wanita miskin yg biasa-biasa saja tiba tiba jadi putri bangsawan?
violenne lavienna arabelle wanita biasa berusia 29 tahun,yg bekerja di kota Nanterre,Paris.
Dia adalah wanita yg tidak mendapatkan peran keluarga,dan tidak tahu apa itu 'pulang' dia selalu bekerja keras untuk mewujudkan mimpinya yaitu memiliki keluarga yg harmonis.
usahanya sedikit lagi akan membuahkan hasil tapi...takdir berkata lain.dia tiba tiba saja mati,bukan tertabrak,bukan tertembak,bukan juga tertusuk,lalu apa?
semuanya terjadi begitu cepat,tanpa ada yg menyadari,ia sendiri juga tidak tahu apa yg sedang terjadi pada dirinya,lalu apakah hidupnya akan berakhir begitu saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon stella bluebell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14 - Panggilan Mendadak
Keesokan paginya, beberapa guru datang menjemputku dan membawaku menuju ruang Kepala Akademi. Sesampainya di depan ruangan, aku menarik napas sebelum mengetuk pintu.
Tok... tok...
"Masuk."
Aku membuka pintu. Beberapa guru telah berdiri di dalam ruangan. Kak Sera juga berada di sana. Di balik meja kerja duduk seorang wanita berambut ungu pekat dengan mata biru tajam.
"Celestia, putri ketiga keluarga Viscount Celesthior."
"Aku Olivia Rossalie, Kepala Akademi."
Aku segera menundukkan kepala.
"Aku tidak punya banyak waktu, jadi aku akan langsung ke intinya."
Tatapan Profesor Olivia berubah tajam.
"Apakah kau pernah bertemu dengan Pangeran Mahkota?"
"Ya."
"Ada keperluan apa Profesor mencariku?"
"Hahaha!"
Profesor Olivia tiba-tiba tertawa. Di sampingnya, Kak Sera tampak mengembuskan napas panjang seolah baru saja melepaskan beban.
"Kau sungguh gadis yang menarik."
Senyumnya menghilang.
"Kudengar semalam ada yang berusaha membunuh Pangeran Mahkota, Gabriel Zaydan de Silveth. Dan kebetulan, saat kejadian itu terjadi, kau juga tidak berada di aula."
Aku langsung menyadari bahwa pertanyaan sebelumnya hanyalah jebakan untuk melihat reaksiku.
Aku menatap sekeliling.
"Maaf, Profesor. Apakah semua guru di sini memiliki izin untuk mendengar pembicaraan mengenai keluarga kerajaan?"
Profesor Olivia terdiam. Ia memahami maksudku. Tanpa membuang waktu, ia memerintahkan seluruh guru keluar.
Dalam aturan kerajaan silveth hanya orang tertentu yg bisa mendengar percakapan politik tentang keluarga kerajaan.
Setelah ruangan kosong, aku kembali berbicara.
"Aku memang bersama Pangeran Mahkota saat insiden itu terjadi. Kami melihat para penyusup secara langsung."
"Lalu kenapa kau tidak langsung melaporkannya?"
"Aku hanya mengetahui sebagian kecil dari mereka. Selama ini aku belum pernah keluar dan berbaur dengan masyarakat, jadi mustahil bagiku mengenali semuanya."
"Benar juga. Usiamu bahkan belum lima belas tahun."
Aku mengangguk.
"Karena itu, aku membutuhkan bantuan Profesor."
"Bantuan?"
"Aku ingin Profesor membantuku menyelidiki beberapa orang. Termasuk beberapa guru di akademi ini."
Profesor Olivia membelalakkan mata.
"Apa? Jadi ada penyusup di akademi?"
Aku mengangguk.
Tak lama kemudian, seluruh guru akademi dikumpulkan di ruangan tersebut. Aku memperhatikan mereka satu per satu sebelum menunjuk beberapa orang.
"Profesor, tolong minta guru-guru yang tidak kupanggil untuk keluar."
Setelah mereka pergi, tersisa tujuh guru dari total tiga puluh lima guru akademi,ya 1/5....
Profesor Olivia mencatat nama mereka.
"Ada apa ini, Profesor?" protes salah seorang guru.
Aku memperhatikan salah satu dari mereka mulai menggenggam tongkat sihir di pinggangnya, sementara yang lain tampak bersiap mencabut pedang.
Sebelum mereka bertindak, Profesor Olivia lebih dahulu berbicara.
"Dalam beberapa hari lagi akan diadakan festival tahunan akademi. Kalian bertujuh akan menjadi penanggung jawabnya."
Mereka saling berpandangan sebelum akhirnya meninggalkan ruangan.
Setelah pintu tertutup, Profesor Olivia memijat pelipisnya.
"Aku benar-benar tidak menyangka ada penyusup sebanyak ini di akademi."
"tapi bagaimana caramu mengenali mereka?"
"Mereka memiliki tanda yang sama," jawabku.
"Tanda dengan gambar naga hitam."
"Ada yang mengenakannya pada barang miliknya, dan ada pula yang memilikinya pada tubuh."
"Naga hitam..." gumam Profesor Olivia. "Bukankah itu simbol kehancuran?"
"Benar. Kemungkinan besar tujuan mereka adalah menghancurkan seseorang."
"Lalu bagaimana dengan penyamaran yang tadi kau maksud?"
"Aku ingin Profesor membantuku menyusup ke kalangan masyarakat dan para bangsawan. Aku harus menyelidiki mereka lebih dalam."
Profesor Olivia terdiam beberapa saat sebelum mengangguk.
"Baik. Tiga hari lagi aku akan mengirimkan surat kepadamu."
Ia kemudian menatapku tajam.
"Masih ada satu hal lagi. Kekuatan apa yang kau gunakan saat bertemu Sera? Kekuatan itu tidak mungkin dimiliki manusia biasa."
Tubuhku merinding.
Hawa dingin tiba-tiba terasa dari luar ruangan.
"Hei, apa kau mendengarkanku?"
"Eh... ah, iya."
Profesor Olivia menggeleng.
"Kau benar-benar mirip ayahmu."
Setelah itu, ia mencubit kepalaku.
"Ah, sakit!"
"Ini diskriminasi guru terhadap murid. Dasar Nenek Tua Peyot!"
Aku langsung menutup mulut.
Profesor Olivia menatapku tajam.
"Sudah. Pergilah. Sera pasti sedang menunggumu."
Aku segera keluar. Tepat di depan pintu, Kak Sera ternyata sudah menunggu.
"Kak Sera?"
"Eh... bukan apa-apa. Aku hanya takut Ayah akan memenggalku jika terjadi sesuatu padamu."
Ayah mana di dunia ini yang tega memenggal putrinya? batinku.
Padahal jelas sekali Kak Sera sangat mengkhawatirkanku.
Dasar tsundere.
Setelah itu, Kak Sera mengantarku kembali ke kamar. Tak lama kemudian, sepucuk surat dari Kael tiba.
«Celes,
Kudengar kau dipanggil ke ruang Kepala Akademi. Apa yang kau lakukan kali ini? Jangan bilang kau membuat masalah lagi.
Oh ya, apa ada yang ingin kau jelaskan? Kenapa kau berdansa dengan laki-laki lain setelah berdansa dengan tunanganmu?
— Kael»
Jelas sekali tujuan utama surat itu hanyalah meminta klarifikasi.
Aku segera membalas.
«Kael,
Aku hanya membuat masalah kecil.
Soal dansa itu, aku berdansa dengan Pangeran karena beliau sendiri yang mengajakku. Lagi pula, bukankah tidak sopan bagi seorang wanita menolak ajakan dansa dari pria yang memiliki kedudukan jauh lebih tinggi?
— Celestia»
Setelah berbagai kejadian beberapa hari terakhir, akhirnya hari pertama sekolah dimulai.
Aku ditempatkan di kelas tingkat terendah. Pembagian kelas ditentukan berdasarkan tingkat mana yang dimiliki setiap murid.
Karena bola kristal pengukur mana pecah saat kusentuh, akademi menganggapku tidak memiliki mana sama sekali.
Sungguh konyol.
Murid dengan tingkat mana 0 hingga 3 ditempatkan di kelas bawah, tingkat 4 hingga 6 di kelas menengah, sedangkan tingkat 7 hingga 10 berada di kelas atas.
Bukankah ini termasuk bentuk diskriminasi? batinku.
Saat sedang memikirkan hal itu, seorang wanita berambut cokelat memasuki kelas.
"Perkenalkan, namaku Elena Welfrend," ucapnya sambil tersenyum ramah.
"Aku guru pendamping kalian selama berada di akademi ini. Kalian bisa memanggilku Profesor Elena."