Hidup Evelyn hancur sejak kepergian ayahnya. Diasingkan ke Kota Vespera yang kumuh dan divonis mati dalam hitungan bulan, ia memutuskan untuk mengakhiri penderitaannya. Tapi seutas tali tambang yang lapuk justru menggagalkan niatnya, menyeretnya masuk ke dalam dunia supranatural yang selama ini tersembunyi.
Darah Evelyn membawa rahasia besar. Ia adalah seorang Multi-Mate yang terikat pada empat penguasa ras immortal terkuat: Naga, Demon, Elf, dan Mermaid.
Di tengah sisa umurnya yang kian menipis, Evelyn terjebak dalam perebutan takdir cinta, perebutan kekuasaan antar-ras, dan konspirasi masa lalu yang perlahan terkuak. Ikuti kisah megah sekuel ketiga dari semesta Alan the Pegasus dan Mnemosyne: The Lost Memory dalam: The Emerald and Her Four Mates.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Pulang ke Vespera
Sementara itu, jauh di dalam kegelapan Hutan Perak Vespera yang mencekam.
Kaelen tengah menyeret tubuhnya yang terluka parah di atas hamparan tanah yang lembap.
Pangeran merman itu baru saja tersadar dari pingsannya beberapa saat lalu di dalam kamar kastil pribadi sang raja kegelapan. Ia tahu betul bagaimana tabiat Damian Dexter. Cepat atau lambat, pamannya itu pasti akan menjatuhkan hukuman mati atau siksaan yang jauh lebih mengerikan karena ia nekat menyentuh Evelyn.
Didorong oleh rasa takut dan harga diri yang enggan diinjak-injak lagi, Kaelen memilih melarikan diri dari jendela kastil sebelum Damian kembali.
Napas Kaelen tersengal-sengal, memburu satu-satu di tengah keheningan malam hutan yang mencekam. Seluruh persendian tubuhnya terasa sangat sakit, remuk, dan terbakar hebat.
Kain perban putih tampak membelit di mana-mana, membungkus luka robek yang mengerikan akibat cambukan air berduri kristal es dari ayahnya kemarin malam. Kondisi fisiknya kian diperparah oleh hantaman brutal dari cambukan lidah monster Nessie, serta lilitan tanaman sulur magis penuh duri yang dikeluarkan oleh Evelyn siang tadi.
Sihir Elf Cahaya milik gadis itu tidak hanya mengoyak kulitnya, tetapi juga telah mengisap habis sebagian besar sisa energi supranatural di dalam nadinya, meninggalkan Kaelen dalam kondisi yang benar-benar sekarat di ambang maut.
Sangat sulit bagi Kaelen untuk sekadar menggerakkan kaki dan berjalan di tengah malam sekutuk ini. Ditambah lagi, ia terpaksa mengambil rute memutar yang aman dari jangkauan wilayah berburu para demon liar atau ras predator malam lainnya. Sayangnya, jalan pintas darurat itu sangat berliku dan dipenuhi oleh semak belukar berduri tajam yang terus menggores kulitnya.
Untuk bisa menembus hutan ghaib ini dan sampai ke jalanan beraspal Kota Vespera, ia harus menempuh jarak sekitar sepuluh kilometer lagi. Jarak yang sangat mustahil bagi manusia biasa yang sedang sekarat. Namun, bagi Kaelen yang merupakan seorang merman berdarah murni bangsawan, ia masih sanggup memaksakan langkah kakinya bergerak menggunakan sisa-sisa energi supranatural yang tersisa di dalam nadinya.
Langkah kaki Kaelen mendadak terhenti saat pandangannya menangkap sebuah area pemukiman warga pedesaan kumuh yang terletak paling dekat dengan garis perbatasan Hutan Perak.
Ia berdiri menyandar kaku di balik bayang-bayang batang pohon cemara yang tebal. Dengan napas yang kian memberat, sepasang netra sayunya menatap lurus ke arah sebuah bangunan tembok yang tampak menyerupai gudang sederhana nan sunyi di depannya. Bangunan usang itu tidak lain adalah rumah sewa tempat tinggal Evelyn selama ini di dunia manusia.
Sebenarnya, Kaelen sudah mencari informasi mengenai lokasi tempat tinggal gadis itu jauh-jauh hari secara diam-diam. Tentu saja ia melakukannya sebelum takdir gila ini menjungkirbalikkan seluruh isi kepalanya.
"Aku... aku membutuhkanmu, Evelyn. Aku tidak bisa berada jauh darimu," ucap Kaelen lirih tanpa sadar.
Ia meremas dadanya sendiri yang mendadak berdenyut nyeri luar biasa, dihantam oleh tarikan resonansi batin akibat ikatan takdir paksa yang tak kasat mata.
Dengan sisa-sisa tenaga yang hampir habis, Kaelen kembali melangkah terseok-seok mendekati rumah sunyi tersebut. Langkah kakinya yang berat menuntunnya menuju ke arah jendela samping—posisi tepat di mana kamar Evelyn berada.
Menggunakan sisa kekuatan supranaturalnya yang teramat tipis, Kaelen mendorong pelan daun jendela yang kebetulan tidak terkunci, lalu melompat masuk ke dalam kegelapan kamar.
Begitu kedua kakinya menapak lantai, pertahanannya runtuh total. Kaelen langsung ambruk, menjatuhkan tubuhnya yang bersimbah darah di atas ranjang dengan kasur tipis milik Evelyn.
"Aku tak sanggup lagi... Aku sudah sangat lelah," rintih Kaelen pasrah pada kesunyian ruangan.
Ia memejamkan sepasang kelopak matanya rapat-rapat, membenamkan wajah pucatnya ke atas bantal kumal sembari menghirup dalam-dalam aroma tubuh Evelyn yang tertinggal di sana.
Aroma khas perpaduan antara keharuman bunga peony dan kesegaran dedaunan basah setelah diguyur hujan. Sebuah aroma mistis yang sebelumnya teramat ia benci, namun kini telah bermutasi menjadi candu paling mematikan bagi jiwa merman-nya.
****
Pagi pun menjelang.
Satu per satu rombongan bus murid SMA Vesperania High School mulai bergerak membelah jalanan, meninggalkan keindahan pesisir Kota Blue Waves. Perjalanan pulang yang membutuhkan waktu selama tiga jam penuh itu sama sekali tidak menyurutkan semangat para murid. Mereka tetap bernyanyi dan bersenda gurau di sepanjang jalur, tak terkecuali Sofia yang tampak mengobrol riang.
Namun, kondisi itu bertolak belakang dengan Evelyn. Gadis itu justru harus dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa setelah ini, ia akan kembali ke dalam pelukan kesunyian yang dingin.
Tidak akan ada lagi suara sambutan dari Karina, ibunya. Ya, Evelyn tahu betul, semenjak keluarga mereka jatuh miskin, ibunya berubah drastis menjadi sosok yang jarang bicara dan lebih sering membentaknya tanpa alasan jelas.
Namun, ironisnya, justru kenangan kasar itulah yang kini membuat dada Evelyn terasa semakin perih. Kesendirian dan kesunyian rumah sewa mereka seolah sengaja menelanjanginya, membuatnya terlihat begitu menyedihkan di mata semesta.
Di dalam bus yang berguncang pelan, Evelyn hanya bisa melemparkan pandangan kosong ke arah luar jendela kaca.
‘Sekarang, bukan hanya misi balas dendam atas kematian Ibu yang harus kupikirkan. Tapi, bagaimana caranya aku bisa mendapatkan uang untuk bertahan hidup dan makan sehari-hari?’ batin Evelyn merana.
Evelyn merasa teramat resah. Ia meraba saku sweternya, menghitung sisa lembaran uangnya yang tinggal sedikit di dalam dompet. Ia bahkan tidak tahu apakah uang sekecil itu akan cukup untuk membeli makan selama seminggu ke depan, belum lagi tagihan uang sewa rumah bulan ini yang sudah menunggak dan belum terbayar sama sekali.
Kini, tidak ada lagi sosok Karina yang selalu bekerja keras membanting tulang untuk membiayai kebutuhannya. Mau tidak mau, di atas tubuh manusianya yang ringkih akibat digerogoti glioblastoma, Evelyn harus menghidupi dirinya sendiri.
‘Acara perpisahan sekolah tinggal seminggu lagi. Aku harus segera mencari pekerjaan paruh waktu sebelum aku benar-benar lulus,’ tekad Evelyn dalam hati.
Berhubung seluruh rentetan tugas akhir dan ujian sekolah telah usai dilaksanakan, Evelyn tidak perlu lagi menginjakkan kaki ke sekolahnya setiap hari. Toh, ia hanya tinggal menghitung mundur waktu selama seminggu saja untuk menerima ijazah kelulusan secara resmi.
****
Tak terasa, rombongan bus sekolah pun akhirnya tiba di Kota Vespera, tepatnya di halaman parkir SMA Vesperania. Para murid langsung turun satu per satu dan diarahkan oleh guru pendamping untuk segera pulang ke rumah masing-masing.
Suasana halaman sekolah tampak begitu ramai. Sebagian besar murid langsung dijemput oleh orang tua mereka menggunakan kendaraan pribadi yang sudah menanti sejak tadi.
Sementara itu, Evelyn hanya bisa berdiri diam, mengedarkan pandangannya menatap pemandangan hangat tersebut dengan kilatan miris di matanya.
"Eve, pulanglah bersamaku saja. Biar sopirku yang mengantarmu sampai ke depan rumah," tawar Sofia.
"Ah, tidak perlu, Sofia. Aku naik bus umum saja. Lagi pula, rute rumahmu dan rumah sewaku kan berbeda jalur. Aku tidak mau merepotkanmu lagi," tolak Evelyn halus.
Berhubung rumah Sofia terletak cukup jauh dan jalur perjalanan mereka memang tidak searah, Evelyn benar-benar enggan menjadi beban bagi sahabatnya itu. Meskipun fisiknya sendiri sudah teramat lelah dan ingin segera sampai ke kasurnya, jiwanya menolak keras untuk terus-menerus menumpang kenyamanan orang lain. Ia lebih memilih menaiki angkutan umum daripada harus merepotkan Sofia.
"Yakin?" tanya Sofia memastikan.
"Hmm. Pulanglah duluan, Sofia. Keluargamu pasti sudah menunggumu di rumah," sahut Evelyn sembari tersenyum, mendorong lembut pintu mobil mewah itu hingga tertutup rapat.
Begitu kaca mobil bergeser turun, Sofia melambaikan tangannya dengan heboh. "Ya sudah, Eve! Kau hati-hati di jalan, ya! Jangan lupa kabari aku jika kau sudah sampai di rumah!"
"Kau juga," balas Evelyn, ikut melambaikan tangan sampai mobil mewah Sofia menjauh dan menyatu dengan arus jalan raya. Setelah itu, ia membalikkan tubuhnya melangkah perlahan menuju halte bus terdekat.
Sial bagi Evelyn, bus angkutan umum yang ia tumpangi siang itu ternyata penuh sesak oleh penumpang. Ia sama sekali tidak menduga jika akan ada begitu banyak orang yang berdesakan menggunakan transportasi publik di jam seperti ini.
Ditambah lagi, tampaknya ada beberapa murid dari sekolah lain yang ikut menaiki bus tersebut, menambah riuh atmosfer di dalam kabin kendaraan.
Evelyn yang tidak kebagian tempat duduk terpaksa harus berdiri di koridor tengah bus. Tubuh manusianya yang lemas harus rela diapit ketat oleh dua orang ibu-ibu berbadan gempal yang membawa banyak barang belanjaan.
‘Sial... aku bisa kehabisan napas di sini. Aku ingin segera sampai ke rumah,’ batin Evelyn menjerit frustrasi.
Dikarenakan rute jalanan Kota Vespera yang berbelok-belok tajam, tubuh ringkih Evelyn berulang kali terombang-ambing ke sana kemari, kehilangan keseimbangan. Beberapa kali bus sempat berhenti di halte selanjutnya, namun halte tempat Evelyn harus turun masih terlampau jauh.
Cittt!
Sang sopir bus mendadak menginjak rem secara mendadak. Sontak saja, tubuh Evelyn terdorong keras ke depan akibat gaya inersia. Dan sialnya, sebelum ia sempat meraih tiang pegangan, Evelyn langsung terjatuh dan terduduk tepat di atas pangkuan seseorang yang berada di kursi barisan tengah.
Sesosok pria misterius yang mengenakan tudung hoodie gelap untuk menutupi seluruh wajahnya.
Detik itu juga, sepasang lengan kokoh milik pria tersebut langsung bergerak cepat, mencengkeram erat pinggang ramping Evelyn seolah takut jika gadis manusia di pangkuannya itu akan terjatuh dan terempas ke lantai bus.
Sementara itu, Evelyn merasa malu bukan main. Semburat merah padam seketika merona hebat di kedua belah pipinya. "M-Maafkan saya, Tuan. Saya benar-benar tidak sengaja," rintih Evelyn gagap. Ia buru-buru bertumpu pada lututnya, berniat untuk segera bangkit berdiri, namun sepasang tangan di pinggangnya sama sekali tidak berniat untuk melepaskannya.
"Duduklah di sini... Mi amor,"