Sequel Kembalinya Sang Agen Rahasia & Heroes
Zyan kembali menjalani misi. Kali ini akan menjadi misi terakhirnya, mencari keberadaan Arkan, juniornya.
Siapa sangka kembalinya pria itu ke lapangan malah menemukan konspirasi sejumlah petinggi menggagas Project Black Lock. Diam-diam mereka mengembangkan virus yang diberi nama Regalis-V.
Ada enam target yang sedang dibidik untuk memproduksi Regalis-V. Salah satunya adalah Arsela, anak presiden.
Ketegangan semakin bertambah ketika Zyan tahu target terakhir adalah anaknya sendiri.
Bersama dengan Arkan, pria itu berjibaku, berusaha menyelamatkan target dan menghancurkan Black Lock.
Dalam aksinya, mereka mendapatkan bantuan dari seorang agen tambahan.
Siapakah agen tersebut?
Jangan lupa ikuti medsosku di
FB : Khairunnisa (Ichageul)
IG : ichageul9563
TT : @novelme @ichageul21
Threads : Ichageul
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perburuan Aset #1
Pukul 10.00 Kael sudah di bandara. Dia sengaja tiba 20 menit sebelum kedatangan pesawat yang ditumpangi Timur. Pria itu juga mengecek tempat-tempat yang sudah diatur untuk memandu Timur keluar dari bandara.
Lewat bantuan Sergio, dia mendapat bantuan dari beberapa orang di bandara. Mereka akan mengalihkan perhatian pengawal Arman yang akan menjemput Timur.
Tepat pukul 10.20 pesawat yang ditumpangi Timur mendarat. Kael langsung bersiaga di tempatnya. Matanya terus mengawasi pintu kedatangan luar negeri. Satu per satu penumpang mulai keluar dari pintu kedatangan.
Di dekat pintu masuk, empat pengawal Arman sudah siap untuk menjemput Timur.
Seorang wanita tua mendekati salah satu pengawal berjas hitam itu. “Apa aku boleh minta tolong?” tanya wanita itu dengan suara bergetar.
Awalnya pria itu tidak mempedulikan, namun suara wanita itu cukup keras hingga menarik perhatian pengunjung lain.
Risih karena banyak mata melihat padanya, mau tidak mau pria itu membantu wanita tua tersebut. Dia meminta diantar ke mesin tiket otomatis. Karena sudah tua, wanita itu tidak tahu bagaimana mengoperasikan mesin untuk memesan tiket.
Sementara dua pria lain dibuat pusing dengan pertengkaran suami istri yang ada di dekat mereka. Konsentrasinya mencari sosok Timur jadi terganggu.
Orang terakhir memilih mendekati pintu kedatangan. Namun langkahnya terhalang oleh petugas kebersihan yang memblokir jalan.
Dari pintu kedatangan muncul Timur. Kael yang melihat bergegas mendekat. Dia sengaja menabrak Timur hingga barang bawaannya jatuh.
Saat Timur sedang mengambil barangnya yang berserakan di lantai, dengan cepat Kael memasukkan ponsel sekali pakai dan earphone ke saku jaket Timur.
Saat Timur sedang berjongkok, pengawal Arman terus melihat ke pintu kedatangan. Dia tidak melihat Timur karena lalu lalang penumpang dan pengunjung lain yang memenuhi bandara.
Saat masih memunguti barangnya, ponsel di saku jaket Timur bergetar. Pria itu terkejut saat tahu ada ponsel lain di saku jaketnya. Ragu-ragu dia mengambil ponsel.
Sebuah pesan masuk ke ponsel tersebut. Pria itu menoleh ke kanan dan kiri sebentar sebelum membuka pesan tersebut.
[Tetap di posisimu sekarang. Pasang earphone yang ada di saku jaketmu lalu angkat telepon dariku.]
Sejenak Timur hanya terbengong. Dia sungguh tidak mengerti, apakah pesan ini untuknya atau orang lain. Di tengah kebingungannya, pesan baru masuk.
[Timur Sasembayev, ikuti perintahku kalau kamu masih mau hidup.]
Setelah membaca pesan kedua, dengan cepat Timur merogoh saku jaketnya. Dia menemukan earphone yang dimaksud lalu langsung memasangkan ke telinganya. Ponsel di tangannya bergetar saat ada panggilan masuk. Dengan cepat Timur menekan icon hijau.
“Cepat bereskan barang-barangmu lalu pergi ke arah barat. Jangan menoleh ke belakang, jalan lurus saja!” terdengar suara Kael dari seberang.
Secepatnya Timur memunguti barangnya kemudian berjalan ke arah barat.
“Masuk ke ruangan yang ada di depanmu!” Kael kembali mengarahkan.
Timur menuruti saja apa kata pria yang sedang berbicara melalui earphone di telinganya. Dia membuka pintu yang bertuliskan JANITOR di bagian depannya.
“Aku sudah di dalam,” ujar Timur.
“Coba lihat keluar, apa ada pria berjas hitam sebanyak empat orang di dekat pintu kedatangan?”
Dari kisi-kisi yang ada di pintu Timur melihat keluar. Tampak empat pria berjas tengah mondar-mandir di dekat pintu kedatangan. Memeriksa semua orang yang ada di dekat sana.
“Iya, aku melihatnya.”
“Dengar Timur, beasiswa yang ditawarkan padamu hanya jebakan untuk memancingmu ke negara ini.”
“A-Apa? Kamu tidak bohong, kan?”
Perasaan Timur langsung was-was. Ini adalah pertama kalinya dia menginjakkan kakinya di Republik Verentis. Itu pun karena pengajuan beasiswanya diterima.
Kini pikiran pria itu berperang, antara mempercayai perkataan pria yang tidak dikenalnya atau langsung menuju universitas yang menerimanya.
“Saat pengajuan beasiswa, apa kamu diminta melakukan tes kesehatan?” tanya Kael membuyarkan lamunan Timur.
“Ya.”
“Apa dalam tes kesehatan yang kamu lakukan, ada informasi tentang DNA haplogroup?”
Timur tidak langsung menjawab, dia membuka tas ranselnya lalu mencari amplop hasil tes kesehatannya. Dengan cepat dia membaca hasil tersebut.
Ternyata apa yang dikatakan pria yang menghubunginya benar adanya. Di bagian bawah, ada keterangan kalau dirinya memiliki DNA haplogroup C.
“Kamu memiliki DNA haplogroup C, benar?”
“Iya, bagaimana kamu tahu?”
“Tidak penting bagaimana aku tahu, yang jelas kamu diminta datang ke sini bukan karena beasiswa tapi karena DNA yang kamu miliki. Keempat pria berjas hitam itu akan membawamu ke suatu tempat dan kamu akan disekap agar mereka dengan mudah bisa mendapatkan DNA-mu.”
Timur membisu. Dia masih mencerna apa yang didengarnya barusan. Hatinya diliputi kebimbangan. Tidak tahu keputusan apa yang harus diambilnya.
“Kalau kamu tidak percaya padaku, silakan keluar dan buktikan sendiri apakah yang kukatakan benar atau tidak.”
Ditantang seperti itu, nyali Timur menciut. Pria itu mengusap wajahnya yang sudah mulai berkeringat. Apalagi dia melihat keempat pria itu mulai bergerak. Mereka memeriksa orang-orang yang berlalu lalang di sana.
Timur menelan ludahnya kelat, sepertinya apa yang dikatakan pria yang sedang menghubunginya ini bukan isapan jempol.
“The clock’s ticking, Timur. Apa keputusanmu?”
“A-Aku percaya padamu,” akhirnya Timur memilih untuk mempercayai Kael.
“Kalau kamu mau selamat, ikut arahanku. Mengerti?”
“Ya.”
“Apa kamu membawa sesuatu untuk menyamarkan penampilanmu? Seperti topi, syal, kacamata atau apa pun itu.”
“Ya, aku ada syal dan kacamata.”
“Apa kamu seorang muslim?”
“Ya.”
“Kamu membawa gamis?”
“Ya.”
“Bagus. Ganti pakaianmu dengan gamis, lalu tutupi kepalamu dengan sorban. Jangan lupa kenakan kacamata. Setelah selesai, jalan santai menuju pintu keluar selatan. Lalu pergi ke jembatan penghubung yang menuju stasiun Verentis Sentral.”
Timur segera melakukan apa yang diperintahkan oleh Kael. Dia melepas jaketnya lalu menggantinya dengan gamis berwarna hitam.
Pria itu kemudian membungkus kepalanya dengan sorban dari syal yang dibawanya. Terakhir Timur mengenakan kacamata hitam.
Selesai berpakaian dan memasukkan jaket ke dalam tasnya, Timur menggendong kembali tas ranselnya. Tangannya memegang erat pegangan koper. Pria itu menarik napas panjang kemudian mengembuskannya dengan kasar.
“Sekarang keluar dan lakukan dengan tenang.”
Timur membuka pintu ruang janitor, lalu keluar dari dalamnya. Dia segera menuju pintu keluar sebelah selatan. Sebisa mungkin dia tidak melihat empat pria berjas hitam yang sedang mencari-cari dirinya.
Timur mengembuskan napas lega setelah berhasil melewati pintu keluar di sebelah selatan. Sesuai petunjuk, pria itu segera menuju jembatan yang menghubungkan bandara dan stasiun kereta.
Sambil menggeret kopernya, Timur berjalan cepat menyusuri jembatan sepanjang 170 meter tersebut.
Salah satu pria berjas bergerak menuju pintu keluar sebelah selatan. Matanya kemudian menangkap seorang pria di jembatan penghubung berjalan cepat.
Saat sedang mengamatinya, Timur tiba-tiba menoleh. Pria itu penasaran, ingin tahu apakah keempat pria berjas itu masih mencarinya.
“Dia menuju stasiun kereta!” lapor salah satu pria berjas pada rekannya yang lain sambil menyusul Timur.
“Kamu sudah ketahuan, percepat langkahmu!” Kael kembali memberikan instruksi.
Mendengar itu, Timur tidak lagi berjalan. Dia mengangkat kopernya kemudian berlari memasuki stasiun. Sontak pria berjas segera mengejarnya. Dengan cepat dia menaiki tangga penghubung.
“Masuk ke toko buku!” seru Kael.
Timur segera memasuki toko buku yang ada di sebelah kanannya.
“Cari rak yang memajang novel.”
Dengan langkah cepat Timur menuju rak yang dimaksud. Dia terkejut ketika salah seorang pegawai menyodorkan sebuah novel kepadanya.
“Ambil buku itu lalu keluar dari pintu lain.”
Timur segera mengambil buku tersebut, kemudian bergegas keluar dari pintu lain. Baru saja dia keluar dari toko buku, sebuah suara terdengar dari arah belakang. “HEI!”
“Lari!” seru Kael.
Tanpa pikir panjang Timur segera berlari. Pria berjas yang mengikutinya langsung mengejar sambil memberitahu rekan yang lain.
***
Kalau kalian jadi Timur, gimana rasanya?
huhah huhah huhahhhhhh🫣