NovelToon NovelToon
Setelah Kata Usai

Setelah Kata Usai

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Menikah dengan Kerabat Mantan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:226
Nilai: 5
Nama Author: Fahri Sohil Munawar

Beberapa hubungan berakhir bukan karena rasa cinta yang pudar, melainkan karena rahasia yang terlalu berat untuk dipikul sendirian.
​Diputus sepihak oleh Putri membuat Alex terjebak dalam labirin pertanyaan tanpa jawaban. Rasa patah hati membawanya pada titik terendah, memaksa Alex merangkak bangkit dan menata ulang takdirnya lewat kata demi kata yang ia tulis.
​Kehadiran Syafa seperti cahaya senja yang tenang—menghangatkan hatinya yang beku dan membantunya menyembuhkan luka. Namun, saat batas antara masa lalu dan masa depan semakin kabur, Alex dihadapkan pada kenyataan pahit yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
​"Setelah Kata Usai" adalah perjalanan emosional tentang bagaimana menyembuhkan diri dari pengkhianatan, memahami arti melepaskan, dan menemukan cinta sejati di tempat yang paling tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fahri Sohil Munawar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 munculnya sosok baru

Satu bulan berlalu sejak perkelahian hebat di pinggir jalan itu. Alex kini sedang menjalani fase tersulit dalam hidupnya: mencoba melupakan masa lalu secepat mungkin. Tak bisa dipungkiri, rasa sakit dari pengkhianatan itu selalu datang menyerang setiap kali kesepian melanda.

“Mmm... Gimana ya? Apa cari cewek baru aja?” gumam Alex sendiri di kamar sambil merapikan pakaian untuk berangkat ke kampus. “Tapi... kalau asal cari, kasihan ceweknya. Takut cuma jadi pelampiasan. Tapi kalau gini terus... cape juga.”

Gelisah dengan pikirannya sendiri, Alex menghela napas panjang lalu melangkah keluar menuju motornya.

Sesampainya di parkiran kampus, sudut mata Alex menangkap sosok wanita yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Mahasiswi dengan paras tenang dari fakultas lain yang baru kali ini melintas di area parkiran utama. Untuk sejenak, tatapan Alex terkunci pada wajah wanita itu.

Namun, lamunannya buyar seketika saat sebuah tepukan keras mendarat di bahunya. Umam muncul tanpa permisi, membuat sosok wanita itu perlahan berjalan makin jauh dari jangkauan pandangan Alex.

“Eh, ngelihatin apa Lo? Cewek itu?” goda Umam sambil senyum-senyum sendiri.

“Dih, apaan sih? Enggak lah!” elak Alex cepat.

Umam terkekeh melihat reaksi sahabatnya.

“Ngaku aja, Lex. Lo penasaran kan siapa dia?” ledek Umam sambil menyenggol lengan Alex.

“Ya elah, Mam... Beda kelas kali. Dia kelihatan anak orang kaya gitu, lah gue? Uang saku aja pas-pasan. Mana cocok,” jawab Alex jujur. Meskipun gengsi mengakui, jauh di dalam hatinya Alex memang penasaran.

“Yeeuh, kata siapa? Emang Lo tahu dia anak siapa?” balas Umam dengan nada mengejek.

“Emang Lo tahu, Mam?” tanya Alex balik.

“Dih, ngapain kasih tahu? Katanya tadi nggak cocok,” sahut Umam tertawa puas melihat Alex yang mulai terpancing.

“Yeeuh, tinggal jawab aja ribet amat Lo!” gerutu Alex dengan wajah cemberut.

Umam langsung pasang aksi gaya detektif. “Itu Syafa, Lex. Anak Fakultas Psikologi. Dan denger-denger sih dia jomblo... Baru ditinggal pacarnya dua tahun lalu karena meninggal.”

Alex mendelik kaget. “Dih, detail banget! Dapet info dari mana Lo?”

“Adalah... Umam gitu loh, info kampus mana yang gue nggak tahu,” jawab Umam bangga menepuk dadanya sendiri.

Setelah perbincangan itu, mereka berdua langsung melangkah menuju kelas. Walau satu bulan telah berlalu, hubungan antara Alex dan Marko tak kunjung membaik. Di dalam kelas mau pun di luar, keduanya memilih saling tutup mata dan tak pernah saling menyapa.

Jam pelajaran akhirnya berakhir. Saat yang paling ditunggu-tunggu tiba, Alex melangkah keluar kelas menelusuri lorong koridor kampus yang mulai ramai. Namun, saat berjalan di antara kerumunan mahasiswa, tiba-tiba seorang wanita dari arah berlawanan menabrak tubuhnya dengan cukup keras.

BRUGG!

Buku-buku dan lembaran kertas seketika berserakan di atas lantai koridor.

"Ehh, maaf! Maaf banget, nggak sengaja... aku lagi buru-buru," ucap wanita itu panik sambil berlutut merapikan buku-bukunya yang tercecer.

"Gimana sih? Jalan pakai mata dong!" gerutu Alex sambil mengibaskan bajunya yang agak kusut dan memunguti kertas miliknya yang ikut terjatuh.

"Ya maaf... Namanya juga nggak sengaja," sahut wanita itu dengan nada agak sebal, menatap Alex yang dinilainya beraksi terlalu galak.

Namun, begitu pandangan mereka bertemu, Alex tertegun. Paras wanita di hadapannya terasa tidak asing. Alex baru sadar kalau cewek yang baru saja menabraknya adalah wanita yang sama dengan yang ia perhatikan tadi pagi di parkiran.

"Lo... Syafa? Anak Fakultas Psikologi kan?" tanya Alex, mencoba menutupi rasa terkejutnya dengan tetap pasang muka datar.

"Iya, kenapa?" jawab Syafa makin sebal melihat gaya Alex yang terkesan sok dingin. 

Meski begitu, jauh di dalam hatinya, Syafa sebenarnya penasaran dengan sosok cowok jangkung berwajah tegas di depannya ini.

"Lo sendiri...?" tanya Syafa menggantung, berharap cowok itu mau menyebutkan namanya.

"Gue? Kenalin, Alex. Anak Hukum," jawab Alex singkat, lalu menambahkan dengan senyum tipis yang terkesan menggoda, "Kenapa? Penasaran ya?"

"Dih... apaan sih! Ya udah, makasih!" cetus Syafa cemberut. Tanpa membuang waktu lagi, ia langsung berdiri dan melangkah pergi meninggalkan Alex.

Alex menatap punggung Syafa yang perlahan menghilang di belokan koridor, menyisakan senyum kecil di bibirnya—sebuah senyum tulus yang sudah satu bulan ini tak pernah muncul di wajahnya.

Gelak tawa dan godaan ringan itu tak bertahan lama. Begitu sampai di parkiran, Alex kembali dihadapkan pada kenyataan hidup. Satu bulan terakhir ini, Alex mengambil pekerjaan paruh waktu di toko fotokopi milik pamannya demi menambah uang saku dan membantu perekonomian keluarga yang sedang kesulitan.

Setiap hari selepas kuliah, ia harus membagi waktu antara tugas kampus dan mesin fotokopi yang tak berhenti menderu. Rasa lelah tak jarang menggerogoti tubuhnya, namun Alex tak punya pilihan lain. Di pundaknya, ada harapan besar orang tua yang ingin melihat putra tunggal mereka mengenakan toga dan meraih gelar Sarjana Hukum.

Di tengah deru mesin fotokopi, pintu toko mendadak terbuka. Sosok wanita yang tadi siang menabraknya di koridor kampus Syafa melangkah masuk membawa beberapa buku tebal.

"Eh, Lo ngapain di sini? Mana mamangnya? Gue mau fotokopi tugas nih," ucap Syafa heran karena ia tahu betul yang biasa berjaga di situ adalah paman Alex, bukan cowok itu.

Alex yang sedang merapikan kertas menoleh, lalu menjawab dengan nada sedikit tinggi berusaha mencerna maksud pertanyaan Syafa, "Menurut Lo? Gue di sini ngapain kalau bukan jaga toko?"

Syafa manggut-manggut. "Oh... jadi Lo yang jaga sekarang? Tolong dong ini, terus yang bagian ini, sama yang ini difotokopi sekalian dijadiin satu lembar ya," kata Syafa sambil memperlihatkan bagian buku yang dimaksud.

"Oke, wait," sahut Alex singkat seraya mengambil buku dari tangan Syafa.

Namun sayang, baru saja Alex hendak memotokopi buku tersebut, aliran listrik mendadak mati total. Suara mesin fotokopi terhenti seketika, menyisakan keheningan di dalam toko. Mau tak mau, Alex harus memberitahu Syafa bahwa tugasnya tidak bisa diselesaikan saat itu juga.

"Maaf banget nih, tugas Lo kaga bisa selesai sekarang," tutur Alex.

"Terus gimana? Gue butuh banget soalnya buat besok!" kata Syafa dengan raut wajah panik, berharap ada solusi yang diberikan oleh Alex.

Alex berpikir sejenak sebelum akhirnya mendapat ide. "Gini aja deh, gue minta nomor Lo. Ntar malam tugasnya gue anterin langsung ke rumah Lo."

Syafa menatap Alex ragu sejenak, lalu mengangguk. "Oh, oke... tapi gratis ongkir, kan?"

"Aman aja," ucap Alex terkekeh tipis.

Setelah memberikan nomor teleponnya, Syafa pun melangkah pergi meninggalkan Alex dan tugas-tugasnya yang masih tertahan di atas meja toko.

1
Putry Chan
deskripsi terlalu bertele-tele, belum nyambung.
judul dan tagar tidak nyambung " dusta yang sempurna" tema balas dendam, romansa fantasi tapi deskripsi nya hanya berbicara putus cinta dan trauma tidak ada unsur kebohongan, fantasi, atau persaingan.
tidak memancing penasaran.
kurang emosi yang terasa

dan cover tulisan belum menyatu
kurang memikat mata
belum ada menggambar isi cerita
Fahri Sohil Munawar: terimakasih kak atas sarannya akan saya perbaiki terimakasih mohon bimbingannya
total 1 replies
Anisa Nur Afifah
lanjut kakk
Fahri Sohil Munawar: makasih kak sudah mampir 😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!