"Jangan pernah jatuh cinta padaku, karena kontrak ini tidak menyertakan perasaan," itulah aturan nomor satu yang ditulis oleh Arga Dirgantara untuk istrinya.
Selama dua tahun, Keysa hidup dalam bayang-bayang. Sebagai istri kontrak, ia adalah asisten yang tak terlihat, tameng perusahaan, dan sosok yang paling dibenci Arga karena dianggap sebagai penghalang kebahagiaan pria itu dengan wanita lain. Keysa sudah siap untuk menyerahkan surat cerai dan pergi selamanya.
Namun, takdir punya rencana lain. Sebuah kecelakaan fatal menghapus memori Arga selama tiga tahun terakhir.
Saat pria itu membuka mata, ia tidak lagi melihat Keysa sebagai 'istri kontrak' yang menyebalkan. Ia melihat seorang wanita yang dingin, cerdas, efisien, dan memiliki tatapan tajam yang membuat jantungnya berdebar tanpa alasan.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Arga dengan nada posesif. "Dan kenapa setiap kali aku melihatmu, aku merasa aku adalah orang paling bodoh karena pernah membiarkanmu menangis?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Membersihkan Sampah Masa Lalu
Napas Arga memburu liar. Rasa penyesalan yang membakar dadanya kini ia tumpahkan seluruhnya pada parasit yang ikut menghancurkan mental istrinya di masa lalu. Keysa sendirian menghadapi tumpukan kelicikan orang-orang tua ini, sementara ia dulu justru menutup mata.
"Dulu aku membiarkan kelakuan busukmu karena aku butuh koneksimu untuk proyek pemerintah," desis Arga sambil berjongkok menatap wajah ketakutan Pak Hendra. "Tapi sekarang, aku akan menghancurkanmu sampai ke akar-akarnya."
Arga menegakkan tubuhnya kembali, menatap tajam ke arah pintu masuk. "Masuk!"
Dua orang petugas kepolisian berseragam lengkap melangkah masuk bersama Reno, sang ajudan pribadi yang berjalan di belakang mereka.
"Seret laki-laki tua ini keluar. Semua bukti penggelapan dana dan korupsi sudah aku kirimkan langsung ke meja kejaksaan," perintah Arga mutlak tanpa keraguan.
Pak Hendra meronta-ronta panik saat tangannya diborgol secara paksa oleh petugas. "Bapak Arga! Tolong ampuni aku! Aku sudah mengabdi puluhan tahun di sini! Tolong jangan penjarakan aku!"
Teriakan memohon itu sama sekali tidak digubris. Arga memutar tubuhnya, menatap sisa dewan direksi yang kini berdiri gemetar layaknya tahanan yang menunggu giliran eksekusi mati. Mata Arga menyapu satu per satu wajah para paman dan rekan bisnis yang dulu sering menekan Keysa dengan beban kerja yang sama sekali tidak masuk akal.
"Mulai detik ini, setengah dari jajaran direksi resmi aku pecat tanpa pesangon. Sisanya, bersiaplah menerima audit internal besar-besaran," ancam Arga mematikan. "Aku akan membersihkan perusahaan ini dari semua lintah darat yang bersembunyi di balik jas rapi kalian."
Tidak ada satupun yang berani melayangkan protes. Mereka tahu persis bahwa Arga yang sekarang tidak lagi bisa dimanipulasi dengan alasan kerugian saham. Monster itu telah bangkit dengan kesadaran penuh, dan ia sedang membersihkan wilayah kekuasaannya tanpa ampun.
Suasana kantor pusat Alvandra Group berubah menjadi lautan kepanikan sepanjang hari itu. Pemecatan massal, penangkapan petinggi korup, dan perombakan struktur operasional terjadi sangat cepat. Arga bekerja layaknya mesin pembunuh, memotong semua kebusukan yang selama ini ia biarkan tumbuh liar memakan kewarasan Keysa.
Arga berjalan gontai keluar dari ruang rapat utama. Ia melangkah lurus menuju ruang kerja pribadinya di lantai paling atas. Rasa lelah luar biasa akhirnya menimpa fisik dan mentalnya secara bersamaan.
Langkah kakinya terhenti mendadak tepat di depan pintu ganda ruangannya.
Di sana, di sebelah kiri pintu utama, terdapat sebuah meja kerja berbahan kayu ek putih. Meja kerja yang selama dua tahun penuh selalu ditempati oleh Keysa. Arga menatap meja itu lekat-lekat dengan dada bergemuruh.
Kini, meja itu diisi oleh seorang asisten laki-laki muda berwajah gugup yang langsung berdiri menunduk hormat melihat bosnya datang. Tidak ada lagi wangi parfum vanila yang menenangkan. Tidak ada lagi suara ketukan keyboard yang sangat cepat dan efisien. Tidak ada lagi tatapan mata cokelat terang yang selalu berani menentang arogansinya dengan logika tajam yang luar biasa brilian.
Arga menelan ludah kasar. Tenggorokannya terasa sangat perih seolah digorok dari dalam. Ia baru saja menunjukkan kekuasaan mutlaknya, memenjarakan musuh terbesarnya, dan merebut kembali kendali perusahaannya secara penuh. Namun anehnya, berdiri di puncak rantai makanan ini terasa sangat hampa, kosong, dan luar biasa dingin.
Semua kekuasaan dan triliunan rupiah yang ia miliki tidak ada artinya sama sekali tanpa kehadiran Keysa yang tangkas di sisinya. Perempuan itu adalah satu-satunya pilar penyangga yang menahan kewarasannya di tengah dunia bisnis yang kejam, dan ia baru menyadari kebenaran mutlak itu saat pilar tersebut sudah ia hancurkan sendiri berkeping-keping.
Arga mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di sisi tubuh. Ia menolak menyerah pada rasa penyesalan bodoh ini. Keysa sekarang sudah merdeka, dan ia tahu mantan istrinya itu pasti akan segera membangun kerajaannya sendiri di luar sana dengan sangat hebat. Ia tidak boleh tertinggal.
Arga menatap meja kerja Keysa di luar ruangannya yang kini telah diisi orang lain. "Aku akan membersihkan semua kekacauan ini, hanya agar aku pantas berdiri sebagai rekan di hadapannya lagi suatu hari nanti."
semoga Arga bisa meluluhkan hati Keysa walaupun harus menunggu waktu yg lama..