Dila harus menjadi pendamping Azam dan merahasiakan hubungan mereka dari siapa pun.
Awalnya Dila mengira semuanya hanya tentang uang. Namun, semakin ia mengenal Azam, semakin banyak kejanggalan yang muncul.
Mengapa Azam memilih dirinya?
Dari mana pria itu mengetahui kehidupan Dila?
Dan mengapa ia memiliki foto masa lalu Dila?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 — Setahun Untuk Hidup Kembali
Perjalanan pulang dari BPN Jakarta Selatan ke Puskesmas Karangrejo terasa 10 kali lebih lama dari perjalanan berangkat.
Bukan karena macet. Tol Jagorawi sore itu lancar.
Tapi karena di dalam taksi, tidak ada yang bicara. Semua kelelahan. Semua menahan napas.
Fadil terbaring di pangkuan Dilla dengan mata setengah tertutup, perban bahunya sudah diganti baru oleh perawat BPN yang kasihan, tapi darah masih merembes pelan. Dilla memeluk kepala Fadil dengan satu tangan, tangan lainnya memeluk Arif yang sudah tertidur pulas di pangkuan Bu Ratih, kelelahan menangis seharian.
Kalung bunga melati kering di leher Dilla sudah hampir habis kelopaknya. Hanya tinggal tangkainya yang rapuh.
Mahendra duduk di depan, memeluk kotak besi yang kini kosong — karena akta asli 70% dan akta palsu 100% sudah disita BPN sebagai barang sengketa. Kotak kosong itu dipeluknya seperti bayi, seperti ia memeluk Dilla 28 tahun lalu yang tidak sempat ia peluk.
Jatmiko duduk di samping Mahendra, menatap jalan tol yang gelap. Bahunya masih diperban habis donor darah untuk Fadil.
"Mah..." bisik Jatmiko pelan, agar tidak membangunkan Fadil dan Arif di belakang.
"Ya, Jatmiko?"
"Setahun... kita punya setahun untuk hidupkan KTP-mu lagi... kalau gagal... 70% itu jadi milik negara... atau balik ke Bagaskara lagi..."
Mahendra mengangguk pelan. Ia tahu. Blokir 1 tahun dari BPN bukan kemenangan. Hanya jeda.
"Pranoto bilang butuh 3 saksi hidup. Bu Ratih, Suryanto, dan... Nenek Suri. Nenek Suri harus ngaku di pengadilan bahwa dia yang suruh Ayahanda Wiratama palsukan akta kematianku."
Jatmiko menatap Mahendra dengan ngeri. "Nenek Suri... mau ngaku?"
Mahendra menatap kalung bunga melati kering di leher Dilla dari spion taksi.
"Larasati yang bikin dia mau ngaku. Bukan kita."
Jam 17.12 sore, taksi dan mobil patroli sampai kembali di Puskesmas Karangrejo.
Puskesmas yang tadi pagi penuh darah dan teriakan, kini sepi. Hanya ada satu perawat jaga dan bau karbol yang menyengat.
Fadil dibaringkan kembali di bed besi IGD yang sama. Dokter tua dengan kacamata tebal datang lagi dan memeriksa perban Fadil.
"Harus istirahat total 3 hari. Tidak boleh cabut papan lantai lagi. Tidak boleh gendong anak. Tidak boleh..."
"Siap, Dok," potong Fadil dengan suara lemah tapi masih sempat bercanda. "Tidak boleh miskin lagi, Dok?"
Dokter itu tertawa kecil. "Kalau itu tidak bisa saya obati, Pak Fadil. Itu penyakit turunan Karangrejo."
Dilla yang mendengar itu, tertawa kecil sambil menangis. Ia duduk di samping bed Fadil dan menyuapi Fadil dengan bubur yang dibawakan Bu Ratih dari warung.
Arif yang sudah bangun, duduk di bawah bed Fadil, menggambar di buku tulis kecil Larasati — buku yang tadi berisi wasiat Larasati, kini halaman belakangnya dipakai Arif menggambar.
Gambarnya: Rumah petak dengan pohon mangga, bunga melati, dan 6 orang stickman berpegangan tangan: Dilla, Fadil, Arif, Jatmiko, Mahendra, dan... Azam.
Dilla melihat gambar itu dan air matanya jatuh ke bubur Fadil.
"Arif gambar siapa, Nak?"
Arif menunjuk stickman satu per satu dengan serius. "Ini Ibu, ini Ayah, ini Arif, ini Kakek Jatmiko yang donor darah, ini Kakek Mahendra yang tanam pohon mangga, ini Om Azam yang bayar ojek tadi."
Azam yang baru masuk ke IGD dengan Sekar dan membawa 2 kantong plastik berisi es teh dan gorengan, mendengar namanya disebut, berhenti di pintu.
Ia melihat gambar Arif. Ia ada di dalam gambar keluarga itu.
Azam tidak masuk. Ia hanya meletakkan es teh dan gorengan di meja luar dan berbisik pada Sekar.
"Lihat, Sekar... Arif gambar aku... masih di dalam keluarga... meski aku kalah..."
Sekar yang sejak pagi menggenggam tangan Azam, kini menggenggam lebih erat.
"Pak Azam tidak kalah... Pak Azam menang jadi Om Azam..."
Di luar IGD, di bangku kayu tunggu yang reot, Nenek Suri datang dipapah Bu Ratih. Nenek Suri sudah wudhu di mushola dekat jembatan bambu. Mukanya basah, kebayanya diganti dengan daster pinjaman Bu Ratih yang sobek. Tongkatnya yang patah tadi diganti dengan bambu kecil.
Nenek Suri berdiri di depan IGD, tidak berani masuk, hanya mengintip dari jendela kaca.
Di dalam IGD, Mahendra melihat Nenek Suri dari spion bed Fadil.
"Bu Suri..." panggil Mahendra pelan.
Nenek Suri masuk dengan tertatih, dipapah Bu Ratih. Ia berdiri di depan bed Fadil dan menatap Dilla dan Arif.
"Dilla..." suaranya serak dan gemetar, tidak ada lagi angkuhnya seperti di ruko Glodok dan BPN tadi. "Nenek... mau minta maaf..."
Dilla yang melihat Nenek Suri 85 tahun berdiri dengan daster sobek, tidak tega. Ia bangun dan memapah Nenek Suri duduk di kursi plastik di samping bed Fadil.
"Nek, duduk dulu..."
Nenek Suri duduk dan menatap kotak besi kosong di pangkuan Mahendra.
"Mahendra... 28 tahun lalu... saya yang suruh Ayahanda Wiratama matikan KTP-mu... saya yang suruh buat akta kematian palsu kecelakaan tol... karena saya takut miskin lagi... seperti zaman Jepang... adik saya mati kelaparan di gendongan saya... saya tidak mau cucu-cucu saya mati kelaparan juga..."
Mahendra menatap Nenek Suri. Perempuan yang 28 tahun ia benci, yang buat ia jadi pemulung, kini menangis di depannya dengan daster sobek.
"Bu Suri... adik Bu Suri yang mati kelaparan... namanya siapa?" tanya Mahendra pelan.
Nenek Suri terisak. "Sumi... namanya Sumi... umur 2 tahun... mati di gendongan saya waktu Jepang sita beras kami..."
Dilla yang mendengar itu, langsung memeluk Nenek Suri dari samping. Dilla yang juga pernah tidak bisa beli beras untuk Arif, mengerti rasa takut itu.
"Nek... Arif juga pernah tidak makan sehari karena beras habis, Nek... aku ngerti..."
Nenek Suri memeluk balik Dilla dengan erat. Untuk pertama kalinya dalam 50 tahun, Nenek Suri memeluk cucu buyutnya.
"Maafkan Nenek ya, Dilla... Nenek akan jadi saksi di pengadilan minggu depan... Nenek akan bilang semua... bahwa Mahendra masih hidup... bahwa akta 70% itu asli... bahwa Nenek yang suruh palsukan..."
Pranoto yang sejak tadi berdiri di pintu IGD dengan tas kulit kosongnya — karena akta sudah disita BPN — langsung mencatat.
"Bagus! Dengan pengakuan Nenek Suri, ditambah Bu Ratih dan Suryanto, kita punya 3 saksi hidup! Sidang pembatalan akta kematian Mahendra bisa minggu depan di PN Jakarta Pusat!"
Azam yang mendengar itu, langsung menelepon pengacaranya.
"Halo, Pak Hotman, siapkan sidang PN Jakpus minggu depan. Saksi 3 orang, plus surat keterangan lahir Dilla dan kalung bunga melati sebagai barang bukti nikah siri."
Suryanto yang masih diborgol plastik, duduk di pojok IGD dengan kepala tertunduk.
"Pak Azam... saya... saya mau jadi saksi... tapi... Bagaskara dari penjara tadi kirim pesan lewat pengacaranya... katanya kalau saya jadi saksi Mahendra hidup... anak saya di kampung akan..."
Suryanto tidak melanjutkan. Ia menangis.
Fadil yang mendengar itu dari bed besi, mencoba bangun dengan bahu diperban.
"Suryanto... anakmu di mana?"
"Di kampung... Cirebon... umur 6 tahun... sama seperti Arif..."
Fadil menatap Dilla, lalu menatap Azam.
"Pak Azam... bisa tolong... jaga anak Suryanto... seperti Bapak jaga Arif tadi..."
Azam langsung mengangguk tanpa pikir panjang. "Saya kirim 2 orang saya ke Cirebon malam ini juga. Anak Suryanto aman."
Suryanto yang mendengar itu, langsung bersujud di lantai Puskesmas yang kotor, di kaki bed Fadil.
"Terima kasih, Pak Fadil... terima kasih..."
Fadil tersenyum lemah dan mengusap kepala Suryanto yang botak dengan tangan yang masih bisa bergerak.
"Sudah... jangan sujud... kita sama-sama bapak yang pernah salah..."
Jam 19.23 malam, Puskesmas Karangrejo yang reot itu penuh sesak. Bukan oleh pasien, tapi oleh keluarga.
Fadil yang masih di bed besi, Dilla dan Arif yang tidur di samping bed di lantai dengan tikar, Mahendra dan Jatmiko yang tidur di bangku kayu tunggu sambil memeluk kotak besi kosong, Bu Ratih dan Sekar dan Laras yang tidur di dapur Puskesmas dengan rantang kosong, Nenek Suri yang tidur di mushola kecil Puskesmas setelah sholat Isya pertama dalam 50 tahun, Suryanto yang tidur di sel tahanan Puskesmas yang pintunya tidak dikunci polisi karena kasihan, dan Azam yang tidak tidur, duduk di luar Puskesmas di bawah pohon jambu, menatap sawah Karangrejo yang gelap, dengan kelopak bunga melati kering di saku kemejanya.
Pranoto datang membawa kabar dari Jakarta dengan ponselnya.
"Besok pagi jam 9, sidang pertama pembatalan akta kematian Mahendra di PN Jakpus. Hakimnya... Hakim yang dulu urus akta kematian Mahendra tahun 1988. Dia masih hidup. Umur 75 tahun."
Semua yang tidur langsung bangun.
Mahendra menatap kotak besi kosong di pelukannya.
"Besok... aku harus bilang ke hakim yang matikan aku 28 tahun lalu... bahwa aku masih hidup..."
Dilla memeluk Mahendra dari samping, dengan kalung bunga melati kering yang sudah hampir habis di lehernya.
"Ayah tidak sendirian, Ayah... ada Dilla... ada Arif... ada Mas Fadil... ada Ayah Jatmiko... ada Bu Ratih... ada Nenek Suri yang sudah mau ngaku..."
Fadil yang masih di bed besi, mengangkat tangannya yang diperban dan menggenggam tangan Dilla dan Mahendra sekaligus.
"Kita berangkat besok pagi-pagi... naik taksi yang tadi lagi... yang sopirnya sudah dibayar Azam seharian..."
Azam yang mendengar itu dari luar, masuk dan berkata pelan, "Taksi itu sudah saya beli, Fadil. Jadi milik kontrakan kita. Biar tidak bocor lagi."
Semua tertawa kecil di Puskesmas reot itu, di tengah malam, di tengah bau karbol, di tengah perban berdarah, di tengah kotak besi kosong dan kalung bunga melati kering.
Karena untuk pertama kalinya setelah 28 tahun, mereka bukan lagi keluarga yang berebut 70%. Mereka keluarga yang berebut siapa yang donor darah, siapa yang jaga anak Suryanto di Cirebon, siapa yang belikan bunga melati baru yang segar untuk mengganti yang kering.
Bersambung...