[Area termehek-mehek, siapkan tisu untuk menyeka air mata]
George selalu memperlakukan Gabby dengan kasar, dingin, dan mereka berdua selalu berseteru. Hingga membuat Gabby sangat membenci George.
Suatu ketika, Geroge mengetahui siapa Gabby sesungguhnya. Orang yang ia cari selama ini. Ia hendak menepati janjinya untuk menikah dengan Gabby setelah mengetahui identitas wanita itu. Namun sayang, hati Gabby sudah terlanjur beku. Ia sudah membenci George.
Disaat George sedang mencoba mendekati Gabby, seorang pria bernama Marvel hadir dengan membawa pembuktian cinta untuk Gabby.
Hingga suatu hari, George dan Gabby terjebak dalam satu ruangan dan terjadilah malam yang membuat Gabby kehilangan kehormatannya.
“Aku akan bertanggung jawab dengan perbuatanku, aku akan menikahimu.” George.
“Jika kau ingin menikah denganku hanya karena ingin bertanggung jawab atas kejadian ini atau ingin memenuhi janjimu dulu. Maka lupakan, aku tak membutuhkannya.” Gabby.
“Aku tetap mencintaimu, walaupun bedebah itu sudah mengambil sesuatu yang berharga darimu.” Marvel.
Siapakah yang akan dipilih oleh Gabby? George yang sudah merenggut kehormatannya atau Marvel yang menunjukkan betapa besar cintanya pada Gabby?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NuKha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 30
Motor vespa berwarna kuning itu berhenti di salah satu rumah sakit terbaik yang direkomendasikan oleh google saat George mencari informasi dengan ponselnya.
“Kenapa kita ke rumah sakit? Memangnya siapa yang sakit?” Gabby bertanya dengan nada kesalnya.
“Kau!” George tak membiarkan Gabby untuk mengajukan pertanyan lagi. Ia langsung menarik wanita itu, membawa ke ruang Unit Gawat Darurat.
Langsung menghempaskan tubuh Gabby ke brankar yang ada di sana setelah perawat mempersilahkan.
“Lihat luka di betis kirinya dan segera jahit!” titah George pada perawat yang berada di sana.
Wanita dengan seragam serba putih itu melihat luka yang ada di kaki Gabby. Ia begitu terkejut karena luka itu begitu memperlihatkan daging di betis yang kecil itu. Ia bukan terkejut dengan lukanya, namun dengan Gabby yang seolah biasa saja. “Kami harus menunggu dokter untuk melakukannya, tuan. Mohon untuk menunggu sebentar, dokter sedang berjalan kemari,” terang perawat itu.
Gabby yang mendapatkan perlakukan yang dianggap berlebihan hanya karena luka kecil di kakinya itu pun jengah. “Kau ini mempermalukanku saja! Luka kecil seperti ini bisa ku sembuhkan sendiri, bahkan aku bisa menjahitnya sendiri jika aku mau!” sentaknya tak suka mendapatkan perlakuan yang berlebihan dari George.
Gabby hendak berdiri dan meninggalkan rumah sakit sebelum dokter datang, namun sudah dihadang oleh George. “Menurut saja!” tegas George tak ingin dibantah.
Gabby menghembuskan nafasnya, menatap tajam wajah George, ia ingin mencari alasan apa sebenarnya pria itu memperlakukan dirinya seperti saat ini. “Kenapa kau melakukan ini?”
George menaikkan sebelah alisnya. “Melakukan apa?”
“Membelikanku obat untuk luka dan membawaku ke rumah sakit untuk mengobati lukaku?”
George diam, ia tersadar dengan tindakannnya yang tak biasanya bersimpati pada orang lain. Ia juga bingung kenapa dirinya melakukan hal itu. Semua ia lakukan atas nalurinya sendiri. Pria itu memilah-milah jawaban apa yang harus ia ucapkan agar tak membuat Gabby salah paham.
“Karena papamu pasti akan mengamuk denganku jika mengetahui anaknya terluka karena perbuatanku.” Hanya itu alasan yang terfikirkan oleh George. Dia rasa itu alasan yang tepat.
Gabby tersenyum hambar, seharusnya ia sudah tahu bahwa George tak mungkin melakukannya karena menaruh rasa dan khawatir dengannya. Mustahil! Seharusnya kau sadar diri!
Tak berselang lama, dokterpun datang. “Selamat siang,” sapanya ramah.
“Siang, dok.” Bukan George, bukan juga Gabby yang menjawabnya. Tapi perawat yang menunggu kedatangan sang Dokter. Perawat itu memberitahukan luka yang dialami Gabby, dan dijawab anggukan kepala.
Dokter itu langsung menghampiri Gabby yang duduk di brankar dengan kaki yang ditekuk di atas sana.
“Saya periksa kakinya terlebih dahulu, ya?” ijin Dokter itu lalu melihat betis Gabby. “Sedikit dijahit, tak apa, ya? Tahan, kan?”
“Jahit saja!” Bukan Gabby yang menjawab, namun George.
Dokter tersenyum dan mengangguk mengerti. “Saya siapkan keperluannya sebentar, dilakukan disini tak apa, kan? Karena luka kecil dan tidak membutuhkan operasi besar. Kebetulan ruang operasi sedang digunakan semuanya.”
“Lakukan saja!” Lagi-lagi George yang menjawabnya. Ia tak memberikan ruang untuk Gabby menjawab pertanyaan Dokter.
Dokter itu pun segera memberikan perintah pada perawat untuk mempersiapkan keperluannya. Setelah siap, ia memasangkan sarung tangan medis di kedua tangannya yang sudah disterilkan. “Saya bius lokal, ya? Agar tak sakit.”
“Tidak perlu! Lakukan saja tanpa bius.” Kali ini Gabby yang bersuara.
mending mati aja klo kyk gtu
huhuhu😭😭😭
sakit bngt jd gabby
*aku kalau diposisi George mana mau menunggu gabi, ditolak, melihat gabi bermesraan dengan pria lain, melihat gabi bercumbu dengan pria lain, dan hanya dibuat kayak boneka yang pasrah dan megiti gabi selesai dia harus ada
thor aku tanya pribadi padamu, apakah kau diposisi George dan dilakukan kayak gitu kau mau menerima begitu saja
thor jadi novelis netral, lihat lah semua disitu pandang jangan hanya melihat sudut pandang wanita saja
*sudut pandang gabi enak menolak Georg menikah dan bercumbu dengan pria lain didepan Georg setelah dia selesai dengan pria itu, Georgia harus ada untuknya, enak benar hidupnya
*yang kasian geoge, ditolak, harus pasah melihat gabi bermesraan dan bercumbu dengan pria lain, setelah gabi selesai dengan pria itu, George harus menerima begitu saja
thor pakai hati berkarya, kalau kau adil buat gabi berjuang juga untuk George, karena faktanya gabi telah melukai hati George, jangan semudah itu, kalian buat George kayak boneka yang tidak punya hati yang bisa terluka juga
pakai hati thor