Regan Saputra mati dalam kebangkrutan dan pengkhianatan.
Di detik terakhir, bibirnya hanya menyebut satu nama. Nara Wulandari. Wanita yang gagal ia lindungi.
Namun, kematian justru membawanya kembali ke 14 Maret 1993.
Regan terbangun di kamar kontrakan kumuh. Dia kembali menjadi pemuda miskin 19 tahun dengan isi dompet 12 ribu rupiah.
Tidak ada kepanikan, hanya senyum tipis seorang predator yang siap memburu.
Regan bersumpah tidak mengulang kesalahan yang sama.
Berbekal ingatan sejarah, ia mengakuisisi aset rawa yang kelak menjadi pusat kota dan menyiapkan jaring pengaman sebelum krisis moneter menghantam Indonesia.
Target utamanya jelas. Menghancurkan Dion Hartawan sampai tidak bersisa, dan memberikan dunia kepada Nara.
Dulu ia kalah telak. Kini ia bertindak sebagai penguasa bayangan yang mengendalikan perputaran ekonomi.
Kematian mengubahnya dari seorang pecundang menjadi monster bisnis.
Siap melihat bagaimana 12 ribu rupiah berubah menjadi kerajaan triliunan rupiah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UaOnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Cetak Biru
Kertas buram bergaris itu dipenuhi goresan tinta pulpen hitam. Sketsa tata letak brosur, rancangan kampanye radio, dan deretan angka modal awal tersusun rapi.
Bau debu kertas dan aroma kayu lapuk perpustakaan pusat menguar di udara panas Jakarta. Kipas angin besi di langit-langit berputar pelan, gagal mengusir gerah siang itu.
Regan duduk sendirian di meja sudut yang sepi. Dia menggeser lembar demi lembar buku bersampul cokelat tersebut. Ujung jarinya menelusuri garis tegas buatan Nara.
Gadis itu tidak pernah setengah-setengah. Sketsa ini bukan sekadar angan kosong anak kuliahan. Ini cetak biru sebuah agensi periklanan. Nara menggambar struktur tim, target klien pertama untuk kawasan Mangga Dua, sampai rincian biaya sewa ruko sempit di pinggiran kota.
Di kehidupan sebelumnya, buku ini berakhir di tempat sampah.
Rahang Regan menegang. Tangan kirinya mencengkeram ujung meja tebal.
Tiga puluh tahun lalu, krisis moneter menelan toko elektronik Pak Wirawan. Nara terpaksa membakar habis ambisinya. Gadis itu bekerja sebagai staf administrasi rendahan di pabrik garmen, membanting tulang melunasi utang keluarga, lalu terjebak bersama pria benalu yang hanya memanfaatkannya.
Dulu, Regan sedang sibuk membangun imperium properti. Dia memalingkan wajah, meyakinkan dirinya sendiri bahwa takhta bisnis jauh lebih berharga dari sekadar janji masa muda. Kepengecutan itu membunuhnya pelan-pelan selama tiga dekade.
Dada Regan terasa padat. Oksigen di perpustakaan mendadak menipis.
Langkah kaki tergesa mendekat. Nara muncul dari balik rak buku kategori hukum perdata. Napas gadis itu terengah. Tumpukan diktat tebal di pelukannya nyaris jatuh menghantam lantai.
Mata Nara melebar melihat buku cokelatnya berada di tangan Regan.
"Ngapain lu buka-buka barang gue?!"
Nara melempar diktatnya ke atas meja. Suara debuman keras membuat beberapa mahasiswa di seberang menoleh marah. Nara tidak peduli. Dia mencondongkan tubuh, berusaha merebut buku catatannya.
Regan menarik tangannya menjauh. Wajahnya datar tak bersalah.
"Kembaliin, Re." Suara Nara turun satu oktaf. Ada campuran rasa malu dan marah di sana. "Itu privasi."
"Lu mau bikin agensi periklanan di tengah kota?" Regan mengabaikan amarah Nara. Dia menatap langsung ke iris cokelat gadis itu. "Modal sepuluh juta di halaman empat ini salah hitung. Lu lupa masukin pajak retribusi reklame daerah."
Gerakan tangan Nara terhenti di udara. Amarahnya mendadak berbelok.
"Lu baca sampai hitungan kasnya?" Nara menarik kursi dengan kasar, lalu duduk mengempaskan tubuhnya. Napasnya masih memburu. "Pasti lu mau ngetawain gue. Sama kayak anak himpunan lain waktu gue bilang gue mau punya perusahaan sendiri sebelum lulus."
"Gue nggak punya waktu buat ngetawain orang." Regan mengetuk halaman terbuka itu dengan jari telunjuk. "Gue cuma koreksi. Lu butuh mesin cetak plat warna, bukan cuma meja gambar. Tahun sembilan puluh tiga ini, percetakan besar monopoli pasar. Kalau lu mau saingan, lu harus punya jalur langsung ke tengkulak tinta di Glodok."
Nara menelan ludah pelan. Matanya menyipit penuh selidik. Dia tidak menyangka pemuda berkaos oblong kusam ini membedah coretannya selevel dengan proposal bisnis sungguhan.
"Lu paham soal cetak reklame dari mana?" Nara memajukan tubuhnya. Rasa penasarannya membakar sisa kemarahannya. "Bokap lu kerja shift malam di pabrik kain."
"Gue tahu cara baca peluang, Ra." Regan menutup buku itu perlahan. "Ide lu soal motong jalur calo iklan dan nawarin desain langsung ke pemilik produk itu jenius. Agensi besar di Sudirman terlalu lambat. Biaya operasional mereka bengkak. Lu bisa babat habis klien kelas menengah yang nggak kuat bayar agensi multinasional."
Wajah Nara berubah. Darah mendesir menghangatkan pipinya. Bukan karena salah tingkah, tapi karena antusiasme yang meledak. Baru kali ini ada orang yang memvalidasi idenya tanpa nada merendahkan.
"Masalahnya cuma modal, Re." Nara menyandarkan punggungnya, membuang napas panjang. Realita kembali memukulnya. "Gue cuma anak penjual antena radio yang lagi empot-empotan bayar utang supplier. Sketsa ini cuma pelarian kalau gue lagi sumpek lihat buku kas bapak gue."
"Ide bagus selalu bisa narik uang sendiri." Regan merogoh saku jaket kanvasnya. Dia mengeluarkan sebuah pulpen hitam, menyodorkannya pada Nara. "Revisi hitungan lu. Masukin retribusi jalan, asuransi buruh pasang, dan biaya entertain klien. Bikin angkanya masuk akal buat orang bisnis."
Nara menatap pulpen itu, lalu beralih menatap wajah Regan. "Terus? Habis gue revisi, gue mau minta duit ke mana? Minta sumbangan ke rektorat?"
"Lu kerjain dulu. Nanti malam bawa ke warung depan kampus." Regan berdiri dari kursinya. "Gue kenal satu orang yang lagi cari tempat buat buang duit."
Nara mendengus sinis. "Investor waras mana yang mau ngasih modal ke mahasiswi semester dua?"
"Banyak," balas Regan tenang. "Asal presentasi lu nggak bikin dia ngantuk."
Nara terdiam. Tangan gadis itu bergerak ragu, namun akhirnya menyambar pulpen dari tangan Regan.
Regan memutar tubuh. Dia berjalan menyusuri lorong rak buku menuju pintu keluar.
Insting protektifnya menyala. Dia baru saja mengakuisisi gedung tua di Menteng. Bangunan itu butuh perusahaan penyewa fiktif untuk menutupi aliran dana dari perusahaan cangkangnya. Nara butuh tempat. Nara butuh modal.
Regan akan memberikan semuanya. Tapi dia tidak akan memberikannya secara cuma-cuma. Nara benci dikasihani. Nara benci pria yang sok bertingkah menjadi penyelamat. Gadis itu memiliki harga diri yang menolak tunduk pada siapa pun.
Maka Regan akan membuat Nara merasa memenangkan modal itu dengan keringat dan otaknya sendiri.
Dia akan menyuruh Herman, makelar propertinya, menyamar sebagai investor dari luar kota. Herman akan menekan Nara, menguji ketahanan mental gadis itu, lalu menyerahkan modal yang sepenuhnya berasal dari rekening Regan. Cara ini bersih. Cara ini menjaga kehormatan Nara.
Regan mendorong pintu kaca perpustakaan. Udara panas langsung membakar wajahnya. Dia berjalan menuju telepon umum koin di depan halte fakultas hukum. Dia memasukkan kepingan ratusan rupiah, menekan nomor pager Herman.
Lima menit kemudian, telepon umum itu berdering keras. Regan mengangkat gagangnya.
"Halo, Re." Suara Herman terdengar parau dan panik. "Lu di mana? Pak Broto ngamuk di kantor notaris. Harga tanah di Menteng barusan ditawar naik dua kali lipat sama orangnya Liem."
"Gue udah tahu," jawab Regan santai. Matanya mengawasi lalu lalang bus kota.
"Lu tahu?!" Nada suara Herman melengking. "Gila lu. Pak Broto sekarang lagi kerahin anak buahnya buat nyari lu. Dia mau batalin akta jual beli paksa."
"Biarin dia nyari sampai capek. Akta udah sah terdaftar." Regan memotong cepat. "Bang, malam ini lu ke salon. Potong rambut. Pakai jas paling mahal yang lu punya. Temuin gue jam tujuh malam di warung depan kampus."
"Hah? Buat apaan?"
"Lu bakal jadi direktur investasi dari Surabaya malam ini."