NovelToon NovelToon
Obsesi Yang Melukai

Obsesi Yang Melukai

Status: sedang berlangsung
Genre:Persahabatan / Romantis / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: farhati fara

Bukan tentang pengkhianatan ataupun perselingkuhan, tapi tentang obsesi cinta yang menjadi luka dan dosa.

Nisa harus menerima hatinya terluka saat suaminya, Rangga secara terang terangan pergi berkencan dengan kekasihnya, Tiwi. Tapi itu adalah harga yang harus diterimanya atas dosa yang dilakukannya sendiri.

Lalu bagaimana kisah selanjutnya saat cahaya lain hadir dalam hidup Nisa. Akankah semuanya berakhir bahagia atau sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farhati fara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyesalan yang terlambat

Segelas kopi yang dipesannya dari tadi sudah berubah suhu dari hangat menjadi dingin. Rangga benar-benar terlihat kacau sekarang. Sudah seminggu berlalu setelah dia kembali dari rumah sakit, tapi Rangga bahkan tidak tahu di mana keberadaan istrinya sekarang.

Barang-barang Nisa di rumah mereka sudah raib, dan itu artinya Nisa tak akan pulang ke rumah itu lagi. Rangga hanya menemukan sebuah cincin perak yang adalah cincin pernikahan mereka dan sebuah bros pemberiannya dulu saat mereka masih remaja. Melihat benda itu, Rangga menyadari bahwa istrinya itu sudah meninggalkannya.

 Rangga sudah berusaha mencari keberadaan Annisa, namun hasilnya nihil. Nisa hilang seakan ditelan Bumi. Tidak ada petunjuk apapun dan Rangga bahkan tidak kenal dengan satu pun teman Nisa. Segitu cueknya dirinya selama ini terhadap sang istri, Rangga bahkan tidak mau merepotkan dirinya untuk sekedar tahu apa kesukaan dan kebiasaan istrinya itu. Dan sekarang, dia menyesali sikap tidak pedulinya dulu.

Ini sudah tiga minggu dia tak melihat Nisa ataupun kekasihnya, Tiwi. Rangga bahkan lupa akan kekasihnya itu sekarang. Yang dipikirkannya hanya Annisa dan rasa penyesalannya terhadap sang istri. Dan kini Rangga sedang duduk di meja cafe langganannya, dia berharap istrinya akan datang kemari agar dia bisa melihat bagaimana keadaan Nisa sekarang. Apa istrinya itu sehat? Apa bayi mereka lahir dengan selamat? Apa Nisa marah padanya sekarang? Semua pertanyaan itu bertumpuk di dalam kepalanya. Pertanyaan yang ingin dia tanyakan pada satu orang, yaitu istrinya, Annisa Handayani.

"Kamu ke sini mau melamun atau menikmati kopimu, hah? Kulihat kopi itu sudah beku sekarang." komentar Revan sambil celingak celinguk melihat keberadaan bos-nya. Saat dipastikannya aman, Revan akhirnya menarik kursi di depan Rangga yang hanya duduk melamun dengan pandangan kosong.

"Van, apa kamu pernah melihat Nisa datang kemari?" tanya Rangga putus asa. Jelas itu pertanyaan bodoh yang Rangga pun tahu jawabannya. Tapi rasa putus asa yang dialaminya akan keberadaan sang istri membuat Rangga bertanya hal bodoh itu.

"Kurasa tidak. Dia kan nggak tahu tempat ini. Kau tak pernah membawanya kesini" jawab Revan tenang dan datar. Rangga terdiam dengan jawaban itu. Semua itu benar, dia tak pernah membawa Nisa ke sini dan saat pertama Nisa ke sini hatinya bahkan hancur dengan penglihatannya yang begitu terluka.

"Kenapa? Apa kini kau menyesal?" tanya revan sinis. Sebenarnya dia merasa cukup miris melihat temannya itu, apalagi saat minggu lalu dia bertugas menjemput Rangga di rumah sakit dan penampilan pria itu cukup urap-urakan. Rangga yang sebatang kara, hanya bisa menghubungi Revan sebagai rekan dekatnya untuk mengurus segala keperluannya saat keluar dari rumah sakit.

"Aku merasa, aku hampir gila, Van. Aku sudah mencarinya ke mana- mana tapi dia menghilang seakan di telan Bumi." Rangga memegang kepalanya, ekspresi putus asa di wajahnya cukup kentara. Pria itu bahkan sudah diberikan libur khusus dari perusahaannya karena kecelakaan yang dialaminya. Jadi, selama hampir sebulan ini, pria yang kebingungan itu tidak pergi bekerja.

"Bukankah sudah kubilang, pahami perasaanmu sebelum semuanya terlambat. Namun kau masih meragukan perasaanmu. Padahal jelas- jelas kau mencintai istrimu. Tapi mungkin inilah takdirmu. Penyesalan memang selalu datang terlambat," kata Revan sedikit kesal dengan keplin planan temannya itu.

"Terus, bagaimana dengan Tiwi?" lanjut Revan bertanya penasaran

"Semenjak kecelakaan aku belum bertemu dengannya sampai sekarang. Jadi, aku tidak tahu dia dimana," jelas Rangga lirih.

"Maksudku bukan itu. Apa yang akan kau lakukan pada wanita itu?"

"Aku tak tahu. Pikiranku sudah dipenuhi oleh Nisa sekarang, jadi aku tak dapat memikirkan apapun lagi," ujar Rangga sambil memegang kepalanya lagi. Revan hanya bisa geleng-geleng kepala memandang temannya itu.

Tiba-tiba Rangga merasakan telinganya mendengar suara tawa Nisa. Dia memejamkan matanya sambil memukul-mukul pelan kepalanya, berharap suara tawa itu akan hilang. Dia heran, kenapa otaknya hanya bisa memikirkan Nisa bahkan suara tawa istrinya itu terdengar sepertinya nyata.

"Ga!... Rangga!" seru Revan memanggil Rangga saat matanya menangkap kehadiran seseorang. Namun Rangga masih setia menutup matanya dan mencoba untuk menghilangkan suara Nisa yang terngiang-ngiang dalam kepalanya.

"Hei! Rangga. Coba lihat ke arah pintu masuk." suruh Revan terkesan buru-buru dan memaksa, tapi Rangga masih tak peduli. Suara tawa Annisa masih memenuhi kepalanya.

"Nisa ada di sini, kawan!" seru Revan pada akhirnya saat dia tak mendapat respon apapun dari Rangga. Dengan segera mata Rangga terbuka dan terpaku saat matanya melihat Annisa tertawa lepas bersama kakaknya Ali sembari berjalan memasuki Cafe itu. Tampak di tangan Nisa satu cup es krim rasa coklat. Wanita itu memang begitu menyukai coklat. Keduanya kemudian berjalan ke arah salah satu meja yang berlawanan dari arah meja yang kini ditempati oleh Rangga.

Tanpa berpikir panjang Rangga langsung bangkit dari duduknya ingin menghampiri istrinya itu. Dia begitu merindukan sosok istrinya tersebut.

"Berhenti!" seru Ali menahan diri Rangga yang ingin menghampiri adiknya. Tadi tanpa sengaja Ali melihat Rangga yang ingin ke arahnya, dengan segera dia bangkit untuk menghentikan pria itu menemui adiknya.

"Lepaskan, aku ingin menghampiri istriku," ujar Rangga spontan. Matanya menunjukkan rasa rindu yang mendalam kearah Nisa yang terduduk di kursi yang sebelumnya Ali tuntun.

"Buat apa? Belum cukup kau menghancurkannya? Seharusnya kau bersyukur menjadi pria yang dicintai oleh adikku. Tapi kau malah menyia- nyiakannya seperti sampah," ujar Ali dengan suara sedikit keras sambil menahan dada Rangga yang ngotot ingin menghampiri Nisa

"Aku tidak punya urusan denganmu, jadi lepaskan aku!" kata Rangga merasa kesal dengan kakak iparnya itu. Tidak tahukah Ali betapa dia merindukan istrinya sekarang. Rindu yang berbalut penyesalan yang dalam.

"Ooh tentu ada. Dia adikku, dan aku walinya. Jadi, jika kau datang hanya untuk menghancurkannya lagi, sebaiknya pergi sekarang sebelum aku hilang kendali dan membunuhmu." teriak Ali lantang di depan wajah Rangga.

Semua pelanggan Cafe memandang kearah mereka, termasuk Revan yang hanya dapat menatap kasihan pada temannya, Rangga. Nisa juga dapat mendengar suara keras sang kakak. Dengan perlahan dia bangkit berdiri dari duduknya yang semula.

"Aku tidak peduli apa katamu. Sekarang aku hanya ingin menemui istriku. Jadi, minggir kau brengsek!" Rangga berseru kesal dengan suara sama lantangnya sambil mendorong Ali dengan cukup keras agar tidak menghalangi jalannya menghampiri Nisa.

Akhirnya Rangga lepas saat Ali terdorong mundur oleh tenaga Rangga. Tanpa membuang waktu, dengan segera Rangga menghampiri Nisa yang kini berjalan kearah suara kakaknya.

Rangga kini tepat di depan Annisa, namun tidak ada respon apapun dari istrinya itu yang hanya menatap kosong kearah depan, bukan padanya. Langkah Nisa juga perlahan berlanjut tanpa peduli dengan Rangga yang kini di depannya, membuat Rangga perlahan menggeser diri kearah samping saat melihat Nisa yang terus berjalan seakan tidak melihat dirinya.

"An..nisa" gumamnya pelan memanggil nama sang istri yang dirindui.

"Dia takkan pernah melihatmu lagi bajingan, setelah apa yang telah dia berikan padamu! Jadi, berbahagialah kau sekarang setelah hidup adikku hancur!" seru Ali sembari menangkap tangan Nisa yang mulai tampak meraba- raba ke arah depannya.

"Kakak, ayo kita pergi." ajak Nisa pelan yang tak sanggup lagi menahan air mata dengan situasi yang kini tengah terjadi. Terlebih, Nisa tidak ingin menjadi pusat perhatian sekarang ini. Walau dia tidak dapat melihat, tapi dengan suara lantang Ali dan Rangga sebelumnya sudah dapat membuatnya menebak kalau sekarang para pelanggan di sana memperhatikan mereka. Apalagi mulai terdengar bisikan- bisikan tidak jelas dari segala sisi.

"Tunggu adikku. Kakak harus memberi hadiah untuk pria itu," ujar Ali sambil meraih sebuah map dari tas selempang Nisa yang sudah ditaruhnya sebelumnya. Ali tahu kalau dia pasti akan bertemu Rangga di Cafe ini.

Ali melangkah menuju ke arah Rangga yang kini membeku memandang kearah Nisa. Rangga masih tidak percaya dengan keadaan yang kini sedang dialaminya. Dan lebih tidak percaya dengan keadaan Nisa di depannya. Semua harapannya sebelumnya sia- sia. Harapannya untuk Nisa baik-baik saja, dan juga bayi mereka ternyata tidaklah tercapai. Kecelakaan itu pasti sudah membuat Nisa kehilangan bayi mereka.

"Berhentilah memanggil adikku dengan sebutan istrimu. Mulai sekarang kau bukan lagi suaminya. Ini... Kami sudah menyerahkannya pada pengadilan dan kalian sudah resmi bercerai. Jadi, berhenti mengganggu adikku." kata Ali sambil menyerahkan map itu ke tangan Rangga yang masih diam membeku.

Setelah itu, Ali bergegas pergi membawa adiknya menjauh dari pria yang selalu membuat Nisa dipenuhi oleh air mata. Sedang Nisa hanya mampu menangis terisak dalam langkah yang di tuntun oleh Ali. Nisa sadar saat Rangga ada di depannya tadi, dari deru nafas dan bau maskulin pria itu, namun Nisa menguatkan diri agar tidak lagi terlibat dengan pria yang pernah menjadi suaminya itu.

Rangga memandang map yang berisi surat perceraian itu. Tanda tangan Nisa sudah terbubuhi di situ. Itu artinya mereka sudah resmi bercerai. Rangga jatuh melorot, dia menangis sambil berteriak.

"Tidak! Tidak mungkin! Aku tidak ingin bercerai denganmu, Annisa" teriaknya sambil meremas surat itu sampai tak berbentuk.

Revan mendekat dan dengan segera menenangkan temannya itu, lalu membawanya pergi dari sana agar tidak mengganggu para pelanggan lain.

.

.

.

Nyatanya penyesalan memang selalu datang TERLAMBAT, bukan? Kalau datangnya duluan/awal maka itu namanya PENDAFTARAN.

1
Aditya hp/ bunda Lia
Nah loh keciduk juga akhirnya si Fatma kan apa datang bareng si Tiwi juga biar tambah dari der dor ... 🤭
Intan
Bagus sekali❤️😘😘
Aditya hp/ bunda Lia
ya terus sekarang mau mu apa Ranggaaaaa ... nikmati ajah apa yang kamu tanam dulu sedap kan ....
Aditya hp/ bunda Lia
dasar gak peka kalo nanti si Tiwi tau siapa Ali malu gak tuh kamu
Aditya hp/ bunda Lia: iya juga
total 2 replies
Aditya hp/ bunda Lia
pedemu udah tingkat galaksi 😂😂
dasar Tiwi ulet bulu
Aditya hp/ bunda Lia: gatel banget sebadan badan 😂😂
total 2 replies
sari
jiahahaha GK malu tuh si Tiwi kmarin Rangga suami org skarang KK ipar pun mau di embat dsr pelakor emg ya
Fara F: pelakor ya hehe😅
total 1 replies
sari
ya ampun ribet bgt sih ikatan mrk bakal seru nih💪
Fara F: Jelas seru donk hehe😁
total 1 replies
Aditya hp/ bunda Lia
yeeeh, .... Fatma kalo kamu tau Nisa itu manta istri si Rangga gimana coba
Aditya hp/ bunda Lia: iya pasti dan nanti dia mau ngambil sikap gimana yah sama si Tiwi
total 2 replies
sari
Ali Fatma itu brarti Ali Fatimah kah
ah couple baru dong😍
semangat kak fara💪lanjut LG yg byk ya😄
Fara F: satu bab saja keteter ini. Bagaimana mau banyak😭😭🙏🏻
total 1 replies
sari
mampus tuh si serangga moga aja stelah ini Nisa bahagia ya💪
Fara F: Aamiiin🤲🏻
total 1 replies
sari
mrk 3 bersaudara Ali Nisa dan Nita
apakah Nita punya peran besar jg di novel ini JD penasaran
Fara F: Tunggu saja, ada partnya Nanti Insha Allah😁
total 1 replies
sari
apakah Rangga skarang sudah SDR kalo dia cinta ma Nisa trlambat kali sdarnya
Fara F: penyesalan yang terlambat
total 1 replies
sari
ya Tuhan kok nyesek bgt sih kak bab ini/Sob//Sob/
ngebayangin JD Nisa psti sakit bgt deh/Cry/
Fara F: Saya juga nangis pas di ceritain bagian ini. Nyesek banget begitu😭
total 1 replies
sari
Nisa psti SGT senang tp aku GX rela
cerai aja GX sih klean
Fara F: iya cerai sih. tidak ada jalan keluar lain
total 1 replies
sari
Cinta buta Nisa GX dpt dipaksakan mkanya dia trluka/Sob/
Fara F: iya, obsesinya bikin dia terluka sama seperti judulnya
total 1 replies
Aditya hp/ bunda Lia
mungil cantik hamba Alloh yang taat kurang apalagi dasar si Rangga udah buta sama si Tiwi ....
Fara F: Cinta itu buta sih jatuhnya wkwk🤣
total 1 replies
Aditya hp/ bunda Lia
bener banget itu Thor puas banget biar si Rangga seumur hidup dalam penyesalan
Aditya hp/ bunda Lia: pasti 😂
total 2 replies
Aditya hp/ bunda Lia
istrimu udah pergi bego ... kawinin ajah tuh pujaan hatimu si Tiwi udah gak ada penghalang lagi bebas kau sekarang 😡
Aditya hp/ bunda Lia: iya juga yah 🤭
total 2 replies
Aditya hp/ bunda Lia
Nisa kamu benar2
Aditya hp/ bunda Lia: okey .. gak apa-apa yang penting seru bikin penasaran
total 2 replies
Aditya hp/ bunda Lia
nah ... apa ada yang meninggoy?
Aditya hp/ bunda Lia: oh gitu? terus Ali jadi nikah sama Fatma duh jadi kepo banget ini
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!