NovelToon NovelToon
Pesona Mas Brewok

Pesona Mas Brewok

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:583
Nilai: 5
Nama Author: septia19

saat sekolah dulu , Zahra hanya sekedar mengenal nama Rendra saja, tak pernah bertegur sapa sama sekali. setelah lulus, mereka tidak bertemu bertahun tahun , hingga akhirnya di pertemukan kembali.rendra yang mulai duluan menghubungi duluan. padahal awalnya Zahra sama sekali tak memiliki perasaan apapun begitupun rendra.bahkan Zahra ada berniatan menjodohkan Rendra dengan sahabat karibnya yaitu rana. namun anehnya malah zahra yang merasa cemburu melihat kedekatan mereka. padahal tak di sangka, hati rendra tertuju pada Zahra bukan rana. ini lah kisah cinta halal mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septia19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 3. dua langkah di kota yang sama

‎Kota ini terlihat megah dan ramai dari segala sisi. Gedung-gedung menjulang tinggi, kendaraan berlalu lalang tanpa henti, dan suara keramaian seolah tak pernah berhenti sejak pagi buta hingga larut malam. Bagi sebagian orang, tempat ini adalah ladang harapan untuk meraih mimpi setinggi langit. Namun bagi dua orang yang dulunya hidup di dunia yang terpisah di masa sekolah, kota ini menjadi panggung tempat mereka menjalani nasib masing-masing, tanpa sadar sedang melangkah di atas tanah yang sama.

‎Aku, Zahra, kini sudah memasuki semester ketiga perkuliahan ku. Kehidupan sebagai mahasiswi terasa lebih teratur dan mulai terasa nyaman dibandingkan saat pertama kali tiba. Aku tinggal di sebuah rumah kos sederhana milik seorang ibu paruh baya yang baik hati, tak jauh dari lingkungan kampus. Kamar yang aku tempati tidak luas, hanya cukup untuk menampung tempat tidur, meja belajar, dan lemari pakaian kecil. Namun bagiku, itu sudah lebih dari cukup.

‎Seperti kebiasaanku sejak dulu, aku tetap memegang teguh kesederhanaan. Pakaian yang aku kenakan pun tidak banyak berubah selalu yang berwarna lembut, berbahan nyaman, dan rapi meski terlihat polos. Wajahku masih bersih tanpa riasan apa pun, rambut panjangku selalu diikat menjadi satu kuncir atau dikepang sederhana. Kadang-kadang, ketika melihat teman-teman sekampus yang tampil cantik dan modis dengan gaya rambut serta busana yang mengikuti tren, timbul sedikit rasa kurang percaya diri di hatiku. Namun aku selalu berusaha menepis nya. Selama pakaian bersih dan sopan, selama hati dan pikiran terjaga dengan baik, itu sudah cukup bagiku.

‎Di samping itu, ada kehadiran Raka yang membuat hari-hariku terasa lebih berwarna. Sejak menjalin hubungan, Raka selalu bersikap lembut dan perhatian. Ia sering menjemput ku sepulang kuliah, mengajak makan di warung sederhana, atau sekadar duduk bercerita di taman kampus. Raka adalah sosok yang pandai bergaul, punya banyak teman, dan terlihat cukup mapan secara ekonomi dibandingkan diriku. Ia sering berkata bahwa ia menyukaiku apa adanya, menyebutku tulus, tenang, dan berbeda dari wanita lain yang hanya memikirkan penampilan semata.

‎“Zahra, kau tak perlu merasa kurang. Justru kesederhanaanmu itu yang membuatku nyaman berada di dekatmu,” ucapnya suatu hari sambil menggenggam tanganku lembut.

‎Mendengar ucapan itu, hatiku terasa hangat. Rasanya seperti mendapatkan pengakuan yang selama ini aku butuhkan. Aku mulai berpikir bahwa mungkin memang benar nasib baik sedang berpihak padaku. Masa lalu yang terasa kelabu dan penuh rasa rendah diri perlahan mulai terkubur, digantikan dengan harapan akan masa depan yang lebih cerah. Aku pun semakin fokus pada kuliah dan menjaga hubungan baik dengan Raka, seolah ingin memastikan bahwa jalan yang aku pilih ini adalah jalan yang terbaik.

‎Namun, di sisi lain kota yang sama, tak jauh dari tempatku belajar dan tinggal, ada sosok lain yang menjalani hari-harinya dengan keringat dan lelah yang tak pernah berhenti. Dialah Rendra. Pria yang dulunya selalu menjadi pusat perhatian, yang selalu dikelilingi wanita-wanita cantik dan dianggap memiliki masa depan yang gemilang, kini harus membuktikan hidupnya dengan cara yang sangat berbeda.

‎Sejak memutuskan merantau ke kota ini, Rendra menyewa sebuah gubuk kecil di pinggiran daerah industri. Tempat tinggalnya sangat sederhana, hanya terbuat dari papan kayu dan seng yang kadang berderak tertiup angin. Sewanya murah, sesuai dengan penghasilannya yang pas-pasan. Setiap hari, ia harus bangun pukul empat pagi sebelum matahari terbit. Setelah membersihkan diri dengan air dari sumur dekat gubuknya, ia akan berjalan kaki sejauh lebih dari dua kilometer menuju lokasi proyek pembangunan.

‎Pekerjaannya sebagai kuli bangunan bukanlah hal yang ringan. Di bawah terik matahari yang membakar kulit hingga menghitam, ia harus mengangkat karung semen yang beratnya puluhan kilogram, memikul tumpukan batu bata, mengaduk pasir dan semen dengan cangkul, serta mengangkut air ke lantai atas gedung yang sedang dibangun. Selama delapan hingga sepuluh jam sehari, otot-otot tubuhnya bekerja keras tanpa henti. Di akhir hari, badannya terasa pegal linu seolah tak bisa digerakkan lagi, telapak tangannya kasar dan penuh kapalan, serta wajah dan bajunya selalu tertutup debu dan noda semen.

‎Namun Rendra tak pernah mengeluh. Ia mengingat pesan ayahnya sebelum berangkat, bahwa pekerjaan apa pun yang halal dan dikerjakan dengan jujur adalah pekerjaan yang mulia. Ia juga memikirkan ibunya yang ditinggalkan di desa, yang harus merawat ayahnya yang masih sakit lemah. Setiap rupiah yang ia dapatkan akan ia tabung dan sebagian besar segera dikirimkan pulang ke rumah. Baginya, lelah di tubuh ini terbayar lunas asalkan ia bisa membantu meringankan beban keluarga.

‎Kini, sosok Rendra yang dulu dikenal tampan dan bersih sudah sangat berubah. Kulitnya yang dulunya putih bersih kini menjadi cokelat gelap terbakar matahari. Brewok yang tumbuh di wajahnya semakin lebat dan tebal, jarang ia potong rapi karena keterbatasan waktu dan biaya. Rambutnya juga terlihat agak panjang dan berantakan jika tidak diikat. Bagi orang yang tidak mengenalnya dari dulu, tak akan ada yang menyangka bahwa pria pekerja kasar ini dulunya adalah sosok yang paling diidamkan banyak wanita di sekolah.

‎Teman-teman yang dulu sering mengaguminya pun perlahan menghilang. Beberapa kali ia bertemu dengan teman sekolah lama di jalan, namun begitu melihat penampilan dan pekerjaannya, wajah mereka segera berubah ada rasa kasihan yang menyindir, ada pandangan meremehkan, atau bahkan langsung berpura-pura tidak mengenalnya. Bahkan kabarnya, beberapa mantan kekasihnya pun hanya tertawa mendengar kabar tentang keadaannya, mengatakan bahwa mereka bersyukur sudah tidak bersamanya lagi.

‎Hal itu sempat membuat hati Rendra terasa perih. Ia menyadari satu kenyataan pahit, selama ini, yang mereka sukai bukanlah dirinya, melainkan nama, penampilan, dan status yang melekat padanya. Begitu semuanya hilang, tak ada lagi yang tersisa. Namun seiring berjalannya waktu, ia mulai terbiasa. Ia merasa lebih tenang hidup seperti ini, meski berat, karena ia tidak lagi harus berpura-pura menjadi orang lain hanya untuk memuaskan pandangan orang banyak. Ia menjadi dirinya sendiri sederhana, bekerja keras, dan jujur.

‎“Tak apa. Biarkan mereka melihat apa yang mereka mau. Yang terpenting aku bisa tidur nyenyak setiap malam dengan hati yang bersih,” gumamnya suatu malam sambil duduk di depan gubuknya, memandang langit kota yang tertutup kabut cahaya lampu.

‎Yang tak ia sadari, tempat kerja barunya saat ini semakin mendekat ke arah lingkungan tempat tinggal dan kampusku. Kontrak kerja di proyek sebelumnya telah selesai, dan atas rekomendasi teman sesama pekerja, ia diterima di lokasi pembangunan gedung baru yang jaraknya hanya sekitar tiga kilometer dari kampus tempat aku menuntut ilmu. Jarak itu sebenarnya sangat dekat, namun seolah ada dinding tak kasat mata yang menjauhkan kami.

‎Di siang hari yang cerah, ketika aku berjalan keluar gerbang kampus untuk membeli makan siang, mungkin saja sosok yang terlihat berjalan menjauh mengenakan baju kumal penuh debu itu adalah Rendra. Namun aku tak mengenalinya, dan ia pun tak akan menyangka bahwa gadis yang berjalan santai dengan tas ransel di punggungnya adalah Zahra gadis pendiam yang dulu selalu bersembunyi di pojok kelas.

‎Suatu sore, ketika hujan turun cukup deras, aku berteduh di sebuah warung kecil di pinggir jalan. Tak jauh dari situ, sekelompok pekerja bangunan berlari-larian mencari tempat berteduh juga. Salah satu dari mereka berdiri membelakangi arahku, membungkuk sedikit sambil mengelap air hujan dan debu dari wajahnya dengan lengan baju. Dari punggung dan postur tubuhnya, ada samar-samar rasa yang tak biasa terlintas di hatiku, namun aku segera menggelengkan kepala. Mustahil. Bagaimana bisa orang seperti dia ada di tempat seperti ini? Pikiranku segera mengenyahkan perasaan itu dan kembali melanjutkan obrolan ringan dengan temanku yang ikut berteduh.

‎Sementara itu, Rendra yang berdiri di ujung atap warung itu pun menoleh sekilas ke arah kerumunan orang yang berteduh. Matanya menangkap sosok gadis dengan rambut terikat rapi dan wajah polos yang sedang tersenyum mendengarkan temannya. Sekilas pandang itu membuatnya berhenti bergerak sejenak. Ada rasa samar-samar yang mengganjal di ingatannya. Wajah itu terasa sangat dikenal, namun penampilan yang berbeda dan situasi yang sangat asing membuatnya ragu. Apakah dia? Atau hanya kemiripan belaka? Namun sebelum ia sempat memperhatikan lebih lama, hujan mulai reda dan panggilan dari mandor menyuruh mereka segera kembali ke lokasi kerja. Ia pun bergegas pergi, membawa rasa penasaran yang tersisa di dalam hatinya.

‎Hari-hari pun terus berganti. Di satu sisi, kehidupanku berjalan tenang dan teratur. Kuliah berjalan lancar, hubungan dengan Raka juga semakin dekat, bahkan ia sudah mulai membicarakan rencana masa depan di mana ia berharap kami bisa melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius setelah aku lulus nanti. Mendengar itu, aku merasa bahagia dan mulai membayangkan hidup yang tenang bersama seseorang yang menyayangiku.

‎Namun di sisi lain, kehidupan Rendra terus berjalan dengan ritme yang berat namun penuh ketenangan batin. Ia semakin terbiasa dengan pekerjaannya, bahkan mendapatkan kepercayaan dari mandor karena kerajinan dan kejujurannya. Gajinya pun sedikit lebih baik, sehingga ia bisa mengirimkan lebih banyak bantuan ke rumah. Kadang kala, di sela-sela istirahat, pikirannya melayang kembali ke masa sekolah. Ia teringat pada gadis-gadis yang dulu ada di sekelilingnya, teringat pada tatapan kagum dan senyum yang mereka berikan, namun ia juga teringat pada satu sosok yang berbeda sosok yang tak pernah mendekat, yang hanya terlihat dari kejauhan, yang selalu duduk diam di pojok kelas. Sosok Zahra.

‎Ia sempat mendengar kabar samar bahwa Zahra melanjutkan kuliah, namun ia tak tahu di kota mana dan bagaimana keadaannya sekarang. Dalam hatinya yang jujur, ia sempat merasa bersalah sedikit. Dulu, ia bahkan tak pernah menyapa atau sekadar menganggukkan kepala padanya, seolah keberadaannya tak ada. Ia tahu dirinya dulu sombong, terbuai oleh pujian dan perhatian yang datang tanpa ia usahakan. Kini, setelah merasakan posisi sebaliknya, ia mulai melihat segala sesuatu dengan pandangan yang jauh lebih jernih.

‎“Semoga dia baik-baik saja. Semoga dia mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan bahagia,” gumamnya suatu hari sambil duduk di atas tumpukan batu bata saat jam istirahat, memandang langit biru yang luas.

‎Di kota yang sama, dua jalan hidup ini terus melangkah maju. Kami saling tidak tahu, saling tidak mengenali dalam wujud baru yang kami miliki. Namun benang takdir itu terus terjalin perlahan, semakin mendekat seiring berjalannya waktu. Pertemuan yang tak sengaja dan penuh kejutan itu memang belum terjadi di sini, namun langkah-langkah kami kini semakin dekat satu sama lain.

‎Mungkin hanya tinggal soal waktu. Sebentar lagi, pada saat yang tepat dan di tempat yang tak terduga, dinding pemisah itu akan runtuh. Dan saat itu terjadi, dunia yang selama ini kami yakini akan berubah total. Semua yang kami bayangkan tentang satu sama lain, semua kesan yang terbentuk sejak masa sekolah, akan diuji oleh kenyataan hidup yang baru. Namun untuk saat ini, biarkanlah masing-masing dari kami terus menjalani hari-hari ini, menanti saat di mana takdir akhirnya mempertemukan kami kembali, seperti yang akan terjadi di Episode kelak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!