NovelToon NovelToon
Istri Kecil Juragan Tampan

Istri Kecil Juragan Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Romansa pedesaan / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sabia Sky

​“Jangan harap bisa pergi. Sekali kakimu menginjak rumah ini, selamanya kamu adalah milikku.”

Seorang Juragan yang mempunyai segalanya: kekuasaan, kekayaan, dan wibawa. Hanya satu yang tidak bisa ia miliki yaitu hati anak gadis dari salah satu pekerja buru pabrik miliknya.

​Ketika lamaran tulusnya dibalas penolakan, sang Juragan melepaskan topeng kesabarannya. Ia tidak butuh izin untuk memiliki apa yang ia mau. Jika dunia menyebutnya penculik, biarlah. Karena baginya, lebih baik melihat gadis pujaan menangis dalam pelukannya daripada melihat gadis itu tersenyum di pelukan pria lain.

​Satu janji suci telah terucap. Ijab kabul telah sah di mata agama. Namun, akankah gadis itu menyerahkan hatinya setelah sang Juragan "mencuri" kebebasannya? lalu bagaimana dengan gadis lain yang ingin menikah dengan sang Juragan tampan itu, akankah ia Terima atau membalaskan dendamnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sentuhan Manis dan Kunjungan yang Tertunda

Pagi itu, sepasang pengantin baru masih menikmati kenyamanan di rumah Bapak Wisnu. Keduanya saling berpelukan mesra sambil menonton televisi.

"Mas," panggil Kinanti.

"Ya, Sayang?" jawab Aditya.

"Bagaimana kalau kita jalan-jalan?" tanya Kinanti, mengusulkan.

Aditya menatap jam di dinding yang terpasang tak jauh dari tempat mereka duduk. Sudah pukul sembilan pagi.

"Mau sekarang saja?" tanya Aditya, menunduk memandang Kinanti yang nyaman bersandar di dada bidangnya.

"Kalau Mas Adi masih capek dan malas, tidak apa-apa. Nanti siang atau sorean saja," ucap Kinanti, penuh pengertian.

"Tentu boleh, Sayang. Mas tidak capek, kok. Cuma Mas takut kamu yang capek, apalagi kita baru selesai mengadakan acara pernikahan kemarin. Jadi, Mas harap kamu jangan sampai kecapekan. Sepakat?" ucap Aditya.

Wajah sang istri mendongak, kepalanya mengangguk lucu.

"Iya, sepakat!" jawab Kinanti. Aditya tersenyum kecil melihat wajah menggemaskan sang istri.

"Sayang," panggil Aditya.

"Hm?" jawab Kinanti.

"Bisa dibiasakan kalau menjawab Mas itu menggunakan kata 'Iya' atau 'Baiklah' begitu, agar lebih enak didengar," ucap Aditya lembut.

"Iya, Mas Adi," jawab Kinanti, langsung menyanggupi tanpa keberatan sedikit pun.

CUP!

Aditya mengecup kening sang istri saking gemasnya, sampai Kinanti dibuat terpejam.

"Tegur aku kalau ada salah, ya, Mas," ucap Kinanti.

"Bukan salah, Gadis Cantikku, tapi kurang tepat saja," ucap Aditya. Ia memeluk erat sang istri, wajahnya sudah condong berniat 'memangsa' bibir ranum sang istri. Kinanti yang sudah peka langsung menghindar.

"Aku ganti baju dulu," ucap Kinanti, melipir cepat masuk ke dalam kamar, menghindari Aditya.

Aditya masih menatap awas pintu kamar mereka, seolah sedang menimbang, menyusul atau tidak. Akhirnya, tangannya meraih remot TV dan mematikan layar tipis tersebut. Tubuhnya beranjak dari duduknya dan menyusul sang istri ke dalam kamar.

CEKLEK!

Aditya menutup pintu. Ia terkejut melihat pakaian yang dikenakan Kinanti. Tak lama kemudian, terdengar suara berat Aditya menegur lembut.

"Ganti, Sayang," tegur Aditya.

"Tapi kenapa? Bagus, kok, Mas," ucap Kinanti, tampak bingung.

"Terlalu ketat. Ganti, ya..." pinta Aditya.

"Nanti aku lapisi cardigan, deh," tawar Kinanti.

"Mulai bandel?" ucap Aditya.

"Maasss, masa ganti lagi? Ini sudah bagus banget, lho," rengek Kinanti.

"Kalau masih membandel, kita tidak jadi keluar," ancam Aditya.

"Mas Adiii..." rengek Kinanti memelas.

"Sayang, kamu ganti baju terus kita ke rumah Ayah, atau kamu masih kekeh pakai baju itu tapi kita stay di kamar? Pilih mana? Mas sih lebih senang stay di kamar sama kamu," ucap Aditya, tersenyum penuh arti.

"Eemmmm," Kinanti mulai merengek dan ngambek.

"Mas tidak akan rela berbagi apa pun yang sudah jadi hak milik Mas. Tidak ada untuk umum," ucap Aditya, menjelaskan dengan nada posesif.

Setelah perdebatan kecil, akhirnya pukul 09.30, sepasang suami istri baru itu mulai berangkat. Mobil hitam Aditya berlalu meninggalkan pekarangan rumah sederhana Bapak Wisnu. Kinanti sudah berganti baju dengan dress sederhana dengan dalaman kemeja lengan digulung pendek. Awalnya, bukan baju seperti ini yang ingin ia pakai. Namun, sang suami sudah mulai mengancam karena ia mengenakan dress tali spageti warna putih dipadukan dengan cardigan sebagai luaran, maka ia pun mengalah saja.

Kinanti diam sedari tadi, wajahnya dipalingkan memandang kaca samping. Aditya paham jika sang istri tengah bad mood. Sebelah tangannya terulur untuk meraih tangan sang istri.

GREP!

Meskipun merasakan tangannya digenggam, Kinanti masih diam.

"Kamu ngambek, Sayang?" tanya Aditya, tersenyum tipis.

Ia membawa genggaman tangan itu mendekat ke bibirnya.

CUP!

"Mas minta maaf, ya. Bukannya Mas melarang kamu pakai baju yang kamu suka, tapi Mas tidak mau berbagi apa pun dari kamu yang sudah jadi milik Mas, Sayang," jelas Aditya.

"Tadi itu, baju itu terlalu ketat. Dada, pinggang, bahkan aset kamu yang belakang terekspos jelas. Mas tidak suka, Sayang. Bisa saja nanti kita bertemu orang yang matanya jelalatan. Mereka bisa melihat aset istimewa kamu itu, dan Mas tidak rela," tambah Aditya, menjelaskan dengan jujur.

Mendengar itu, Kinanti diam-diam mengulum senyum.

"Maaf, ya, kamu jadi ngambek begini," ucap Aditya.

Gadis cantik bersurai tergerai bebas itu langsung menolehkan kepalanya menatap sang suami yang tengah menyetir menggunakan satu tangan. Pria tampan itu juga memakai kaus putih dan celana abu-abu.

"Kenapa Mas minta maaf?" tanya Kinanti.

Aditya menoleh sekilas menatap paras cantik sang istri, lalu kembali fokus ke depan.

"Gara-gara Mas, kamu jadi ngambek gini, Sayang," ucap Aditya.

Kinanti menunduk, mengakui kesalahannya. Tak seharusnya ia bad mood berkepanjangan pada sang suami. Aditya berhak mencegahnya seperti tadi. Pria tampan itu hanya ingin menjaganya.

"Tidak, Mas," ucap Kinanti.

"Hm?"

"Aku yang harusnya minta maaf. Aku terlalu kekanak-kanakan. Tidak seharusnya aku ngambek seperti tadi," ucap Kinanti.

"Maaf, Mas, aku minta maaf," tambah Kinanti. Tubuhnya merangsek untuk memeluk lengan kekar suaminya.

CUP!

Mengecup bahu sang suami, Kinanti kembali berucap, "Aku masih perlu bimbingan dari Mas. Selalu tegur aku kalau ada yang menurut Mas kurang pantas."

Aditya tersenyum kecil. Wajahnya menunduk mengecup kilat puncak kepala sang istri.

"Kita saling tegur kalau ada yang keliru, Sayang. Mas ataupun kamu tidak luput dari kesalahan. Kita saling mengingatkan kalau ada apa-apa, ya," ucap Aditya dengan lembut. Kinanti membalasnya dengan mengangguk riang.

"Sayang kamu, Mas," ucap Kinanti.

CUP!

Kinanti tiba-tiba mencium pipi Aditya. Setelah itu, ia kembali memeluk lengan kekar itu lagi. Betapa membuncahnya perasaan dalam dada pria tampan itu. Istrinya ini benar-benar membuat Aditya gila, tergila-gila di setiap detiknya.

Beberapa saat di perjalanan, akhirnya mobil Aditya terparkir rapi di tempat yang disediakan. Pria tampan itu keluar lebih dulu, lalu berlari kecil menuju pintu penumpang samping, membukakan pintu untuk sang istri.

"Terima kasih, Mas," ucap Kinanti tulus.

Aditya mengangguk dan tersenyum. Ia menutup pintu mobil. Ia menggiring Kinanti masuk ke dalam mal. Keduanya saling berpegangan tangan. Sebelah tangan Aditya yang lain digunakan untuk menenteng tas kecil Kinanti. Aditya dan Kinanti mulai menghabiskan waktu mereka bersama setelah resmi menikah mulai dari menonton bioskop, makan siang bersama, berbelanja kebutuhan dapur dan kebutuhan pribadi, tak lupa foto studio. Hingga tak terasa waktu menunjukkan pukul 4 sore, Kinanti dan Aditya memutuskan untuk pulang ke rumah.

Sesampai di rumah, Kinanti berjalan menuju dapur guna menyimpan barang belanjaan dan memasak untuk makan malam, sedangkan Aditya memilih mandi.

"Sayang," panggil Aditya, memeluk Kinanti yang sedang menumis sayur kangkung.

"Mas Adi pakai baju dulu. Sebentar lagi Bapak pulang," ucap Kinanti, merasakan kebasahan di tubuh Aditya.

"Bantu keringkan rambut Mas," ucap Aditya dengan manja.

"Sebentar, ya. Aku sajikan sayurnya dulu," ucap Kinanti.

Setelah menyajikan sayur kangkung ke meja makan, Kinanti mulai mengeringkan rambut sang suami yang manja itu. Setelah dirasa kering, Kinanti kembali melanjutkan kegiatan memasak: menggoreng ikan, menggoreng tahu dan tempe, tak lupa ikan asin tepung. Setelah selesai memasak, Kinanti memilih mandi.

Aditya yang sedang santai duduk menonton TV, tak lama kemudian ayah mertua pulang.

"Bapak sudah pulang," sambut Aditya.

"Iya, Nak Adi. Kinanti mana?" tanya Bapak Wisnu yang tak melihat ada tanda kehadiran sang putri semata wayangnya.

"Sedang mandi, Pak," ucap Aditya.

"Oh, ya sudah. Bapak ke belakang dulu, mau cek burung Bapak," ucap Bapak Wisnu.

"Iya, Pak. Bapak mau dibuatkan kopi?" tawar Aditya.

"Tidak usah, Nak. Nanti saja, gampang," ucap Bapak Wisnu, dan berjalan menuju area belakang rumahnya.

Malam pun tiba. Kinanti, Aditya, dan Bapak Wisnu makan bersama dengan tenang.

"Bapak tumben pulang telat tadi?" tanya Kinanti.

"Iya, Nak. Bapak tadi mampir dulu ke rumah teman Bapak, ada urusan," ucap Bapak Wisnu. Kinanti membalas dengan anggukan.

"Tadi habis keluar?" tanya Bapak Wisnu.

"Heheh, iya, Pak. Jalan-jalan sama Mas Adi," jawab Kinanti dengan wajah memerah.

"Oh, ya sudah. Tidak apa-apa, pacaran setelah menikah, lagi mesra-mesranya," ucap goda Bapak Wisnu, membuat Aditya dan Kinanti menunduk malu.

Selepas makan, Bapak Wisnu dan Aditya ke ruang keluarga, lalu Kinanti membersihkan meja makan dahulu.

"Bapak, saya minta maaf sudah membuat Bapak mengkhawatirkan Kinanti. Membawa Kinanti diam-diam dan mengurungnya di rumah saya. Mungkin cara saya memang salah, tapi saya melakukannya karena saya sangat mencintai putri Bapak," ucap Aditya. Bapak Wisnu tersenyum mendengarkan hal itu.

"Tidak apa-apa, Nak. Terima kasih sudah berjuang untuk Kinanti. Bapak serahkan Kinanti ke Nak Adi sekarang. Bapak cuma minta, sayangi anak Bapak itu saja, Nak. Semoga pernikahan kalian sakinah, mawadah, warahmah," ucap Bapak Wisnu.

"Iya, Pak. Saya akan selalu menyayangi Kinanti. Terima kasih, Pak, sudah merestui Adi untuk menjadi suami putri Bapak," ucap Aditya.

Tak lama, Kinanti menyusul ke ruang keluarga. Di sana, mereka menghabiskan waktu mengobrol bersama.

◇────◇────◇────◇────◇

🚪 Tamu di Kediaman Wijaya

Sedangkan di tempat lain, tepatnya di rumah keluarga Wijaya, kedatangan tamu yang ditunggu-tunggu.

"Akhirnya sampai juga kalian. Bagaimana perjalanan ke sini?" ucap Bu Saraswati, menyambut tamunya.

"Alhamdulillah lancar, Mbak. Mas Jaya mana?" ucap wanita itu.

"Lagi di kamar, istirahat. Kalian makan, ya. Sudah aku siapkan di atas meja makan. Setelah istirahat, kamarnya sudah aku siapkan," ucap Bu Saraswati.

"Iya, Mbak, terima kasih. Maaf, ya, merepotkan," ucap wanita itu.

"Ah, sama siapa saja," balas Bu Saraswati.

Bu Saraswati pun sibuk berbincang akrab dengan tamunya.

Bersambung__

_____

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!