NovelToon NovelToon
PERNIKAHAN SANDERA: MEMPELAI PENGGANTI SANG MILIARDER

PERNIKAHAN SANDERA: MEMPELAI PENGGANTI SANG MILIARDER

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Balas Dendam
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Satisuci Ituaku

Naya terpaksa menggantikan kakak tirinya yang kabur beberapa jam sebelum pernikahan dengan Adrian, seorang CEO dingin yang lumpuh akibat kecelakaan misterius.

Bagi Adrian, Naya hanyalah pengganti yang harus menanggung dosa keluarganya. Di rumah mewah yang terasa seperti penjara, Naya dipaksa menjalani kehidupan penuh penghinaan dan penderitaan.

Namun Adrian tidak mengetahui satu kebenaran besar.

Wanita yang selama ini ia benci adalah orang yang pernah mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan dirinya dari maut tiga tahun lalu.

Saat perlahan rahasia itu mulai terungkap dan hati Adrian mulai luluh, Naya justru memilih pergi.

Kini Adrian harus menghadapi satu pertanyaan yang terus menghantuinya:

Masih adakah kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahannya sebelum wanita yang dicintainya menghilang untuk selamanya? ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Satisuci Ituaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 -Bayangan Musuh di Balik Kelahiran Pewaris

Sinar matahari pagi menyinari halaman belakang kediaman Amarta. Namun berbeda dengan beberapa bulan sebelumnya, suasana rumah kini berada dalam pengawasan yang jauh lebih ketat.

Beberapa petugas keamanan terlihat berjaga di titik-titik strategis. Kamera pengawas baru dipasang di seluruh area luar rumah, sementara kendaraan patroli rutin berkeliling kompleks setiap beberapa jam.

Semua itu dilakukan atas perintah langsung Adrian.

Setelah laporan mengenai Surya Pranoto dan sosok misterius bernama Lukas Surya muncul, Adrian tidak ingin mengambil risiko sekecil apa pun.

Terlebih lagi, usia kandungan Naya kini memasuki bulan ketujuh.

Di ruang makan, Naya memperhatikan aktivitas para petugas keamanan dari balik jendela.

"Mas, apa semua ini tidak berlebihan?" tanyanya pelan.

Adrian yang sedang membaca laporan perusahaan mengangkat pandangan.

"Tidak."

"Tapi jumlah petugas keamanan bertambah hampir dua kali lipat."

"Aku lebih memilih dianggap berlebihan daripada menyesal nanti."

Naya tersenyum tipis.

Ia tahu tidak ada gunanya berdebat dengan Adrian jika menyangkut keselamatannya.

Pria itu memang terkenal keras kepala.

Namun keras kepala yang lahir dari rasa cinta dan tanggung jawab.

Tak lama kemudian, Dimas memasuki ruang makan dengan langkah cepat.

Ekspresinya terlihat serius.

Adrian langsung menutup dokumen yang sedang dibacanya.

"Ada perkembangan?"

"Ya, Tuan."

Dimas menyerahkan sebuah map tipis.

"Kami berhasil menemukan jejak Lukas Surya."

Suasana ruang makan mendadak berubah.

Naya ikut menoleh.

"Di mana dia?" tanya Adrian.

Dimas membuka beberapa foto hasil penyelidikan.

"Selama lima tahun terakhir dia berpindah-pindah negara."

"Negara mana saja?"

"Singapura, Thailand, Filipina, lalu kembali ke Indonesia tiga bulan lalu."

Tatapan Adrian semakin tajam.

"Tiga bulan lalu?"

"Ya, Tuan."

Dimas mengangguk.

"Dan sejak kembali ke Indonesia, aktivitasnya sangat sulit dilacak."

Adrian membuka foto berikutnya.

Wajah seorang pria muda muncul di sana.

Usianya sekitar tiga puluh tahun.

Tatapannya tajam dan penuh ambisi.

Namun yang membuat Adrian tidak nyaman adalah catatan terakhir di bawah foto tersebut.

Lukas Surya pernah bekerja untuk beberapa perusahaan keamanan swasta di luar negeri.

Dengan kata lain, pria itu memiliki kemampuan yang tidak bisa diremehkan.

"Apa motifnya?" tanya Adrian.

"Itu yang belum kami ketahui."

Dimas menarik napas.

"Tetapi berdasarkan informasi yang kami kumpulkan, Lukas menyalahkan keluarga Amarta atas kehancuran hidup ayahnya."

Naya tanpa sadar memegang perutnya.

Perasaan tidak nyaman kembali muncul.

Adrian segera menggenggam tangan istrinya.

Tatapannya melembut sesaat.

Namun begitu kembali menatap Dimas, sorot matanya berubah dingin.

"Terus awasi setiap pergerakannya."

"Baik, Tuan."

Hari itu berlalu dengan tenang.

Namun menjelang sore, sebuah kejadian tak terduga terjadi.

Seorang petugas keamanan berlari menuju pos utama sambil membawa sebuah kotak kecil berwarna hitam.

Kotak itu ditemukan tepat di depan gerbang utama kediaman Amarta.

Tidak ada nama pengirim.

Tidak ada alamat.

Hanya sebuah kartu putih yang ditempel di bagian atasnya.

Petugas keamanan segera melaporkannya kepada Dimas.

Beberapa menit kemudian, kotak tersebut berada di ruang keamanan.

Adrian turut hadir.

"Sudah diperiksa?"

"Sudah, Tuan."

"Tidak ada bahan berbahaya?"

"Tidak ada."

Dengan hati-hati, Dimas membuka kotak itu.

Isi di dalamnya membuat seluruh ruangan terdiam.

Sebuah boneka bayi.

Boneka kecil dengan pakaian putih.

Namun di leher boneka tersebut tergantung secarik kertas.

Dimas mengambilnya perlahan.

Wajahnya langsung berubah.

"Apa isinya?" tanya Adrian.

Dimas menyerahkan kertas itu.

Tulisan tangan berwarna merah memenuhi permukaannya.

'Nikmati kebahagiaan kalian selagi masih bisa.'

Keheningan langsung menyelimuti ruangan.

Rahang Adrian mengeras.

Tatapan matanya berubah sangat dingin.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, amarah yang selama ini terkendali mulai muncul ke permukaan.

Seseorang tidak hanya mengincar dirinya.

Orang itu berani membawa-bawa anak yang belum lahir.

Kesalahan terbesar.

Dan mungkin yang terakhir.

"Periksa seluruh rekaman CCTV."

"Siap, Tuan."

"Temukan siapa yang mengirim ini."

"Baik."

Adrian mengepalkan tangan.

Instingnya mengatakan bahwa semua ini berhubungan dengan Lukas Surya.

Namun ia membutuhkan bukti.

Malam harinya, setelah memastikan Naya beristirahat, Adrian kembali ke ruang kerja.

Pikirannya tidak tenang.

Ancaman itu bukan lagi sekadar dugaan.

Musuh mereka sudah mulai bergerak.

Beberapa saat kemudian, ponsel Adrian bergetar.

Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.

Hanya satu kalimat.

'Aku akan mengambil semua yang paling kau cintai, Adrian Amarta.'

Sorot mata Adrian berubah tajam.

Belum sempat ia membalas, pesan berikutnya masuk.

Kali ini berupa sebuah foto.

Foto yang membuat darahnya langsung mendidih.

Foto Naya.

Diambil diam-diam saat istrinya berjalan di taman belakang sore tadi.

Artinya...

Musuh itu sudah berada sangat dekat.

Sangat dekat.

Dan sedang mengawasi keluarga mereka.

Bersambung...

1
falea sezi
😒 telat lu bangke
Dinatha: saya follow ya🙏
total 4 replies
Satisuci Ituaku
mksih kk
Rani Saraswaty
knp cpt bgt tau sih??? 🤭
Satisuci Ituaku: mksih udah mampir kk
total 1 replies
Rani Saraswaty
kan kaya...mudah tuh cari yg bw lari uangnya...knp repot2...seluruh kluarga bs msk sel
Satisuci Ituaku
siap kk mksih udh mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!