Dibuang oleh darah dagingnya sendiri hanya karena ia terlahir tidak sempurna.
Haruka tumbuh tanpa pelukan orangtua, tanpa tempat pulang. Dunia memandangnya sebelah mata... dihina, direndahkan, dianggap beban yang tak pantas hidup layak. Tapi di tengah semua penolakan itu, ada satu orang yang tak pernah melepaskannya: seorang nenek tua, satu-satunya yang mau memeluknya tanpa syarat.
Dari pelukan itulah tekad Haruka lahir. Ia bangkit, merangkak sejengkal demi sejengkal dari titik terendah, bukan untuk balas dendam, tapi untuk membuktikan satu hal: gadis cacat yang dulu mereka buang, kini akan berdiri lebih tinggi dari siapa pun yang pernah meremehkannya.
Akankah Haruka berhasil membungkam semua yang pernah menghinanya? Atau luka masa lalu akan terus menariknya kembali ke titik nol?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketakutan Bagas
Suara detektif itu terdengar begitu hati-hati di ujung telepon, seolah menyadari betapa berat beban dari setiap kata yang akan ia sampaikan. "Pak, saya sudah telusuri ke desa yang Bapak maksud, tempat Bapak sebutkan belasan tahun lalu. Saya temui beberapa warga lama di sana, termasuk seorang ibu yang dulu jadi tetangga dekat perempuan yang membesarkan gadis bernama Haruna itu."
"Lanjutkan," desak Bagas, suaranya tercekat, tangannya mencengkeram gagang telepon begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Menurut cerita mereka Pak, Haruna ditemukan menangis sendirian di teras rumah kosong yang sudah lama ditinggalkan, oleh seorang nenek penjual peyek bernama Lasmi. Waktu itu usianya baru beberapa jam, masih ada tali pusar yang belum lepas. Kondisi kakinya sudah tidak sempurna sejak ditemukan. Dan yang paling penting, Pak... tanggal penemuan itu persis sehari setelah tanggal yang Bapak sebutkan ke saya."
Dunia Bagas seketika serasa runtuh. Ponsel di tangannya hampir terjatuh, namun ia menggenggamnya lebih erat. Seolah itu satu-satunya pegangan yang tersisa di tengah guncangan hebat yang baru saja menghantam dirinya.
"Saya juga cek rumah sakit tempat istri Bapak melahirkan dulu," lanjut sang detektif, "catatan lama memang sudah banyak yang hilang, tapi saya berhasil temui salah satu perawat senior yang masih ingat kasus itu. Bayi perempuan dengan kelainan kaki yang tiba-tiba hilang dari ruang bayi malam itu, tanpa ada laporan resmi apa pun."
Bagas terdiam membatu, firasat yang selama bertahun-tahun ia coba tepis dengan paksa, kini berdiri tegak di hadapannya sebagai kebenaran yang tak terbantahkan. Haruna... gadis yang baru saja dilamar putranya, gadis yang ia lihat sendiri wajahnya begitu familiar di depan kampus beberapa bulan lalu, adalah darah dagingnya sendiri. Putri kandung yang ia buang begitu saja belasan tahun silam hanya karena rasa malu akan kesempurnaan yang tak pernah ia miliki.
"Pak Bagas? Bapak masih di sana?" suara detektif itu kembali terdengar, menyadarkan Bagas dari lamunan yang begitu mencekam.
"Saya masih di sini," jawab Bagas akhirnya, suaranya berubah dingin dan tegas, berusaha sekuat tenaga menutupi gejolak yang baru saja menghantam batinnya. "Dengar baik-baik. Informasi ini tidak boleh bocor ke siapa pun. Tidak ke anak saya, tidak ke istri saya, tidak ke siapa pun juga. Kamu paham?"
"Paham, Pak. Saya akan jaga kerahasiaannya."
"Hapus semua jejak pencarian ini. Saya akan transfer bayaran tambahan untuk memastikan mulutmu tetap terkunci," tegas Bagas sebelum akhirnya memutus sambungan telepon dengan tangan yang masih gemetar hebat.
Ia duduk terpaku di kursi kerjanya untuk waktu yang begitu lama, menatap kosong ke arah dinding ruangan, pikirannya berkecamuk hebat. Rasa bersalah yang selama ini ia kubur dalam-dalam kini kembali muncul ke permukaan. Namun bercampur dengan ketakutan yang jauh lebih besar, ketakutan akan reputasi keluarganya yang akan hancur seketika jika kebenaran ini sampai terungkap ke publik. Dan yang paling mengerikan, ketakutan akan kehilangan Larasati, istri yang begitu ia cintai, jika wanita itu sampai mengetahui dosa besar yang telah ia lakukan belasan tahun lalu.
"Harus ku hentikan ini," gumamnya pada dirinya sendiri, tekadnya semakin membulat untuk memisahkan Reynan dari Haruna. Apa pun caranya, demi menjaga rahasia kelam itu tetap terkubur selamanya.
Siang itu, Bagas pulang lebih awal dari biasanya, wajahnya pucat dan tatapannya kosong sepanjang perjalanan.
Begitu sampai di rumah, ia langsung menuju kamar, duduk termenung di tepi ranjang tanpa berkata sepatah kata pun, pikirannya masih dipenuhi kekacauan yang begitu mencekam.
Larasati yang menyadari perubahan drastis pada suaminya segera menghampiri, duduk di sampingnya dengan wajah khawatir. "Pah, kamu kenapa? Dari tadi diem aja, kayak orang kepikiran berat banget."
Bagas tak langsung menjawab. Tanpa diduga, ia justru menarik tubuh Larasati ke dalam pelukannya, mendekapnya begitu erat, seolah takut kehilangan sesuatu yang begitu berharga.
"Laras," bisiknya, suaranya bergetar menahan emosi yang begitu dalam, "janji sama aku... kamu nggak akan ninggalin aku, apa pun yang terjadi."
Larasati terkejut mendengar permintaan tiba-tiba itu, namun ia membalas pelukan suaminya dengan lembut. "Pah, kenapa sih ngomong gitu? Mama nggak akan ninggalin Papa, kok. Tapi... janji juga sama Mama, Papa nggak akan pernah bikin kesalahan yang bener-bener mengecewakan Mama."
Mendengar kalimat itu, tubuh Bagas seketika membeku. Dibohongi saja selama ini, tentang berbagai hal kecil yang ia sembunyikan demi menjaga kedamaian rumah tangga, sudah cukup membuat Larasati begitu marah dan kecewa setiap kali ketahuan.
Bagaimana jika suatu hari nanti wanita yang begitu ia cintai ini mengetahui bahwa anak kandung mereka sendiri telah ia buang begitu saja, demi menjaga gengsi dan nama baik keluarga?
Pikiran itu membuat dadanya semakin sesak, namun ia tak sanggup mengatakan sepatah kata pun tentang kebenaran yang baru saja ia ketahui.
Ia hanya mendekap Larasati lebih erat, membenamkan wajahnya di bahu istrinya, berusaha menyembunyikan kegelisahan yang begitu besar.
"Pah?" panggil Larasati pelan, merasakan ada yang begitu tidak beres dari sikap suaminya.
"Nggak apa-apa," jawab Bagas cepat, melepaskan pelukannya, mencoba tersenyum meski terasa begitu dipaksakan. "Papa cuma capek aja hari ini."
Larasati menatap suaminya dengan tatapan penuh keraguan. Namun memilih untuk tidak memaksa lebih jauh, meyakini bahwa Bagas hanya sedang lelah dengan urusan pekerjaan seperti biasanya.
Sepanjang sore itu, Bagas terus tenggelam dalam pikirannya sendiri. Menyusun berbagai rencana dalam benaknya, bagaimana caranya memisahkan Reynan dari Haruna tanpa harus membongkar rahasia yang begitu ia takuti, dan yang terpenting, bagaimana memastikan Larasati tidak akan pernah sampai bertemu langsung dengan gadis yang ternyata adalah putri kandung mereka sendiri.
Menjelang petang, Larasati bangkit dari duduknya, meraih tas tangan kecilnya. "Pah, Mama mau ke supermarket sebentar, mau beli bahan buat masak malam ini. Mama lihat tadi ayam kampung yang Papa suka lagi diskon."
"Hati-hati di jalan," jawab Bagas singkat, masih tenggelam dalam pikirannya sendiri, tak menyadari bahaya yang baru saja mengintai di balik kepergian istrinya itu.
Larasati melangkah keluar rumah, mengendarai mobilnya menuju supermarket langganan keluarga mereka.
Suasana supermarket sore itu cukup ramai, para pembeli sibuk memilih berbagai kebutuhan untuk makan malam. Larasati berjalan menuju bagian daging, matanya mencari-cari etalase ayam kampung yang biasa ia beli.
Namun begitu sampai di sana, ia mendapati hanya tersisa satu kemasan ayam kampung terakhir di etalase itu, dan tepat pada saat yang bersamaan, sebuah tangan lain juga terulur hendak mengambil kemasan yang sama.
"Eh, maaf," ucap Larasati, menoleh ke arah pemilik tangan itu.
Dan di hadapannya kini berdiri seorang gadis muda dengan wajah cantik alami, tersenyum ramah meski tangannya masih terulur menggapai kemasan ayam yang sama. "Oh, maaf Tante duluan aja," ucap gadis itu sopan, menarik tangannya kembali.
Larasati tersenyum. Namun matanya tak bisa berpaling dari wajah gadis di hadapannya, sebuah perasaan aneh yang begitu asing namun begitu familiar tiba-tiba menyergap hatinya.
Seolah ada sesuatu yang begitu dekat dari sosok gadis yang baru pertama kali ia temui itu. Tanpa ia sadari bahwa ia baru saja berdiri berhadapan langsung dengan calon menantunya sendiri. Gadis yang ternyata adalah darah dagingnya yang hilang, yang selama ini terus disembunyikan rapat-rapat oleh suaminya sendiri.
mungkin ni langkah yg bkal jlan km bisa lebih mudah ,,
jgn nangis kalo d tolak yx neng ,,
aq yg maluuu looo km bgtuuu😹😹😹🫣🫣🫣🫣🫣🫣
buktikan KLO km mampu melewati semua ujian hidup km meski d tengah keterbatasan fisik
meski berat km harus bisa jd support sistem ny Haruna ,,