Sejak kecil, Mili selalu menjadi anak yang dianaktirikan, sementara Gea, adik kesayangannya, selalu mendapatkan segalanya. Saat perjodohan keluarga mempertemukan mereka dengan Andrew dan David, Mili terpaksa menikah dengan David yang dingin, sedangkan Gea memilih Andrew yang dianggap sempurna.
Namun, kenyataan berbalik. Andrew jauh dari harapan, sementara David justru menjadi suami yang tulus mencintai Mili. Diliputi penyesalan, Gea tanpa malu meminta Mili menceraikan David agar bisa merebutnya. Kali ini, Mili menolak mengalah. Dengan satu kalimat yang menohok, ia menatap adiknya dan berkata, "Kamu kira suamiku barang?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Mili mendadak menghentikan langkahnya tepat di undakan semen terakhir teras rumah.
Di hadapannya, beberapa mobil mewah berwarna hitam legam berjejer rapi, memantulkan cahaya lampu jalan dengan berkilau.
Salah satu mobil di barisan paling depan tampak sangat megah, tipe keluaran terbaru yang harganya pasti selangit.
"K-kita... naik itu?" tanya Mili terbata-bata, menunjuk ragu ke arah mobil mewah di depannya.
David menoleh sedikit, menatap wajah istrinya yang tampak tegang.
"Iya. Kenapa?"
Mili langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam, meremas tas kainnya dengan erat.
Bayangan masa lalu mendadak berputar di kepalanya bagai kaset rusak.
Ia masih ingat betul bagaimana Papa, Mama, dan Gea selalu melarangnya menyentuh, apalagi naik ke dalam mobil keluarga.
Baginya, jangankan naik mobil mewah, melangkah keluar dari pagar rumah saja ia hampir tidak pernah diizinkan.
Kedua orang tuanya selalu mengurungnya, menganggap kehadirannya di luar hanya akan membawa kesialan bagi nama baik mereka.
Melihat Mili yang mendadak ciut, David menghela napas pelan.
Suaranya yang berat kembali terdengar, memecah trauma yang sedang menghantui gadis itu.
"Jangan takut. Mobil itu tidak akan memakanmu," ucap David datar, namun entah mengapa terdengar seperti sebuah penenangan di telinga Mili.
Mili mendongak, menatap mata suaminya sejenak sebelum akhirnya mengangguk.
Ia menunduk untuk mengelus bulu lembut Dora yang berada di pelukannya.
"Dora... kita naik mobil, ya. Jangan takut," bisiknya, lebih kepada menenangkan dirinya sendiri.
Seorang sopir berjas rapi yang sudah bersiap sejak tadi segera maju dengan sigap.
Dengan penuh hormat, ia membukakan pintu penumpang bagian belakang.
Mili melangkah masuk dengan canggung, lalu duduk di kursi kulit yang teramat empuk, tepat di samping suaminya.
"Ayo kita jalan," perintah David singkat kepada sopirnya.
"Baik, Tuan."
Sopir itu menutup pintu dengan pelan, lalu segera duduk di kursi kemudi dan melajukan mobil mewah tersebut membelah jalanan malam, meninggalkan kediaman Ben yang penuh kepalsuan. Tujuan mereka adalah rumah pribadi milik David.
Di sepanjang perjalanan, Mili tidak bisa menyembunyikan rasa takjubnya.
Wajahnya menempel di kaca jendela mobil, matanya berbinar mencerminkan lampu-lampu kota yang kelap-kelip dengan indahnya.
Jalanan malam yang ramai, papan reklame yang terang, dan hiruk-pikuk kota malam hari terlihat begitu memukau di matanya.
"Ini... indah sekali..." gumam Mili tanpa sadar, bibirnya mengukir senyum tulus yang sangat tipis.
David yang sejak tadi memperhatikannya dari samping, sedikit mengernyitkan dahi.
"Kamu, tidak pernah keluar rumah?" tanya David, sadar ada yang tidak biasa dari reaksi sang istri.
Mili perlahan mengalihkan pandangannya dari kaca jendela, lalu menatap David seraya menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak pernah. Papa dan Mama tidak pernah mengizinkanku keluar sejak aku kecil. Ini... pertama kalinya aku melihat kota di malam hari," jawab Mili jujur, suaranya terdengar tegar meski ada luka mendalam di sana.
Mendengar jawaban itu, rahang David tampak mengeras samar. Kilatan dingin kembali muncul di matanya, bukan karena marah pada Mili, melainkan karena ia mulai menyadari betapa kejamnya keluarga yang selama ini mengurung wanita yang kini telah sah menjadi istrinya tersebut.
Mobil mewah itu akhirnya melambat dan melewati gerbang besi raksasa yang terbuka otomatis.
Kendaraan bergulir mulus di atas jalan setapak berbatu, memutari air mancur megah sebelum akhirnya berhenti tepat di depan lobi utama sebuah bangunan kolosal.
Begitu pintu mobil dibukakan, Mili melangkah keluar sambil mendekap Dora.
Matanya membelalak lebar, menatap arsitektur megah di hadapannya tanpa berkedip. Mulutnya sedikit terbuka karena syok.
"I-ini... rumah atau istana?" tanya Mili terbata-bata, nyaris berbisik karena merasa takjub sekaligus terintimidasi oleh kemegahannya.
"Ini rumahku," jawab David datar, seolah bangunan bak istana itu hanyalah rumah biasa baginya.
Ia melangkah tegap mendahului Mili, memimpin jalan menuju pintu utama.
Di sana, dua baris pelayan berseragam rapi sudah berdiri menyambut mereka.
Begitu David dan Mili mendekat, para pelayan itu serentak menundukkan tubuh mereka dengan penuh hormat.
"Selamat datang, Tuan dan Nyonya David Kartajaya," ucap mereka serempak.
Mili tersentak kecil mendengar panggilan "Nyonya" yang disematkan padanya.
Seumur hidup, ia selalu dipanggil "anak sial" atau bahkan dianggap tidak ada.
Penghormatan ini terasa sangat asing bagi jiwanya yang terbiasa diinjak-injak.
Seorang pelayan wanita paruh baya maju dengan sopan, matanya tertuju pada kucing abu-abu di pelukan Mili.
"Nyonya, mana kucingnya? Biar saya bawa untuk ditaruh di kandang yang sudah disiapkan."
Mili langsung mengeratkan pelukannya pada Dora, wajahnya mendadak cemas.
"Tapi..."
"Berikan saja padanya. Dia tidak akan membuangnya," potong David pelan, menenangkan kekhawatiran Mili.
Melihat tatapan David yang meyakinkan, Mili akhirnya perlahan menyerahkan Dora ke tangan pelayan tersebut.
Setelah Dora dibawa dengan hati-hati, David kembali melangkah masuk ke dalam ruang tamu yang luasnya berkali-kali lipat dari kamar loteng Mili dulu.
Mili mengekor di belakang suaminya. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang dipenuhi perabotan mewah dan lantai marmer yang mengilat.
Setelah menimbang-nimbang kekhawatirannya sejak di mobil tadi, Mili akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
"Gudangku mana?" tanya Mili polos, menghentikan langkahnya.
David menghentikan langkah tegapnya. Ia membalikkan badan, menatap Mili dengan kening yang mengernyit dalam.
"Gudang? Untuk apa?"
Mili menundukkan kepala, meremas jemarinya sendiri yang mendadak dingin.
"A-aku... biasanya tidur di gudang. Kamarku di rumah Papa berbentuk gudang di lantai atas. Jadi, di mana gudang yang akan menjadi kamarku di sini?"
Suasana di ruangan luas itu mendadak hening seketika.
Pertanyaan polos dari Mili justru terdengar bagai hantaman keras bagi siapa pun yang mendengarnya.
Para pelayan yang masih berdiri di sekitar mereka langsung terdiam, menatap iba ke arah nyonya muda mereka yang ternyata memiliki masa lalu begitu kelam.
Rahang David mengeras. Kilatan emosi yang tajam sempat melintas di matanya saat mendengar betapa tidak manusianya perlakuan keluarga Ben terhadap istrinya sendiri.
Namun, ia dengan cepat mengendalikan ekspresi wajahnya menjadi datar kembali.
David menoleh ke arah para bawahannya. "Kalian semua, pergi dari sini. Tinggalkan kami berdua," perintah David dengan nada dingin yang tidak menerima bantahan.
"Baik, Tuan," jawab para pelayan patuh. Mereka segera membungkuk hormat dan berjalan cepat meninggalkan ruangan, menutup pintu-pintu penghubung hingga menyisakan keheningan total.
Kini, hanya ada David dan Mili yang berdiri di tengah kemegahan rumah itu.
David melangkah perlahan mendekati Mili, siap menatap langsung ke dalam manik mata wanita yang kini telah sepenuhnya menjadi tanggung jawabnya.
"Duduklah, Mili," perintah David, suaranya terdengar lebih melembut dari sebelumnya.
Mili yang masih dirundung rasa cemas luar biasa secara refleks bergerak untuk duduk di atas lantai marmer yang dingin.
Baginya, sofa mewah di ruangan ini terlalu suci untuk disentuh oleh tubuhnya yang terbiasa dianggap kotor.
Melihat tindakan itu, David langsung menahan lengan Mili dengan cepat, mencegah tubuh istrinya menyentuh lantai.
Dengan tegas namun lembut, ia membimbing Mili untuk duduk di atas sofa beludru yang empuk.
"Mili, duduk di kursi. Bukan di lantai," ujar David.
Mili meremas gaun pudar di atas pangkuannya, tubuhnya masih sedikit gemetar.
"I-iya, Tuan..."
"Panggil David. Aku suamimu, bukan tuanmu," potong David dengan nada rendah, menatap lurus ke dalam manik mata Mili yang penuh ketakutan.
Mili tersentak kecil, lalu menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"I-iya... David."
David mengambil tempat duduk di sofa yang berseberangan dengan Mili.
Ia melonggarkan sedikit dasinya, lalu menumpu dagunya dengan satu tangan, memperhatikan ekspresi istrinya yang tampak seperti seekor anak kelinci yang terpojok.
"Sebenarnya ada apa? Apa yang terjadi padamu selama ini di rumah itu?" tanya David langsung pada intinya.
Pertanyaan tentang loteng pengap, larangan naik mobil, hingga sebutan "anak sial" benar-benar mengusik rasa ingin tahunya.
Mendengar pertanyaan itu, Mili mendadak tegang.
Napasnya memburu dan ia reflek menyilangkan kedua tangannya di depan dada, seolah-olah sedang bersiap menerima pukulan atau makian yang biasa ia dapatkan dari Emilia jika ia berani mengeluh.
Rasa takut yang mendalam terpahat jelas di wajah cantiknya.
Melihat reaksi pertahanan diri Mili yang begitu traumatis, David menghela napas panjang.
Aura dinginnya meluruh, digantikan oleh ketegasan seorang pria yang siap menjadi pelindung.
"Mili, lihat aku," ucap David, membuat Mili perlahan mendongak dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Di sini tidak ada keluargamu. Tidak ada Ben, Emilia, ataupun Gea. Ini rumahku, dan sekarang ini juga rumahmu. Jangan takut. Tidak akan ada satu orang pun yang bisa menyakitimu lagi di tempat ini," tegas David, memberikan jaminan keamanan yang selama dua puluh tahun ini tidak pernah Mili dapatkan dari siapa pun.