NovelToon NovelToon
Pilihan Hati

Pilihan Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Inisial EY

"Aku milih kamu."

"Tapi kita berbeda, Tuan."

"Berbeda?" Arnold mengernyitkan dahinya heran, pasalnya gadis di depannya ini dari kasta yang setara dengannya. "Apanya yang berbeda?"

"Agama." lirih Arini dengan menggelengkan kepalanya, "agama kita berbeda, Tuan."

"Gampang! Aku bisa mengikuti agamamu kalau kamu mempersoalkan itu."

Ikuti perjalanan kisah beda agama antara Arini dan Arnold ya readers, apakah mereka akhirnya bisa menikah? atau itu hanya angan-angan seorang Arnold saja? Dan apa sebenarnya motif Arnold memilih Arini untuk menjadi istrinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inisial EY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ingin Bicara

Peralihan dari malam ke pagi terasa begitu cepat, rasanya Arnold baru saja memejamkan matanya beberapa menit yang lalu, namun ternyata matahari sudah menampakkan sinarnya.

Dan Arnold pun sadar jika malam pertamanya sebagai seorang suami ternyata benar-benar berakhir terpisah kamar dengan Arini.

"Tuan!" Panggil Bagas seraya mengetuk pintu kamar Arnold.

Dengan malas Arnold pun bangun lalu membuka pintu kamarnya, "ada apa?" tanyanya malas.

"Nyonya Arini dan keluarganya sudah checkout dari hotel."

"Lalu?" tanya Arnold seraya menaikkan alisnya.

"Itu--" Bagas tidak bisa melanjutkan perkataannya, bingung harus berkata apa.

"Kamu ke perusahaan saja. Saya masih mau disini." titah Arnold lalu menutup pintunya dengan keras di depan Bagas.

***

"Jen!" Panggil Chandra pada adiknya yang tidak mau melepaskan sama sekali Arini dari sisinya.

Bahkan semalam Darius harus tidur sendiri karena Jennifer lebih memilih sekamar dengan Arini untuk memastikan Arnold tidak berbuat aneh-aneh pada Arini.

"Kamu terlalu berlebihan, Jen." ulangnya yang entah keberapa kali dari semalam.

"Aku hanya melindungi putriku, Kak." Jennifer memeluk putrinya erat-erat, "Dia putriku. Hanya putriku." ujarnya merujuk pada pertemuan dengan Raka dan Raka yang sempat ingin memberi saham 30 persen untuk Arini membuat Jennifer takut Raka merebut Arini dari dirinya.

Chandra menghela napas kasar, Uncle Arini itu hanya bisa menatap Arini lalu Jennifer dengan menahan pedih di hatinya.

Dia juga tidak akan mungkin membiarkan Arini diambil Raka, tapi kali ini Arini sudah dewasa.

Keponakan kecilnya itu sekarang sudah menikah, Arini sudah bisa memilih mana yang baik untuknya dan karena pertemuannya dengan Raka, Arnold dan Arini terpaksa dipisahkan oleh Jennifer.

Arini menatap Bundanya dengan nanar, ada apa dengan Bundanya? Kenapa saat dia menikah Bundanya jadi seperti ini? Ada hal apa yang disembunyikan Bundanya hingga Bundanya bersikap seperti ini?

Pertanyaan itupun Arini simpan hingga mereka sampai di mansion Chandra dan akhirnya Bunda Jennifer melepas pelukannya yang begitu erat dan mengikuti Ayah Darius yang ingin mengajaknya berbicara berdua.

"Uncle!" Arini memanggil Chandra yang mau masuk ke dalam kamarnya, "boleh Arini bertanya sesuatu?"

"Tentang Bundamu, Nak?" Chandra berbalik tanya yang dijawab anggukan oleh Arini.

Chandra pun akhirnya mengajak Arini ke taman samping rumahnya untuk berbicara berdua, "Bundamu seperti itu karena ingin melindungi kamu."

"Uncle!" rengek Arini, karena Chandra pasti tau maksud pertanyaannya.

"Kuatkan hatimu jika kamu ingin mendengar ceritanya." Chandra lalu mengusap hijab keponakannya, "kalau kamu sudah siap, temui Uncle di sini nanti malam, Uncle akan cerita hal yang belum kamu tau." jelasnya yang membuat Arini menganggukkan kepala.

***

"Arini. Kita harus ketemu." Isi pesan Arnold yang baru saja dibaca Arini itu membuat Arini membolak-balikkan ponselnya bingung mau membalas apa.

Dirinya sedari pagi sampai rumah sudah diultimatum oleh Bundanya untuk tidak keluar rumah, namun Arini sadar jika Arnold adalah suaminya.

Semenjak mereka bertukar nomor ponsel pribadi seminggu yang lalu, baru setelah sah menjadi istrinya lah Arnold mengiriminya pesan.

Dan itulah pesan pertama dari Arnold untuknya.

"Saya tidak boleh keluar rumah sama Bunda." jawabnya kemudian lalu pesan itu langsung dibaca oleh Arnold dengan terlihatnya dua centang biru.

"Aku suami kamu, Arini." balas Arnold yang kemudian membuat Arini menghela napasnya kasar, lalu berdiri dan berjalan menuju balkon kamarnya.

Sesampainya di balkon dan menatap pemandangan ke bawah, Arini hampir tidak percaya hingga mengusap matanya berulang kali untuk memastikan jika benar laki-laki yang kini tengah melambaikan tangannya padanya adalah Arnold.

Laki-laki itu tengah duduk di atas kap mobil sport miliknya.

Melihat Arini dari tempatnya duduk, Arnold pun melakukan panggilan suara yang langsung dijawab oleh Arini.

Panggilan tersambung..

Arini : Ha-- halo!

Arnold : Assalamualaikum.

Arini : Waalaikumsalam.

Arnold : Kamu sudah makan?

Arini : Sudah. Kamu?

Arnold : Aku enggak nafsu makan dari pagi.

Arini : Dari pagi? Ini udah sore loh.

Arnold : Iya. Memang udah sore. Aku cuman mau tanya sama kamu.

Arini : tanya apa?

Arnold : Bunda nyuruh aku batalin pernikahan kita. Kamu gimana?

Arini : apa alasan Bunda nyuruh itu?

Arnold : Katanya banyak laki-laki lain yang lebih baik dari aku buat mendampingi kamu.

Arini : batalkan saja kalau seperti itu.

Arnold : Arini?

Arini : Kita sama-sama tau kalau pernikahan ini terjadi karena terpaksa. Jadi, kalau memang keputusan Bunda itu baik bagi kita, ya lakukan saja.

Arnold : Oke. Besok aku akan ke kantor urusan agama untuk mengurusnya ke pengadilan agama.

Arini : Terimakasih sudah menuruti Bunda.

Arnold : Sama-sama.

Panggilan terputus.

Arini menghela napasnya panjang dengan drama kehidupan yang baru-baru ini terjadi di hidupnya.

Kemarin baru dilamar Bagas, dan dibatalkan begitu saja oleh Bagas karena Arnold ingin menikahinya karena terlanjur memilihnya.

Dan dalam waktu dua Minggu kemudian, dia sudah menikah dengan Arnold, namun Bunda Jennifer menyuruhnya membatalkan pernikahan dengan Arnold tanpa alasan yang jelas, dan Arnold juga mau saja mengikuti pinta Bundanya tanpa mau mempertahankannya sedikitpun.

Sebenarnya Arini dianggap apa oleh mereka?

Apa mereka menganggap Arini hanya sebuah barang yang bisa dilempar kesana kesini?

Arini memejamkan matanya sejenak untuk menghalau sesak yang tiba-tiba menyeruak di dadanya.

Lalu membuka matanya lagi dan kembali menatap ke bawah, dan disitu masih ada Arnold yang masih menatapnya.

Tiba-tiba muncul sebuah pertanyaan di hati Arini, akankah pernikahan yang baru saja terjadi kemarin sore itu harus benar-benar kandas tanpa mereka mengenal satu sama lain dahulu?

Apa memang pembatalan pernikahan ini memang yang terbaik untuk ia dan Arnold?

Arini kali ini menarik napasnya begitu dalam, lalu dengan sekali gerakan menghubungi Arnold yang langsung dijawab oleh laki-laki bermuka bengis itu.

"Ada apa?" tanya Arnold yang menyadari kegundahan Arini.

"Nanti malam saya akan berbicara dengan Uncle di taman samping mansion." Arini menggigit bibirnya untuk menutupi kegugupannya, "Bisa kita bicara bertiga dengan Uncle untuk mencari jalan tengah?"

"Bisa." Arnold langsung menyanggupi dan ia pun langsung turun dari kap mobilnya demi mendekat di gerbang mansion Chandra, "aku akan menunggu disini sampai nanti kamu buka gerbangnya."

"Saya enggak janji. Tapi saya akan usahakan agar Bunda tidak melihat kamu disini nanti malam." ujar Arini yang juga tidak sepenuhnya memberi harapan.

Arnold tersenyum, laki-laki bermuka bengis itu untuk pertama kali tersenyum hari ini setelah perdebatan melelahkan yang ia lakukan seorang diri sedari pagi.

"Aku tau kamu orang baik, Arini."

"Saya enggak sebaik itu, tapi saya hanya ingin menghargai kamu sebagai suami dengan mencari jalan tengah sebelum benar-benar memutuskan pernikahan ini."

"Baik." balas Arnold yang kini membuat Arini memutus panggilan tersebut dan menghela napasnya lega.

Kini ia semakin yakin untuk mendengar hal apa yang membuat Bundanya tiba-tiba menyuruh ia dan Arnold membatalkan pernikahan, walaupun itu memang hal yang ia inginkan.

Sedari awal ia tidak ingin menikah dengan Arnold, namun menolak Arnold disaat ia sudah diumumkan menjadi calon istrinya yang terpilih di konferensi pers juga tidak segampang itu.

Dan sebagai sesama manusia yang melihat sendiri upaya Arnold agar bisa menikahinya dengan mengikuti agamanya, tentu Arini harus berbicara baik-baik dengan Arnold sebelum Arnold dan ia benar-benar bercerai di hari pertama mereka sah menikah.

Bersambung..

1
Inisial EY
Hai-hai readers, ini kisah tentang Arini anak jennifer ya, kalau kalian pengen tau siapa Arini, kalian boleh baca novel aku sebelumnya yang judulnya "JANDA ITU ISTRIKU" oke.. makasih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!