Alana tidak menyangka pernikahannya dengan Rendi harus berahir di tengah derasnya air sungai,Rendi dan Lisa selingkuhannya,dengan teganya membuang Alana kesungai untuk menghabisinya dan menguasai harta peninggalan orang tua Alana .Untung saja ada Arka yang menolongnya,dengan di bantu Arka,Alana kembali bangkit membalas penghianatan Suaminya dan mengambil hartanya yang sudah dirampas Rendi dan Lisa
Bagaimana selanjutnya kehidupan Alana Dan Arka ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sudut Sempit sang Oportunis
Sinar matahari pagi yang menembus celah-celah tirai ruang kerja Rendy Pratama tidak lagi membawa kehangatan, melainkan rasa sakit yang berdenyut di pelipisnya. Sisa alkohol semalam, ditambah dengan histeria pengusiran Lisa, meninggalkan rasa hambar yang pekat di lidahnya.
Namun, penderitaan fisik itu tidak ada apa-apa dibandingkan dengan teror mental yang kini merayap di dadanya.
Tiga hari tersisa.
Tiga hari sebelum proyek Adiguna City resmi dinyatakan mangkrak secara hukum oleh Van Doren Group. Tiga hari sebelum Elena Van Doren mengeksekusi klausul jaminan silang pada halaman delapan puluh empat dan merampas enam puluh persen saham mayoritas perusahaannya.
Rendy berdiri di depan jendela kaca besar, menatap jalanan Jakarta yang mulai dipadati kendaraan. Tangannya yang memegang cangkir kopi hitam bergetar tipis. Di atas mejanya, laporan dari lapangan kembali masuk: tidak ada satu pun truk semen atau baja yang berhasil menembus barikade boikot logistik.
"Tuan Rendy," suara Hendra, Direktur Keuangan sekaligus orang kepercayaan mendiang mertuanya, memecah kesunyian setelah ketukan pintu yang tergesa-gesa.
Rendy berbalik dengan cepat, matanya yang cekung menatap Hendra penuh harap. "Bagaimana, Hendra? Apakah ada kabar dari pemasok independen di Jawa Timur? Atau jalur selundupan dari Kalimantan?"
Hendra menggelengkan kepala dengan guratan wajah yang tampak sepuluh tahun lebih tua. Ia meletakkan sebuah map merah di atas meja. "Semuanya terkunci, Rendy. Pemasok di Surabaya menolak pesanan kita dengan alasan komitmen kuota global. Ketika saya mencoba melacak siapa yang membeli kuota tersebut, jalurnya berujung pada jaringan perusahaan cangkang di Singapura. Ini bukan kelangkaan pasar biasa, Rendy. Seseorang sedang sengaja mencekik leher kita."
Rendy mengepalkan tinjunya hingga urat-urat tangannya menyembul. "Siapa? Siapa yang punya kekuatan finansial sebesar itu di negeri ini untuk memboikot seluruh logistik konstruksi secara serentak?!"
"Saya tidak tahu," bisik Hendra, suaranya bergetar. "Tapi ada masalah yang jauh lebih mendesak. Dua jam yang lalu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan tim audit dari Bank Sentral mengirimkan surat pemberitahuan resmi. Mereka mendeteksi adanya anomali transaksi pada akun modal awal kita,dana lima puluh miliar yang kita cairkan dari klaim asuransi jiwa Alana."
Mendengar nama Alana, jantung Rendy serasa berhenti berdetak. "Bagaimana bisa? Bukankah kau bilang sistem enkripsi dan pencucian lewat obligasi bayangan itu aman?!"
"Seharusnya aman!" Hendra mulai panik, ia menyeka keringat dingin di dahinya dengan saputangan. "Seseorang dengan keahlian siber tingkat dewa telah meretas pelayan data bank kita dan membuka kembali berkas yang sudah kita kubur. Mereka sengaja mengarahkan radar auditor pemerintah ke rekening kita. Rendy, jika audit forensik ini selesai dalam empat puluh delapan jam, mereka akan tahu bahwa dana itu adalah hasil pencairan asuransi ilegal sebelum penyelidikan kematian Alana resmi ditutup. Kita tidak hanya menghadapi kebangkrutan, kita menghadapi penjara!"
Rendy terhuyung ke belakang, pinggulnya membentur tepian meja marmer. Dunia di sekitarnya seolah berputar dengan kecepatan yang mengerikan.
Di satu sisi, Elena Van Doren siap merampas perusahaannya karena proyek yang mangkrak. Di sisi lain, jeruji besi siap mengurungnya karena pembunuhan dan penipuan asuransi yang mulai terendus.
"Elena ..." gumam Rendy, matanya mendadak berbinar oleh satu-satunya percikan harapan yang tersisa. "Hanya Elena yang bisa menyelamatkannya. Dia punya jaringan internasional. Dia punya pengaruh politik. Jika dia mencairkan termin kedua lebih cepat, atau jika dia menggunakan koneksinya untuk menekan para pemasok material, kita bisa lolos dari lubang jarum ini."
Tanpa memedulikan Hendra yang masih gemetar, Rendy menyambar jasnya di sandaran kursi. "Siapkan mobil. Aku harus menemui Elena sekarang juga di kantornya. Aku akan berlutut di depannya jika harus!"
******
Di lantai teratas Tamara Tower, atmosfer ruangan Elena Van Doren tampak begitu tenang, sangat kontras dengan badai yang sedang mengamuk di dalam dada Rendy.
Elena sedang duduk di sofa kulitnya, sementara Arka berdiri di dekat meja barista pribadi di sudut ruangan, meracik kopi dengan ketenangan seorang ahli bedah.
Pintu ganda ruangan bergeser terbuka setelah sekretaris Elena mengumumkan kedatangan Rendy yang memaksa masuk.
Rendy melangkah masuk dengan napas yang memburu. Jasnya sedikit kusut, dan penampilannya sama sekali tidak mencerminkan seorang CEO dari sebuah dinasti properti.
Begitu melihat Elena, ia langsung melangkah cepat dan berhenti tepat dua langkah di depan meja wanita itu.
"Elena ... saya mohon, dengarkan saya," ucap Rendy, suaranya parau, penuh dengan keputusasaan yang tidak lagi bisa ia sembunyikan di balik topeng keangkuhannya.
Elena mendongak dari tabletnya. Ekspresi wajahnya sedatar es, namun di dalam lubuk jiwanya, Alana sedang menikmati setiap detik pemandangan memuakkan ini.
Pria yang dulu mendorongnya ke dalam sungai yang dingin demi harta, kini datang merangkak di kakinya seperti anjing kelaparan.
"Tuan Rendy," sahut Elena, suaranya dingin dan menjaga jarak yang kentara. "Saya rasa kita tidak memiliki janji temu hari ini. Dan melihat penampilan Anda, tampaknya Anda sedang melupakan tata krama bisnis internasional."
"Persetan dengan tata krama, Elena! Perusahaan saya sedang dicekik!" Rendy berteriak frustrasi, namun dengan cepat menurunkan nadanya begitu melihat kilatan ketidaksukaan di mata Elena.
"Seseorang ... seseorang sedang menyabotase proyek kita. Seseorang memboikot seluruh semen dan baja di pasar. Ini bukan sekadar masalah internal Adiguna Group, ini adalah serangan terhadap investasi satu triliun Anda!"
Elena meletakkan tabletnya dengan ketukan pelan di atas meja marmer. Ia menyandarkan punggungnya, menatap Rendy dengan pandangan meremehkan.
"Tuan Rendy, ketika saya menandatangani kontrak dengan Anda, saya membeli visi dan kemampuan manajemen Anda. Jika Anda bahkan tidak bisa mengamankan rantai pasokan bahan bangunan dasar dari gangguan pasar, maka Anda telah membuktikan bahwa Anda tidak kompeten untuk memimpin proyek sekelas Adiguna City."
"Ini bukan gangguan pasar biasa, Elena! Ini sabotase!" Rendy melangkah satu jengkal lebih dekat, matanya memancarkan ketakutan yang absolut. "Bukan hanya itu ... tim audit pemerintah tiba-tiba mengorek data keuangan masa lalu kami. Ada pihak yang mencoba menghancurkan saya dari segala arah. Saya mohon ... gunakan pengaruh Van Doren Group di Singapura atau Eropa untuk memasukkan material secara impor jalur cepat. Dan ... bantu saya menekan otoritas keuangan di sini untuk menunda audit mereka."
Elena menarik sudut bibirnya, sebuah senyuman kejam yang tersembunyi di balik keanggunannya. "Mengapa saya harus melakukan itu, Tuan Rendy? Mengapa saya harus membuang-buang modal politik dan finansial saya untuk membersihkan kekacauan yang Anda buat sendiri? Ingat, waktu Anda tinggal tiga hari. Jika proyek tidak berjalan, saham Anda menjadi milik saya. Secara bisnis, membiarkan Anda hancur justru memberikan keuntungan lebih besar bagi saya untuk menguasai seluruh Adiguna Group dengan harga murah."
Kata-kata Elena bagaikan petir yang menyambar kepala Rendy. Ego dan kepanikannya bercampur menjadi satu, mendorongnya melakukan tindakan nekat. Pria itu tiba-tiba menjatuhkan kedua lututnya ke atas lantai marmer yang dingin, tepat di hadapan Elena. Ia meraih ujung meja kerja Elena dengan tangan yang gemetar.
"Elena ... jangan lakukan ini, saya mohon," ratap Rendy, seluruh harga dirinya telah menguap tanpa sisa. "Saya telah membuang segalanya demi proyek ini. Saya telah mengusir Lisa semalam ... wanita yang selama ini mendampingi saya. Saya menyingkirkannya karena dia menghina Anda, karena saya tahu dia tidak memiliki kelas untuk berada di samping kita. Saya sendirian sekarang, Elena. Aku ... aku mencintaimu. Sejak pertama kali melihatmu di restoran itu, aku tahu kau adalah takdirku. Jangan biarkan aku hancur. Mari kita pimpin perusahaan ini bersama-sama sebagai pasangan."
Mendengar pernyataan cinta yang keluar dari mulut pembunuh itu, Elena merasakan gejolak kemarahan yang begitu hebat hingga jemarinya yang tersembunyi di bawah meja mencengkeram kain roknya hingga memutih. ("Kau mencintaiku, Rendy? Kau mencintai uangku, sama seperti kau dulu mencintai saham yang dimiliki Alana sebelum kau melenyapkannya!")
Sebelum Elena sempat membalas, sebuah suara bariton yang berat dan sarat akan ancaman mematikan terdengar dari sudut ruangan.
"Berdiri dari lantai itu, Tuan Pratama. Kau membuat ruangan ini menjadi kotor."
Rendy tersentak dan menoleh ke arah sumber suara. Dari balik kegelapan sudut ruangan, Arka melangkah maju dengan langkah yang tenang namun memiliki aura intimidasi yang begitu pekat hingga membuat udara di dalam ruangan terasa menipis. Arka memegang sebuah dokumen tipis di tangannya, matanya yang hitam legam menatap Rendy seolah-olah pria di bawahnya itu hanyalah seekor serangga yang siap ia injak.
Rendy terbelalak melihat kehadiran Arka. "Kau ... Arka? Apa yang kau lakukan di ruang kerja pribadi Elena?!"
Arka tidak menjawab pertanyaan Rendy. Ia berdiri di samping sofa Elena, meletakkan dokumen tipis itu tepat di depan wajah Rendy yang masih berlutut.
"Aku adalah perwakilan utama dari konsorsium keuangan yang mendanai seluruh pergerakan Van Doren Group di Asia Tenggara, Rendy," ucap Arka, suaranya terdengar begitu kokoh dan dingin, memancarkan kekuasaan absolut seorang penguasa bursa saham. "Dan mengenai sabotase logistik serta audit OJK yang kau keluhkan tadi? Kau tidak perlu mencari pelakunya jauh-jauh ke Singapura."
Arka membungkuk sedikit, menatap langsung ke dalam mata Rendy yang mulai dipenuhi oleh kesadaran yang mengerikan. "Akulah yang membeli seluruh pasokan semen dan baja di negeri ini. Dan akulah yang mengirimkan seluruh bukti transaksi klaim asuransi palsumu kepada otoritas hukum."
Rendy membeku, napasnya tertahan di tenggorokan. "Kau ... kau yang melakukannya? Tapi ... tapi kenapa?! Aku tidak pernah memiliki urusan atau masalah denganmu, Arka! Mengapa kau ingin menghancurkanku?!"
Arka menegakkan kembali punggungnya, lalu melirik ke arah Elena.
Elena perlahan bangkit dari duduknya, berdiri berdampingan dengan Arka. Dua kekuatan raksasa itu kini berdiri tegak memandang ke arah Rendy yang bersimpuh di lantai seperti seorang terpidana mati.
"Kau salah, Rendy," Elena berbicara, nada suaranya kini tidak lagi menggunakan aksen Eropa yang dibuat-buat. Suaranya kembali menjadi suara yang sangat familier di masa lalu Rendy,suara lembut namun kini sarat akan racun dendam yang murni. "Kau memiliki urusan yang sangat besar dengan kami. Terutama ... dengan wanita yang kau lempar dari jembatan berapa bulan yang lalu."
Rendy membelalakkan matanya hingga hampir keluar dari rongganya. Ia menatap wajah Elena, mencoba mencari garis-garis wajah yang selama ini tertutup oleh operasi rekonstruksi plastik tingkat tinggi.
Suara itu, tatapan mata itu, dan aura dingin yang kini ia rasakan ... semuanya mulai menyatu menjadi sebuah kenyataan yang paling menakutkan di dalam hidupnya.
"Kau ... tidak mungkin ..." bisik Rendy, suaranya bergetar hebat saat seluruh dunianya runtuh berkeping-keping. "Alana?!"