NovelToon NovelToon
Anak CEO Memanggilku Mama

Anak CEO Memanggilku Mama

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Angst / Pengasuh / Ibu Tiri / Pelakor jahat
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Chandria

Dikhianati keluarga kandung yang kejam, Naya dipenjara empat tahun demi menutupi kesalahan adiknya Rania. Malam sebelum ditangkap, ia bertemu pria misterius Arkan Wiratama di kebun dan mengandung bayi kembar. Satu bayi dicuri Rania jadi pewaris keluarga Wiratama, satu lagi dibuang paksa. Saat bebas penjara, takdir mempertemukan mereka lagi—semua kebohongan akan terbongkar, dan Naya akan menuntut kembali semua haknya yang dirampas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 08 - Mama Rania

Rayyan Wiratama duduk di ranjang VIP dengan infus di tangan dan wajah cemberut.

Di depannya ada bubur ayam, sup, puding, jus, dan beberapa makanan mahal lain yang disiapkan rumah sakit. Tidak satu pun disentuh.

"Rayyan, makan sedikit," bujuk Rania.

Rayyan memalingkan wajah.

"Rayyan sayang, Mama suapin, ya?"

"Tidak."

Rania membeku. "Kenapa?"

"Aku mau Tante darah."

Wajah Rania berubah, tetapi ia cepat tersenyum.

"Namanya bukan Tante darah. Dia cuma orang yang bantu donor. Rayyan tidak boleh terlalu dekat dengan orang asing."

Rayyan menatapnya dengan mata besar yang terlalu tajam untuk anak empat tahun.

"Mama juga jarang dekat."

Rania seperti ditampar.

Nenek Ratih yang duduk di sofa tidak menyembunyikan senyum tipisnya.

"Anak kecil biasanya jujur," katanya.

"Nek," Rania menahan malu.

Pintu terbuka.

Arkan masuk bersama Naya dan Raka.

Rayyan langsung bersinar. Wajah pucatnya hidup kembali.

"Tante!"

Naya berhenti di dekat pintu. Ia tidak tahu harus mendekat atau tidak. Rania menatapnya seperti orang melihat api mendekati tirai.

Arkan memberi perintah pendek.

"Masuk."

Naya melangkah pelan.

Rayyan mengulurkan tangan yang tidak dipasangi infus.

"Tante, ke sini."

Naya berdiri di samping ranjang. "Halo."

"Tante namanya Naya?"

"Iya."

"Aku Rayyan. Tapi Papa manggil aku Ray kalau lagi tidak marah. Kalau marah, namaku panjang sekali."

Naya hampir tersenyum.

"Kamu sering bikin Papa marah?"

"Papa yang gampang marah."

Raka pura-pura batuk.

Arkan menatap anaknya. "Makan."

Rayyan langsung memegang tangan Naya. "Kalau Tante suapin."

Naya kaku.

Rania berdiri cepat. "Rayyan, itu tidak sopan. Mama ada di sini."

Rayyan melihat Rania, lalu mangkuk bubur, lalu Naya.

"Mama Rania dari tadi suapin. Rasanya tidak enak."

"Buburnya sama," kata Rania, suaranya mulai pecah.

"Tangan Mama Rania dingin."

Naya menunduk melihat tangan kecil yang memegang jarinya.

Tangan itu hangat.

Terlalu hangat.

Dan genggamannya...

Naya menggigit bagian dalam pipinya. Jangan menangis. Jangan gila. Anak itu bukan anakmu.

Nenek Ratih memperhatikan semuanya tanpa berkedip.

"Biarkan dia menyuapi," kata wanita tua itu.

"Nek, tapi..."

"Anak sakit mau makan. Kamu mau menolak hanya karena gengsi?"

Rania tidak bisa menjawab.

Naya mengambil mangkuk bubur. Ia duduk di kursi samping ranjang, mengaduk bubur agar tidak terlalu panas.

"Sedikit saja dulu."

Rayyan membuka mulut.

Satu suapan masuk.

Lalu satu lagi.

Rania berdiri di sisi lain ranjang, menahan napas seolah setiap suapan adalah pengkhianatan.

Arkan juga diam.

Ia pernah melihat banyak orang mendekati Rayyan. Pengasuh, guru, saudara jauh, teman bisnis yang ingin mengambil hatinya. Rayyan pintar membaca orang. Ia ramah, tetapi jarang benar-benar melekat.

Dengan Naya, anak itu seperti pulang dari tempat jauh.

"Tante tinggal di mana?" tanya Rayyan di antara suapan.

"Dekat rumah sakit."

"Rumah Tante besar?"

"Kecil."

"Lebih kecil dari kamar aku?"

Naya terdiam.

Arkan menatap Rayyan tajam. "Jaga bicara."

Rayyan langsung menunduk. "Maaf."

Naya menggeleng. "Tidak apa-apa. Rumah Tante memang kecil. Tapi ada Nenek di sana."

"Nenek baik?"

"Sangat baik."

"Aku juga punya Nenek. Nenek Ratih galak, tapi kalau aku tidur, dia cium pipi aku diam-diam."

Nenek Ratih terbatuk.

Naya benar-benar tersenyum kali ini.

Senyum itu kecil, lelah, tetapi tulus.

Arkan melihatnya.

Senyum itu berbeda dari wajah dingin yang ia lihat di kantornya, berbeda dari wajah terhina saat memungut uang. Untuk satu detik, ia melihat perempuan yang mungkin pernah tertawa sebelum dunia menghajarnya.

Rania juga melihat.

Dan rasa takutnya berubah menjadi benci.

Setelah Rayyan makan setengah mangkuk, dokter masuk memeriksa. Kondisinya membaik. Semua orang lega, kecuali Rania yang makin gelisah.

Saat Naya keluar untuk mencuci tangan, Rania menyusul.

Di koridor dekat dispenser, Rania mencengkeram lengan Naya.

"Apa maumu?"

Naya menarik tangannya. "Jangan sentuh saya."

"Kamu sengaja muncul, kan? Setelah empat tahun, tiba-tiba kamu ada di lounge, lalu rumah sakit, lalu kantor Arkan."

"Dunia tidak berputar mengelilingimu, Rania."

"Jangan sok suci. Kamu mantan napi. Aku bisa memberitahu Arkan apa yang kamu lakukan."

Naya menatapnya tenang.

"Silakan."

Rania kaget.

"Kamu pikir aku takut? Semua orang sudah bisa tahu aku pernah dipenjara. Yang tidak mereka tahu adalah kenapa aku dipenjara."

Wajah Rania menegang.

Naya melangkah lebih dekat.

"Kamu masih menyimpan cincin itu?"

Rania refleks menutup jari manisnya.

"Itu milikku."

"Benarkah?"

"Arkan memberikannya padaku."

"Arkan bahkan tidak sadar saat cincin itu jatuh."

Rania menampar Naya.

Suara tamparan menggema di koridor.

Naya menoleh pelan, pipinya merah.

Rania bernapas cepat. "Jangan pernah bicara begitu lagi. Kamu sudah merusak cukup banyak. Kalau bukan karena kamu, keluarga kita tidak akan..."

"Keluarga kita?"

Naya tertawa pelan.

"Keluarga yang mana? Keluarga yang mengirimku ke penjara? Keluarga yang mengambil anak-anakku bahkan sebelum aku melihat wajah mereka?"

Rania membeku.

Terlambat.

Kata-kata itu keluar.

Naya juga sadar. Matanya berubah dingin.

Rania menatap sekeliling, memastikan tidak ada orang.

"Anakmu mati."

Naya merasa dadanya ditusuk.

"Jangan bicarakan mereka."

"Kalau kamu sadar diri, jangan dekati Rayyan. Dia anakku."

"Aku tidak pernah bilang dia anakku."

"Tapi matamu bilang begitu!"

Naya diam.

Karena itu benar.

Setiap kali melihat Rayyan, ada sesuatu dalam dirinya yang meronta. Sesuatu yang ia kubur bersama surat kematian dua bayi tanpa makam.

Rania mendekat, suaranya berubah menjadi bisikan tajam.

"Ingat baik-baik. Kalau kamu mengganggu hidupku, aku bisa membuatmu kembali ke penjara. Papa masih punya orang. Mama masih punya koneksi. Kamu tidak punya siapa-siapa."

Naya menatapnya lama.

"Aku punya diriku."

"Itu tidak cukup."

"Untuk menghancurkan kebohonganmu? Mungkin cukup."

Langkah terdengar dari ujung koridor.

Rania langsung mengubah wajah. Air matanya keluar cepat, seperti tombol yang ditekan.

"Kak, jangan marah. Aku cuma takut kamu salah paham..."

Arkan muncul bersama Raka.

Ia melihat pipi Naya yang merah.

Matanya turun ke tangan Rania.

"Apa yang terjadi?"

Rania terisak. "Tidak apa-apa, Arkan. Kak Naya mungkin masih membenciku karena masa lalu. Aku mengerti."

Naya menatap Arkan.

Dulu, ia mungkin akan membela diri. Sekarang ia tahu orang seperti Arkan akan percaya pada bukti, bukan rasa sakit.

"Tidak ada," katanya.

Ia berjalan melewati Arkan.

Arkan menangkap pergelangan tangannya, tidak keras, tapi cukup menghentikan.

Naya langsung kaku.

Arkan melepasnya begitu sadar.

"Mulai besok," katanya, suaranya rendah, "kamu tidak perlu datang ke rumah sakit kecuali aku panggil."

Rania hampir tersenyum.

Naya mengangguk. "Baik."

Namun Arkan belum selesai.

"Raka, pastikan CCTV koridor ini disimpan. Aku mau lihat rekamannya."

Wajah Rania langsung pucat.

Naya menoleh sedikit.

Untuk pertama kalinya, Arkan tidak langsung percaya tangis Rania.

Dan itu membuat Rania jauh lebih takut daripada tamparan yang baru ia berikan.

Malam itu, Rania tidak pulang ke rumah Pradipta. Ia duduk di mobil di parkiran rumah sakit, menatap pintu lobi dengan napas pendek.

Bu Mira menelepon tiga kali sebelum akhirnya ia angkat.

"Kenapa suaramu begitu?"

"Arkan minta CCTV."

Hening di ujung telepon.

"CCTV apa?"

"Aku menampar Naya."

"Kamu bodoh?"

Rania memejamkan mata. "Dia membuat Rayyan nyaman. Anak itu bahkan tidak mau aku sentuh."

"Maka buat dia tidak nyaman. Bukan menampar di tempat penuh kamera."

Rania menggigit bibir. "Ibu tidak lihat cara Arkan menatapnya."

"Laki-laki bisa tertarik pada perempuan lemah. Biarkan saja. Yang penting status anak di tanganmu."

"Kalau Naya ingat?"

"Ingat apa? Dia tidak punya bukti."

Rania membuka mata.

Di kaca depan mobil, bayangannya terlihat pucat dan cantik, tetapi ia tahu kecantikan tidak bisa menutup ketakutan yang mulai bocor.

"Bu, anak perempuan itu benar mati, kan?"

Kali ini Bu Mira tidak langsung menjawab.

"Jangan tanya hal yang tidak perlu."

Telepon ditutup.

Rania duduk kaku, ponsel masih menempel di telinga.

Di dalam rumah sakit, Rayyan akhirnya tertidur setelah Naya menyuapinya. Arkan berdiri di ambang pintu kamar, melihat anaknya menggenggam ujung lengan baju Naya bahkan dalam tidur.

Ia tidak membangunkan mereka.

Ia hanya berkata pelan kepada Raka, "Besok pagi, cari semua data Naya Prameswari sejak dia keluar dari lapas."

Raka mengangguk.

Benang pertama sudah ditarik.

Tidak ada yang tahu berapa banyak kebohongan akan ikut terurai.

1
Allea
emg belom tes dna juga itu si arkan 😑naya gimana sih kamu🙄
fergusooo🙈
SEMANGATTT KAKAK💪🏻💪🏻
AKU BELA2IN BEGADANG BUAT BACA INI CERITA🤧
Ceritanya baguss dan aku belum pernah baca cerita yg alurnya sedarderdor ini😍
LUVVV buat kaka💕💕
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Rania
Dew666
👍
Citieana Pangestu
👍👍💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!