia
aku nggak nahan2 lhoo 🤣
Nur Bahagia
wah nama ku Thor 😅
Mai Esya Noor
ya betul betul..sepatutnya sat set sat set..lancar..
Shyfa Andira Rahmi
kenapa ngga ditebang aja siihh pohon jmbunya....ko jdi ikut meringing yaaa😬😬😬
Sri Wiludjeng
Cerita nya seru ... kayak nyata gthu ... Keren dech
Mari ani: Terima kasih Kak, udah mampir di cerita aku
total 1 replies
Shyfa Andira Rahmi
bapanya kemana mbah😅😅
Asih Sulastri
Luar biasa
Mari ani: Terima kasih Kak, sudah singgah di karya aku
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!