Evelyn Shen ditinggalkan Damian Lu di hari pernikahan mereka tanpa pesan, tanpa penjelasan. Sejak itu hidupnya runtuh, dihina, lalu diusir oleh keluarganya sendiri.
Lima tahun kemudian, Evelyn kembali sebagai detektif tangguh. Takdir mempertemukannya lagi dengan Damian, kini jaksa elit yang cerdas dan ahli bela diri, dalam sebuah kasus besar yang memaksa mereka bekerja sama.
Bagi Evelyn, Damian adalah pria yang menghancurkan hidupnya.
Bagi Damian, Evelyn masih wanita yang paling ia cintai.
Dan di antara luka, rahasia, serta kebenaran yang perlahan terungkap… apakah Evelyn akan memaafkan pria yang pernah meninggalkannya? Atau justru kebenaran di balik kepergian Damian akan menghancurkan mereka untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Beberapa saat kemudian.
Area parkiran rumah sakit.
Pria itu masih menyandera dokter sambil berjalan perlahan di antara deretan mobil.
"Mobil yang mana?" tanyanya.
Dokter itu menunjuk sebuah mobil sedan berwarna hitam yang terparkir tidak jauh dari mereka.
"Itu."
"Jangan macam-macam."
"Kalau aku ingin melawanmu, aku tidak akan mengajakmu ke sini," jawab dokter itu dengan tenang.
Pria tersebut tetap waspada.
"Buka pintunya."
Dokter itu mengeluarkan kunci mobil dari saku jasnya, lalu menekan tombol pembuka kunci.
Bip!
Lampu mobil berkedip dua kali.
"Masuk."
Dokter itu membuka pintu kursi pengemudi dan perlahan masuk ke dalam mobil, sementara pria tersebut masih menodongkan alat operasi ke lehernya.
Dari kejauhan, beberapa anggota Tim A diam-diam telah menempati posisi masing-masing, menunggu perintah Kapten Wong.
Damien sengaja mengikuti hingga ke parkiran
Beberapa saat kemudian.
Mobil itu meninggalkan area parkiran rumah sakit dengan kecepatan sedang.
"Mereka sudah keluar dari parkiran," lapor Damien melalui alat komunikasi.
"Tim Satu, ikuti mobil itu dari jarak aman. Jangan sampai dia menyadari sedang dibuntuti," perintah Kapten Wong.
"Siap!"
Sebuah mobil taksi segera melaju keluar dari parkiran, disusul dua kendaraan lain yang menjaga jarak.
"Jangan terlalu dekat," lanjut Kapten Wong. "Begitu dia curiga, nyawa sandera bisa terancam."
"Dimengerti."
Damien menatap mobil pelaku yang semakin menjauh.
"Kita tidak boleh kehilangan dia kali ini."
"Kapten, aku akan tetap di sini menjaga Evelyn. Dalang utama belum muncul. Lebih baik kita bagi menjadi dua tim," kata Damien sambil melangkah menuju tangga darurat.
"Baik. Wesley dan Andy tetap di rumah sakit untuk membantumu. Yang lain ikut denganku mengejar pelaku," jawab Kapten Wong dari seberang alat komunikasi.
"Dimengerti."
Damien mempercepat langkahnya kembali menuju lantai tempat Evelyn dirawat.
Di sisi lain.
Eve berjalan menyusuri koridor rumah sakit sambil sesekali menoleh ke kanan dan kiri.
"Papa bilang Evelyn dirawat di lantai ini," batinnya.
Tatapannya berhenti pada deretan ruang perawatan.
"Malam ini adalah kesempatan terbaik."
Ia tersenyum tipis.
"Selama dia belum sadar... semuanya akan jauh lebih mudah."
Eve perlahan membuka salah satu pintu kamar.
Ceklek.
Ia mengintip ke dalam, lalu kembali menutupnya.
"Bukan di sini."
Tanpa diketahui siapa pun, Eve melanjutkan langkahnya, memeriksa satu per satu kamar di koridor tersebut.
Salah seorang petugas kepolisian menghampiri Eve.
"Nona, sedang apa Anda di sini?" tanyanya.
"Saya ingin menjenguk kakak saya. Dia Detektif Evelyn Shen. Di mana ruang rawatnya?" tanya Eve.
Petugas itu menggeleng.
"Maaf, Detektif Shen belum boleh dijenguk siapa pun. Itu perintah dokter dan juga bagian dari prosedur penyelidikan."
"Tapi aku keluarganya. Masa aku tidak boleh melihatnya walau sebentar?" bantah Eve.
"Maaf, Nona. Kami hanya menjalankan tugas."
Eve mengepalkan tangannya.
"Sial... kesempatan ini malah gagal," gumamnya pelan.
Ia kembali memaksakan senyum.
"Kalau begitu, setidaknya beri tahu aku dia dirawat di ruangan mana. Aku tidak akan masuk, cukup melihat dari jauh."
Petugas itu kembali menggeleng.
"Maaf, kami juga tidak bisa memberikan informasi itu. Detektif Shen merupakan korban percobaan pembunuhan. Demi keselamatannya, lokasi ruang perawatannya dirahasiakan."
Raut wajah Eve langsung berubah.
"Apa sampai seperti itu? Aku ini adiknya."
"Kami paham. Namun perintahnya berlaku untuk semua orang, termasuk keluarga. Selama belum ada izin dari dokter dan penyidik yang menangani kasus ini, tidak seorang pun diperbolehkan mengetahui ataupun mendekati ruang perawatan Detektif Shen."
Eve menggigit bibirnya pelan.
"Baiklah..."
Meski berpura-pura menerima penjelasan itu, tatapannya tetap menyapu koridor rumah sakit, seolah masih mencari cara untuk menemukan keberadaan Evelyn.
Tengah malam.
Koridor di depan ruang ICU tampak lengang.
Seorang pria mengenakan jas dokter putih, masker, dan kacamata berjalan dengan tenang menuju ruang ICU tempat Evelyn dirawat.
Di dada kirinya terpasang kartu identitas bertuliskan Dr. Fan.
Dua petugas yang berjaga di depan pintu segera menghentikannya.
"Selamat malam, Dokter. Ada keperluan?" tanya salah seorang petugas.
"Saya Dr. Fan. Saya diminta datang untuk memantau kondisi pasien Detektif Evelyn Shen," jawabnya sambil menunjukkan kartu identitas rumah sakit.
Salah seorang petugas menerima kartu itu, lalu menghubungi ruang perawat melalui alat komunikasi.
"Ruang ICU, mohon konfirmasi. Apakah benar Dr. Fan mendapat jadwal memeriksa Detektif Evelyn Shen?"
Beberapa detik kemudian terdengar jawaban dari alat komunikasi.
"Benar. Silakan dipersilakan masuk."
Petugas itu mengembalikan kartu identitas.
"Silakan, Dokter."
Dr. Fan mengangguk pelan.
"Terima kasih."
Ia kemudian membuka pintu ICU dan melangkah masuk dengan tenang.
Dokter itu melangkah perlahan menghampiri ranjang tempat Evelyn terbaring.
Masker oksigen masih menutupi wajahnya, sementara cairan infus terus menetes melalui selang di lengan kirinya.
Dokter itu berdiri di samping ranjang, menatap wajah Evelyn beberapa detik.
Sudut bibirnya perlahan terangkat.
"Evelyn Shen... sehebat apa pun dirimu dan Tim A, kalian tetap terlambat menghentikanku," gumamnya pelan.
Ia mengeluarkan sebuah ampul kecil dari saku jasnya, lalu mengambil suntikan.
Dengan tenang, ia menarik cairan dari ampul tersebut ke dalam spuit.
Tatapannya kembali tertuju pada kantong infus Evelyn.
"Begitu obat ini masuk ke tubuhmu, semua orang akan mengira kondisimu memburuk dengan sendirinya."
Ia mengangkat spuit itu perlahan.
"Selamat tinggal, Detektif Shen."
Jarum suntik itu pun mulai diarahkan ke selang infus Evelyn.