Pada masa putih abu-abu. Jeviza menjalin cinta dengan Keandra, tetapi baru 1 tahun pacaran, hubungan keduanya harus berakhir karena sebuah kesalah pahaman. Lalu keduanya dipertemukan lagi setelah 2 tahun berpisah, lebih gilanya, Jevi dan Kean berada di satu rumah. Seatap dengan mantan itu lah yang terjadi setelah perpisahan.
Mantan tapi masih cemburu, cinta tapi gengsi menjadi bumbu kehidupan keduanya setelah berada di satu rumah yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih Menghindar
Entah harus mengumpat dalam bentuk apa lagi. Jeviza kesal setengah mati karena Puspa belum juga pulang ke rumah, wanita itu bahkan pagi-pagi sekali menelpon Jeviza dan menyuruhnya untuk membeli sarapan di pinggir jalan depan, bersama Keandra.
Tahu kah? Puspa, jika Jeviza sedang ingin menghindari Keandra, karena tadi malam, rasa bersalah Jeviza datang secara bersamaan dengan rasa kesal setelah melihat postingan beberapa hari lalu di media sosial Keandra.
Postingan yang sebenarnya sangat manusiawi sekali, tetapi mampu membuat penggemar Keandra di kampusnya membanjiri ratusan komentar. Bukan, bukan itu yang membuat rasa kesal itu tiba-tiba muncul, tetapi salah satu komentar dari orang yang Jeviza cukup kenal dulu. Komentar yang sebenarnya sangat normal sekali, bahkan tidak ada pujian seperti komentar yang lain, tetapi mampu membuat dada Jeviza berdesir dengan sendirinya.
Agnes, nama yang dua tahun belakangan ini menjadi dampak retaknya hubungan keduanya. Jeviza salah paham karena tindakan Agnes, sementara Keandra memberi waktu pada gadis itu dua tahun lalu, murni sebatas kesempatan sebelum perginya Agnes.
"Nggak etis banget sumpah kalau gue cemburu, apa hak gue cemburu?" dumel Jeviza mengambil tote-bag miliknya.
Lalu membuka pintu kamarnya secara perlahan, kepalanya muncul terlebih dahulu sebelum benar-benar keluar. Setelah dirasa aman dan tidak ada Keandra, Jeviza baru lah keluar dari kamarnya. Ia berlari kecil untuk menghindari pertemuan dengan Keandra.
Kakinya masih terasa sakit, tetapi itu tidak menjadi penghambat bagi Jeviza untuk terus melangkahkan kakinya dengan cepat.
Tetapi angan-angan Jeviza melebur begitu saja. Sampai di ruang makan. Keandra terlihat duduk dengan satu mangkok bubur ayam di depannya, tetapi tangan Keandra tidak hanya sibuk dengan bubur ayam miliknya, juga keyboard di depannya.
"Kak Puspa nyuruh gue beli sarapan, masih suka buryam kan?"
Tenggorokan Jeviza terasa tercekat. Puspa benar-benar menelantarkannya, dan menjadikan Jeviza sebagai tanggung jawab Keandra. Kalau begini akan semakin susah Jeviza menghindar.
"Makasih kak, gue sarapan di kantin kampus aja."
Keandra menghela napas dalam, melepas kaca mata bening miliknya, lalu menatap Jeviza yanh terlihat berdiri dengan canggung.
"Oke, gue antar lo sekarang."
Mata Jeviza melotot, ia menatap Keandra tidak percaya, maksud ucapan Keandra tadi-mau mengantarkan Jeviza ke kampus begitu? Yang benar saja, kemarin saja sudah masuk akun gosip kampus, ini mau diulang lagi kejadian kemarin?
Jeviza menggeleng dengan ribut, sementara Keandra sudah menutup laptopnya dan menggulung kemeja putih miliknya sampai batas siku. Suara Jeviza langsung mengudara sebelum Keandra berhasil mengambil jaket milik cowok itu. "Enggak usah, kak. Gue naik taksi aja."
Keandra menghentikan kegiatannya, menatap Jeviza dengan diam, seakan sedang mencerna penolakan Jeviza.
"Lo, kelas siang kan nanti? Gue berangkat sendiri aja, kak. Lagian juga lo lagi sibuk kan?"
Dilihat dari manapun jelas Keandra sedang sangat sibuk dan dalam mode serius, entah mau zoom meeting lagi atau apa lah itu. Yang jelas pakaian yang dikenakan Keandra bukan untuk ke kampus.
"Je, lo masih marah sama gue? Apa perlu gue bawa Agnes ke sini buat jelasin langsung ke lo."
Jeviza semakin tidak menyangka ucapan itu yang keluar dari mulut Keandra. Padahal ini tidak ada hubungannya dengan dua tahun lalu, tetapi karena Jeviza tidak ingin masuk ke akun gosip kampus, atau menjadi perbincangan di kampus nanti. Jelas masalah besar jika ia berangkat bersama dengan Keandra.
Dari dulu sampai sekarang di kampus pun, Keandra bukan lah orang biasa, ia selalu menjadi pusat perhatian, dan sialnya Jeviza selalu terjebak hubungan dengan cowok itu, entah dulu sebagai seorang pacar, atau sekarang sebagai mantan tapi seatap.
"Pelase Je, give me a chance to fix everything."
Jeviza menelan ludahnya susah. Pembahasan Keandra jadi mengarah pada hubungan yang sebenarnya sudah dua tahun lalu berakhir. Hanya karena dia menolak untuk diantar ke kampus. Masalahnya buka itu dan tidak sesederhana itu.
Keandra tetap saja rendah diri, tidak sadar bahwa dirinya itu banyak pemuja, sama seperti ketika mereka masih berada di bangku SMA.
"Gue pikirkan lagi, tapi sorry, gue berangkat sendiri dulu ya kak."
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Jeviza langsung meninggalkan Keandra yang diam di tempatnya.
Keandra tidak mengejar, ia membiarkan Jeviza pergi begitu saja, memberi waktu dan ruang sampai Jeviza menerima kedekatan mereka lagi, atau paling tidak, Jeviza tidak menghindarinya lagi, menerima adanya Keandra.
"Gue tunggu Je," lirihnya.
Sepanjang jalan, Jeviza diam dengan pandangan kosong pada jalanan. Rasanya masih seperti mimpi ia dipertemukan lagi dengan Keandra, bahkan malah satu kampus dan satu atap, semesta sedang mempermainkannya.
Ia tidak menyangka jika Keandra melanjutkan kuliah di dalam negeri, bukan di luar negeri seperti yang ia tahu dulu. Lebih tidak menyangka lagi, Keandra saudara sepupu dengan mas Arlo, benar-benar rahasia dunia yang sulit untuk Jeviza mengerti.
"Je, gimana kaki lo?" tanya Tevi melirik Jeviza yang sedari tadi lebih banyak diam.
Keduanya sedang menuju ke kelas, dan Jeviza belum sempat sarapan seperti perkataannya tadi kepada Keandra. Jika Jeviza ingin sarapan di kantin fakultasnya.
"Aman kok, Vi."
Tevi mengangguk pelan, lalu kembali melirik Jeviza seakan menimbang kata-kata yang akan ia diucapkan. "Je, beberapa hari lalu, pas lo balik dulu, lo balik pakai taksi?" Tevi membenarkan letak kaca matanya.
Jeviza menelan ludahnya dengan hati-hati sebelum menjawab. Lalu menoleh pada Tevi dengan senyum. "Iya, kenapa? Pasti gara-gara liat gosip kampus ya? Emangnya yang punya baju kaya gitu cuma gue aja Vi?"
Tevi menggeleng, benar juga kata Jeviza, lagian yang mengenal Jeviza lebih dekat itu Januar, bukan Keandra, rasanya sangat mustahil jika tiba-tiba Jeviza dekat dengan Keandra, kecuali mereka punya rahasia.
"Pasti, lo juga penasaran kan? Namanya akun gosip Vi, biar rame nggak sih?"
Lagi-lagi Tevi mengangguk setuju. Memang tidak ada alasan yang logis mengira jika gadis yang diboncengi Keandra itu Jeviza. Hanya foto bluer yang tidak jelas, dan juga baju yang sama dengan Jeviza sampai membuat rasa penasaran Tevi menggrogotinya beberapa hari ini, apa lagi Sisil dan Naura.
"Berati fix bukan lo, Je?"
Jeviza menggeleng, tidak ada keraguan dari wajahnya, membuat Tevi semakin yakin jika itu bukan Jeviza, tetapi gadis yang kebetulan memakai baju yang sama di hari yang sama.
Sorry Vi, gue nggak siap ladenin kalian, apa lagi mereka
Batin Jeviza.
Diam-diam ia menghela napas lega, setidaknya dengan tidak berangkat bersama dengan Keandra hari ini membuatnya aman, jauh dari skandal yang pastinya akan mengangkat berita tentangnya lagi, tetapi sampai kapan? Mengingat kata-kata Keandra tadi membuat Jeviza jadi kepikiran.
"Je? Lo nggak papa?" tanya Tevi heran melihat Jeviza menggeleng ribut dengan sendirinya.
bomloppp deh😍
tahan ke,,, tahan!!!