Bagi Kirana, Kenan Alister adalah definisi iblis berkulit manusia. Sebagai Ketua OSIS SMA Garuda yang dingin, disiplin, dan tak berhati, Kenan selalu punya seribu cara untuk menghukum Kirana, bahkan hanya gara-gara masalah sepele seperti tali tas yang terseret di luar gerbang. Kirana bersumpah membenci cowok es itu seumur hidupnya.
Namun, dunia Kirana mendadak runtuh saat sebuah jamuan makan malam keluarga membongkar rahasia besar, rencana perjodohan dari amanah almarhum kakek mereka. Dalam hitungan hari, status Kirana berubah dari murid biasa menjadi istri siri rahasia dari Ketua OSIS paling ditakuti di sekolahnya.
Kini, kehidupan baru mereka dimulai di bawah satu atap dengan empat aturan ketat.
Akankah pernikahan rahasia ini bertahan di tengah intrik sekolah, tatapan curiga para sahabat, dan benih-benih perasaan yang pelan-pelan mulai tumbuh di balik benteng gengsi masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DM🌚, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 30
Minggu ketiga perkuliahan dimulai dengan ritme yang kian padat. Udara pagi Kota Bandung berhembus cukup kencang dari arah pegunungan Utara, membawa kesejukan khas di sekitar koridor Kampus ITB Ganesha.
Pukul 09.30 WIB, suasana Aula Lantai 2 Gedung Teknik Industri tampak dipenuhi oleh puluhan mahasiswa gabungan angkatan baru dan senior. Hari ini adalah pemaparan resmi Joint-Project Laboratory yang didanai langsung oleh konsorsium perusahaan manufaktur nasional, termasuk Maheswari Group.
Kenan duduk di barisan ketiga bersama Rian. Pria itu mengenakan kemeja putih berlengan panjang yang tergulung hingga pertengahan lengan, dipadu celana bahan gelap dan jam tangan kulit hitam. Wajahnya yang tegas dan tenang tampak menonjol di antara mahasiswa lainnya.
Di depan panggung, Hanni Maheswari berdiri di samping dosen koordinator proyek. Sang primadona kampus tampil memikat seperti biasa dengan stelan blazer terakota, rambut bergelombang karamel yang ditata rapi, serta senyuman percaya diri yang memancar penuh wibawa.
Namun, sejak awal pemaparan dimulai, sepasang mata cantik Hanni berkali-kali mencuri pandang ke arah Kenan. Rasa penasaran dan kekalahan kecil dari sambungan telepon tempo hari bukannya membuat Hanni mundur, melainkan justru memicu ambisi terbesarnya.
"Baik, untuk tim riset utama," pangkas Dosen Koordinator, Pak Bastian, seraya melihat lembar berkas di tangannya.
"Berdasarkan penilaian rekam jejak akademik terbaik dan hasil wawancara awal, posisi asisten peneliti utama angkatan baru akan diisi oleh Kenan Alister, berpasangan dengan Hanni Maheswari sebagai perwakilan tingkat atas."
Gumam riuh seketika terdengar di dalam aula. Rian di samping Kenan menyenggol lengan sahabatnya dengan cemas.
"Waduh, Ken..." bisik Rian pelan. "Pak Bastian langsung menunjuk lo secara resmi di depan semua dosen. Kalau penunjukan langsung dari ketua program studi gini, bakal susah buat ditolak tanpa alasan akademis yang kuat."
Hanni di depan panggung menyunggingkan senyuman tipis penuh kemenangan. Ia menatap Kenan dengan kerlingan mata yang seolah berkata, “Lo tidak bisa menghindar lagi kali ini”.
Kenan berdiri dari kursinya dengan tenang. Ia tidak menunjukkan ekspresi kaget ataupun panik. "Mohon maaf sebelumnya, Pak Bastian," ujar Kenan dengan suara baritonnya yang mantap dan bergema jernih di seluruh ruangan.
Pak Bastian menaikkan kacamata tebalnya. "Ya, Kenan? Ada kendala?"
"Terima kasih atas kepercayaan dan penunjukan ini, Pak," lanjut Kenan sangat santun namun terstruktur. "Namun, sesuai dengan pengajuan berkas mandiri yang sudah saya serahkan ke Bagian Kemahasiswaan minggu lalu, saya telah resmi terdaftar sebagai asisten peneliti di Laboratorium Optimasi Sistem bawah bimbingan Prof. Wawan untuk proyek kerja sama antar-kampus Unpad dan ITB."
Pak Bastian terdiam sejenak, membolak-balik berkas di mejanya. "Ah... betul! Proyek analisis rantai pasok komunikasi dan industri bersama Fikom Unpad ya? Prof. Wawan sudah menandatangani surat tugasnya kemarin sore."
"Betul, Pak. Karena jadwal riset tersebut berbenturan langsung dengan alokasi waktu riset ini, secara regulasi kampus saya wajib mendahulukan proyek riset yang sudah terdaftar resmi lebih awal," tegas Kenan tanpa cacat cela sedikit pun.
Hanni yang berdiri di depan panggung seketika membeku. Senyum kemenangan di wajahnya sirna dalam sekejap, berganti dengan kilatan rasa terkejut yang tak mampu ia sembunyikan.
Kenan tidak sekadar menolak, pria itu secara cerdas menggunakan jalur regulasi resmi kampus dan bahkan memilih proyek kerja sama yang terkoneksi langsung dengan kampus istrinya di Unpad, membuat posisi Hanni terkunci total tanpa celah untuk menekan.
"Baik kalau begitu," kata Pak Bastian mengangguk paham.
"Penunjukan tim riset utama akan digantikan oleh kandidat cadangan. Terima kasih, Kenan." Kenan kembali duduk dengan tenang, sementara Hanni mengepal kencang jemarinya di samping podium.
…
Pukul 13.00 WIB, suasana kantin Fikom Unpad Jatinangor tampak begitu ramai. Kirana duduk di salah satu sudut meja favoritnya bersama Nabila, menikmati semangkuk bakso hangat di sela-sela jeda kelas perkuliahan.
"Gila ya, Kir," ujar Nabila seraya mengaduk jus alpukatnya.
"Tadi pagi pas gue lewat depan sekretariat BEM, Kak Aris kelihatannya udah gak berani lagi tuh sok-sok caper ke lo. Tiap liat lo lewat, dia langsung pura-pura sibuk ngetik."
Kirana tersenyum tipis, merapikan letak syal rajutan. "Baguslah kalau gitu, Nab. Biar sama-sama fokus kuliah aja."
Tiba-tiba, suara riuh rendah terdengar dari arah gerbang masuk kantin. Beberapa mahasiswa baru berbisik-bisik seraya menunjuk ke arah selasar luar.
Sebuah mobil sedan mewah berwarna merah gelap berplat nomor Jakarta terparkir anggun di tepi area drop-off Fikom. Pintu mobil terbuka, dan sosok gadis cantik berkulit putih mulus dengan kacamata hitam hitam mahal melangkah keluar.
Hanni Maheswari.
Sang Primadona ITB itu berjalan menyusuri selasar Fikom Unpad dengan langkah penuh percaya diri. Angin siang Jatinangor mengibaskan rambut karamelnya yang anggun, menarik perhatian hampir seluruh mahasiswa dan senior Fikom yang ada di sana.
"Eh, itu bukannya Hanni Maheswari anak ITB yang viral di medsos kampus itu ya?" bisik salah seorang mahasiswa di meja belakang Kirana.
"Iya! Ngapain anak konglomerat ITB main ke Fikom Unpad?"
Hanni mengedarkan pandangannya ke sekeliling kantin, hingga matanya tertambat tepat pada sosok Kirana yang sedang duduk tenang di sudut ruangan. Hanni melepaskan kacamata hitamnya, lalu melangkah lurus menuju meja Kirana.
Nabila membelalak pelan, menyenggol lengan Kirana.
"Kir... Kir! Cewek itu jalan ke arah kita!"
Kirana tidak panik. Ia meletakkan sendoknya dengan sangat anggun, menyeka bibirnya dengan tisu, lalu menatap kedatangan Hanni dengan raut wajah yang sangat tenang dan bermartabat.
Hanni menghentikan langkahnya tepat di samping meja Kirana. Tinggi tubuh Hanni yang mengenakan sepatu hak tinggi membuatnya berdiri menatap turun ke arah Kirana, berusaha memberikan tekanan dominasi secara visual.
"Kirana Amanda?" sapa Hanni dengan suara renyah namun dingin.
Kirana berdiri dari kursinya secara perlahan. Postur tubuhnya yang tegak, dipadukan dengan kemeja krem dan rok A-line warna coklat hangat, memancarkan pesona keanggunan yang tidak sedikit pun kalah dari
"Iya, betul. Kak Hanni Maheswari, kan? Ada yang bisa saya bantu?" jawab Kirana santun, suara halusnya terdengar begitu percaya diri.
Hanni menyilangkan kedua tangannya di dada, mengamati paras Kirana dari dekat. Harus ia akui di dalam hati, Kirana memiliki kecantikan alami yang sangat bersih, tenang, dan memikat tanpa perlu polesan berlebihan.
"Gue cuma mau ngomong sebentar secara pribadi," ujar Hanni tanpa basa-basi. "Antara gue dan lo."
Nabila yang berada di samping Kirana tampak khawatir, namun Kirana memberikan isyarat lembut dengan tangannya agar Nabila tenang.
"Boleh, Kak. Kita bisa bicara di selasar taman sebelah sana agar lebih tenang," jawab Kirana ramah.
Di selasar taman Fikom yang rimbun dan agak jauh dari keramaian kantin, kedua wanita itu berdiri berhadapan. Udara siang Jatinangor berhembus pelan menggerakkan dedaunan.
Hanni menatap Kirana dengan mata tajamnya. "Gue gak suka membuang waktu, Kirana. Lo pasti tahu siapa gue, dan lo tahu posisi keluarga gue."
"Tau kok, Kak Hanni kan senior Kenan di ITB dan putri dari pemilik Maheswari Group," jawab Kirana tenang.
"Bagus kalau lo tahu," pangkas Hanni dengan senyuman miring yang penuh harga diri. "Kenan itu punya potensi yang sangat luar biasa di dunia industri. Dia genius, terstruktur, dan punya aura pemimpin masa depan. Kalau dia ada di samping gue dan memanfaatkan akses jaringan keluarga Maheswari, dalam waktu lima tahun dia bisa memegang posisi eksekutif puncak di level internasional."
Hanni melangkah satu tapak mendekati Kirana, menatap lurus mata lawan bicaranya.
"Tapi kalau dia cuma tertahan sama hubungan pernikahan muda di masa kuliah... jalan karir dan masa depannya bakal terbatas. Lo cuma bakal jadi beban yang memperlambat langkah dia, Kirana." Gertakan itu sangat halus, namun dikemas dengan narasi manipulatif yang tajam. Jika Kirana adalah wanita muda yang lemah atau terbiasa minder, kata-kata Hanni tentu akan berhasil meruntuhkan kepercayaan dirinya. Tapi itu dulu sekarang ia tidak perlu takut, apa Hanni hanya orang baru yang ingin menjadi calon pelakor.
Kirana menatap Hanni dengan binar mata yang jernih, penuh ketenangan dan rasa percaya diri yang tak tergoyahkan. Sudut bibir Kirana mengukir senyuman tipis yang sangat anggun. Tapi dalam hatinya berkali kali mengumpati gadis sombong itu.
"Kak Hanni..." ujar Kirana dengan nada suara yang begitu lembut namun sarat akan ketegasan. "Makasih banget atas perhatian Kakak sama masa depan Kenan. Tapi sepertinya Kakak sangat salah dalam menilai Kenan Alister."
Hanni sedikit menaikkan sebelah alisnya. "Salah menilai, maksud Lo?”
"Betul," lanjut Kirana sedikit sinis. "Kenan bukan laki-laki yang membutuhkan ketiak kekuasaan orang lain untuk meraih kesuksesan. Dia melangkah dengan kemampuannya sendiri, otak kecerdasannya sendiri, dan integritas dirinya. Bagi Kenan, masa depan yang hebat dibangun dari kerja keras mandiri, bukan dari menjual harga diri demi jalan pintas."
Kata-kata Kirana yang begitu dewasa dan menohok langsung mengenai harga diri Hanni secara telak.
"Dan satu hal lagi yang perlu Kak Hanni tahu," Kirana mengangkat tangan kirinya secara perlahan, membiarkan cincin perak pernikahan yang melingkar cantik di jari manisnya berkilau disiram sinar matahari siang.
"Pernikahan kami bukan hambatan atau beban. Kami adalah pasangan yang saling menguatkan. Kenan milih gue bukan karena apa yang keluarga gue punya, tapi karena dia sayang dan cinta sama gue seutuhnya sebagai pasangan hidupnya."
Hanni terdiam kaku. Bibirnya yang berpoles lipstik merah mahal bergetar kecil. Selama hidupnya, tidak pernah ada satu orang pun yang berani merespons gertakannya dengan ketenangan dan wibawa sedahsyat ini.
Sebelum Hanni sempat membalas, suara deru mesin mobil sedan hitam yang sangat familier terdengar berhenti di tepi jalan dekat taman.
Pintu mobil terbuka, dan Kenan Alister melangkah keluar. Pria itu berjalan cepat membelah taman, matanya yang tajam mengunci posisi tempat istrinya dan Hanni berdiri.
"Sayang..." panggil Kenan.
Kenan melangkah mendekat, langsung menyusupkan tangan kirinya di pinggang Kirana, menarik istrinya rapat ke dalam dekapannya secara protektif. Pandangan mata Kenan yang dingin bagai es lalu tertuju pada Hanni.
"Ada keperluan apa Kak Hanni menemui istri saya di Unpad?" tanya Kenan dengan intonasi bariton yang sangat rendah dan mengintimidasi.
Hanni berusaha menguasai raut wajahnya yang mulai goyah. "Gue cuma... cuma mau kenal lebih dekat sama istri lo, Kenan."
"Saya rasa hal itu tidak perlu," pangkas Kenan tanpa ragu sedikitpun di depan wajah Hanni. "Batasan saya sudah sangat jelas sejak awal. Tolong jangan pernah mengganggu atau menemui istri saya lagi secara pribadi. Jika ada hal lain yang melewati batas, saya tidak akan segan membawa hal ini ke ranah hukum dan dekanat kampus."
Pernyataan Kenan yang begitu telak dan tidak memberi ampun membuat posisi Hanni benar-benar runtuh total.
Sang primadona ITB itu akhirnya menyadari bahwa setinggi apa pun kekayaan atau kecantikan yang ia miliki, benteng cinta dan kesetiaan antara Kenan dan Kirana tidak akan pernah bisa ia tembus sedikit pun.
Hanni mengepal jemarinya, menghembuskan napas panjang sebelum akhirnya mengenakan kembali kacamata hitamnya untuk menyembunyikan rasa malu di matanya.
"Oke," ujar Hanni singkat dengan suara yang berusaha di tahan agar tidak bergetar. "Gue paham sekarang."
Hanni berbalik dan melangkah pergi meninggalkan taman dengan terburu-buru menuju mobil merahnya, lalu memacu kendaraan tersebut keluar dari kawasan Jatinangor. Setelah mobil Hanni menghilang di kejauhan, suasana taman kembali menjadi hening dan damai.
Kenan memutar tubuhnya sepenuhnya menghadap Kirana. Pengawasan mata pria tegap itu dipenuhi rasa cemas dan perhatian yang begitu mendalam. Jemari tegapnya merengkuh kedua pipi halus Kirana.
"Kamu gak apa-apa kan, Sayang?" tanya Kenan lembut, menatap lurus ke dalam mata istrinya. "Dia ada omong yang bikin kamu sedih atau sakit hati?"
Kirana menatap suaminya, lalu tersenyum sangat manis dan hangat. Ia menangkup kedua tangan Kenan yang ada di pipinya.
"Aku gak apa-apa kok," jawab Kirana tulus. "Kata-kata dia gak ada yang bisa menyakiti aku, karena aku tahu betul seberapa besar cinta dan kesetiaan kamu buat aku."
Kenan menghembuskan napas lega yang sangat panjang. Ditatapnya wajah cantik istrinya yang begitu teduh dan dewasa. Rasa kagum dan cinta di dalam dada Kenan membuncah hingga tak terbendung lagi.
Kenan menarik Kirana ke dalam pelukannya yang sangat erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher istrinya yang harum. Kirana membalas pelukan itu dengan melingkarkan kedua tangannya di leher tegap suaminya.
" Makasih sudah jadi istri yang begitu hebat dan kuat buat aku, Kirana," bisik Kenan mesra di dekat telinga istrinya.
"Sama-sama, Sayang... Aku bakal selalu berdiri tegak di samping kamu," jawab Kirana mesra.
Kenan mengurai pelukannya sedikit, lalu menundukkan wajahnya. Di bawah naungan pohon-pohon rimbun taman Fikom Jatinangor, Kenan menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang sangat mesra, dalam, dan penuh rasa syukur.
….
Pukul 19.00 WIB, suasana rumah Dago Atas diselimuti kehangatan malam. Hujan gerimis tipis yang membasahi kaca jendela luar menciptakan hembusan hawa dingin yang nyaman di dalam kamar utama.
Kirana baru saja selesai menyisir rambut hitamnya yang harum setelah mandi hangat. Ia mengenakan dress tidur bahan sutra berwarna merah marun lembut berpotongan anggun yang melapisi tubuh indahnya.
Kenan yang duduk di tepi peraduan hanya mengenakan celana santai abu-abu dan kaos polos putih. Saat melihat Kirana melangkah mendekati tempat tidur, mata hitam Kenan seketika berkilau penuh pendar gairah dan kasih sayang yang mendalam.
Kenan mengulurkan tangannya. "Sini, Sayang..."
Kirana tersenyum manis, menyambut uluran tangan suaminya dan duduk di pangkuan tegap Kenan. Kenan menyusupkan kedua tangannya di pinggang Kirana, menyandarkan dahi mereka bersama dalam keheningan malam yang begitu intim.
"Hari ini aku makin sadar..." bisik Kenan dengan suara bariton seraknya yang sangat seksi. "Gak ada wanita lain di dunia ini yang bisa menggantikan posisi kamu di hati aku, Kirana. Kamu adalah takdir terbaik yang pernah Tuhan kasih buat hidup aku."
Kirana menatap mata suaminya yang penuh kehangatan, mengusap rahang tegas Kenan dengan ujung jarinya. "Dan kamu adalah pelindung terbaik yang selalu bikin aku merasa dicintai seutuhnya, Kenan."
Kenan tidak menunggu lebih lama lagi. Ia memiringkan wajahnya, mendaratkan ciuman yang sangat bergairah dan mesra di bibir Kirana. Ciuman mereka tumbuh kian dalam, menyesap kehangatan manis yang menghilang seluruh rasa lelah hari itu.
Kenan perlahan membaringkan tubuh Kirana di atas kasur.
Bersambung…