NovelToon NovelToon
Ketika Takdir Membawa Adira

Ketika Takdir Membawa Adira

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Duda
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

Setelah kehilangan istrinya dalam sebuah kecelakaan tragis, Areksa Dirgantara harus membesarkan putrinya, Aretha, seorang diri.
Hingga seorang perempuan bernama Adira datang ke dalam hidupnya.
Adira hanya berniat merawat Aretha, tetapi kedekatan mereka perlahan membawa keduanya pada sebuah pernikahan yang tidak pernah direncanakan.
Bagi Adira, pernikahan itu hanya sementara. Ia masih membawa luka dari masa lalu dan takut kembali mencintai.
Sementara Areksa perlahan menyadari bahwa perasaannya kepada Adira bukan sekadar tanggung jawab.
Namun, kehadiran Adira ternyata menyimpan lebih banyak rahasia.
Ada alasan mengapa Aruna begitu mempercayainya.
Ada masa lalu yang perlahan kembali.
Dan mungkin, pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan.
Ketika takdir membawa Adira ke dalam hidup Areksa, mampukah mereka menemukan cinta di antara luka, rahasia, dan masa lalu yang belum selesai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menemukan Adira

“Saya yang akan membayar hutangnya.”

Deg!

Adira membelalak.

Tuan Germo pun terdiam beberapa saat sebelum akhirnya tertawa keras bersama anak buahnya.

“Hahaha! Hei, anak muda! Jangan bercanda kau. Uang sebanyak itu bukan jumlah yang sedikit.”

Areksa tetap tenang. “Saya tau.”

Ia menatap Tuan Germo tanpa sedikit pun gentar. “Dan saya akan melunasinya sekarang juga.”

Tuan Germo mengamati Areksa dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kemudian pandangannya beralih kepada Adira yang masih terduduk di lantai.

“Hei, Cantik!”

Adira mengangkat wajahnya dengan mata sembap.

“Kamu ini benar-benar membuat orang kaya sampai tergila-gila ya?”

Adira mengernyit.

“Lihat saja.” Tuan Germo menunjuk Areksa. “Sampai ada orang yang rela membayar utang mantan suamimu sebesar itu.”

Adira hanya terdiam.

“Kamu sudah memberikan apa kepadanya sampai dia mau membayar utangmu?”

“Tuan, saya—”

“Anakmu sendiri saja tidak sudi bersama kamu!”

Ucapan itu membuat wajah Adira seketika pucat. Air matanya kembali mengalir. Ia tidak sanggup membalas perkataan pria itu.

Pikiran Adira justru kembali kepada putranya. Anak yang baru dua hari lalu meninggalkannya.

Luka itu masih begitu segar. Terlalu sakit untuk disentuh, apalagi diingatkan dengan perkataan kejam seperti itu.

Areksa yang melihat Adira hanya terdiam dengan air mata yang terus mengalir, mengepalkan tangannya. Ia tidak menyukai cara pria itu berbicara kepada wanita tersebut.

“Baiklah,” kata Tuan Germo akhirnya. “Saya beri kamu waktu satu jam untuk membawa seluruh uang itu ke sini.”

Areksa mengangguk. “Baik. Saya akan kembali.”

Ia berbalik hendak pergi, tetapi sebelum melangkah lebih jauh, Areksa menarik lengan ayahnya dan mengajaknya menjauh beberapa langkah.

Bayu langsung menatap putranya dengan tidak percaya. “Reksa, kamu gila?”

Areksa menoleh.

“Kamu mau mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk perempuan yang bahkan kita nggak tau siapa sebenarnya?”

“Pa, justru karena kita belum tau, aku harus melakukannya.”

Bayu menggeleng. “Kalau kita salah orang, bagaimana? Uang itu hilang begitu saja.”

“Pa, come on.” Areksa mengembuskan napas. “Uang satu miliar bagi keluarga kita bukan sesuatu yang nggak bisa kita keluarkan.”

Bayu masih terlihat keberatan. “Ini bukan soal jumlah uangnya.”

“Aku tau.”

Areksa menatap kembali ke arah Adira. “Anggap saja ini sedekah untuk seseorang yang sedang membutuhkan pertolongan.”

Bayu langsung diam.

“Papa nggak lihat bagaimana keadaan wanita itu?”

Areksa menunjuk ke arah Adira yang masih menundukkan kepala.

“Kita dengar sendiri tadi. Yang berutang adalah mantan suaminya, bukan dia. Dan anaknya baru meninggal, Pa.”

Nada suara Areksa melunak. “Aku nggak tau apa yang sebenarnya terjadi antara dia dan mantan suaminya. Aku juga belum tau apakah dia memang orang yang Aruna maksud.”

Areksa menghela napas. “Tapi setidaknya, untuk saat ini, dia sedang membutuhkan pertolongan.”

Bayu akhirnya menyerah. “Baiklah.”

Ia menggeleng kecil. “Terserah kamu.”

Areksa segera meraih ponselnya. Ia mencari nomor asisten pribadinya, lalu menekan tombol panggil.

Tidak lama kemudian, sambungan terhubung. “Chandra.”

“Iya, Tuan?”

“Kirimkan uang satu miliar rupiah sekarang juga dalam bentuk tunai ke alamat yang akan saya kirimkan.”

Terdengar keheningan sesaat dari seberang.

“Tuan, tapi—”

“Tidak ada kata tapi.”

Nada suara Areksa tegas. “Waktumu dimulai dari sekarang.”

“Tapi, Tuan, satu miliar dalam bentuk—”

Panggilan langsung diputus.

Areksa kemudian mengirimkan alamat tersebut kepada Chandra.

Setelah itu, ia kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku.

Tatapannya tanpa sengaja kembali tertuju kepada wanita yang masih terduduk di lantai.

Adira.

Entah mengapa, sejak pertama kali melihat wajah wanita itu, ada sesuatu yang terasa aneh bagi Areksa.

Seperti pernah melihatnya. Seperti pernah bertemu dengannya. Namun ia tidak bisa mengingat kapan dan di mana.

Areksa mengernyitkan kening. Kenapa wajahnya terasa begitu familiar?

Ia mencoba mengingat-ingat, tetapi tidak menemukan jawabannya.

Sementara Adira sama sekali tidak menyadari bahwa pria yang baru saja datang menyelamatkannya itu sedang memperhatikannya.

Dan tanpa diketahui keduanya, pertemuan tersebut bukanlah sebuah kebetulan. Karena nama yang selama ini dicari Areksa akhirnya berada tepat di hadapannya.

Adira Talitha Sanjaya.

***

“Ini uang yang Anda inginkan!” Areksa melempar sebuah tas besar ke hadapan Tuan Germo.

Bruk!

Tas itu jatuh dengan suara berat. Tuan Germo segera membukanya. Matanya seketika berbinar ketika melihat tumpukan uang di dalamnya.

“Satu miliar...” gumamnya puas.

Ia tersenyum lebar.

Dengan uang sebanyak itu, ia merasa bisa mendapatkan apa pun yang diinginkannya.

Meskipun di kampung ini tidak ada perempuan yang secantik Adira, itu bukan masalah baginya. Baginya, uang yang baru saja diterimanya jauh lebih menguntungkan daripada mempertahankan Adira. Dan dengan uang itu, ia bisa mendapatkan perempuan mana pun.

Tuan Germo menutup tas tersebut. “Silakan bawa perempuan itu.”

Areksa menatapnya tajam. “Mulai hari ini, jangan pernah mencari atau mengganggunya lagi.”

Tuan Germo terkekeh. “Tenang saja. Setelah urusan kita selesai, dia bukan lagi urusan saya.”

Areksa tidak membalas. Ia justru berbalik dan berjalan menghampiri Adira yang masih terduduk di lantai.

Adira menatapnya dengan mata sembap.

Areksa kemudian mengulurkan tangannya. “Ayo, bangun.”

Adira menatap tangan tersebut. Ia ragu.

Entah mengapa, setelah semua yang terjadi, ia masih sulit mempercayai seseorang begitu saja.

Areksa menyadari keraguan itu. “Tidak apa-apa.” Suaranya terdengar lebih lembut. “Saya bukan orang yang perlu kamu takuti.”

Adira perlahan mengangkat tangannya dan menerima uluran tersebut.

Tangan Areksa menggenggam tangannya dengan mantap, membantu Adira berdiri.

Adira sempat terhuyung karena kedua kakinya terasa lemas.

Areksa segera menahannya agar tidak jatuh. “Pelan-pelan.”

Adira menundukkan wajah. Air matanya kembali mengalir.

“Terima kasih, Tuan.”

Areksa hanya mengangguk. “Sama-sama.”

Adira menatap pria di hadapannya. Ia tidak tau siapa laki-laki itu.

Tidak tau mengapa pria tersebut rela mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk membebaskannya.

Namun satu hal yang ia tau. Ketika seluruh dunia seolah membiarkannya sendirian, pria asing ini justru datang dan mengulurkan tangannya.

Dan setelah kehilangan begitu banyak hal dalam hidupnya, Adira merasa ada seseorang yang datang tepat ketika ia hampir kehilangan harapan.

***

“Maaf, Tuan. Rumah saya memang kecil seperti ini.”

Adira mempersilakan Areksa dan Bayu masuk ke rumahnya.

Rumah itu sederhana. Jauh berbeda dengan rumah yang biasa mereka tempati. Hanya ada beberapa perabotan sederhana yang tertata seadanya.

“Silakan duduk. Saya buatkan minum dulu.”

“Tidak perlu.” Areksa segera menghentikannya. “Saya datang kemari memang ingin berbicara dengan Anda.”

Adira mengangguk. “Baik, Tuan.”

Ia kemudian duduk di hadapan Areksa dan Bayu.

Namun sebelum Areksa memulai pembicaraan, Adira menundukkan kepala.

“Sebelumnya, saya ingin mengucapkan banyak terima kasih karena Tuan sudah membantu saya.”

“Masalah itu kita pikirkan nanti.”

Areksa menatapnya serius. “Perkenalkan, saya Areksa. Dan ini papa saya, Bayu.”

Bayu mengangguk singkat.

“Saya suami dari Aruna.”

Mata Adira langsung membulat. “Aruna?”

Areksa mengangguk. “Ya. Apa kamu mengenalnya?”

Adira terdiam. Tentu saja ia mengenal nama itu. Bahkan lebih dari sekadar mengenalnya.

Aruna adalah salah satu orang yang paling berarti dalam hidupnya selama beberapa bulan terakhir.

Adira menatap Areksa dengan tidak percaya. “Jadi... Anda?”

“Ya.”

“Suami Bu Aruna?”

“Betul.”

“Deg!”

Jantung Adira seketika berdegup kencang. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa laki-laki yang baru saja menyelamatkannya ternyata adalah suami dari wanita yang sangat dekat dengannya.

“Saya mengenalnya, Tuan.”

Areksa langsung memperhatikan perubahan ekspresi Adira. “Bagaimana kamu bisa mengenal istri saya?”

“Aruna yang menangani kasus perceraian saya dengan mantan suami beberapa bulan yang lalu.”

Adira menarik napas. “Dia juga yang membantu saya ketika saya melahirkan dua minggu lalu. Waktu itu saya tidak punya cukup uang untuk biaya rumah sakit.”

Areksa terdiam. Ia mulai memahami mengapa Aruna begitu mempercayai wanita di hadapannya. Namun masih ada sesuatu yang mengganjal.

“Tapi dari cara kamu memanggilnya, sepertinya kalian cukup dekat.”

Adira tersenyum tipis. “Memang.”

“Aruna tidak pernah menceritakan tentang kamu kepada saya.”

Senyum Adira perlahan menghilang. “Awalnya kami juga tidak saling mengenal.”

Areksa mengerutkan kening. “Lalu?”

“Kami beberapa kali bertemu. Sampai akhirnya Aruna menyadari bahwa saya adalah teman masa kecilnya. Ada beberapa hal tentang saya yang membuatnya yakin.”

Bayu yang sejak tadi diam langsung menatap Adira. “Teman masa kecil?”

Adira mengangguk. “Iya.”

Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan. “Kami berpisah saat kami sama-sama berusia dua belas tahun.”

Areksa semakin serius mendengarkan.

“Setelah itu Aruna pindah ke luar negeri. Sedangkan saya...”

Adira menundukkan kepala. “Saya tidak mengingat apa pun tentang masa kecil saya selain nama saya sendiri.”

Bayu mengerutkan kening. “Maksudnya?”

“Saya ditemukan dan dibesarkan oleh seorang perempuan di sebuah desa. Almarhumah ibu yang merawat saya mengatakan bahwa saya pernah diculik ketika masih kecil. Setelah itu saya dibuang begitu saja. Sejak saat itu saya tumbuh di sana tanpa mengetahui siapa keluarga saya sebenarnya.”

Adira menatap kedua tangannya. “Dua tahun lalu saya datang ke kota ini untuk mencari pekerjaan sekaligus mencari tau siapa diri saya sebenarnya. Dan saya tidak menemukan apapun."

Suaranya terdengar lirih. “Saya benar-benar tidak menemukan satu pun petunjuk.”

Adira kemudian tersenyum pahit. “Sampai akhirnya saya mengalami KDRT dari mantan suami saya dan memutuskan melaporkannya.”

“Lalu kamu bertemu Aruna?”

“Iya.”

Adira mengangguk. “Awalnya saya hanya menganggap Aruna sebagai pengacara saya. Tapi setelah kami beberapa kali bertemu, dia mulai merasa ada sesuatu yang familiar dari saya.”

Adira menatap Areksa. “Sampai akhirnya kami menyadari bahwa kami memang pernah saling mengenal.”

Areksa terdiam. Kini ia mengerti mengapa Aruna bisa begitu mempercayai Adira, meskipun mereka baru kembali bertemu beberapa bulan lalu setelah bertahun-tahun terpisah.

“Maaf, Tuan, kalau saya boleh bertanya sesuatu.”

Adira mengusap air matanya yang masih tersisa di pipi.

“Kenapa Tuan bisa sampai ke sini? Dan... kenapa Tuan datang tanpa Aruna?”

Areksa membeku.

Adira menatapnya penuh tanda tanya. “Saya sudah mencoba menghubungi Aruna sejak kemarin, tapi nomor teleponnya tidak aktif. Saya khawatir terjadi sesuatu dengannya.”

Areksa menundukkan pandangan. “Aruna...” Suaranya terdengar berat.

Adira menunggu.

“Aruna meninggal dunia.”

“...”

Mata Adira seketika membulat. “Apa?!”

1
sunaryati jarum
Jadi ternyata Little girl kamu itu Adira bukan Aruna, jangan buru-buru buru Nak Reksa juga jangan memaksa ,beri perhatian nanti trauma dengan pernikahan dulu akan hilang hatinya jadi luluh
sunaryati jarum
Jalani saja Adira ikuti kehendak Authoor , yang penting upnya lancar pembaca senang,tegang , geram dan senyum juga gemas /Drool//Drool//Drool/


🥰🥰🥰🥰🥰🥰
sunaryati jarum
Emak berharap kalian menerima dan menjalankan pernikahan ini dengan penuh tanggung jawab bersama
sunaryati jarum
Berarti malai itu kamu sadar , karena masih terbayang kemolekan tubuh Adira.Semoga Adira memang jodohmu yang akan mendampingi sama kamu menua Nak Reksa
sunaryati jarum
Jalani saja Adira.Mungkin Areksa pernah bertemu Adira,atau cinta pertama saat kecil,jadi sekarang rasanya sangat familiar
sunaryati jarum
Ayah yang bijaksana sana,kirain. terjebak Felicia ternyata dengan Adira,itu kemauan Aruna,Niki Reksa harus menikah ya dengan Adira
Syti Sarah
kyak nya udh bucin tuh areksa sama Adira 🤭🤭
Syti Sarah: tinggal mnunggu Adira mnerima nya aja lgi kak 🤭
total 2 replies
NN
lanjut
Syti Sarah
smoga suatu hari nanti mreka bisa mnjdi sbuah kluarg yg bnar2 bhgia dan bisa mnrima stu sama lain 😊
kembangperawan
kapan terungakp siapa gadis kecik areksa?
Syti Sarah
areksa juga mnyukai Adira
just a grandma
blang aja kmu mencintai adira kan Reksa🥲
Syti Sarah
apakah nanti Adira akan mambenci areksa ya 🤔
Syti Sarah: psti nya itu Thor .bikin areksa pusing 7 kliling dulu Thor demi untuk mndpatkn Adira 🤣🤣🤣
total 2 replies
sunaryati jarum
Berarti kalian.pernah ketemu saat kecil
Syti Sarah
psti di kasi obat perangsang deh oleh felicia.itu psti rncan nya dgn mama nya 😏
Syti Sarah: iya btul bnget kak
total 2 replies
Lisa
ya benar Kak..Areksa menyukai Adira 😊
Syti Sarah
bilang aja klau kamu menyukai Adira 🤭🤭
Lisa
Areksa mulai suka sama Adira tuh 😊
sunaryati jarum
Mungkin Aruna sudah tahu rencana ibu tiri dan adik tirinya
sunaryati jarum
Felicia kamu pelaku meninggalnya Aruna
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!