NovelToon NovelToon
Antara Benci Dan Cinta

Antara Benci Dan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

Pernikahan ini bukan tentang cinta, melainkan sebuah hukuman.

Bagi Alvan, Andira adalah wanita berdarah dingin yang harus membayar kematian adiknya. Demi membalas dendam, ia mengikat Andira dalam pernikahan sedingin es yang penuh aturan ketat dan kebencian.

Bagi Andira, pernikahan ini adalah satu-satunya cara membuktikan bahwa ia tidak bersalah dan mengungkap kebenaran di balik jebakan kelam keluarga sendiri.

Namun, saat rahasia mulai terkuak dan dalang sebenarnya bersembunyi di balik senyuman terdekat, akankah benih cinta sanggup tumbuh di atas tanah dendam?

"Aku menikahimu bukan untuk membahagiakanmu, Andira, tapi untuk memastikan kamu membayar setiap tetes air mata keluargaku."

Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Antara Benci Dan Cinta.
By - Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Matahari terbit menembus tirai sutra kamar utama mansion Samudra, menyiramkan pendar keemasan di atas lantai marmer yang dingin. Di balik kemewahan itu, aroma ketegangan sisa semalam masih tertinggal pekat di udara.

Alvan berdiri mematung di samping tempat tidur. Ibu jarinya baru saja meraba benjolan keras di balik lapisan perban pergelangan tangan kanan Andira. Matanya yang tajam menatap Andira dengan intensitas yang sanggup menghentikan detak jantung.

"Apa yang kamu sembunyikan di balik perbanmu ini, Andira?" bisik Alvan dengan suara berat yang bergetar.

Jantung Andira berdegup kencang hingga terasa menyengat dadanya. Namun sebelum Alvan sempat menarik kain kassa itu lebih jauh untuk menguliti rahasianya, pintu utama mansion di lantai bawah digedor dengan kepanikan yang disengaja.

Brak! Brak! Brak!

"Mas Alvan! Mas Alvan!"

Suara tangisan histeris yang dibuat-buat menggema melintasi ruang tengah hingga merambat naik ke koridor lantai dua. Itu suara Elena.

Alvan menghentikan gerakannya. Kerutan di dahinya makin dalam, membawa kekesalan yang samar. Ia mengalihkan tatapannya dari tangan Andira menuju arah pintu kamar utama yang masih terkunci dari dalam.

Andira memanfaatkan celah pecahan detik itu. Dengan gerakan halus namun cepat, ia menarik pergelangan tangannya kembali, membetulkan lipatan kassa yang longgar dan menutupinya rapat-rapat dengan lengan kemeja panjangnya.

"Pak Alvan..." suara Andira memecah keheningan, mengalun tenang meski napasnya masih menyisakan kegugupan. "Sepertinya Mbak Elena sangat cemas di bawah."

Alvan menatap Andira sejenak, menyimpan kecurigaannya tentang benda keras di balik perban itu untuk momen yang lebih tepat. Pria itu berdiri tegak, merapikan kemejanya yang kusut akibat pertarungan semalam, lalu memutar kunci ganda kamar utama.

"Tetap di sini sampai aku memanggilmu," perintah Alvan datar sebelum melangkah keluar menuju lantai bawah.

~

Di ruang tengah, Elena berdiri dengan gaun putih gading bertumpuk yang sangat anggun. Rambutnya tertata rapi, namun wajahnya dipoles riasan yang sengaja dibuat agak pucat untuk menampilkan kesan syok berat. Di sampingnya, Bi Inah berdiri ketakutan seraya memegang nampan teh yang gemetar.

Begitu melihat Alvan berjalan turun dari tangga utama, Elena melesat menghampirinya. Tanpa ragu, wanita itu menjatuhkan tubuhnya ke dada Alvan, melingkarkan tangannya dengan erat.

"Mas Alvan! Oh Tuhan, aku baru saja mendengar kabar dari penjaga gerbang!" tangis Elena pecah, menyembunyikan wajahnya di bahu Alvan. "Katanya semalam ada penyusup berdarah dingin yang menerobos masuk ke mansion! Aku sangat takut terjadi sesuatu padamu, Mas!"

Alvan tidak membalas pelukan itu. Kedua tangannya tetap berada di samping tubuhnya, kaku bagaikan patung. Respon Alvan yang dingin membuat Elena menyipitkan mata di balik kebasahan air matanya, merasakan ada geseran aneh dalam sikap pria itu.

"Aku baik-baik saja, Elena," jawab Alvan seraya melepaskan cengkeraman tangan Elena pada bahunya secara halus namun tegas. "Penyusup itu sudah kabur."

Elena mengusap pipinya dengan saputangan sutra, matanya bergerak cepat memindai koridor lantai atas. "Lalu... bagaimana dengan wanita itu? Si Andira? Apa penjahat itu sempat melukainya? Atau jangan-jangan..."

Satu sudut bibir Elena terangkat tipis sebelum ia kembali memasang raut raut khawatir yang manipulatif.

"Mas, aku sungguh tidak tenang sejak mendengar kabar ini," lanjut Elena dengan nada suara teramat lembut, suara beracun yang dirancang untuk menusuk pikiran Alvan. "Apakah Mas Alvan tidak merasa ada yang aneh dengan kejadian semalam?"

Alvan berjalan menuju sofa, mendudukkan tubuhnya yang lelah seraya menatap Elena datar. "Apa maksudmu?"

Elena melangkah mendekat, duduk di sofa berhadapan dengan Alvan. Ia memajukan tubuhnya, berbisik dengan raut muka yang sangat serius seolah membocorkan sebuah rahasia besar.

"Pikirkan baik-baik, Mas," bisik Elena, menanamkan benih racunnya. "Sistem keamanan mansion ini dibangun dengan teknologi terbaik oleh mendiang Roy. Tidak ada pencuri biasa yang sanggup menembus pagar luar tanpa memicu alarm... kecuali jika ada orang dalam yang mematikan jalur sensor atau memberi jalan!"

Alvan menyipitkan matanya. "Orang dalam?"

"Siapa lagi kalau bukan Andira?" potong Elena cepat, matanya membelalak berpura-pura cemas. "Andira tahu dia makin terdesak karena kita terus mencari bukti kematian Roy. Dia pasti menyewa komplotan lamanya untuk berpura-pura menyerangnya! Skenario 'penyusupan' ini dibuat hanya agar Mas Alvan merasa kasihan padanya, melelahkan kewaspadaan Mas, dan akhirnya memberi wanita itu celah untuk melarikan diri!"

Elena memegang jemari Alvan, memerasnya pelan. "Mas Alvan harus sadar, wanita itu pembunuh yang sangat licik! Dia bisa merekayasa apa saja demi menyelamatkan dirinya sendiri. Jangan biarkan rasa iba melumpuhkan logika Mas!"

Hasutan itu meluncur bagaikan bisa ular yang pekat. Elena tersenyum tipis di dalam hatinya, merasa yakin bahwa racun rakitannya akan kembali membakar amarah Alvan pada Andira, persis seperti yang selalu berhasil ia lakukan selama ini.

Namun, sebelum Alvan sempat merespons kalimat Elena, langkah kaki yang ringan dan teratur terdengar menuruni anak tangga.

Andira muncul.

Ia mengenakan pakaian kerja pelayan yang bersih namun sederhana, rambutnya diikat rapi ke belakang. Di lehernya, sebuah selendang tipis menutupi bekas cengkeraman jari kemerahan yang memar akibat serangan semalam.

Wajahnya pucat, tetapi matanya memancarkan ketenangan yang teramat bening, sebuah ketenangan yang tidak membalas dendam, namun sanggup meruntuhkan kebohongan.

Elena membeku seketika. Matanya membelalak kaget saat melihat Andira berjalan turun bukan dari tangga sayap pelayan, melainkan langsung dari lorong kamar utama Alvan!

"Kenapa dia berada di kamar utama Alvan ?!" batin Elena menjerit penuh kegeraman yang membakar.

Andira melangkah mendekati meja tengah tanpa memandang Elena dengan rasa takut sedikit pun. Dengan gerakan tangan kirinya yang terampil, sementara tangan kanannya diposisikan sangat hati-hati agar tidak menunjukkan kecanggungan, Andira meletakkan cangkir kopi hitam panas di depan Alvan.

"Kopi Anda, Pak Alvan," ujar Andira, suaranya mengalun sangat lembut dan stabil, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda trauma dari perangkap maut semalam. "Saya sudah menyesuaikan tingkat manisnya seperti yang Anda sukai."

Alvan menatap cangkir kopi itu, lalu mengalihkan pandangannya pada Andira. Tidak ada getaran ketakutan pada wanita ini. Bahkan di hadapan Elena, Andira tetap melayaninya dengan keheningan yang anggun dan tanpa cela.

Elena yang merasa diabaikan seketika berdiri, dadanya naik turun menahan amarah. Ia sengaja melangkah mendekati Andira, menatapnya dari atas ke bawah dengan pandangan jijik yang penuh hinaan.

"Luar biasa," desis Elena tajam, nada suaranya berubah menjadi patukan ular yang terang-terangan. "Kamu masih bisa bersandiwara melayani Mas Alvan setelah kekacauan yang kamu buat semalam? Berapa banyak uang yang kamu bayarkan pada penyusup itu untuk berpura-pura mencengkeram lehermu, hm?"

Andira tidak mundur selangkah pun. Ia berdiri tegak, menatap mata Elena dengan ketenangan yang dingin.

"Elena," jawab Andira tenang, suaranya terdengar jelas di seluruh ruang tengah. "Jika saya ingin melarikan diri, saya tidak akan menunggu di rumah ini sampai rasa sakit di pergelangan tangan saya membaik. Dan jika saya memiliki komplotan, orang itu tidak akan membawa suntikan racun yang dirancang untuk menghentikan detak jantung saya dalam sepuluh detik."

Mata Elena membelalak. Suntikan racun. Elena tidak pernah menyebutkan detail suntikan itu pada siapa pun! Pernyataan Andira yang jujur dan gamblang itu memukul telak kedok keberanian Elena.

"K-kamu... jangan asal bicara!" gagap Elena, wajahnya mendadak memerah karena panik dan murka. "Kamu hanya berusaha membalikkan fakta agar Mas Alvan mempercayaimu!"

Elena mengangkat tangannya secara impulsif, berniat menampar wajah Andira untuk melampiaskan frustrasinya karena kehilangan kendali.

Srett!

Sebelum telapak tangan Elena menyentuh pipi Andira, Alvan telah berdiri dan mencengkeram pergelangan tangan Elena di udara dengan kekuatan yang tidak bisa dibantah.

"Cukup, Elena," ujar Alvan. Suaranya tidak keras, namun mengandung tekanan dingin yang membekukan atmosfer ruangan.

Elena terperanjat, menatap Alvan dengan mata tak percaya. "Mas Alvan?! Kamu membela wanita pembunuh ini di depanku?!"

Alvan melepaskan tangan Elena secara perlahan. "Aku tidak membela siapa pun. Tapi penyusupan semalam adalah urusanku dan kepolisian. Kamu tidak perlu ikut campur terlalu jauh hingga bertindak kasar di rumahku."

Kata-kata Alvan, 'di rumahku' terdengar bagaikan tamparan tak kasat mata bagi Elena. Untuk pertama kalinya sejak Roy meninggal, Alvan memasang batas yang tegas terhadap dirinya demi Andira.

Elena mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga kuku-kukunya menancap ke telapak tangan. Rasa dengki dan murka yang membakar dadanya hampir membuatnya kehilangan akal sehat. Ia menyadari bahwa kekerasan fisik dan tuduhan murahannya tidak lagi bekerja pada Alvan.

Ia harus mengubah strateginya. Ia harus mempermalukan Andira di depan dunia luar, menghancurkan harga diri wanita itu di hadapan seluruh relasi bisnis keluarga Samudra hingga Alvan tidak punya pilihan selain membuangnya kembali ke neraka.

Elena mendengus dingin, memaksakan sebuah senyuman miring yang penuh dengan tipu daya kejam di bibirnya yang merah. Ia merapikan gaunnya, menarik napas panjang untuk menguasai emosinya kembali.

"Baiklah... kalau Mas Alvan menganggap aku terlalu cemas," ujar Elena dengan nada suara yang sengaja diubah menjadi lebih luwes, seolah-olah ia telah mengalah. "Aku minta maaf kalau reaksimu membuat suasana jadi tidak enak."

Elena melangkah menuju meja kopi, menyambar tas tangan mewahnya, lalu mengeluarkan sebuah amplop hitam bersepuh emas yang teramat elegan dari dalamnya. Amplop tersebut memiliki lambang embossed resmi dari Samudra Group.

Elena meletakkan amplop mewah itu di atas meja, persis di samping cangkir kopi Alvan.

"Malam esok adalah acara Annual Gala Dinner & Business Award Samudra Group di Hotel Grand Hyatt," kata Elena seraya menatap Alvan dengan pandangan yang sulit diartikan. "Seluruh jajaran komisaris, investor asing, dan media nasional akan hadir untuk mengenang kontribusi mendiang Roy sekaligus merayakan kepemimpinanmu."

Alvan menatap amplop itu datar. "Aku tahu jadwal itu."

"Tapi ada satu hal yang belum Mas Alvan jadwalkan," lanjut Elena dengan senyuman licik yang makin melebar. Pandangannya bergulir penuh racun ke arah Andira yang masih berdiri mematung di samping meja.

"Bawalah Andira ke acara gala dinner itu, Mas."

Alvan memicingkan matanya. "Apa maksudmu?"

Elena melipat kedua tangannya di dada, melangkah memutari Andira bagaikan musang yang mengitari mangsanya.

"Bukankah Mas Alvan selalu bilang bahwa status pernikahan kalian adalah bentuk 'hukuman' bagi wanita ini?" bisik Elena dengan suara manis yang mematikan. "Biarkan publik melihat siapa wanita yang sudah menggantikan posisi di sampingmu. Biarkan para investor, media, dan teman-teman mendiang Roy menatap wajahnya. Bukankah tidak ada hukuman sosial yang lebih kejam daripada berdiri di bawah sorot lampu kemewahan... seraya dibisiki dan ditunjuk oleh ratusan orang sebagai seorang wanita pembunuh yang tidak tahu malu?"

Elena mendekatkan wajahnya ke telinga Alvan, memberikan dorongan terakhir.

"Tunjukkan pada dunia betapa indahnya caramu menyiksa seorang pengkhianat, Mas. Atau... apakah Mas Alvan takut karena mulai jatuh hati padanya?"

Kata-kata Elena menggantung di udara bagaikan umpan beracun yang sangat memikat.

Alvan membeku. Pertanyaan terakhir Elena menyengat kebanggaan dan harga dirinya sebagai seorang pria yang telah bersumpah menuntut balas atas kematian adiknya.

Andira menatap Alvan dengan napas tertahan. Ia tahu acara gala dinner itu akan menjadi panggung eksekusi mental yang sangat mengerikan baginya. Di sana, ia akan dilempar ke tengah kawanan serigala tanpa perlindungan.

Alvan perlahan menyentuh amplop hitam bersepuh emas itu, jemarinya mengepal di atas permukaan kertasnya yang mahal. Matanya beralih menatap Andira dengan kilatan emosi yang tidak bisa dibaca.

"Siapkan gaun terburuk yang ada," ujar Alvan dingin, suaranya menusuk keheningan. "Dia akan ikut bersamaku besok malam."

Elena tersenyum puas secara kemenangan. Di balik matanya yang licik, ia sudah membayangkan kehancuran total Andira di atas karpet merah besok malam, sebuah jebakan publik yang tidak akan bisa diloloskan oleh wanita mana pun.

...----------------...

To Be Continue ....

1
Ibuk Oppo
dobel up kakak
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
Andira kamu wanita kuat tetap semangat ya Allah bersamamu 🥺...elena kamu boleh tertawa sepuasnya sebelum semua kebusukan mu terbongkar 😏
Reniochim
seru nih kayaknya..sekelebat ceritanya kayak sinetron ikatan cinta.
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Rina Kurnia
waduuhh....miss ra...tragis kali ya....🥺🥺
Miss Ra: 🤗/Chuckle/
total 1 replies
Eva Karmita
mampir otor 🙏
Eva Karmita: 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
total 2 replies
Ma Em
Miss jgn terlalu kejam nanti Alvan pada Andira kasihan karena Andira mungkin dijebak oleh adik tirinya si Alena .
Miss Ra: 🤗/Chuckle/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!