Hidup mati seseorang tidak ada yang tahu.
Begitupun dengan jodoh.
Hawa yang memberontak karena dijodohkan dengan kakak kelasnya akhirnya mencoba menerimanya, dengan perjanjian agar di rahasiakan. mengingat mereka masih duduk di bangku sekolah, tapi qodarullah ibu Hawa sakit dan meminta Hasby mengucap ijab kabul secara rahasia di tempat ibu Hawa dirawat. ibunya meninggal dengan tenang karena Hawa tidak sendiri lagi, sudah ada Hasby dan keluarga barunya.
Dengan berat hati Hawa menerima status barunya itu serta mencoba menjalaninya. Entah mampu bertahan atau berhenti ditengah jalan, Hawa tak tahu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wulan Antya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 11
Hawa beranjak dari pintu dan menguncinya. Ia mulai menata bajunya kedalam lemari dan pergi kekamar mandi untuk membersihkan diri sebelum melaksanakan sholat. Ditengah-tengah asyiknya mandi terdengar suara pintu diketuk kencang. Hawa mengernyit, lekas buru-buru menyelesaikan mandinya dan berganti pakaian rumahan yang nyaman tapi tetap tertutup. Ia menarik gagang pintu dan memutarnya pelan, begitu pintu kamar mandi terbuka ia bergegas membuka pintu kamar tidurnya. Tapi kosong, tidak ada orang. Hawa hendak menutup pintu itu tapi sebuah tangan menahannya. Terlihat tangan seorang laki-laki, Hawa menoleh dan netranya bertemu dengan netra seseorang. Ternyata Hasby yang menahan pintu kamarnya.
"Astaghfirullah, bikin kaget aja" Hawa memekik sampai suaranya memenuhi lorong dilantai atas itu. Hasby melepaskan tangannya dari pintu. Mundur sedikit.
"Maaf, dari tadi diketuk nggak dibuka,,, aku pikir kamu pingsan didalam." ungkapnya datar sambil menutup telinganya karena suara Hawa.
"Aku sedang mandi kak." mengerucutkan bibirnya karena kesal dibuat kaget.
"Ya sudah. Udah sholat?" tanyanya menelisik wajah Hawa dengan datarnya. Hawa menghela napasnya perlahan. "Lagi halangan kak." jawabnya singkat. "Kakak ada apa mengetuk pintu kamarku?" lanjutnya melihat Hasby sebentar sebelum menundukkan kepalanya.
"Cuma mastiin, apa kamu sudah sholat atau belum." jelasnya datar. "Ya sudah. Nanti kalau sudah selesai turun makan malam!" hasby melenggang pergi dari depan pintu kamar Hawa. Belum sempat Hawa menjawab, Hasby sudah kembali masuk kedalam kamarnya.
"huft,, belum juga dijawab, udah main pergi aja" gumam Hawa pelan. Sedikit kesal karena ditinggal gitu aja. Hawa masuk dan menutup pintu kamarnya rapat-rapat.
Hawa duduk dimeja belajar dikamarnya dengan tenang. Ia belajar untuk hari esok. Karena mulai besok ia akan aktif sekolah lagi. Setelah izin selama seminggu lebih. Ia sangat merindukan Asrina, sahabat satu-satunya. Merindukan sekolah, bangkunya, kelasnya, perpustakaan,taman sekolah. Sungguh konyol memang, tapi itulah yang dirasakan Hawa.
Gawainya menyala putih dengan bunyi Ting pelan. Ia segera meraihnya, membaca pesan singkat itu.
Ayo turun,saatnya makan.
Cepat!
Yah begitulah isi pesan singkat dari Hasby. Hawa tidak membalasnya, ia menyimpan gawainya diatas meja belajar lagi. Segera ia merapikan kembali buku-buku pelajarannya itu. Bergegas untuk turun keruang makan. Karena ia sudah sangat lapar. Cacing-cacing diperutnya sudah protes sejak tadi.
Hawa berjalan menuruni tangga dengan lumayan cepat, karena tidak ingin Hasby terlalu lama menunggunya, sesampainya dilantai bawah ia segera mengambil tempat duduk diseberang Hasby. Karena piring sudah diletakkan disana. Malam ini mereka makan berdu saja. Mama dan Papa sedang ada acara diluar. Merasa canggung, Haw mencoba mengingat kalau dulu ibunya selalu melayani bapaknya, makan selalu diambilkan. Kata ibu istri memang harus seperti itu. Ia inisiatif mengambil piring untuk Hasby. Meniru apa yang dulu pernah ia lihat dan pelajari dari ibunya.
"Kak, mau makan sama apa?" tanyanya pelan. Malu, takut kalau tawarannya tidak diterima. Menahan napas sejenak.
Hasby terkejut tapi kembali menguasai diri. berdehem untuk menetralkan suara dan keterkejutannya itu.
"Sama apa aja aku mau." jawabnya canggung.
Hawa tersenyum tipis, menghembuskan napasnya, merasa lega karena niat baiknya disambut baik oleh Hasby. Tangannya gemetar sedikit saat mengambil nasi, ayam,sambal terasi dan lalapannya. Lengkap dengan air putih segelas penuh.
"ini kak, silahkan menikmati." ia meletakkan piring yang dikhususkan untuk suaminya itu. Pipinya memerah, antara malu dan salah tingkah.
"Makasih Wa." Hasby menjawabnya sedikit lebih lembut. Hawa mendengar jawaban suaminya itu malah semakin memerah pipinya. Ingin rasanya sembunyi dikamar. Hasby melirik istrinya itu sekilas, tersenyum tipis, tapi tidak ada yang tahu kalau dia barusan tersenyum. Manis juga istrinya batinnya gemas. Mulai memperhatikan Hawa lebih.
Hawa mencoba menetralkan kebaperannya itu. mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Mereka mulai makan malam dengan tenang dan hening. Selesai menikmati hidangan makan malam tersebut Hasby pindah keruang tv.
Sedangkan Hawa membantu Bik Im merapikan meja makan dan mencuci piring. Walau Bibik sudah melarang tapi Hawa tetap mencucinya. Bik Im sudah meminta Hasby untuk melarang tapi Hasby memperbolehkan Hawa melakukan selagi ia mampu dan tidak mengganggu pekerjaan orang lain. Setelah selesai Hawa menghampiri Hasby ke ruang tv sambil membawakan segelas susu putih hangat untuk suaminya. Tadi ia bertanya pada Bibik. Hasby selalu minum susu putih hangat sebelum tidur. Hawa belajar menjadi seorang istri yang baik, dengan melayani kebutuhan suaminya itu.
Hawa memberikan segelas susu pada Hasby.
"Ini kak susu hangatnya" Hasby mengalihkan pandangannya dari tv ke Hawa, mengernyitkan dahinya sedikit.
"terimaksih Wa" sambil menerimanya dengan tenang.
Bik Im tersenyum hangat melihat pemandangan itu langsung saja ia abadikan melalui kamera gawainya. mengirimkan gambar tersebut ke Nyonya besar. Pasti Nyonya dan Tuan senang dengan moment manis anak dan menantunya itu, batin Bibik gemas.terkikik pelan.
"Kak, besok pulang sekolah boleh nggak aku pergi bareng Asrina ke toko buku?" tanya Hawa yang duduk tak jauh dari sofa yang diduduki Hasby. Hasby melihat Hawa yang terlihat gugup ketika meminta izinnya. Gemasnya. Batin Hasby.
"Toko buku mana? nyari buat tugas??" tanyanya masih setia menatap istrinya itu.
"Ehm,, toko baru yang baru buka kak, kata Asrina banyak buku bagus." jawab Hawa melihat suaminya dengan menyembunyikan kegugupannya itu.
"ok. Boleh, tapi jangan pulang terlalu sore. Besok pagi berangkat sama aku!" Hasby kali ini tidak beralih melihat acara tv. " Kamu tanggung jawabku, ingat Hawa, kamu boleh pergi main atau kemana aja tapi pesen aku, selalu ngabarin aku ... Jangan bikin Mama Papa khawatir." imbuhnya tegas. Hawa mendengarkan dengan seksama. Ia paham sangat apa yang dimaksud suaminya itu.
"Makasih ya kak, aku janji gak akan pulang terlalu sore. Janji?!" ucapnya semangat, senyum manis menghiasi wajahnya. Hasby tertahan sebentar melihat wajah cantik Hawa yang dihiasi senyum manis itu. Ia langsung mengalihkan pandangannya. Takut ketahuan kalau sedang memperhatikan istrinya terlalu lama, ia memasang muka datar lagi.
"Iya, sekarang tidur sana!" titahnya tegas. Hasby beranjak dari ruang tv setelah mematikan tvnya.
"iya kak, selamat malam" Hawa mengikutinya, setelah mengembalikan gelas kosong ke dapur dan mencucinya terlebih dahulu. "malam juga" gumamnya pelan, tapi masih terdengar di telinga Hawa. Senyum Hawa masih bertengger dibibirnya. Ia melangkahkan kaki menaiki tangga menuju kamar atas disamping kamar suaminya itu. Hatinya terasa ringan dan bahagia.
Mendorong pintu perlahan hingga terbuka lebar, ia segera melangkah kedalam kamar, menutup pintu pelan. menguncinya. Takut ada yang memasuki kamarnya dan melihat sewaktu ia tidak memakai hijabnya.
Ia bergerak untuk menggosok gigi dan mencuci mukanya. Setelah selesai ia berjalan menuju ranjang yang akan menjadi tempat peraduannya malam ini dan malam seterus-seterusnya. Merebahkan badannya untuk meluruhkan kelelahannya hari ini.
Dikamar sebelah juga Hasby mulai tertidur. Ia benar-benar kelelahan. mereka tertidur pulas.
Mama dan Papa baru kembali tepat pukul 23.40. Malam yang sangat larut. Beliau segera memasuki kamar dan beristirahat.
Kriiiing kriiing
Handphone milik Hawa berdering memekakkan telinga, membangunkan pemiliknya. Tangannya berusaha menggapai gawai yang ia berada diatas meja kecil samping ranjangnya. mematikan segera alarmnya.Hawa mengucek matanya sambil meregangkan badannya. Beranjak bangun untuk segera menunaikan sholat subuh.