Naomi Liem punya satu rahasia yang tidak pernah dia ceritakan kepada siapa pun:
Dia sudah menyukai Kelvin Hartono sejak SMA.
Tapi Kelvin adalah pewaris konglomerat Hartono Group, dan Naomi? Cuma mahasiswi yang kerja sambilan di minimarket kampus, masih terjerat utang pinjol, dan punya masa lalu yang ingin dia kubur dalam-dalam.
Jadi ketika Kelvin butuh pacar palsu untuk menghindari perjodohan keluarga, Naomi melihat kesempatan — dua bulan berpura-pura pacaran, lalu dapat bayaran. Sederhana.
Yang tidak sederhana adalah:
Cara dia menatapnya terlalu lama.
Cara dia mengingat hal-hal kecil yang bahkan Naomi sendiri sudah lupa.
Cara dia bilang "Baby" — yang awalnya terdengar main-main, tapi lama-lama terasa terlalu nyata.
Dan yang paling tidak sederhana — dua bulan sudah habis. Tapi tidak ada yang bilang "selesai."
"Dulu, kamu bilang dua bulan. Sekarang, tidak ada batas waktu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Bab 21: Bukan untuk Menghindariku
Naomi mulai menjaga jarak dengan cara yang sangat sopan.
Ia tidak lagi duduk terlalu lama di ruang tengah setelah makan malam. Begitu piring selesai dicuci dan Felix diberi snack, ia akan mengangkat laptop, tersenyum kecil, lalu berkata harus menyelesaikan terjemahan di kamar. Pagi hari, ia bangun lebih awal agar tidak bertemu Kelvin di dapur terlalu lama. Jika Kelvin mengirim pesan, ia membalas seperlunya, tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat.
Semua tampak masuk akal.
Kuliah memang padat.
Terjemahan memang harus selesai.
Ia memang harus mencari pekerjaan pengganti minimarket.
Masalahnya, semua alasan itu benar, tapi bukan seluruh kebenaran.
Kebenaran yang Naomi sembunyikan adalah ia mulai terlalu nyaman.
Terlalu nyaman dengan suara Kelvin memanggilnya dari ruang makan. Terlalu nyaman dengan Felix tidur di depan pintu kamarnya. Terlalu nyaman dengan air jeruk hangat yang sekarang kadang ia siapkan dua gelas tanpa sadar. Terlalu nyaman dengan cara Kelvin menyelesaikan masalahnya, lalu duduk di sofa seolah tidak perlu diberi ucapan terima kasih.
Terlalu nyaman adalah bahaya.
Karena masih ada satu bulan.
Karena semua ini punya tanggal kedaluwarsa.
Di kampus, Sinta memperhatikan perubahan itu lebih cepat daripada yang Naomi harapkan.
"Kamu kenapa?" tanya Sinta saat mereka duduk di perpustakaan.
"Tidak apa-apa."
Ayu yang sedang memakan roti isi dari kantin menatapnya dari seberang meja. "Kalau jawabannya tidak apa-apa, berarti ada apa-apa."
"Aku cuma banyak tugas."
"Tugasmu selalu banyak. Tapi biasanya kamu tidak menatap ponsel seperti ponsel itu mau menggigit."
Naomi menunduk. Di layar ponsel, ada pesan Kelvin yang belum ia balas.
"Makan malam di rumah. Jangan beli roti lagi."
Kalimat itu sederhana. Justru karena sederhana, Naomi sulit membalas.
Jika ia menjawab iya, rasanya seperti menerima tempat di meja makan itu. Jika ia menjawab tidak, ia harus menjelaskan kenapa ia memilih menghindar. Akhirnya ia membiarkannya terbuka tanpa jawaban.
Sinta melunak. "Nao, kamu takut ya?"
Naomi menggenggam pulpen. "Takut apa?"
"Suka beneran."
Ayu langsung mengangguk. "Itu penyakit umum. Gejalanya senyum sendiri, lalu panik sendiri."
"Aku tidak senyum sendiri."
"Kamu bahkan membela diri dengan cepat. Makin jelas."
Naomi ingin tertawa, tapi tenggorokannya terlalu sempit.
"Ini cuma kontrak," katanya pelan.
Sinta tidak mengejek. Ia hanya menyentuh punggung tangan Naomi. "Kontrak tidak bisa mengatur detak jantung."
Kalimat itu membuat Naomi semakin ingin pulang, tapi bukan ke apartemen Kelvin.
Ke tempat yang tidak ada siapa-siapa.
Karena itu, setelah kelas selesai, Naomi tidak langsung pulang. Ia duduk di perpustakaan sampai petugas menyalakan lampu tambahan. Ia membuka laptop, tapi hanya berhasil menerjemahkan dua paragraf dalam satu jam. Setiap kali ponselnya menyala, matanya otomatis mencari nama Kelvin.
Pukul enam lewat, pesan itu datang.
"Pulang jam berapa?"
Naomi mengetik "sebentar lagi", lalu menghapusnya.
Ia mengetik "masih ada tugas", lalu menghapusnya juga.
Akhirnya ia membalas, "Saya makan di kampus."
Padahal ia hanya membeli roti dari vending machine dan air mineral. Roti itu keras di pinggir, isi cokelatnya terlalu sedikit, tapi Naomi memakannya pelan di bangku belakang perpustakaan. Di meja seberang, sepasang mahasiswa berbagi kotak nasi sambil tertawa kecil.
Naomi memalingkan wajah.
Hal-hal seperti itu dulu tidak pernah membuatnya sakit. Sekarang, setelah beberapa minggu duduk di meja makan apartemen bersama Kelvin dan Felix, roti dingin itu terasa seperti hukuman yang ia pilih sendiri.
Malam itu, Naomi pulang lebih lambat. Ia sengaja mengambil rute bus yang memutar, turun satu halte lebih jauh, lalu berjalan kaki pelan sambil membawa tote bag. Saat sampai di apartemen, jam hampir sembilan.
Kelvin duduk di ruang tengah.
Tidak ada laptop.
Tidak ada tablet.
Hanya Kelvin, Felix di dekat kakinya, dan meja makan yang masih menyimpan satu porsi makanan tertutup.
Naomi berhenti di dekat pintu.
"Kamu belum makan," kata Kelvin.
"Saya makan di kampus."
"Roti bukan makan."
Naomi melepas sepatu, menghindari tatapannya. "Saya tidak lapar."
Felix berdiri, menghampirinya, lalu mengendus tote bag seolah ingin membuktikan ada bau roti.
"Felix," bisik Naomi, "jangan berkhianat."
Kelvin berdiri. "Kamu menghindar."
Naomi membeku.
"Tidak."
"Kamu bangun lebih pagi, pulang lebih malam, makan di luar, membalas pesan seperti menjawab dosen."
"Saya memang sibuk."
"Bukan untuk menghindariku?"
Naomi menatap lantai. "Kenapa saya harus menghindari kamu?"
"Itu yang aku tanya."
Suaranya tidak keras. Tapi apartemen yang luas itu mendadak terasa sempit.
Naomi berjalan menuju kamar. "Saya lelah. Kita bicara besok."
"Naomi."
Ia tetap berjalan.
Tangan Kelvin menahan pergelangan tangannya.
Tidak keras.
Tidak menyakitkan.
Tapi cukup untuk membuat seluruh tubuh Naomi berhenti.
Ia menunduk melihat jari-jari Kelvin yang melingkar di pergelangan tangannya. Jari yang pernah memegang kemudi. Jari yang pernah menyentuh sandaran kursi di belakang kepalanya sebelum mencium sudut bibirnya. Jari yang menaruh plester luka, menggeser gelas, membuka pintu, dan menahan hidupnya agar tidak jatuh terlalu cepat.
"Kita kan sedang pacaran," kata Kelvin rendah. "Kamu mau ke mana?"
Naomi menarik napas, tapi tidak ada udara yang cukup.
"Itu cuma kontrak."
"Kontraknya bilang kamu tidak menghilang tanpa kabar."
"Saya tidak menghilang. Saya pulang."
"Tubuhmu pulang." Jari Kelvin masih di pergelangan tangannya. "Kamu tidak."
Kalimat itu menghantam lebih dalam daripada yang Naomi siap terima.
Ia mengangkat wajah.
Kelvin berdiri dekat, cukup dekat untuk melihat bahwa matanya tidak sedang bercanda.
"Kalau kamu marah soal pinjol, marah," katanya. "Kalau kamu takut, bilang takut. Kalau kamu ingin jarak, bilang jarak. Tapi jangan menghilang sambil tersenyum sopan."
Naomi merasa matanya panas.
"Kalau saya bilang takut, apa yang berubah?"
"Aku tahu."
"Lalu?"
"Lalu aku tidak perlu menebak."
"Aku tidak pandai bilang hal seperti itu."
"Belajar."
"Semuanya harus belajar?"
"Kalau denganku, iya." Kelvin menatapnya tanpa bercanda. "Aku bukan dosen pembimbingmu. Aku pacarmu, meski kamu suka mengulang kata kontrak."
Kalimat itu membuat Naomi goyah.
Jawaban itu sederhana, tapi Naomi justru hampir menangis.
Selama ini, ia selalu berusaha membuat dirinya mudah ditebak oleh orang lain. Tidak merepotkan. Tidak banyak memilih. Tidak terlalu berharap. Tidak terlalu menunjukkan luka. Ternyata Kelvin justru marah karena ia terlalu rapi menyembunyikan semuanya.
Felix merengek pelan di dekat kaki mereka.
Naomi menatap tangan Kelvin lagi.
"Lepaskan dulu," katanya lirih.
Kelvin langsung melepaskan.
Naomi bisa pergi.
Pintu kamar hanya beberapa langkah.
Tapi kakinya tidak bergerak.
Kelvin menunggu, tidak menyentuhnya lagi.
Naomi menggenggam pergelangan tangannya sendiri, tepat di tempat hangat jari Kelvin tadi tertinggal.
Ia tidak tahu apakah ia ingin lari, atau justru takut jika Kelvin membiarkannya lari.