Di luar pagar sekolah, Affan dan Monisha adalah sepasang suami istri karena perjodohan wasiat keluarga.
Di dalam kelas, mereka adalah dua kutub yang berpura-pura tidak kenal. Affan si ketua OSIS yang harus menjaga reputasinya, sementara Mona hanya ingin lulus dengan tenang.
Mereka sepakat merahasiakan pernikahan ini rapat-rapat. Namun, menyembunyikan status pernikahan di lingkungan SMA tidaklah mudah. Hanya dalam waktu satu minggu, kecemburuan merusak segalanya. Kecurigaan teman-teman, teror dari siswa yang menyukai Mona, hingga kecerobohan mereka sendiri meledakkan rahasia besar tersebut ke seluruh sekolah.
Kini, mereka harus menghadapi konsekuensi sosial, aturan ketat sekolah, di atas perasaan sayang yang sudah tumbuh di antara mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kalung Yang Hilang 32.
Matahari sore menyelinap di antara celah-celah daun pohon beringin tua di depan sanggar seni sekolah, melempar bayangan panjang yang muram di atas lantai semen.
Mona duduk sendirian di undukan tangga, memeluk lututnya erat-erat sambil menunggu Affan yang lagi pergi ke toilet— untuk pulang bersama.
Langkah kaki yang ragu-ragu terdengar mendekat. Mona tidak berniat mendongak sampai sebuah bayangan tinggi runtuh menutupi tubuhnya.
"Mona..."
Suara itu. Mona menegang. Ia mengenali warna suara itu dengan sangat baik. Ya benar, itu Rendy. Teman masa kecilnya, zaman mereka masih suka berebut es mambo, sekaligus orang yang satu bulan lalu mengobrak-abrik grup chat angkatan untuk memamerkan foto bukti pernikahannya ke seluruh penjuru sekolah.
Mona langsung memalingkan muka, enggan menatap cowok jangkung yang kini berdiri kaku di hadapannya. "Mau apa lagi, Ren? Mau ngehina saya lagi? Mau bilang kalau saya cewek murahan karena nikah di usia sekolah? Puas kamu belum?"
Rendy tidak membalas dengan nada angkuh seperti biasanya. Sebaliknya, cowok itu justru perlahan menurunkan badannya, ikut berlutut di lantai semen yang dingin, tepat di hadapan Mona. Wajah Rendy tampak luar biasa kacau. Kantung matanya menghitam, dan tidak ada lagi binar usil yang biasa bertengger di matanya.
"Sekali lagi saya mau minta maaf, Mon," ucap Rendy, suaranya parau dan terdengar tulus tanpa sandiwara. "Saya tahu kata maaf dari saya nggak bakal bisa nambal hancurnya nama baik kamu di sekolah ini. Tapi saya bener-bener nyesel. Saya bego, Mon. Saya cowok paling bajingan sedunia."
Mona terkekeh sumbang langgang, air matanya akhirnya menetes juga. "Nyesel kamu bilang? Setelah kamu bikin satu sekolah mandang saya kayak sampah? Kamu tahu nggak, gara-gara kamu, suami saya dikeluarkan dari OSIS dan mama saya nangis semalaman karena malu!"
Rendy menundukkan kepala begitu dalam, seolah beban bersalah di pundaknya terlalu berat untuk ditopang. "Saya tahu... saya tahu saya salah banget. Saya terlalu dikuasai rasa penasaran dan ego waktu itu. Saya nggak mikirin dampaknya ke kamu."
Rendy menarik napas panjang yang terasa sesak, lalu mulai mengakui segalanya. "Saya... Saya mau ngaku, Mon. Foto Kartu Keluarga yang saya sebar itu... saya dapetnya dengan cara yang bener-bener licik. Waktu papa minjem uang di keluarga kamu, waktu rumah orang tua kamu kosong karena ngobrol di lantai atas, saya lihat bingkai pernikahan kamu di ruang tamu, terus penasaran menjelajah ruang tamu, saya bongkar laci meja di sana. Di situ saya nemu Kartu Keluarga kamu yang ada nama suami kamu, terus saya foto."
Mona terbelalak, menatap Rendy dengan pandangan tidak percaya. "Kamu... kamu beneran lancang ya tanpa izin?! Saya kemarin sempat mau nuduh mama yang sengaja buat kamu keliaran di dalam rumah, Kamu se-putus asa itu cuma buat ngejatuhin saya, Ren? Kita tumbuh dari kecil bareng-bareng! Kenapa kamu jahat banget sih?!"
"Karena saya cemburu, Mon! Dan saya egois! Sisi lain saya enggak puas dikasih uang sama papa cuma tiga puluh ribu karena perusahaan papa mau bangkrut" potong Rendy dengan suara yang mendadak meninggi namun bergetar hebat. "Saya bodoh karena ngerasa dikhianatin sama temen kecil saya sendiri yang tiba-tiba nikah tanpa cerita apa-apa ke saya. Tapi itu murni kesalahan saya. Saya melanggar privasi kamu, saya ngerusak kepercayaan keluarga kamu, dan saya menghina kamu di depan semua orang dengan kata-kata kasar yang harusnya nggak pantas keluar dari mulut temen kecil kamu sendiri."
Rendy kemudian merogoh saku saku seragam nya. Ia mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna merah pudar yang tampak sangat familier di mata Mona.
Ketika Rendy membukanya, sebuah kalung emas putih dengan liontin berbentuk lingkaran kecil yang melingkari batu giok hijau berkilau di bawah temaram sore.
Mona membekap mulutnya sendiri. "Kalung... Kakek?"
"Iya," Rendy mengangguk, menyerahkan kotak itu dengan kedua tangan yang gemetar ke pangkuan Mona. "Dulu waktu perpisahan SMP tepatnya di pinggir taman, saya lihat kalung ini terjatuh di parkiran, saya mengambilnya, merawatnya dan akan mengembalikannya untuk kamu. Saya datang ke sekolah ini sejujurnya mau mengembalikan kalung ini di waktu yang tepat. Mungkin ini waktunya"
Mona mengambil kalung itu, memeluknya di dada sambil menangis sesenggukan.
Kehilangan kalung ini sempat membuatnya frustrasi setengah mati saat memoriam terputar di waktu SMP, berpikir bahwa ia telah menghilangkan satu-satunya kenangan fisik dari sang kakek.
Rendy bangkit berdiri, lalu mundur satu langkah untuk memberikan ruang bagi Mona. Ia menatap Mona yang masih menangis dengan tatapan penuh penyesalan yang mendalam.
"Saya udah balikin kalungnya. Dan besok, saya janji bakal ngadep ke Kepala Sekolah sama pembina OSIS buat bersihin nama kamu. Saya bakal ngaku kalau saya yang nyuri informasi itu secara ilegal dan saya yang bakal tanggung semua sanksinya, bahkan kalau saya harus dikeluarkan dari sekolah sekalipun," kata Rendy tegas, keputusannya sudah bulat. "Saya bener-bener minta maaf, Mona. Semoga suatu hari nanti, entah kapan, kamu bisa maafin temen kecil kamu yang berengsek ini."
Tanpa menunggu jawaban Mona, Rendy berbalik dan berjalan menjauh. Langkah kakinya terdengar berat meninggalkan koridor yang sepi, meninggalkan Mona yang masih terduduk memeluk kalung peninggalan kakeknya, di antara sisa-sisa badai emosi yang baru saja lewat.
......................
...****************...
To be continue,
jujur aja mona sm sahabatnya
klo sudah menikah sm afan