Hendry Wijaya mati di periode kiamat tahun ke-12, dicabik oleh zombie Lord-Level di sebuah reruntuhan bangunan dip Jakarta.
Lalu ia membuka mata—30 hari sebelum dunia berakhir.
Semua ingatan 12 tahun di neraka itu masih utuh: siapa yang akan berkhianat, di mana kristal langka tersembunyi, kapan gelombang zombie pertama menerjang, dan siapa anjing jalanan kotor yang kelak menjadi legenda bernama Raja.
Bedanya? Kali ini Hendry punya Ruang Dimensi—gudang tak terbatas di mana waktu berhenti. Sementara orang lain panik membeli mie instan, ia menimbun seribu ton beras, ratusan ton daging, senjata, obat-obatan, dan cukup solar untuk menghidupi sebuah kota.
Hari pertama kiamat: semua orang kelaparan. Hendry makan rendang.
Di dunia di mana satu kristal bisa memicu perang, Hendry duduk di atas gunung kristal yang tak seorang pun tahu keberadaannya.
Di dunia di mana Lord-Level bisa meratakan kota, Hendry tersenyum—karena dia tahu persis kapan mereka akan mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 30: Komandan
Level 5 sudah di depan pintu.
Hendry tidak tidur malam itu.
Kristal Level 6 di tangannya terus larut menjadi arus dingin yang mengalir ke dalam tubuh. Bukan dingin seperti es Awan, tetapi dingin ruang kosong: luas, hening, dan menekan. Setiap napas membuat Ruang Dimensi di dalam dirinya bergetar, seolah dinding tak terlihatnya sedang didorong keluar oleh samudra.
Seratus meter.
Jangkauan Void Walk yang selama ini menjadi batas aman mulai retak.
Dua ratus.
Tiga ratus.
Stok makanan, senjata, obat, solar, dan barang yang tersusun di dalam ruang pribadinya seperti ikut bergeser ke kejauhan yang lebih luas. Hendry merasakan jalur baru terbuka di antara titik-titik ruang. Bukan cuma melompat. Bukan cuma memotong. Ada bentuk lain yang seperti kurungan, dan satu lagi seperti garis potong jauh yang belum bisa ia tarik penuh.
Penjara Dimensi.
Spatial Cut.
Belum terbuka.
Tapi ia sudah bisa merasakan pintunya.
Menjelang subuh, seluruh villa bergetar pelan.
Gelas di dapur berdenting. Raja yang tidur di dekat tangga langsung bangun dan menggonggong marah ke arah udara. Nasi di sofa mengangkat kepala, matanya melebar. Mawar keluar dari ruang medis, sementara Melati sudah memegang api di telapak tangan.
"Gempa?" tanya Dewi dari dapur.
Awan menatap lantai. "Bukan."
Di kamar pribadi, Hendry membuka mata.
Ruang di sekelilingnya melengkung tipis.
Level 5.
Tidak ada teriakan. Tidak ada ledakan yang menghancurkan dinding. Hanya satu napas panjang yang membuat seluruh tubuhnya terasa lebih ringan, lebih jauh, lebih berbahaya.
Ia berdiri.
Dalam satu langkah, ia menghilang dari kamar dan muncul di atap villa seberang, hampir lima ratus meter dari titik awal.
Void Walk, 500 meter.
Angin pagi menerpa wajahnya. Di bawah, Cluster Pondok Indah yang kini menampung lebih dari dua ratus lima puluh manusia mulai bergerak panik, tetapi tidak kacau. Fajar sudah memerintahkan penjaga tetap di pos. Cahaya berlari membawa papan daftar. Herman berdiri di halaman dengan rambut belum rapi, tetapi matanya langsung menghitung sumber getaran.
Bagus melihat Hendry di atap jauh dan membuka mulut.
"Bos... itu jauh banget."
Raja menggonggong, lalu melompat-lompat seperti protes karena tidak diajak.
Hendry kembali dengan Void Walk kedua, muncul di halaman utama tanpa suara.
Semua orang di dekatnya mundur setengah langkah.
Ruang di sekitar tubuhnya masih beriak seperti udara di atas jalan panas, tetapi lebih dingin, lebih tajam.
Mawar menatapnya dari depan tangga. Senyum kecil muncul di wajah lelahnya.
"Kamu berhasil."
Hendry mengangguk. "Level 5."
Kata itu menyebar lebih cepat daripada alarm.
Level 5.
Di hari-hari sebelumnya, Level 1 saja sudah membuat orang biasa merasa seperti melihat dewa kecil. Level 3 membuat Bintang menguasai puluhan orang. Level 4 membuat Tanah Keras merasa bisa membangun kerajaan dari batu.
Sekarang pemimpin mereka berdiri di Level 5.
Dan ia bukan hanya kuat.
Ia punya makanan, senjata, aturan, tim, hewan petir, kucing peringatan, dokter cahaya, api, es, gelap, logistik, dan dua ratus lima puluh orang yang menunggu bentuk baru.
Siang itu, halaman villa terbesar diubah menjadi alun-alun darurat. Mobil dipindahkan. Karung pasir disusun sebagai batas. Papan kayu besar dipasang di depan, ditulis oleh Cahaya dan Fajar dengan huruf tebal.
Hendry berdiri di tengah.
Raja duduk di kanan, dadanya membusung. Nasi berada di bahu kiri Hendry, ekornya bergerak malas. Bagus, Melati, Mawar, Awan, Fajar, Dewi, Yanto, Dingin, Budi, Sari, Cahaya, Herman, dan ratusan anggota baru berdiri dalam barisan yang belum sempurna tetapi cukup rapi untuk ukuran dunia yang baru jatuh.
"Mulai hari ini," kata Hendry, "Cluster Pondok Indah bukan lagi tempat orang berlindung sementara."
Suara halaman langsung sunyi.
"Ini basis. Ini wilayah. Ini organisasi."
Ia menunjuk papan pertama.
"Struktur resmi dimulai."
Cahaya mengangkat papan.
"Komandan: Hendry Wijaya. Keputusan terakhir ada padaku."
Tidak ada protes.
"Wakil Komandan lapangan: Bagus Santoso. Semua operasi tempur manusia melewati Bagus."
Bagus kaget setengah detik, lalu punggungnya tegak. "Siap, Komandan."
Raja langsung menggonggong keras.
Beberapa orang menahan tawa.
Hendry menatap Raja. "Raja tetap Wakil Komandan kehormatan untuk patroli malam dan serangan petir."
Raja langsung duduk lebih tinggi, puas.
"Tetua: Awan Permata untuk pertahanan dan kontrol area. Herman Tanuwijaya untuk jaringan luar dan strategi sosial. Cahaya Tan untuk administrasi harian."
Herman membungkuk sedikit. Cahaya terlihat tegang, tetapi matanya menyala.
"Elite: Melati Hartono, Mawar Hartono, Fajar Nugroho, Dingin Halim, Budi Setiawan, Sari Setiawan, dan anggota tempur yang lulus ujian berikutnya. Elite mendapat prioritas misi, latihan, dan sumber daya."
Melati menyilangkan tangan, tetapi sudut mulutnya naik sedikit. Mawar menunduk singkat. Dingin hanya mengangguk sekali.
"Anggota: orang yang sudah punya tugas tetap dan lulus observasi. Anggota Baru: orang yang belum lulus observasi, belum punya kontribusi jelas, atau baru masuk."
Hendry memandang ratusan wajah di depannya.
"Status bukan hadiah. Status dibeli dengan kontribusi."
Papan kedua diangkat.
"Point System."
Fajar maju membaca aturan singkat. "Membunuh zombie, menyelesaikan misi, menjaga pos, membawa sumber daya, memperbaiki fasilitas, memasak, merawat, mengajar, dan pekerjaan penting lain mendapat poin. Poin bisa ditukar makanan tambahan, alat pribadi, prioritas pelatihan, dan kenaikan status. Poin palsu, klaim palsu, atau mencuri poin orang lain dihukum."
Herman bersiul pelan. "Ini lebih rapi dari kantor leasing gue dulu."
Dewi menatapnya tajam. "Jangan bawa gaya kantor lama ke dapur saya."
Beberapa orang tertawa.
Hendry menunggu tawa itu turun, lalu menunjuk salah satu anggota baru yang masih memakai perban di lengan.
"Kau kemarin ikut menarik temanmu saat gelombang zombie?"
Pria itu kaget. "Iya, Komandan."
"Fajar, catat. Dua poin kontribusi penyelamatan."
Fajar langsung menulis.
Wajah pria itu berubah. Bukan karena dua poin itu besar, tetapi karena tindakannya dilihat. Di barisan belakang, beberapa anggota baru saling melirik. Untuk pertama kalinya sejak mereka masuk, status tidak terasa seperti tembok yang hanya bisa dipanjat orang kuat. Ada anak tangga.
Hendry menunjuk Dewi. "Masak untuk dua ratus lima puluh orang juga poin. Menjaga anak-anak juga poin. Membersihkan saluran racun juga poin. Di base ini, orang yang tidak bisa bertarung tetap bisa naik jika pekerjaannya membuat base hidup."
Cahaya menulis cepat di papan tambahan.
Herman menatap Hendry dengan pandangan baru. Ia paham nilai kalimat itu. Dua ratus orangnya tidak akan merasa ditelan sebagai beban jika mereka diberi jalur untuk menjadi berguna.
Dan orang yang punya jalur naik lebih sulit diajak memberontak.
Papan ketiga diangkat.
Food tier.
Saat kata makanan muncul, semua orang langsung lebih fokus.
Hendry membiarkan itu terjadi. Di akhir dunia, aturan yang tidak menyentuh perut tidak akan bertahan.
"Porsi Komandan: udang galah, rendang, nasi goreng spesial, dan menu yang ditentukan Dewi."
Dewi mengangkat dagu, seolah jabatan dapurnya baru saja disahkan negara.
"Wakil Komandan dan Tetua: daging sapi, rendang, soto ayam, nasi."
Raja menggonggong lagi, menuntut.
"Raja mendapat porsi khusus sesuai kontribusi tempur."
Raja puas.
"Elite: daging ayam, bakso, nasi padang standar. Anggota: nasi putih, telur, tempe, sambal, sayur. Anggota Baru: nasi putih, tempe, air putih, dan porsi pemulihan bila sakit atau luka."
Beberapa anggota baru menunduk, bukan marah, tetapi mengerti.
Kemarin mereka bertanya kenapa anjing makan lebih baik.
Hari ini jawabannya tertulis di sistem: kontribusi.
"Siapa pun bisa naik," kata Hendry. "Siapa pun bisa turun. Tidak ada darah keluarga, tidak ada teman dekat, tidak ada wajah manis yang membeli posisi. Yang bekerja, naik. Yang mengkhianati, keluar atau mati."
Kalimat terakhir membuat halaman membeku sejenak.
Crystal dan Si Preman masih terlalu segar dalam ingatan.
Lalu Bagus bergerak.
Pria besar itu maju satu langkah, menaruh linggis di tanah, lalu berlutut satu lutut.
"Komandan."
Suaranya tidak keras, tetapi berat.
Awan menyusul, menundukkan kepala. "Komandan."
Fajar berlutut dengan gaya lebih militer. "Komandan."
Melati tidak langsung berlutut. Ia menatap Hendry sejenak, seperti mengukur apakah pria ini masih manusia yang menolongnya dan Mawar di hari pertama. Lalu ia turun satu lutut.
"Komandan."
Mawar tidak berlutut sedalam yang lain. Ia meletakkan tangan di dada dan tersenyum, matanya hangat.
"Komandan."
Setelah itu, suara menyebar seperti gelombang.
Dingin. Budi. Sari. Cahaya. Herman.
Lalu ratusan orang.
"Komandan!"
Sekali.
Lebih keras.
"Komandan!"
Suara itu memantul dari pagar, villa kosong, mobil yang menjadi barikade, dan jalan yang dua hari lalu penuh mayat Level 1. Beberapa orang menangis tanpa malu. Beberapa yang baru kemarin menyerahkan senjata kini mengepalkan tangan di dada. Mereka tidak tiba-tiba menjadi pemberani, tetapi mereka tahu kepada siapa harus melihat saat takut.
Itu cukup untuk sebuah awal.
Dan awal yang punya aturan bisa tumbuh menjadi kekuasaan.
Hari itu semua orang merasakannya.
Hendry berdiri di tengah halaman. Raja di kanan akhirnya berhasil mendapatkan sepotong udang galah dari Dewi dan menggigitnya dengan martabat agung. Nasi merebah di bahu kiri Hendry, seolah seluruh upacara itu hanya alas tidur yang lebih ramai.
Di kejauhan, Jakarta masih runtuh.
Tetapi di Cluster Pondok Indah, lampu generator menyala satu per satu saat senja turun. Bukan terang besar. Bukan kemenangan akhir.
Cukup untuk membuat orang melihat bahwa di tengah gelap, ada tempat yang mulai punya hukum.
Malamnya, setelah semua orang bubar, Hendry berdiri di atap villa tertinggi.
Nasi yang semula tidur di bahunya tiba-tiba terbangun.
Kucing kecil itu tidak menatap luar.
Ia menatap Hendry, lalu mengeluarkan suara kecil, rendah, seperti tangisan yang ditahan.
Hendry mengusap kepalanya. "Gue tahu."
Angin malam bergerak dari arah pusat kota.
"Level 5 cuma awal. Di luar sana, ada sesuatu yang seratus kali lebih kuat daripada Tanah Keras atau Bintang sedang menunggu."
Jauh di antara gedung-gedung mati Jakarta, sebuah bayangan hitam raksasa bergerak perlahan.
Terlalu jauh untuk dilihat orang biasa.
Tapi Hendry melihat bentuknya.
Zombie Level 7.