Terlahir kembali usai tewas disiksa, Aira bertekad membalas dendam pada Azka dan keluarganya. Ia bangkit merebut tahta, menggagalkan pengkhianatan, dan membuka hati untuk paman Azka, Rizky.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: PANGGUNG YANG RUNTUH
Malam yang dinanti-nantikan akhirnya tiba. Ballroom megah Hotel Grand Hyatt Jakarta menjadi saksi bisu digelarnya jamuan makan malam rahasia jajaran direksi utama dan dewan komisaris klan Gunawan. Ruangan megah bernuansa emas dan kristal itu dipenuhi oleh para tetua adat klan, pemegang saham terbesar, serta jajaran eksekutif senior yang memegang kendali atas imperium bisnis klan Gunawan.
Azka melangkah masuk ke dalam ballroom dengan dada terbusung tinggi. Mengenakan setelan tuksedo hitam buatan Italia, pria itu merasa berada di puncak dunia. Di sampingnya, Rani tampil sangat mencolok dengan gaun malam berwarna hijau zamrud yang sangat terbuka di bagian punggung. Rani tersenyum lebar, memamerkan perhiasan berlian yang ia kenakan sembari menyapa para komisaris senior dengan nada manja yang dibuat-buat.
Bagi Azka, malam ini adalah panggung pembuktian. Ia telah menyiapkan presentasi mega proyek pembangunan kawasan industri senilai belasan triliun rupiah yang diyakininya akan menyegel posisinya sebagai calon pemimpin masa depan klan Gunawan.
"Mas Azka, lihat... para tetua dari dewan komisaris semuanya tersenyum pada kita," bisik Rani penuh kemenangan saat mereka berdiri di dekat meja utama. "Malam ini seluruh klan akan tahu siapa yang pantas mendampingimu sebagai Nyonya Gunawan."
"Tentu saja, Sayang," balas Azka seraya mengecup singkat pelipis Rani di hadapan beberapa kolega senior. "Malam ini, nama Paman Rizky akan mulai tergeser dari jajaran direksi, dan Aira hanya akan menjadi kenangan pahit yang tak berarti."
Para direktur dan komisaris tua mulai berkumpul di meja utama. Ayah Azka, Hendra Gunawan, duduk di barisan depan dengan raut wajah bangga yang tak tersembunyi. Beberapa kali Hendra menyenggol lengan para komisaris senior, memamerkan kehebatan putranya yang siap mempresentasikan proyek raksasa tersebut.
Tepat saat Azka hendak melangkah menuju podium utama untuk membuka acara, pintu ganda ballroom yang terbuat dari kayu jati tebal didobrak pelan dari luar. Dua penjaga berbadan tegap membungkuk hormat saat dua sosok manusia melangkah masuk melintasi karpet merah.
Seketika itu juga, denting gelas porselen dan riuk percakapan di dalam ballroom terhenti total. Suasana hening mencengkeram.
Paman Rizky melangkah masuk dengan balutan jas double-breasted warna abu-abu gelap yang sangat elegan. Garis wajahnya yang tegas, bahunya yang tegap, serta aura dominasi mutlak yang dibawanya seketika mengintimidasi seluruh ruangan. Namun, bukan hanya kehadiran Rizky yang membuat napas para tetua klan tertahan di tenggorokan.
Di samping Rizky—dengan jemari lentik yang melingkar erat dan anggun di lengan tegap pria itu—berdiri Aira.
Malam ini, Aira tampil bak ratu yang turun dari singgasana abadi. Gaun malam berbahan sutra hitam pekat memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna, dipadu dengan kalung berlian klasik milik almarhumah ibunya yang memancarkan kilau abadi. Rambut hitamnya disanggul modern, memperlihatkan leher jenjangnya yang mulus. Tatapan matanya jernih, tajam, dan sama sekali tidak menyisakan ruang bagi keraguan atau rasa takut.
Kehadiran Aira di samping Paman Rizky—bukan di samping Azka—bagaikan petir di siang bolong bagi seluruh jajaran direksi.
"Itu... bukankah itu Aira? Istri dari Azka?" bisik salah satu komisaris senior dengan kening berkerut dalam. "Mengapa dia bergandengan tangan dengan Rizky? Di mana letak kesopanan di dalam klan ini?" gumam yang lain.
Wajah Azka seketika berubah merah padam. Rahangnya mengeras hebat saat melihat bagaimana tangan Aira bertengger santai di lengan paman kandungnya sendiri. Di sisinya, Rani mengepalkan tangan hingga kuku-kukunya menancap ke telapak tangan, wajahnya memucat dibakar rasa cemburu dan malu yang teramat sangat.
"Rizky! Aira! Apa-apaan kalian ini?!" amuk Ayah Azka, berdiri dari kursinya dengan wajah memerah. "Ini jamuan resmi direksi klan Gunawan! Mengapa kamu membawa istri keponakanmu sendiri masuk bergandengan tangan seperti ini?! Kamu mau mempermalukan klan di depan para tetua?!"
Paman Rizky tidak menghentikan langkahnya. Ia menuntun Aira melangkah hingga berhenti tepat di tengah-tengah ballroom, tepat di hadapan meja dewan komisaris dan panggung utama.
"Mempermalukan klan?" sahut Rizky dengan suara berat bergema yang menelan seluruh riuh bisikan di ruangan itu. Pria itu menyunggingkan senyum dingin yang teramat meremehkan. "Juara umum dalam mempermalukan klan ini sudah dipegang oleh putramu, Hendra. Aku di sini hanya hadir sebagai pemegang saham mayoritas dan calon ketua dewan direksi."
"Tapi Aira adalah istri sah Azka!" bentak Ayah Azka lagi, menunjuk wajah Aira dengan telunjuk gemetar. "Dia tidak punya hak duduk di jajaran direksi ini!"
"Dia punya hak mutlak," potong Aira dengan nada suara yang begitu tenang, begitu halus, namun sanggup membekukan darah orang-orang yang mendengarnya.
Aira melangkah satu titik di depan Rizky, menatap lurus ke arah para dewan komisaris senior yang duduk terpaku.
"Atas nama almarhumah ibuku, Nyonya Besar Gunawan, aku memegang kendali atas dua puluh lima persen saham veto di seluruh anak perusahaan klan," ucap Aira lantang. "Dan malam ini, aku hadir di sini sebagai pemegang saham independen, sekaligus pendamping resmi dari calon ketua umum klan Gunawan: Paman Rizky."
BAM!
Pernyataan Aira bagaikan hantaman gada raksasa yang meremukkan dada Azka. Pria itu terpaku di tempat, napasnya memburu kasar. Dua puluh lima persen saham veto?! Bagaimana mungkin wanita ini memegang kendali atas saham ibunya yang selama ini kukira sudah dibekukan?! batin Azka dengan mata membelalak lebar.
"Bohong! Dia bohong!" teriak Rani histeris, kehilangan kendali dirinya. Ia melangkah maju menunjuk Aira dengan wajah penuh kedengkian. "Dia cuma wanita pemalas yang mau merebut harta Mas Azka! Para sesepuh, jangan percaya padanya! Dia ini pelakor yang sengaja menggoda Paman Rizky untuk menjatuhkan Mas Azka!"
Aira bahkan tidak memandang Rani. Ia hanya meliriknya sebentar dengan tatapan malas bagaikan melihat seekor serangga.
"Keamanan, amankan wanita tanpa status ini dari ruang sidang direksi," perintah Paman Rizky dingin tanpa menoleh.
Dua petugas keamanan berbadan besar yang mengawal Rizky langsung maju, mencekeram kedua lengan Rani secara kasar.
"KYAAAH! MAS AZKA! TOLONG AKU! LEPASKAN!" jerit Rani histeris saat tubuhnya diseret paksa keluar dari ballroom di hadapan puluhan tetua klan yang menatapnya dengan pandangan jijik dan penuh keheranan.
"Rani!" Azka hendak mengejar, namun tatapan tajam Paman Rizky menghentikan pergerakannya di tempat.
"Duduk di tempatmu, Azka," desis Paman Rizky dengan intonasi mematikan. "Atau aku akan mencabut seluruh anggaran proyekmu sebelum kamu sempat menyalakan proyektor itu."
Azka mengepalkan tinjunya dengan tubuh bergetar hebat. Rasa malu, hina, dan panik yang menyatu membakar seluruh saluran pernapasan pria itu. Dengan terpaksa dan langkah gontai, ia berjalan menuju podium presentasi dengan wajah pucat pasi.
"B-baiklah... Para tetua dewan komisaris yang terhormat..." suara Azka bergetar saat mulai menyalakan layar proyektor. "Malam ini saya akan mempresentasikan proyek kawasan industri terpadu yang telah disusun oleh tim saya selama enam bulan terakhir..."
Azka mencoba menguasai diri. Ia mulai memaparkan angka-angka triliunan rupiah, estimasi keuntungan, serta analisis pasar dengan percaya diri yang dipaksakan. Di bangku depan, Ayah Azka mulai mengangguk-angguk, berusaha membangun kembali harga diri keluarganya yang sempat runtuh.
Namun, di meja utama, Aira duduk bersandar di samping Paman Rizky. Jemari lentiknya memutar-mutar tangkai gelas sampanye, mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Azka dengan senyuman tipis penuh intrik.
Begitu Azka selesai menyampaikan kesimpulan presentasinya sepuluh menit kemudian, pria itu menarik napas lega. "Demikian presentasi saya. Saya yakin proyek ini akan membawa klan Gunawan ke puncak kejayaan baru."
Tepuk tangan tipis dari beberapa kolega terdengar canggung di dalam ruangan.
"Proyek yang sangat bagus, Azka," ucap Aira tiba-tiba, suaranya memotong keheningan saat ia bangkit berdiri dari kursinya.
Azka menyunggingkan senyum culas, mengira Aira akhirnya terpesona atau tak bisa membantah kehebatan analisanya. "Terima kasih, Aira. Angka-angka ini tidak bisa dibantah oleh siapa pun."
"Angka-angkamu memang indah," balas Aira sembari melangkah perlahan mendekati panggung podium. "Tapi sayang sekali... semua dokumen perizinan tanah dan investasi modal yang kamu paparkan tadi... adalah dokumen palsu."
DEG!
Seluruh ruangan mendadak membeku. Wajah Azka seketika berubah menjadi senada dengan kertas putih.
Aira mengisyaratkan asisten pribadinya yang berdiri di pintu untuk membagikan bundel dokumen tebal berwarna merah ke atas meja masing-masing dewan komisaris.
"Apa maksudmu, Aira?!" bentak Azka dengan suara melengking panik. "Jangan asal bicar—"
"Lahan seluas seratus hektar di kawasan industri tersebut adalah tanah sengketa yang saham utamanya sudah kubeli atas nama pimpinan klan dua hari yang lalu," potong Aira tajam, suaranya menggema tegas di seluruh ruangan. "Dan perusahaan cangkang yang kamu ajak bekerja sama untuk menyuntikkan modal lima triliun itu... adalah perusahaan fiktif yang kamu dirikan bersama Rani untuk memindahkan dana kas klan Gunawan ke rekening pribadimu!"
BAM!
"APA?!" Para komisaris senior dan tetua klan langsung berdiri dari kursi masing-masing dengan wajah memerah padam oleh amarah!
"Pemeriksaan keuangannya sudah ditandatangani langsung oleh tim auditor independen yang ditunjuk oleh Paman Rizky sore ini," tambah Aira dengan senyuman paling mematikan yang pernah ada. "Azka Gunawan... kamu bukan hanya gagal mengamankan proyek, tapi kamu baru saja membuktikan di depan seluruh dewan bahwa kamu adalah pencuri dalam klan ini."
Azka mendadak merasa bumi di bawah kakinya runtuh seketika. Lututnya melemas hebat hingga pria itu harus berpegangan pada pinggiran podium agar tidak jatuh tersungkur. Matanya membelalak menatap Aira dan Paman Rizky yang kini berdiri bersisian, menatapnya dari atas bagaikan dua penguasa yang baru saja menjatuhkan hukuman mati atas panggung kecilnya.