Bukan novel Plagiat! Kalau ditemukan isi(Alur, nama tokoh, seting tempat, waktu, sudut pandang) cerita sama dengan yang lain, silahkan report karya ini, namun kalau tuduhan itu tidak terbukti, saya yang akan balik mereport anda, seperti itu😊
Berdasarkan kisah seorang teman ditambah dengan bumbu-bumbu halu. Nama dan profesi disamarkan. Sebut saja namanya Lia, dia datang ke kota untuk mencari kerja, sampailah dia bertemu dengan Sera, yang menawarkannya untuk bekerja menjadi pengasuh anaknya, dan inilah kisahnya.
Awalnya kupikir rumah tangga yang aku jalani dengan Mas Haris selama tiga tahun ini baik-baik saja. Tapi ternyata aku salah, saat itu aku tidak sengaja membuka pesan mesra yang dikirimkan suamiku untuk wanita lain, aku bertanya-tanya, siapa wanita itu? Mungkinkah Mas Haris cuma bercanda dengan rekan kerjanya?
Tapi ternyata orang ketiga itu adalah orang terdekatku, orang yang tinggal satu atap denganku, orang yang aku perlakukan dengan baik, ternyata dia orang ketiga di dalam rumah tanggaku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon violla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meminta Restu
Sebuah pesawat baru saja mendarat dengan selamat di Bandara Internasional Kualanamu, Sumatera Utara, seorang laki-laki tampan yang membalut tubuh tegapnya dengan kaos berwarana hitam serta celana jens dengan warna senada ini nampak keluar dari Bandara dengan menggendong seorang bocah yang terus saja mengoceh sedari masih di dalam pesawat, sesekali ia menoleh dan tersenyum saat wanita yang berjalan di sampingnya ini mengajaknya bicara.
Cahaya matahari sudah mulai menyinari bumi, masih jam 09 pagi waktu setempat saat mereka keluar dari Bandara, namun sinarnya sangat menyilaukan mata, hari ini adalah untuk pertama kali Sera membawa laki-laki asing ke rumahnya setelah Haris beberapa tahun yang lalu.
"Jangan jauh-jauh," Hakim menarik tangan Sera untuk memastikan agar Sera tidak berada jauh darinya.
Wanita yang baru saja meyakinkan diri untuk menikah lagi dengan Hakim ini, terheran melihat tingkah Hakim, ia mengangkat tangannya yang dipegang Hakim, "tenang aja, Mas. Aku gak akan hilang, tiap tahun juga aku pulang ke sini, jadi aku sudah hapal sama semua wilayah di sini," jawab Sera.
"Aku gak takut kamu nyasar, tapi aku takut kamu dilihatin orang, setidaknya kalau kamu di samping aku, mereka gak akan berani lihatin atau godain kamu," bisik Hakim di telinga Sera,
"kalau kita bergandengan seperti ini kan, kelihatan seperti suami istri, ada aku, kamu dan Bima," satu kecupan mendarat di kening Bima.
"Makanya kamu harus berusaha meyakinkan bapak aku Mas.Aku udah cerita sama kamu, sepertinya bapak belum setuju kalau aku menikah lagi, Mas."
Sera terlihat sendu, mengingat peringatan yang diberikan ayahnya sebelumnya, perkataan itu masih terdengar jelas di telinga.
Kamu jangan buru-buru untuk menikah lagi, pernikahan bukan untuk dipermainkan, kalau bisa dan usahakan menikahlah satu kali seumur hidup, bapak tidak menyalahkan kamu, tapi bapak berharap setidaknya kamu bisa mengambil hikmah dari perceraianmu dengan Haris, bapak tidak mau kamu tersakiti untuk yang kedua kali.
Hakim merangkul Sera dengan satu tangannya," wajar jika bapak khawatir sama anaknya, tapi kamu tenang saja, aku akan berusaha meyakinkan bapak kalau niatku menjadikanmu istriku adalah niat yang tulus dari dalam hatiku."
Sera menjadi lebih tenang, diambilnya Bima dari tangan Hakim. "Aku berharap pernikahan ini yang terakhir untukku, dan terima kasih karena kamu sudah mau menerima Bima sebagai anakmu sendiri, Mas."
"Aku tidak perduli apapun Sera, semua bisa aku lakukan dan aku tinggalkan demi kebahagiaan kalian berdua."
Hakim membuka kaca mata yang tadi bertengger di hidungnya, saat seseorang datang untuk menyerahkan kunci mobil yang sudah di sewa Hakim dari jauh hari, tentu saja ia sudah menyerahkan jaminan agar bisa mengemudikan mobil ini seorang diri.
*****
Ntah kenapa, Hakim merasa sedikit gugup saat sudah berada di depan rumah Sera, mengingat ini untuk yang pertama kali ia datang melamar anak orang tanpa di dampingi orang tuanya.
"Apa kamu sudah berubah pikiran, Mas?"
Suara Sera mengembalikan kesadaran Hakim, "tidak segampang itu, Ra. Ayo kita turun."
Sementara tepat di dalam rumah, dari balik jendela Pak Doyo bapak kandung Sera, memilih diam saat melihat tamunya membukakan pintu mobil untuk Sera, ia tidak menyangka kalau Sera, benar-benar membawa calon suami keduanya ke hadapannya.
Assalamu'alaikum....
Sera sudah berada di ambang pintu rumahnya, menggendong Bima yang sudah tertidur.
Wa'alaikumsalam....
Pak Doyo, laki-laki paruh baya dengan warna rambut putih ini, sudah membuka pintu, "kamu jadi pulang, Nak?"
Sera mencium punggung tangannya, "iya, Pak. Sera kangen sama Bapak."
"Kamu sengaja pulang untuk Bapak. Atau punya maksud lain?" Pak Doyo melirik Hakim.
"Saya, Hakim Pak," beruntung Pak Doyo masih mau menjabat tangan Hakim.
"Bima sudah besar, baringkan di dalam kamar, dia pasti capek," perintahnya, "masuklah!" ucapnya kepada Hakim.
"Langsung saja, apa tujuan kamu datang ke rumah saya yang kecil ini?" Pak Doyo langsung mencecar Hakim dengan pertanyaan, Sera baru saja bergabung dengan membawa nampan berisi dua gelas teh hangat yang diletakkan di atas meja. Lalu ia kembali masuk ke dalam kamar menemani Bima.
"Tujuan saya datang ke sini karena saya ingin melamar Sera dan menikahinya, Pak. Saya tahu ini terlalu cepat untuk kami membina rumah tangga, mengingat Sera belum lama berpisah dari suaminya," Hakim sejenak menggantungkan ucapannya, dengan penuh sungguh-sungguh Hakim menatap Pak Doyo. "Saya sudah lama mencintai Sera, Pak. Bahkan ketika almarhumah Ibu Sera masih ada, saya sendiri sudah pernah beberapa kali bertemu dengan Ibu."
Pak Doyo tampak terkejut, seingatnya ini untuk pertama kali Hakim menginjakkan kaki di rumahnya, tapi kapan dia bertemu dengan mendiang iatrinya? Apa karena faktor usia sudah melemahkan daya ingatanya?
"Nak, Hakim. Bapak tidak pernah melarang Sera untuk berhubungan dengan siapapun, dulu Sera menikah juga karena pilihan dan kemauannya sendiri, tapi kita tahu akhirnya seperti apa? Mantan suaminya sudah melukai hati Sera, padahal dulu dia sendiri yang datang meminta restu sama seperti yang kamu lakukan ini, "Pak Doyo mengangkat telapak tangannya, "dengan tangan ini Bapak menikahkan dan menyerahkan Sera kepada suaminya, saat itu juga Bapak melepaskan tanggung jawab Bapak terhadap Sera, karena Bapak sadar, mulai hari itu suaminya lebih berhak terhadap Sera."
Pak Doyo menyeka air matanta, "Dia tidak tahu, bukan cuma Sera yang terluka, tapi sebenarnya Bapak yang paling terpukul, Bapak dihantui rasa bersalah karena sudah menyerahkan anak kesayangan Bapak sama dia, merelakan dia membawa Sera pergi dari rumah ini, jauh dari Bapak, dan akhirnya pengkhianatan dan perceraian dialami Sera."
Pak Doyo berdiri, "sekarang kamu datang ke rumah ini dengan alasan yang sama, dengan alasan meminta restu, Bapak tidak akan mengulangi kesalahan lagi, lebih baik ... biarkan Sera sendiri dulu," ucap Pak Doyo.
Hakim terpaku saat Pak Doyo meninggalkannya, "orang tuamu sangat menyayangimu Sera, hatinya masih terpukul karena perceraianmu, lalu harus dengan cara apa aku meyakinkannya?" gumam Hakim.
****
"Tidak baik membawa tamu menginap lebih lama di rumah ini, biarkan dia istirahat sebentar di sini, bapak harap sore nanti dia sudah pergi."
Sera tahu hasilnya pasti akan seperti ini, "Pak, Mas Hakim dan Mas Haris dua orang yang berbeda. Mas Hakim tulus menerima Sera dan Bima."
"Apa kamu masih ingat ... dulu kamu juga berusaha meyakinkan Bapak untuk merestui dan menerima Haris sebagai suamimu, dan sekarang apa yang sudah dia lakukan? Kamu harus tahu Sera, setiap hari Bapak memikirkan kamu di sini, kamu berjuang dan menahan sakit hati sendirian, apa kamu pikir Bapak bisa tidur? Bapak merasa bersalah Sera, Bapak tahu semua yang terjadi adalah bagian dari takdir kita, tapi berat rasanya mengijinkan kamu menikah lagi."
Pak Doyo masih bersikeukeh dengan pendiriaany, sementara Sera
sukses
semangat
mksh