Judul: My alter ego
Kehilangan orang tua, pengkhianatan suami, dan terjebak di kantor yang toksik membuat hidup Hira Lione hancur dalam semalam. Namun, saat keputusasaan mencapai puncaknya, sebuah suara misterius muncul di dalam kepalanya.
Demi membalas dendam, Hira membuat kesepakatan berbahaya: menyerahkan kendali tubuhnya pada sosok alter ego yang dingin dan kejam. Hira yang rapuh kini telah tiada, digantikan oleh predator yang siap meruntuhkan hidup siapa pun yang pernah menginjak-injak harga dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FantasiKuyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Efek Domino
Sepatu hak tinggi merah marun itu kembali mengetuk lantai divisi pemasaran.
Hira berjalan melewati deretan meja kubikel. Posturnya tegak lurus. Pandangannya lurus ke depan. Tidak ada satupun karyawan yang berani menatap matanya. Beberapa dari mereka buru-buru menunduk, pura-pura sibuk mengetik di keyboard saat Hira lewat.
Ia tiba di mejanya. Hira meletakkan tas tangannya perlahan, lalu menarik kursi. Baru saja ia duduk, sebuah bayangan menutupi cahaya dari lampu di atasnya.
Hira mendongak pelan. Bagas berdiri di samping mejanya. Pria itu menunduk dalam-dalam. Tangannya memegang sebuah gelas kertas berisi kopi. Jari-jari pria itu terlihat gemetar.
"H-Hira..." panggil Bagas. Suaranya tidak lagi berat dan merendahkan seperti pagi tadi. Kini suaranya terdengar cicitan tertahan.
Hira menyilangkan kakinya. Ia menopang dagu dengan satu tangan, menatap Bagas dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Ada apa, Bagas? Mau mengecek laporanku lagi?" tanya Hira dengan nada santai.
Bagas buru-buru menggeleng. Ia meletakkan gelas kopi itu di ujung meja Hira dengan gerakan sangat hati-hati.
"T-tidak. Aku... aku membelikanmu kopi dari kafe bawah. Kopi kesukaanmu. Caramel macchiato, kan?" ucap Bagas cepat. Matanya bergerak liar, menghindari kontak mata langsung dengan Hira.
Hira melirik gelas kopi itu sebentar, lalu kembali menatap wajah Bagas yang memucat.
"Aku tidak minum minuman manis lagi," balas Hira pelan.
Bagas menelan ludahnya. "O-oh. Maaf. Aku bisa membelikan yang lain. Americano? Atau teh?"
Hira menurunkan tangannya dari dagu. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan.
"Buang," perintah Hira singkat.
Bagas tersentak. "A-apa?"
"Aku bilang, buang kopi itu. Dan jangan pernah berdiri sedekat ini dengan mejaku lagi. Berani kau menggangguku satu kali lagi, aku pastikan catatan absensimu yang penuh manipulasi itu sampai ke meja HRD hari ini juga."
Mata Bagas membelalak lebar. Pria itu mengangguk kaku beberapa kali. Tangannya segera menyambar gelas kopi itu kembali. Kopi panas di dalamnya sedikit tumpah mengenai jari Bagas, namun pria itu tidak berani mengaduh. Ia berbalik dan setengah berlari kembali ke mejanya sendiri.
{Kau lihat? Tikus-tikus ini hanya berani mengais sisa makanan. Begitu melihat ular, mereka langsung lari ketakutan.}
Di dalam kepalanya, suara Hira yang asli tidak membalas. Namun, ada getaran kelegaan yang bisa dirasakan oleh sang alter ego. Hira yang asli selalu membenci Bagas, tapi terlalu takut untuk melawannya.
Hira baru saja menyalakan layar komputernya ketika suara langkah kaki berat terdengar dari arah lift utama.
Dua orang pria mengenakan kemeja putih dan id card berlogo 'Audit Internal Pusat' berjalan memasuki area divisi pemasaran. Karyawan lain saling senggol, mencuri pandang ke arah dua pria tersebut.
Mereka berdua berjalan lurus menuju ruangan berkaca di sudut divisi. Ruangan Siska.
Pria yang berjalan di depan mengetuk pintu kaca itu tanpa menunggu jawaban, lalu langsung membukanya.
"Ibu Siska," ucap pria itu dengan suara lantang yang bisa didengar seluruh ruangan. "Kami dari audit internal pusat. Kami membutuhkan Anda untuk ikut ke ruangan interogasi di lantai lima sekarang juga."
Dari tempat duduknya, Hira bisa melihat Siska berdiri dengan kaku. Wajah manajer itu tampak sangat berantakan. Rambutnya tidak lagi serapi pagi tadi.
Siska berjalan keluar dari ruangannya diapit oleh kedua pria tersebut. Saat melewati deretan kubikel, langkah Siska terhenti.
Wanita itu menoleh. Matanya menatap lurus ke arah meja Hira. Tatapan Siska dipenuhi oleh kebencian yang menyala-nyala. Tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya.
Hira membalas tatapan itu tanpa berkedip. Ia mengangkat satu sudut bibirnya, memberikan senyuman miring yang sangat mematikan. Sebuah senyum kemenangan.
Siska membuka mulutnya, bersiap meneriakkan makian, namun pria dari audit internal segera menyentuh lengannya.
"Mari, Bu Siska. Waktu kita tidak banyak," tegur pria itu tegas.
Siska menggertakkan giginya. Ia memalingkan wajah dan terus berjalan menuju lift, diikuti oleh tatapan seluruh staf divisi pemasaran.
Begitu pintu lift tertutup, suara bisik-bisik langsung meledak di seluruh ruangan. Semua orang mulai membicarakan Siska dan melirik ke arah Hira dengan pandangan ngeri.
Hira sama sekali tidak memedulikan mereka. Ia fokus pada layar komputernya.
Ponsel di atas mejanya bergetar. Layar itu menyala, menampilkan sebuah pesan masuk.
[Pesan Masuk: Reza (Suami)]
Hira menatap nama itu. Jarinya menggeser layar untuk membaca pesannya.
[Reza: Hira, tolong angkat teleponku. Jangan lakukan ini. Kamu bisa menghancurkan karirku dan Bu Anita. Kita bisa bicara baik-baik di rumah malam ini. Aku mohon. Maafkan aku.]
Hira mendengus pelan. Ia mengetikkan balasan dengan satu tangan.
[Balasan Hira: Pulanglah ke rumah istrimu. Pastikan kau membersihkan kemejamu sendiri malam ini.]
Setelah mengirim pesan itu, Hira memblokir nomor Reza dari panggilannya. Ia meletakkan kembali ponselnya dengan posisi layar menghadap ke bawah.
{Dia masih berpikir dia punya ruang untuk bernegosiasi. Betapa bodohnya.}
Tiba-tiba, sebuah notifikasi pop-up muncul di sudut kanan bawah layar komputernya. Sebuah email dengan label 'Prioritas Tinggi' yang dikirimkan ke seluruh alamat email staf cabang.
Hira mengklik notifikasi tersebut.
[Pemberitahuan: Sidak Eksekutif Pusat - Kehadiran Diwajibkan]
Hira membaca baris pertama email tersebut dengan seksama.
[Diberitahukan kepada seluruh jajaran direksi, manajerial, dan staf kantor cabang. Esok hari, tepat pukul 08:00 pagi, Bapak Teran Honigan selaku CEO Perusahaan Induk akan melakukan inspeksi mendadak ke kantor cabang kita. Seluruh karyawan diwajibkan hadir tepat waktu dan memastikan seluruh laporan divisinya masing-masing tersedia di meja...]
Jari Hira berhenti menggeser mouse. Matanya terkunci pada satu nama di layar itu.
Teran Honigan.
Ia tahu nama itu. Semua orang di gedung ini tahu siapa pria itu. Pemimpin tertinggi perusahaan raksasa yang menaungi kantor cabang ini. Pria yang dikenal tidak memiliki toleransi sedikitpun terhadap kesalahan, dan bisa menghancurkan karir seseorang hanya dengan satu jentikan jari.
{CEO Pusat? Turun ke cabang kecil ini secara mendadak?}
Di dalam kepalanya, suara Hira yang asli terdengar cemas.
{Apa... apa ini karena email laporanku pagi tadi? Apakah dia datang untuk memecatku karena menyalahi aturan hierarki?}
Hira menyandarkan punggungnya ke kursi. Bukannya takut, darah di tubuhnya justru berdesir cepat. Jantungnya berdetak dalam ritme yang sangat teratur.
Ia memutar penanya dengan jari-jari lentiknya. Senyum di bibirnya perlahan melebar, jauh lebih lebar dari sebelumnya.
Sebuah inspeksi mendadak yang terjadi tepat setelah ia mengirimkan bom ke manajemen pusat. Ini bukan kebetulan. Pria bernama Teran itu pasti telah melihat laporannya.
{Memecat kita? Mungkin saja,} balas sang alter ego di dalam pikiran Hira.
Matanya terus menatap deretan huruf yang mengeja nama CEO tersebut di layar.
{Atau... dia datang karena penasaran. Tidak masalah. Bermain dengan tikus-tikus bodoh ini terlalu mudah. Jika raja dari segala predator akan turun gunung besok pagi... mari kita sambut dia dengan pertunjukan yang lebih besar.}
lg seru nih
jm 9 ketemu dar, trus ketemu her & si botak, trus ketemu taren(lupa) trus ketemu victor, ini ketemu kael🤔 hrs'a sdh sore x thor
kodammu luar biasa!
🤝
ampe qu ulang baca part 1 hlo
biasa'a dirasuki jiwa lain, ini malah dr diri sendiri, mgkin ini kodam yg memberontak🤭
semangat thor💪