Menjadi korban perundungan dan anak broken home membuat Ardelia Aira Safira berharap kehidupan barunya di SMA Bangsa Indonesia berjalan tenang. Namun, segalanya berubah saat ia bertemu kembali dengan dr. Arkanza Dirgantara dokter muda dingin, tampan, sekaligus sahabat dari kakak iparnya.
Berawal dari insiden yang menyelamatkan harga dirinya, Aira perlahan melihat luka masa lalu di balik sikap kaku sang dokter. Dengan kepolosan dan keberaniannya, Aira nekat mengejar Arkan. Namun bagi Arkan, perbedaan usia dan status Aira sebagai adik ipar sahabatnya adalah batas yang tak boleh dilanggar. Puncaknya, Arkan secara tegas menolak Aira serta menghancurkan hati gadis itu seketika.
Namun, ketika Aira benar-benar memilih mundur dan menghilang, keheningan justru menyadarkan Arkan bahwa hidupnya yang monoton terasa hampa. Di antara dinding kaku rumah sakit dan riuhnya masa SMA, akankah Arkan tetap berpegang pada logika, atau menyerah pada hatinya yang mendadak kacau?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Firasat dan Nama Masa Lalu
Sudah tiga hari Aira menginap di rumah Zara. Hari ini, ketenangannya terusik oleh dering ponsel yang terus-menerus berbunyi. Baik sang Mama maupun Reyhan mendesaknya untuk segera pulang. Padahal, sejak awal Mamanya sudah memberi izin penuh agar Aira menemani Zara hingga keluarga sahabatnya itu kembali dari Singapura.
Dengan perasaan ganjal yang menggelayut di dada, Aira membereskan pakaiannya dan melipatnya ke dalam ransel.
"Tidak usah sedih, Ra. Aku tidak apa-apa kok sendirian di rumah," ujar Zara mengumbar senyum, mencoba membesarkan hati sahabatnya yang tampak murung. "Operasi Kak Bimo juga sudah selesai dan berjalan lancar. Sekarang tinggal masa pemulihan, sebentar lagi mereka juga pulang."
"Kalau bukan karena Bang Reyhan dan Mama menelepon bersamaan seperti tadi, aku tidak bakal mau pulang meninggalkanmu sendirian, Zar," sahut Aira gusar. "Jujur saja, sejak tadi perasaanku benar-benar tidak enak."
"Semoga tidak ada apa-apa, ya," tutur Zara tulus.
"Aku cemas memikirkan Kak Nadia. Tadi Mama sempat menyinggung soal Surabaya..." gumam Aira pelan.
Kakak perempuan Aira, Nadia, memang menetap di Surabaya setelah menikah. Saat ini, ia tengah mengandung anak keduanya.
"Bukannya Kakakmu sedang hamil muda, ya?" tanya Zara sembari membantu merapikan lipatan baju Aira.
Aira mengangguk pelan, merapatkan resleting ranselnya. "Aku pulang dulu, ya. Kalau sempat, nanti aku langsung kabari kamu."
"Iya, sana pulang. Kasihan Dokter Arkan sudah menunggu di luar dari tadi. Jangan lupa beri kabar kalau sudah sampai, ya!"
Aira mengangguk lalu memeluk Zara erat. Di antara ketiga teman yang menginap, Aira adalah yang paling terakhir pulang Panji dan Bayu sudah lebih dulu kembali kemarin, meski mereka berjanji akan terus memantau keadaan Zara.
Sepanjang perjalanan di dalam mobil Arkan, raut wajah Aira tak seceria biasanya. Ia lebih banyak membisu, menatap keluar jendela memandangi deretan jalanan kota Jakarta.
Arkan meliriknya sejenak. "Kenapa sedih? Bukannya Zara sudah bilang dia tidak apa-apa?"
"Hm... iya. Hanya overthinking saja, Kak," sahut Aira pelan.
"Perasaan tidak tenang itu sering kali datang dari pikiran kita sendiri. Coba berpikir positif," tutur Arkan tenang.
Sebenarnya, Arkan sendiri sudah mengetahui alasan mendasar mengapa Aira mendadak diminta pulang oleh keluarga terutama Reyhan, yang secara khusus meminta Arkan untuk menjemput dan mengantarnya. Namun, Arkan memilih menyimpan hal itu rapat-rapat demi menjaga ketenangan gadis di sampingnya.
"Sudah, tidak usah memikirkan hal yang belum tentu terjadi," tambah Arkan.
Ketika mobil akhirnya berhenti di pelataran rumah, Aira melepas sabuk pengamannya. Saat hendak membuka pintu, ia memutar badannya menatap Arkan untuk berpamitan.
"Kak Arkan... titip Zara ya selama Aira tidak ada," bisik Aira penuh harap.
Arkan mengangguk pelan. "Iya."
Aira mengukir senyum tipis lalu bergegas turun dan berlari kecil memasuki rumahnya.
𓆉𓆉𓆉𓆉𓆉𓆉𓆉𓆉𓆉𓆉𓆉
Seminggu berlalu sejak kepulangan Aira. Selama itu pula, gadis itu seolah hilang ditelan bumi. Pesan terakhir yang ia kirimkan di grup percakapan hanyalah kabar singkat bahwa ia telah berada di Surabaya untuk urusan keluarga. Setelah teman-temannya membalas, ponsel Aira mendadak tak aktif lagi.
Upaya panggilan telepon dari Zara, Panji, maupun Bayu tak ada yang membalas. Mereka bahkan sempat menanyakannya langsung pada Arkan. Sang dokter yang juga mencoba menghubungi nomor Aira hanya mendapatkan nada tidak aktif yang sama.
Malam ini, Arkan baru saja merampungkan shift jaganya yang panjang. Ia kembali ke ruang kerja dengan wajah lelah, memijat pelipisnya yang berdenyut. Jemarinya kembali mencoba mencari nomor Aira, namun hasilnya tetap nihil.
Sambil menghela napas, Arkan bersiap untuk pulang. Ia membuka laci meja kerja untuk mengambil kunci mobil. Saat laci terbuka, pandangannya tertambat pada sebuah kalung perak yang tergeletak di sana kalung milik Zara yang terjatuh di ruang forensik beberapa hari lalu dan belum sempat ia kembalikan.
Arkan meraih kalung itu, mengamatinya lekat-lekat. Sejujurnya, beberapa hari terakhir ia sempat mencari informasi mengenai latar belakang Zara, bahkan mencoba berkomunikasi terbatas dengan orang tua angkatnya. Namun, kepastian yang ia cari masih samar. Arkan menyelipkan kalung tersebut ke dalam saku jasnya, lalu melangkah keluar.
Sebelum pulang ke rumah, Arkan menyempatkan diri mampir ke sebuah supermarket 24 jam. Persediaan makanannya di rumah sudah habis total akibat beberapa hari belakangan ia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit.
Ia menyusuri lorong makanan instan, berniat mengambil beberapa bungkus mie untuk mengganjal perutnya yang lapar. Namun, tepat saat jemarinya meraih bungkus mie instan favoritnya yang tersisa satu-satunya di rak, sebuah tangan lain turut memegang bungkus yang sama.
"Dokter Arkan?" panggil sebuah suara terkejut.
Arkan menoleh dan mendapati Zara berdiri di sampingnya, ikut memegang bungkus mie tersebut.
"Dokter, mienya buat Zara saja, ya? Ini mienya tinggal satu dan ini rasa favorit Zara," ujar Zara memohon, jemarinya masih enggan melepas bungkusan plastik itu.
Arkan yang juga menyukai varian tersebut tak mau mengalah begitu saja. "Saya yang ambil duluan. Ini hak saya."
"Tapi Zara kan menariknya cepat-cepat! Dokter Arkan mengalah dong sama yang lebih muda. Mienya tinggal satu-satunya!"
"Ini juga rasa favorit saya," balas Arkan datar, mempertahankan genggamannya.
Zara menghela napas panjang, memasang raut wajah paling melas yang ia punya. "Dokter Arkan tidak kasihan sama Zara? Zara sekarang sendirian di rumah, tidak bisa memasak dan cuma bisa bikin mie. Masak Kak Arkan tega merebut mie kesukaan Zara?"
Melihat mimik dramatis yang ditunjukkan Zara, seketika denyut di dada Arkan berdesir hebat. Ingatan masa lalunya terlempar secara paksa ke peristiwa belasan tahun silam saat ia kerap berebut semangkuk mie instan dengan adik kecilnya, Shakila. Dulu, adiknya selalu memasang wujud pasrah dan wajah melas yang persis seperti ini hingga akhirnya mereka berakhir makan bersama dalam satu mangkuk.
"Kamu juga tahu saya tinggal sendirian, dan ini mie favorit saya," ucap Arkan, berusaha menetralkan gemuruh di dadanya.
Zara mendengus kecil. Ternyata sang dokter benar-benar tipe pria yang keras kepala.
'Bagaimana bisa Aira tahan menyukai pria sekaku ini?' batinnya gemas.
"Mengalah sama perempuan yang lebih muda itu dapat pahala besar, Lho," desak Zara lagi.
"Memberikan makanan pada yang membutuhkan juga dapat pahala," tangkas Arkan tak mau kalah.
Gemas karena Arkan sama sekali tak mau melunak, Zara meniup poni hijabnya ke atas dan menatap Arkan sengit.
"Kak Dirga, mengalah!" seru Zara spontan dan lumayan lantang.
DEG!!!
Mendengar sapaan itu terlontar dari mulut Zara, cengkeraman tangan Arkan pada bungkus mie mendadak terlepas. Zara yang tak menyiakan kesempatan langsung menarik mie itu ke pelukannya dengan senyum kemenangan.
"Nah, begitu dong! Mengalah sama yang lebih muda. Kalau tidak, nanti Zara adukan ke Papanya Dokter Arkan," seloroh Zara tertawa riang sembari memeluk bungkus mienya.
Arkan terpaku kaku di tempatnya berdiri. Lidahnya terasa kelu. Kalimat dan nada bicara itu teramat identik dengan kenangan 11 tahun lalu.
"Kenapa... kamu memanggil saya dengan sebutan Dirga?" tanya Arkan, suaranya terdengar bergetar samar.
Zara mengerjap heran. "Lho, kenapa? Bukannya nama lengkap Dokter itu Arkanza Dirgantara? Zara tahu nama lengkap Dokter dari Bayu," jawab Zara santai, lalu berbalik melangkah menuju kasir.
Arkan berdiri membisu di lorong supermarket. Panggilan Dirga adalah panggilan kesayangan yang hanya digunakan oleh Shakila semasa hidupnya. Perasaan rindu dan spekulasi liar mendadak berkecamuk di dalam kepalanya.
Usai membayar belanjaan, Arkan melangkah keluar. Namun begitu menyampai pintu kaca, langkahnya terhenti. Hujan deras rupanya tengah mengguyur kota, menyisakan gemuruh angin dan hawa dingin yang menusuk.
Arkan hendak menerobos ke area parkir mobilnya yang tak jauh dari situ, tetapi matanya menangkap sosok Zara yang sedang duduk menyendiri di bangku teras supermarket, tampaknya sedang menunggu hujan reda.
Arkan melangkah mendekat. "Mau pulang bersama saya?"
Zara mendongak, menatap Arkan dengan picik. "Ini Dokter Arkan menawarkan tumpangan murni niat baik atau mau merebut mie saya yang tadi?"
"Menurut kamu?" balas Arkan datar.
"Kalau Aira mungkin gampang di kelabuhi oleh Dokter, tapi Zara tidak. Lagipula Zara sedang memesan ojek online biar cepat sampai rumah," cetus Zara memanyunkan bibirnya.
Arkan tidak membalas lagi. Menanggapi sikap jutek Zara, ia memilih berbalik melangkah menerobos rintik hujan menuju mobilnya.
Beberapa menit berlalu, mobil Arkan masih belum beranjak dari area parkir. Dari balik kaca depan yang tersapu wiper, ia memperhatikan Zara yang masih berdiri di teras. Tampaknya, pesanan transportasi daringnya tak kunjung datang akibat cuaca buruk.
Tiba-tiba, Arkan melihat Zara bangkit dan melangkah terburu-buru menuju tepi jalan raya. Jalanan malam itu cukup basah dan padat oleh kendaraan yang melaju kencang. Zara tampak mengedarkan pandangan, berniat menyeberang jalan untuk mencari tumpangan di seberang.
Merasa berbahaya, Arkan segera memutar kemudinya untuk menghampiri dan memaksa gadis itu naik ke mobilnya.
Namun, baru saja mobil Arkan berbelok, suara derit rem yang tajam berpadu dengan dentuman keras dan klakson panjang membahana di udara. Seketika, jeritan orang-orang memecah keheningan malam.
"Awas! Ada kecelakaan! Mobilnya kabur!" teriak seseorang dari kejauhan.
Jantung Arkan seakan berhenti berdetak. Firasat buruk menghantam dadanya. Ia segera mematikan mesin mobilnya di sembarang tempat, melompat keluar, dan berlari kencang menuju kerumunan warga di tepi jalan.
Di tengah genangan air hujan dan kerumunan orang, tubuh seorang gadis terbaring tak berdaya. Darah segar mengalir dari dahinya, membasahi kain hijabnya.
"Zara!" jerit Arkan histeris, langsung berlutut dan memangku kepala gadis itu.
Di antara kesadaran yang kian menipis, kelopak mata Zara terbuka sedikit. Jemarinya yang dingin bergerak lemah, mencengkeram ujung jas medis Arkan.
"Kak... Dirga... Tolongin... Kila..." bisik Zara terbata-bata, sebelum akhirnya matanya terpejam sepenuhnya dan tubuhnya terkulai lemas.
Arkan membeku seketika. Suara itu, panggilan itu, dan nama Kila yang baru saja terucap dari bibir Zara menghantam kesadarannya bagai petir di siang bolong.
"Panggil ambulans! Cepat!" teriak Arkan pada warga sekitar dengan suara bergetar hebat.
Sambil menunggu bantuan tiba, Arkan dengan cekatan melakukan prosedur pertolongan pertama (CPR) dan menahan pendarahan di kepala Zara. Ketika sirine ambulans terdengar merapat, Arkan tak lagi memedulikan mobilnya yang ditinggal begitu saja di pelataran supermarket. Ia melompat masuk ke dalam ambulans, menggenggam erat jemari dingin Zara yang tak sadarkan diri.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, di antara raungan sirine dan deru hujan yang memukul kaca mobil, Arkan terus berdoa khusyuk dengan air mata yang menetes pelan.
'Tuhan... jika dia benar-benar Shakila-ku... tolong, jangan pisahkan kami untuk kedua kalinya' batin Arkan
Bersambung__
_____