Reynard Sutanto.
CEO termuda Sutanto Group. Konglomerat paling berkuasa se-Indonesia. Dijuluki "Dewa Bisnis" oleh seluruh dunia usaha.
Tapi di balik semua itu, ada satu rahasia yang membuatnya tak pernah bisa tidur nyenyak: tiga tahun lalu, dia divonis mandul. Selamanya.
Akibat racun yang diberikan seorang wanita dari keluarga Goh, Reynard kehilangan kemampuan untuk memiliki keturunan. Pewaris tunggal Sutanto Group... tanpa pewaris. Dia memilih mengasingkan diri ke Gunung Lawu selama tiga tahun, menyerah pada takdir.
Sampai suatu hari, di sebuah pesta biasa di BSD City, matanya jatuh pada seorang anak laki-laki berusia tiga tahun.
Wajah anak itu... persis seperti dirinya.
Alis tegas. Tatapan tajam. Garis rahang yang sama. Seolah seseorang mengecilkan Reynard Sutanto dan menaruhnya di tubuh balita.
Anak itu bernama **Bobo**. Dan ibunya? **Meilan Mulyadi** -- seorang single mother yang tinggal di kontrakan sempit di Serpong, berjuang mati-matian menghidupi anak kembarnya: si kecil Bobo yang jenius dan Lala yang menggemaskan.
Meilan bukan wanita biasa. Di balik penampilannya yang sederhana, tersembunyi kecerdasan luar biasa dan keberanian yang membuat tujuh preman keok dalam satu malam. Dari nol, dia membangun kerajaan bisnis -- mulai dari resep restoran sampai brand fashion "Cantika" -- semua dengan otaknya sendiri.
Tapi masa lalunya menyimpan luka yang tak pernah sembuh: sebuah gudang tua di Jakarta Timur, satu malam yang mengubah segalanya, dan seorang pria yang wajahnya tak pernah bisa dia ingat...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 30: Surat dari Jakarta
Kali ini, tidak ada jarak yang benar-benar sama lagi.
Keesokan paginya, Meilan berpura-pura semua baik-baik saja.
Ia mengganti air minum Bobo, mengecek jadwal obat, menanyakan suhu tubuh pada perawat, lalu menyuapi anak itu bubur encer sesuai anjuran Dr. Kelvin. Wajahnya tenang. Gerakannya rapi. Hanya telinganya yang sedikit merah setiap kali Reynard masuk kamar.
Reynard tidak menyinggung ciuman itu.
Justru karena ia tidak menyinggungnya, Meilan semakin sulit bersikap biasa.
Bobo yang sudah lebih sadar menatap mereka bergantian. Anak kecil itu belum punya tenaga untuk banyak bicara, tetapi matanya cukup jernih untuk menangkap suasana aneh di ruangan.
"Mama panas?" tanyanya.
Meilan hampir menjatuhkan sendok.
"Tidak."
Reynard menunduk, pura-pura membaca laporan medis. Sudut bibirnya bergerak sangat tipis.
Meilan menatapnya tajam.
Sore itu, Adrian tiba dari Jakarta bersama Bima. Wajah remaja itu masih pucat, tetapi sikapnya jauh lebih stabil sejak identitasnya terbuka. Ia berdiri di depan ranjang Bobo dan menunduk canggung.
"Cepat sembuh, Bobo."
Bobo menatapnya. "Ko Adrian bawa mainan?"
Adrian langsung panik. "Aku... aku lupa."
Untuk pertama kalinya sejak operasi, Bobo tersenyum kecil. "Besok bawa."
Reynard melihat interaksi itu dengan mata lebih lembut. Namun kelembutan itu tidak bertahan lama. Bima menyerahkan tablet berisi dokumen mendesak dari Sutanto Group. Ada rapat direksi yang tidak bisa lagi ditunda, ditambah beberapa urusan Adrian yang harus diselesaikan langsung di Jakarta.
Malamnya, Reynard berdiri di lorong luar kamar rawat.
"Aku harus kembali ke Jakarta besok pagi," katanya pada Meilan.
Meilan sudah menduganya, tetapi dadanya tetap terasa kosong sesaat. "Bobo sudah stabil. Dr. Kelvin juga masih di sini."
"Aku akan mengatur dokter pendamping sampai kalian kembali ke BSD. Bayu tinggal di Surabaya. Bima ikut aku."
"Aku tidak meminta pengawal."
"Aku tahu." Reynard menatapnya. "Ini bukan untuk mengikatmu. Ini agar aku bisa bernapas di Jakarta."
Kalimat itu membuat Meilan kehilangan bantahan.
Pagi berikutnya, Reynard benar-benar pergi bersama Adrian. Ia tidak masuk terlalu lama ke kamar Bobo. Ia hanya berdiri di sisi ranjang, menunggu izin dari Meilan melalui tatapan.
Meilan mengangguk kecil.
Reynard mendekat. "Cepat sembuh, Bobo."
Bobo memejamkan mata sebentar, lalu berkata pelan, "Jangan bikin Mama capek."
"Tidak."
"Janji?"
Reynard menunduk. "Janji."
Bobo tidak memanggil Papa. Tetapi bagi Reynard, satu kata janji itu sudah cukup membuat dadanya panas sepanjang perjalanan ke bandara.
Dua hari setelah Reynard pergi, Meilan menerima tiga pesan suara di WhatsApp. Semuanya dikirim pada jam yang berbeda, seolah pria itu sudah merekam, menghapus, lalu merekam ulang berkali-kali.
Pesan pertama terdengar sangat bisnis.
"Mei, pasar makanan siap saji di Jakarta sedang buruk. Banyak pemain lama mahal tapi tidak stabil. Kalau Asap Dapur buka cabang dengan standar bersih, harga masuk akal, dan menu keluarga, peluangnya besar."
Meilan mendengarkan sambil memegang sendok obat Bobo. Ia ingin tertawa.
Pria itu baru saja mencium orang, lalu dua hari kemudian mengirim analisis pasar.
Pesan kedua lebih pendek.
"Mama Victoria belum bisa datang. Kesehatannya sedang tidak baik. Dia tahu soal Bobo dan Lala. Aku belum menceritakan semuanya sebelum kamu siap. Tolong jaga anak-anak sampai aku bisa membawa Mama bertemu mereka dengan benar."
Senyum Meilan perlahan menghilang. Ia memutar pesan itu lagi, kali ini lebih pelan.
Reynard tidak mendahuluinya.
Ia punya kuasa untuk membawa Victoria Sutanto datang kapan pun, tetapi ia memilih menunggu kesiapan Meilan.
Pesan ketiga datang malam hari, ketika Bobo sudah tidur dan Sari mengirim foto Lala memeluk bantal di rumah BSD.
Suara Reynard terdengar lebih rendah dari biasanya.
"Mama Victoria salah paham. Dia kira aku menyukai janda bawa anak."
Meilan membeku.
Beberapa detik kemudian, lanjutan pesan itu terdengar.
"Aku tidak membantah. Kalau dia marah, biar padaku dulu."
Meilan menutup wajah dengan ponsel.
"Orang ini..." gumamnya.
Namun sudut bibirnya tidak bisa turun.
Seminggu kemudian, Dr. Kelvin mengizinkan Bobo kembali ke BSD dengan jadwal kontrol ketat. Begitu mobil berhenti di depan rumah Griya Asri, Lala berlari dari teras sambil menangis keras. Sari mengejarnya dari belakang.
"Ko Bobo!"
Bobo duduk di kursi roda kecil sementara perawat membantu menurunkannya. Ia masih lemah, tetapi mengangkat tangan.
"Lala pelan."
Lala langsung memeluknya hati-hati, menangis di bahunya. "Lala kangen."
"Bobo juga."
Meilan berdiri di samping mereka, matanya panas. Untuk beberapa menit, rumah itu kembali terdengar seperti rumah.
Yanto tiba sore harinya dengan tas kulit tua yang sama. Ia membawa buku gambar, kartu angka, dan beberapa puzzle sederhana. Begitu melihat Bobo dan Lala duduk bersebelahan di sofa, ekspresinya berubah sedikit.
Ia pernah melihat wajah Reynard kecil dalam foto keluarga Sutanto.
Melihat Bobo sekarang, seperti melihat masa lalu itu duduk hidup-hidup di ruang tamu Meilan.
"Selamat sore, Nak Bobo. Nak Lala."
Lala menatapnya penasaran. "Om guru?"
Yanto tersenyum. "Kalau Mama kalian mengizinkan."
Meilan menghela napas. "Mulai besok. Hari ini mereka hanya boleh menyapa."
Bobo menatap Yanto dengan tenang. "Bobo belum boleh belajar lama."
"Saya tahu," jawab Yanto serius. "Murid pintar juga harus tidur."
Bobo tampak puas dengan jawaban itu.
Malamnya, ketika anak-anak tidur, Meilan duduk di meja makan bersama Sari. Ia membuka catatan kecil berisi ide cabang Asap Dapur Jakarta. Anehnya, analisis Reynard tentang pasar makanan benar. Bahkan terlalu benar untuk diabaikan.
Ia baru menulis tiga lokasi potensial ketika ponselnya berdering.
Nama Patrick muncul di layar.
"Mei," suara Patrick terdengar lebih hidup dari biasanya, "Leo tertangkap."
Meilan berhenti menulis.
"Kasus apa?"
"Penyelundupan barang palsu. Ada laporan anonim, lengkap dengan foto gudang dan daftar distribusi. Polisi sekarang sedang mencari gudang utamanya."
Meilan menatap catatan di depannya. Ingatannya kembali pada malam ketika ia masuk ke ruang kerja Leo dan memotret dokumen yang disembunyikan pria itu.
Ternyata foto-foto itu akhirnya berguna.
"Pat," katanya pelan, senyumnya dingin, "kalau polisi butuh petunjuk gudang berikutnya, aku punya sedikit bahan tambahan."