"Rain, ini aku Bintang suamimu, kamu boleh menghukumku dengan cara apapun tapi tolong jangan pura-pura melupakan aku, aku sudah sangat menyesali perbuatanku dulu sama kamu."
"Bukan aku yang pura-pura tidak mengenalmu tapi aku memang tak kenal siapa kamu bahkan bertemu kamu saja baru dua kali ini."
Penyesalan itu memang terkadang datang terlambat tapi apa jadinya jika sosoknya kembali datang setelah 4 bulan Bintang kehilangannya, akankah Bintang masih bisa menerima kenyataan jika orang didepannya ini bukan orang yang selama ini dia rindukan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amak Mpis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Naren.
EMBUN PAGI.
Terjadi keributan di lantai dua karena Naren yang biasanya tenang sekarang sangat tantrum. Ya, Naren memang masih tinggal bersama Black selain Black yang belum mengijinkan Naren kembali ke keluarga Bintang, Naren juga tak mau bahkan saat Bintang ataupun yang lain mendekat, Naren akan langsung kabur dan memilih Sira.
“Naren, sayang sama buna?” Tanya Sira yang baru datang dan melihat Naren sudah tak dapat ditenangkan.
“Sayang. Buna lagi sakit kakak. Adik-adik barusan bilang kalau Buna sakit, kakak aku mau ketemu Buna.” Rengek Naren dalam gendongan Sira.
“Ini kenapa tiba-tiba tantrum gini?” Tanya Sira pada karyawan yang sebelumnya menenangkan Naren.
“Naren tadi tidur siang seperti pas kak Sira tinggal tapi pas bangun langsung tantrum gitu.”
“Kakak, aku tahu kakak tahu Buna dimana, aku mau ketemu Buna, ayo kakak.”
“Buna baik-baik saja, Buna lagi ngurus butik lagi ada orang yang mau pesan baju di butik buna, mungkin nanti malam buna bakal tidur di butik bukan disini, nanti Naren sama kakak saja ya.”
“Kakak bohong.”
“Kakak gak bohong, buna memang lagi sibuk di butik.”
Naren terus merengek tak percaya jika Black baik-baik saja dan disini Sira juga sampai sudah kehabisan akal untuk meyakinkan Naren kalau Black sedang baik-baik saja, sampai akhirnya Sira menelepon Black dan Black berpura-pura kalau dia sedang di butik.
“Segitunya Naren sama lo, Black. Sayang banget kayaknya?” Tanya Dirga yang belum terlalu tahu tentang Naren.
“Kalau nanti lo sudah sering ketemu sama dia lo akan tahu alasannya dan mungkin gue dimasa lalu juga menyayangi dia sebegitunya.”
“Gak heran sih kalau Naren akrab banget sama lo, dari dulu emang lo suka banget sama anak kecil.”
“Iya dong, oh iya, ayo jenguk Bintang, gue denger tadi dia sudah sadar, sekalian kita panas-panasin,” Pinta Black sambil mengedipkan matanya.
“Oh siap, tapi kayaknya jangan terlalu bikin dia kaget, nanti kalau dia kaget terus lewat mlah gak bisa balas dendam kita.”
“Siap bos.” Dirga menggendong Black dan mendudukkan Black di kursi roda lalu mendorongnya menuju kamar Bintang dengan raut sedih.
‘Sekarang lo akan tahu bagaimana rasanya gue yang dulu baru sadar dan langsung mendapatkan pemandangan lo yang datang bersama Luna, orang yang tadi menabrak lo,’ batin Black.
TOK TOK TOK
“Iya masuk,” Jawab seseorang dari dalam. Black dan Dirga masuk dengan Black yang sangat lesu dan lemas.
“Black, lo sudah sadar?” Tanya Hexa yang juga ikut panik karena melihat Black yang masih lemas.
Black hanya mengangguk dan meminta Dirga untuk maju mendekat ke kasur Bintang. “Tang, maaf.” Lirih Black setelah sampai di dekat Bintang.
“Ini bukan salah lo, andai gue gak bisa menolong lo malah itu akan menjadi penyesalan terbesar buat gue.”
“Cuma, karena gue keadaan lo jadi kaya gini, andai lo gak nolongin gue pasti sekarang lo masih sehat.”
“Lebih baik gue terbaring dari pada gue yang harus melihat lo terbaring, itu jauh lebih menyakitkan gue,”
“Terima kasih lo sudah nolongin Black, kalau lo gak nolong dia mungkin sekarang anak gue juga sudah gak ada,” Ucap Dirga sedikit memanasi Bintang.
“Gaga jangan ngomong kaya gitu, gue gak mau kehilangan mereka.”
“Iya gak akan, gue akan slalu menjaga lo dan mereka, oh iya kalian juga jangan khawatir orang yang nabrak lo sudah mendapat hukuman yang setimpal, bukan begitu bapak detektif?”
Hexa bingung karena setau dia polisi bahkan belum menangkap Luna, sekarang pikiran Hexa berputar pada bahayanya kakek Ares dan nenek Ayu atau malah lebih bahaya orang yang ada didepannya sekarang?
“I-iya dia sudah mendapatkan hukuman yang setimpal.”
“Oh iya buat lo,” Dirga menatap Rio yang dari tadi hanya diam. “Beberapa hari lalu Helena, istri lo mengajukan kerjasama ke kantor gue yang ada di Jepang, giliran di respon sama kantor gue kok gak ada kabar, niat mau ajukan kerja sama gak?”
“Helena? Sudah beberapa hari dia memang gak pulang dan gue gak perduli,” Jawab Rio acuh seperti dia sudah tak mau mendengar nama Helena lagi.
“Walau bagaimanapun dia tetap istri lo, gue yang hampir celaka karena dia dan hampir mengancam kebangkrutan resto gue aja masih bisa maafkan dia, gue masih mau meredam emosi empat orang yang ada di belakang gue karena gue gak mau ribut, lo suaminya sendiri loh.” Black memang memaafkan Helena, tapi dia tak tahu di belakangnya empat orang itu tidak memaafkan Helena.
Sampai detik ini Black memang tidak tahu apa yang sudah Dirga dan Alvin lakukan pada Luna dan Helena, dipikiran Black hanya ada balas dendam pada Bintang saja.
“Istri itu dulu saat dia masih menurut sama gue, tapi tidak saat dia sudah tak mau nurut sama gue. Walau bagaimanapun gue ini suami yang harus dihargai, andai bukan karena perjodohan gue pasti tidak akan sudi bersama Helena yang jelas-jelas sudah selingkuh bahkan punya anak.”
“Jadi ini alasan lo gak pernah sayang sama Naren? Ini alasan lo gak pernah mengakui Naren itu anak lo?” Pikiran untuk membuat Bintang panas sudah sirna karena urusan Naren jauh lebih penting.
“Kalau iya kenapa? Gue bersifat sayang sama dia hanya di depan orang, kalau di belakang orang gue gak peduli, dia buah dari pengkhianatan yang Helena lakukan sama gue, lo gak tau sakitnya harus merawat anak dari selingkuhan istri lo sendiri.”
“Lo juga gak tahu sakitnya Naren selama ini, apa yang dialami di sekolah? Apa yang dialami di tempat les sampai akhirnya tetep gue yang harus turun tangan untuk membakar tempat itu.”
“Jadi benar ini ulah lo? Lo yang ada di belakang pembakaran tempat itu?” Tanya Hexa yang kaget karena Rain yang dia kenal sungguh sangat berbanding terbalik dengan Black yang ada di depannya.
“Gue gak sembarangan membakar tempat itu, gue sudah memberi peringatan pada mereka tapi nyatanya mereka tak mengindahkan peringatan gue sampai akhirnya semua itu terjadi, Bintang saksinya.”
“Gue memang menyaksikan kalau lo memberi mereka peringatan sebelum kejadian tapi gue tak melihat kapan lo membakar tempat itu, itu lo lakukan sendiri?”
“Saat gue sudah menyimpan dendam pada seseorang maka gue sendiri yang akan melakukannya, jadi sekarang sampai lo berani menyakiti Naren, maka gue juga yang akan memberi pelajaran sama lo!”
Black menatap tajam Rio yang sekarang menatap Black dengan tatapan cinta layaknya pria ke wanita.
“Black, sabar. Lo baru sadar sudah emosi aja, biar nanti kita berempat yang urus kalau sampai ada yang mau menyakiti Naren, cukup lo tutup akses untuk mereka semua menemui Naren.”
“Gaga, tanpa ditutup juga mereka tak ada yang berniat untuk menjenguk Naren.”
“Bukan kita yang gak mau menjenguk Naren, tapi ketatnya penjagaan kalian terhadap Naren sampai tak ada celah bagi kita untuk menemui Naren,” Jawab Hexa.
“Gue sudah beberapa kali memberikan kalian kesempatan buat menemui Naren. Pertama, saat Naren sekolah dan gue gak bisa jemput, gue telepon pak Doni untuk menjemput, tapi nyatanya dia tak menjemput. Kedua, saat gue yang sedang sangat sibuk di resto dan gue minta ibu Melisa yang kebetulan sedang ada di resto untuk menemani Naren, tapi apa ibu Melisa malah pergi dan membiarkan Naren bermain sendiri. Masih banyak lagi kesempatan yang sudah gue berikan termasuk gue yang pernah menelepon kalian berdua untuk memberikan kesempatan pada kalian buat menemui Naren, tapi kalian tak ada yang datang. Pantes kalau pas kalian mau ketemu, Narennya yang gak mau.”
Emosi Black meledak, dia memang sangat kecewa pada semua keluarga Bintang yang tak ada rasa empatinya sedikitpun.
“Kapan lo telepon gue?” Tanya Bintang yang merasa tak pernah menerima telepon dari Black.
“Tiga hari lalu, jam dua siang, memakai nomor resto yang harusnya lo tahu dong kalau itu nomor resto.” Bintang berusaha mengingat dan memang dia sempat menerima telepon dari embun pagi saat dia meeting.
“Gue punya alasan, gue lagi meeting.”
“Kalau lo memang lagi meeting harusnya selesai meeting lo telepon balik ke resto buat memastikan ada apa, ini gak ada, lo melupakan panggilan gue. Kalian memang gak ada yang peduli sama Naren. Lalu dari mana kepercayaan gue kalau lo akan peduli sama anak lo?”
BERSAMBUNG.