Zevanna Lyana Oliver dikenal sebagai gadis bar-bar yang sering bolos, membuat onar, dan gemar balapan liar.
Namun, hidupnya berubah setelah kakaknya, Zoyya Fiorellia Oliver, dikabarkan meninggal dunia di sebuah perusahaan ternama.
Kematian Zoyya dianggap sebagai kecelakaan. Tapi Zevanna menemukan kejanggalan yang membuatnya yakin ada sesuatu yang disembunyikan.
Setelah lulus SMA, Zevanna masuk ke Verion Group, perusahaan tempat kakaknya dulu bekerja.
Tujuannya cuma satu: mencari tahu kebenaran di balik kematian Zoyya.
Tapi semakin jauh Zevanna mencari, semakin banyak rahasia yang terbongkar.
Siapa sebenarnya yang berada di balik kematian Zoyya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lannn_019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terbongkar
Pagi hari di kantor Verion Group mendadak heboh gara-gara sebuah pengumuman resmi dari divisi HRD yang masuk ke email seluruh karyawan.
Bukan soal pekerjaan atau target bulanan, melainkan kabar tentang acara khusus yang akan digelar malam nanti di salah satu hotel termewah di pusat kota. Acara itu adalah acara pertunangan sang CEO—Ravenzo Verion Ganendra, dengan Alika Aira Pranaja.
Pihak manajemen bahkan menegaskan kalau seluruh karyawan Verion Group tanpa terkecuali diwajibkan untuk hadir di acara tersebut.
Zevanna langsung bengong. "Hah?! Malam ini?!"
Tisha ikut membaca pengumuman tersebut. "Buset. Dadakan banget cuy."
Zevanna menoleh ke arahnya. "Iya dadakan banget sumpah, nggak ada angin nggak ada hujan, tiba-tiba tunangan cuy."
"Kirain gue, Pak Ravenzo nggak mau tunangan sama Mbak Alika. Ternyata, omg beneran!" Kata Tisha dengan mata membelalak.
Beberapa karyawan lain mulai membicarakan acara tersebut.
Ada yang sibuk memilih pakaian, ada yang penasaran dengan hotelnya.
Zevanna malah mengeluh karena harus datang. "Kenapa karyawan harus ikut sih?"
"Karena yang tunangan CEO." Ujar Tisha pelan.
"Terus? Kan mereka berdua yang tunangan kenapa karyawan yang diajak, ajak aja keluarganya gitu. Kan beres gitu!" Dengus Zevanna.
"Kalau nggak datang, besok kita yang ditanya, Zev."
Zevanna menghela napas. "Sial. Mau kabur juga susah, males banget sumpah!"
Ravenzo melangkah masuk ke dalam kantor dengan gaya santai seperti biasa.
Zevanna yang melihat kedatangan atasannya itu langsung menoleh dan cepat-cepat menghampiri.
"Pak," panggil Zevanna.
"Hm?" jawab Ravenzo tanpa menghentikan langkahnya.
"Bapak beneran mau tunangan?" tanya Zevanna penasaran.
Ravenzo menghentikan langkahnya lalu menatap Zevanna dengan raut wajah datar khasnya. "Memangnya kamu pikir pengumuman dari HRD itu cuma bercanda?"
"Ya... saya kira HRD lagi iseng aja, Pak," jawab Zevanna asal.
Ravenzo tak membalas lagi, hanya memberikan tatapan datar dan dingin.
Zevanna masih penasaran kenapa acaranya mendadak. "Kenapa nggak diumumin dari kemarin, Pak? Dadakan banget!"
"Keputusan keluarga." Jawab Ravenzo singkat.
Zevanna manggut-manggut paham. "Oh gitu toh, orang kaya emang hidupnya beda."
Ravenzo mengangkat alis. "Tapi kamu juga kaya."
Zevanna terdiam sejenak sebelum tersenyum. "Ya kan yang kaya orang tua saya, Pak. Bukan saya-nya, saya masih merintis. Pak, makanya saya kerja disini."
Ravenzo menghela napas. "Kamu kan bisa jadi pewaris keluarga kamu."
"Saya nggak mau jadi pewaris, Pak. Saya mau coba hidup menjadi orang susah itu kayak gimana, Pak. Kan orang tua saya juga masih hidup, masih bisa kerja di perusahaannya. Saya juga bisa kerja sendiri, Pak." Cerocos Zevanna.
Ravenzo geleng-geleng kepala mendengar ucapan Zevanna. "Terserah kamu, kembali kerja."
"Siap Bapak," jawab Zevanna sambil hormat.
Ravenzo menatapnya sekilas sebelum melangkah pergi menuju ruangannya.
Ravenzo masuk ke dalam dan duduk.
Pintu ruangan terbuka, Arvin datang sambil membawa dokumen.
Kali ini bukan soal acara.
Ada beberapa berkas keuangan yang sebelumnya sedang diperiksa.
"Rav, ini ada ketidaksesuaian dana perusahaan sekitar 8,1 miliar yang berkaitan dengan Henry," kata Arvin.
Ravenzo menatapnya serius. "Lo yakin?"
"Data awalnya cocok. Tim audit juga sudah menemukan beberapa transaksi mencurigakan," jawab Arvin.
Ravenzo menautkan jari-jemarinya di atas meja. "Cek semua datanya, kalau dia emang terbukti!"
Arvin mengangguk. "Oke, Rav."
Di tempat lain, Henry menerima pesan dari seseorang.
Isinya singkat.
Unknown: Mereka menemukan transaksi itu.
Henry langsung gelisah. "Nggak, mereka nggak boleh tau soal transaksi itu."
Ia buru-buru menghapus beberapa file dari komputernya.
Tapi tanpa ia sadari, sebagian data sudah diamankan tim audit.
***
Di ruang keluarga Pranaja, Alika sibuk mempersiapkan diri untuk acara pertunangan.
Orang tuanya sangat bangga.
"Alika, Mama nggak sabar banget kamu akhirnya mau tunangan sama Ravenzo," kata Vivi.
"Iya, Ma. Aku juga nggak sabar nanti malam tunangan sama Ravenzo," ucap Alika senang.
Vivi menatapnya intens. "Inget ya, kalau kamu udah tunangan sama Ravenzo. Kamu jangan buat dia marah, kamu harus sayang sama dia."
Alika tersenyum kecil. "Mama, aku sayang banget sama Ravenzo. Aku nggak bakal buat dia marah, malah aku manjain dia kalau dia lagi capek kerja."
Vivi mengusap kepala Alika. "Kamu emang anak yang baik, untung Ravenzo mau tunangan sama kamu."
Alika tersenyum malu-malu. Di dalam hatinya, ia senang akhirnya ia bisa tunangan dengan Ravenzo.
***
Henry diam-diam menghubungi Alika.
Mereka berdua bertemu sebentar di tempat yang sepi.
Henry menatap Alika. "Kita harus hati-hati, Al."
Alika mengerutkan kening. "Maksud kamu apa?"
"Ada yang mulai memeriksa transaksi perusahaan." Jawab Henry dan mengusap wajahnya gusar.
Alika terdiam dan panik. "Terus gimana ini, Henry?"
Henry menghela napas. "Aku udah menghapus beberapa file yang berkaitan dengan transaksi itu tadi."
Alika bernapas lega. "Syukurlah, kalau gitu. Aku udah deg-degan banget kalau sampai ada yang tau soal itu."
Henry mengangguk. "Iya."
Pembicaraan mereka tidak sengaja terlihat oleh seseorang dari kejauhan.
Ia tersenyum miring. "Oh gitu, menarik." Lalu ia pergi begitu saja tanpa Henry dan Alika sadar.
***
Suasana malam di hotel mewah tempat acara berlangsung mulai dipenuhi oleh rombongan keluarga Ganendra, keluarga Pranaja, serta para karyawan Verion Group.
Zevanna dan Tisha melangkah masuk bersama. Cerahnya dress bernuansa pastel yang mereka kenakan tampak menyatu pas dengan atmosfer pesta.
Tisha mendadak menghentikan langkah, matanya membelalak kagum melihat megahnya dekorasi di sekeliling mereka. "Gila, mewah banget acaranya!"
Zevanna menoleh ke arah sahabatnya itu. "Kenapa lo?"
"Gue kalau asal nyentuh dekorasinya, takut langsung disuruh bayar," celetuk Tisha polos.
Zevanna tertawa renyah mendengar kekonyolan Tisha. "Aelah, kayak baru pertama kali aja lo dateng ke acara beginian."
"Lah, emang pertama kali buat gue! Apalagi yang se-mewah dan sebagus ini, cuy," sahut Tisha heboh, lalu menatap Zevanna. "Kalau lo kan udah biasa liat acara kayak gini kan, Zev?"
Zevanna cuma mengangguk santai. "Biasa aja, sih."
"Ya iya lah biasa aja! Orang lo udah sering liat yang ginian," ujar Tisha jengkel melihat kepolosan sahabatnya.
Zevanna cuma terkekeh kecil, lalu matanya tak sengaja menangkap dua sosok familiar di sudut ruangan. "Eh? Itu bukannya orang tua Pak Ravenzo, ya?"
Tisha yang penasaran ikut menoleh ke arah pandangan Zevanna. "Lah, kok lo bisa tau orang tuanya Pak Ravenzo?"
"Ya tau lah. Waktu itu gue pernah diajak Papa gue ke acara perusahaan, nah di sana gue liat mereka. Tapi pas itu Pak Ravenzo-nya malah nggak ada," jawab Zevanna santai.
Dahi Tisha berkerut. "Emang Pak Ravenzo ke mana pas acara itu?"
"Katanya sih lagi di luar negeri, ngurusin cabang perusahaan yang di sana."
"Oh... gitu." Tisha manggut-manggut paham.
Zevanna pun melangkah menghampiri kedua orang tua Ravenzo untuk menyapa.
"Hai, Tante Monica... Om Ardiaz," sapa Zevanna sopan sambil tersenyum manis.
Monica menoleh dan tampak terkejut mengenali wajah di hadapannya. "Loh, kamu Zevanna, kan? Anaknya Pak Yovandra?"
Zevanna mengangguk ramah. "Iya, Tante. Bener."
"Ya ampun! Kamu ngapain di sini? Kamu ikut diundang sama Ravenzo?" tanya Monica antusias.
"Iya, Tante. Saya kan kerja di perusahaannya Pak Ravenzo, jadi ikut diundang juga," jawab Zevanna terus terang.
Mendengar itu, ekspresi Monica langsung tersentak kaget. "Hah? Kamu kerja di Verion Group?!"
"Iya, Tante."
"Kok kamu malah mau kerja di sana? Bukannya Papa kamu juga punya perusahaan besar sendiri, ya?" cecar Monica makin penasaran.
Zevanna menggaruk tengkuknya yang tak gatal, sedikit canggung. "Anu, Tante... aku cuma mau belajar mandiri aja, makanya coba cari pengalaman kerja di Verion Group."
Seketika senyum hangat terukir di wajah Monica. "Ternyata kamu punya pemikiran kayak gitu, ya. Tante kira kamu bakal langsung jadi penerus usaha keluarga, eh tau-taunya malah milih kerja di tempat Ravenzo. Ya kan, Mas?" Monica menyenggol pelan lengan suaminya.
Ardiaz—ayah Ravenzo—hanya menanggapi dengan berdehem singkat tanpa ekspresi. "Hm."
Monica menatap Zevanna lagi sambil terkekeh pelan. "Om Ardiaz emang begitu, dingin banget persis kayak Ravenzo. Kamu maklumi aja, ya?"
"Iya, Tante, nggak apa-apa," sahut Zevanna tersenyum kecil.
Bapak sama anak sama-sama es batu. Bener kata orang, buah jatuh nggak jauh dari pohonnya, batin Zevanna gemes sendiri.
Sementara dari kejauhan, Ravenzo yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Zevanna cuma bisa menggelengkan kepala pelan melihat tingkah bawahannya itu.
Beberapa saat kemudian, acara resmi pun dimulai.
"Selamat malam kepada seluruh tamu undangan yang telah hadir di acara pertunangan Pak Ravenzo Verion Ganendra, CEO Verion Group, dengan Alika Aira Pranaja," ucap MC membuka acara dengan suara lantang.
Suara tepuk tangan riuh langsung memenuhi ruangan dari para tamu yang hadir.
Zevanna dan Tisha pun ikut bertepuk tangan, walau raut wajah Zevanna sudah kelihatan agak bosan.
"Kapan sih selesainya? Gue udah mau balik nih," bisik Zevanna pelan ke arah Tisha.
Tisha menoleh sambil melirik tajam. "Sabar napa! Ini acara baru juga mulai, malah udah mikirin balik aja lo!"
"Ya habisnya gue bosen banget. Mending balik ke kamar, terus rebahan sambil nonton drachin," decak Zevanna pelan.
Ravenzo kini berdiri tepat di hadapan Alika.
Raut bahagia memancar dari wajah kedua keluarga besar yang menyaksikan momen tersebut. Alika sendiri memasang senyum paling manis sambil terus menatap Ravenzo di depan semua tamu undangan. Tapi kalau diperhatikan lebih dekat, jemari gadis itu sebenarnya sedikit gemetar karena gugup.
Ravenzo lalu mengambil kotak dan mengeluarkan cincin pertunangan di dalamnya.
Alika makin melebarkan senyumnya, siap menyambut momen bersejarah dalam hidupnya. Namun, tepat saat Ravenzo hendak memasangkan cincin itu ke jari manis Alika—
BZZZT!
Layar proyektor besar di panggung utama tiba-tiba menyala sendiri dengan suara lumayan keras.
Seketika, perhatian seluruh orang di dalam ballroom teralih dan kompak menoleh ke arah layar proyektor tersebut.
Layar proyektor itu menampilkan sebuah rekaman video pribadi antara Alika dan Henry di dalam ruangan Henry.
Di dalam video itu, Alika sama sekali tidak mengenakan sehelai pakaian pun, begitu juga dengan Henry. Suara desahan dari mulut Alika bahkan terdengar cukup jelas memenuhi seluruh sudut ruangan pesta.
Seketika, suasana di ballroom hotel yang tadinya ramai langsung membeku. Semua tamu bungkam dengan wajah syok.
"Hah? Kok... itu?" cetus Zevanna sambil melebarkan matanya, benar-benar kaget melihat pemandangan di depan panggung.
"Loh? Itu kan..." sahut Tisha tak kalah melongo.
Keduanya mendadak saling menatap dengan raut wajah tidak percaya.
Orang tua Ravenzo terpaku di tempat. Orang tua Alika pun langsung berdiri dari kursinya dengan wajah kaget luar biasa.
Beberapa karyawan yang hadir mulai kasak-kusuk dan berbisik heboh.
"Itu Pak Henry, kan?"
"Sama Alika?"
"Gila, manajer kelakuannya kayak gitu! Malah sama calon tunangan Pak Ravenzo lagi!"
Ravenzo sendiri masih berdiri diam membatu di depan Alika.
Alika yang terkejut setengah mati melihat video itu langsung berteriak histeris. "Matikan! SAYA BILANG MATIKAN!"
Namun tayangan di layar proyektor belum juga berhenti.
Henry yang berada di antara deretan tamu undangan mendadak berwajah pucat pasi. Semua mata di ruangan itu mulai mengarah tajam ke arahnya.
Ravenzo akhirnya menoleh pelan ke arah Henry. Tatapan matanya berubah sangat dingin dan menusuk.
"Henry!"
Henry terdiam mematung.
"Jelaskan, apa maksud semua ini?" panggil Ravenzo menuntut penjelasan.
"Pak, itu semua tidak seperti yang Bapak lihat..." balas Henry terbata-bata.
Ravenzo langsung membuang muka, rahangnya mengeras menahan emosi.
Alika yang panik berusaha meraih tangan Ravenzo. "Rav, ini enggak kayak yang kamu lihat. Aku bisa jelasin—"
Tetapi Ravenzo dengan cepat menepis tangan Alika. "Aku enggak butuh penjelasan dari kamu. Semua sudah jelas!"
Ayah Alika berjalan mendekat dengan wajah merah padam menahan amarah yang meluap. "Alika! Kamu sadar apa yang sudah kamu lakukan ini, hah?!"
Alika menangis tersedu-sedu. “Itu nggak seperti yang kalian pikir!”
Vivi, ibunya, juga menatap Alika dengan raut sangat kecewa. Skandal memalukan ini sudah sukses mempermalukan keluarga mereka di depan publik.
"Mama nggak nyangka kamu bisa lakuin itu! Mau ditaruh di mana muka Mama? Kamu bikin malu nama keluarga, tau enggak!" sentak Vivi.
Alika makin menangis histeris dan menunduk dalam-dalam.
Monica yang selesai menyaksikan video laknat tersebut langsung menoleh tajam ke arah Vivi. "Vi, acara pertunangan ini batal!"
Vivi tersentak kaget mendengarnya. "A-apa? Batal?"
"Iya, batal! Saya enggak mau punya menantu seperti Alika yang bermain sama laki-laki lain!" sentak Monica mantap.
Alika mendongak panik lalu cepat-cepat menghampiri Monica. "Tante, aku minta maaf! Tan, aku mohon jangan batalin tunangan ini... Aku sayang sama Ravenzo, Tante..."
"Apa? Sayang? Kalau sayang, nggak mungkin kamu lakuin hal keji itu! Tante kira kamu anak yang baik, ternyata Tante salah besar. Kamu nggak baik buat Ravenzo! Mulai sekarang kamu jangan pernah ketemu lagi sama Ravenzo. Pertunangan kalian batal!" tegas Monica mutlak tanpa bisa diganggu gugat.
Alika semakin histeris menangis meraung-raung.
Ravenzo sendiri sama sekali tidak melawan atau menolak keputusan mamanya. Pria itu cuma melepas tenang cincin yang tadi belum sempat terpasang di jari Alika.
Di tengah suasana yang masih sangat kacau, beberapa anggota polisi mendadak masuk ke dalam ruangan.
Sontak semua orang kembali terkejut.
Para petugas polisi itu berjalan lurus menghampiri Henry.
Henry terperanjat kaget. "Tunggu! Ada apa ini?"
Polisi langsung menunjukkan surat perintah resmi terkait penyelidikan dugaan penggelapan dana perusahaan.
Henry melebarkan matanya dan seketika membisu.
Arvin melangkah mendekati Ravenzo. "Ravenzo, bukti audit sudah cukup untuk membawa Henry dalam proses hukum."
"Nilainya 8,1 miliar," lanjut Arvin melaporkan.
Henry menatap Ravenzo panik. "Pak Ravenzo, saya bisa jelasin. Saya tidak korupsi dana perusahaan, Pak!"
"Tapi data transaksi, dokumen, dan bukti digital sudah diamankan. Kamu terbukti korupsi dana perusahaan, Henry," potong Arvin tegas.
Henry menggelengkan kepala cepat. "Nggak! Itu semua bohong, kan? Itu pasti palsu!"
Ravenzo menatap Henry dengan pandangan datar dan dingin. “Bawa dia. Serahkan semuanya kepada pihak berwajib.”
"Pak, saya nggak bersalah, Pak!"
Polisi langsung memegang tangan Henry dan memakaikan borgol besi dengan sigap.
Akhirnya Henry diseret keluar oleh pihak kepolisian.
Seluruh tamu undangan menyaksikan kejadian dramatis tersebut.
"Wah, gila banget! Ternyata Pak Henry korupsi!" cetus Zevanna tak percaya.
"Iya, gila tuh orang! Malah korupsinya gede banget sampai miliaran. Pasti Pak Ravenzo rugi besar ini," balas Tisha menggebu-gebu.
"Udah pasti lah rugi besar! Nggak nyangka gue sama dia, kayak nggak punya otak tuh orang. Padahal gajinya udah gede, eh malah korupsi. Stres!" omel Zevanna gemas.
Setelah Henry digiring pergi, suasana gedung perlahan agak kondusif. Beberapa karyawan mulai membubarkan diri dan meninggalkan lokasi.
Keluarga Pranaja sendiri sudah angkat kaki sejak tadi dengan menanggung malu.
Ravenzo lalu menatap Arvin. "Vin, cari tahu siapa yang memasukkan video tersebut ke sistem proyektor."
Arvin mengangguk cepat dan langsung memeriksa sistemnya.
Namun ternyata... tidak ada nama pengirim yang jelas tercantum di sana.
File rahasia itu masuk melalui sebuah perangkat misterius yang tidak dikenali.
"Nggak ada nama pengirimnya, Rav," lapor Arvin.
"Cari tahu terus sampai dapat," perintah Ravenzo dingin.
Arvin mengangguk paham. "Baik, Rav."
Saat orang-orang mulai beranjak meninggalkan ruangan pesta, HP di genggaman Zevanna tiba-tiba bergetar.
Zevanna pun mengecek layar ponselnya.
Unknown: Jangan mengira semuanya sudah selesai, Zevanna.
Dahi Zevanna langsung berkerut dalam membaca pesan asing tersebut.
Apa maksud pesan ini? batinnya heran.
Seketika, benaknya langsung teringat pada sosok Zoyya.
***
Malam harinya di dalam kamar, Zevanna membuka catatan di bukunya.
Ia teringat tiga petunjuk penting yang sudah berhasil mereka kumpulkan sebelumnya:
Bisma dan Hesa memiliki aktivitas akses yang berkaitan dengan lantai 6.
HP Zoyya memiliki file VIDEO_04 yang sampai saat ini masih terkunci.
Ada file CCTV_BACKUP dengan keterangan perangkat MAINTENANCE-03.
"Kalau Henry bukan jawabannya..." gumam Zevanna pelan.
Ia menatap lekat layar HP Zoyya di tangannya.
"Terus siapa dong?"
Tiba-tiba ponsel pribadinya bergetar nyaring di atas nakas.
"Halo, ada apa Tis?" tanya Zevanna begitu mengangkat panggilan.
"Zev, gue dapet informasi! Sebelum acara pertunangan Pak Ravenzo dimulai, gue sempet liat Mbak Elsa dan Mbak Meisya lagi bicara serius dekat area belakang hotel," jawab Tisha heboh di seberang telepon.
"Hah? Yang bener, Tis? Lo denger apa yang mereka omongin?" seru Zevanna kaget.
"Gue nggak terlalu denger semuanya, Zev. Yang gue denger tuh cuma frasa 'jangan sampai ada yang tahu' gitu!" balas Tisha.
Zevanna terdiam sejenak. Rasa curiga langsung memenuhi pikirannya.
"Jangan sampai ada yang tahu? Apa jangan-jangan mereka yang putar video itu tadi?" celetuk Zevanna menduga-duga.
"Gue nggak tahu, Zev. Gue cuma denger itu aja, habis itu mereka berdua langsung pergi," jawab Tisha pasrah.
Ini aneh banget... batin Zevanna makin bingung.
Malam terasa semakin larut.
Zevanna kembali memandangi layar HP milik Zoyya.
File: VIDEO — LOCKED.
Masih saja belum bisa diakses.
Namun tiba-tiba, layar HP Zoyya menunjukkan sebuah notifikasi lama yang sebelumnya tak sempat ia sadari.
Maintenance-03 selesai dipindahkan.
Zevanna seketika membeku. Tatapannya terpaku pada layar.
"Maintenance..."
Sementara itu di tempat terpisah, seseorang yang belum diketahui identitasnya sedang duduk menatap layar komputer yang menampilkan daftar file-file lama.
Di sana, tertera jelas satu nama: Zoyya Fiorellia Oliver.
Sosok misterius itu menyunggingkan senyum miring. "Tinggal sedikit lagi," gumamnya pelan.
Bersambung…
udah nanye kpn pulang bae sampean iku...hadeeeeehhhhh🤣🤣🤣🤣🤣