Aluna tidak pernah menyangka—surat cinta iseng yang ia selipkan di loker Bintang, kapten basket sekolah, justru dibalas.
Dari sekadar pengagum, ia berubah menjadi seseorang yang berdiri di sisi lelaki itu.
Tapi kebahagiaan itu tidak pernah sederhana.
Saat seseorang masuk di antara mereka, Aluna dihadapkan pada pilihan yang perlahan menghancurkan dirinya sendiri.
Bertahan… atau melepaskan?
Karena tanpa ia sadari, cinta yang ia perjuangkan justru mengubahnya menjadi seseorang yang tidak lagi ia kenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.Lioré, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang Putih yang Terlalu Riuh
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aluna dan Alea sedang sibuk dengan soalan Matematika, hasil dari kelas mereka hari ini di jam ketiga dan keempat. Saling duduk berhadapan di meja utama ruang kesehatan, fokus mereka masih terkumpul tanpa gangguan dari bau obat-obatan yang mengisi hampir setiap sudut ruangan. Selain atap sekolah, UKS merupakan spot terbaik bagi keduanya untuk menghabiskan waktu setelah makan siang.
“HEI! ALEA PRAMESWARIII?!”
Mereka terkejut bukan main saat sosok tak asing membuka pintu dengan kasar pun berteriak demikian.
“HEI! NGGAK BISA, YA, LO MASUK PAKAI SOPAN SANTUN?!” bentak Alea naik pitam.
“Maaf. Hehehe.”
Dia si berisik Biru; begitu penilaian Alea pada seorang adik kelas yang kini menampilkan wajah tanpa dosanya dengan bangga.
Saling mengenal karena berada di ekstrakulikuler yang berbeda namun diadakan pada hari yang sama, Biru selalu bisa bertegur sapa dengan Alea. Itulah sebabnya, mereka—kurang lebih—sudah tahu perangai masing-masing.
“Mau apa lo kesini?” sewot Alea tidak meninggalkan tatapan sinis dan mematikan.
“Sewot amat, Nek Lampir?” ujar Biru terbilang berani. Kemudian dia mendudukkan diri di kursi kosong sebelah Aluna.
“Kak Aluna kenapa disini? Kakak sakit, ya?” Bernaungkan mata berbinar dia memandang Aluna.
Bagi Aluna, perhatian Biru dalam jarak yang bisa dibilang dekat adalah hal yang tidak pernah terjadi, dan itu berhasil membuat gadis itu hilang fokus.
“N-nggak, kok,” jawab Aluna sesingkatnya disertai senyum simpul.
“Haish!” desis Alea. “Kalau memang nggak ada keperluan, pergi sana!”
“Ya Tuhan. Kenapa lo galak banget, sih? Sedang datang bulan, ya?”
Celetukan asal itu benar-benar membuat Alea jengah. Dengan sebuah buku tulis dia berhasil menyalurkan perasaannya, tepat di dahi bocah itu.
“Sakit tau! Nanti kalau kepala gue bocor, gimana?” aduan layaknya anak kecil itu berhasil keluar begitu saja dari mulut bebeknya.
“Biar! Emang gue peduli? Pergi sana! Lo ini hanya mengganggu di sini,” kalap Alea.
Bukan Aluna takut sehingga dia hanya menutup mulut. Hal seperti ini sudah menjadi makanan sehari-hari Aluna setiap kali dua makhluk di hadapannya saling menyapa. Ya … meski terkadang mereka seperti manusia normal. Tetapi yang Aluna tahu, tidak ada kata damai di kamus masing-masing kubu.
“Lo bilang gue cuma mengganggu?!” Biru tersulut. “Gue datang karena—”
“BIRU PRADANA WIRATAMAAA?!” Kali ini suara datang dari luar.
Sontak saja adu argumen itu terhenti dan serentak keduanya menoleh pada ambang pintu yang terbuka pun masih kosong. Berbanding dengan Aluna yang langsung terpaku di tempat setelah mendengarnya.
Dia kenal suara itu dan Bintang Mahendra Atmadja yang memilikinya.
“Kenapa lo di sini? Gue cariin lo dari tadi.”
Makin tertunduk persona Aluna dalam duduknya manakala suara itu makin lantang. Bintang sudah mengambil tempat di ruangan ini dan sungguh … Aluna tidak ingin melihat sosoknya. Walaupun hati kecilnya sangat ingin memanfaatkan kesempatan ini, tetapi dia tidak bisa melakukannya.
“Untung lo datang, Bin. Cepat bawa dia pergi! Kepala gue sakit dengar ocehannya,” adu Alea. Dia melempar asal buku yang tadi ia gunakan untuk memberi pelajaran pada si cerewet Biru di atas meja.
“Lo ini memang hobi ganggu orang, ya. Ayo cepat! Pelatih sudah nunggu,” omel Bintang seraya berkacak pinggang.
“Gue kesini karena mau berobat, Kak. Lihat ini!” Biru menunjukkan telunjuk bergaris satu dan berwarna merah. Langsung saja tatapan tajam Bintang berubah datar.
“Lo ini laki-laki. Nggak usah semanja itu. Lagi pula hanya luka kecil,” tutur Bintang.
“Tapi, Kak, kalau nanti infeksi—” rengekan Biru terhenti karena sorot mata intimidasi Bintang memotong niatnya mengutarakan alasan. “Baiklah,” pasrahnya selagi menunduk.
“Thanks, Bin,” kata Alea pada Bintang yang masih bersabar menunggu Biru bergerak.
Bintang menaikkan alis seraya mengangguk kecil.
Lega, kini Alea bisa melanjutkan aktivitas.
Setelah yang ditunggu keluar ruangan dan sebelum dirinya mengikuti langkah Biru, Bintang mencuri pandang pada Aluna dalam sepersekian detik.
Bintang tahu, sejak dia datang tadi Aluna hanya berpura-pura sibuk dengan bukunya. Lantas, senyum simpul nan amat tipis pun terukir.
...----------------...
...*Flashback*...
Brakkk!
‘Astaga, kenapa harus jatuh segala, sih?’
Selagi berjongkok, ingin sekali Aluna mengatai dirinya sendiri karena terlalu payah di saat yang seperti ini. Dia hanya ingin cepat pergi dari hadapan Bintang. Apa itu salah?
Bahkan tangannya saja harus beberapa kali gagal untuk menggapai beberapa cokelat batangan yang keluar dari paper bag. Dalam benak ia bertanya, “Kenapa juga aku harus segugup ini?”
Aluna membeku seketika manakala Bintang sudah berjongkok di hadapannya dan mengambil buku yang tadi belum sempat dia ambil. Hawa panas dalam tubuh kian menjadi saat pandangan mereka bertemu.
“Aluna?” Suaranya terdengar lembut, hampir seperti bisikan, namun panggilan itu jatuh dengan ketegasan yang tidak bisa diabaikan.
“I-iya?” balas Aluna di sela-sela degupan jantungnya.
“Lo … baik-baik saja, ‘kan?” Dari alisnya yang bertaut, Aluna tahu kalau Bintang tengah mengkhawatirkannya. Pasti karena rona merahnya sudah memenuhi pipi bahkan wajahnya.
Aluna mengangguk cepat. “Iya.”
‘Dasar Pembohong!’
Setelah mengambil buku itu, Aluna segera berdiri. Dengan mendekap erat benda-benda tadi ia pamit, “Aku harus pergi sekarang. Terima kasih atas bantuanmu, Bintang.”
Niat hati ingin melangkah, tapi panggilan Bintang yang kesekian kalinya menjeda niat. Dia berkata, “Gue sudah baca surat dari lo.”
Napas Aluna tercekat. Matanya pun terbuka lebar. Harapannya bangkit terlalu cepat, bahkan sebelum ia sempat menahannya.
Bintang mendekat. Masih tidak tahu harus menanggapi kalimatnya tadi, Aluna hanya memandang penuh gugup.
“Aluna, terima kasih.”
Aluna melihat ketulusan dari sorot mata Bintang dan entah kenapa tiba-tiba terselip rasa takut dalam dadanya.
“Te-terima kasih kembali, Bintang.”
“Tapi, maaf …,” sambung Bintang yang secara langsung menarik perasaan sedih dan menyesal saling bergandengan untuk menyadarkan diri;
‘Sayang, jangan berharap berlebihan.’
“Aku … tidak bisa membalasnya.”
‘Aku turut sedih mendengarnya.’
Mengeratkan genggaman guna menahan diri, Aluna terkekeh, “Hehehe. Nggak apa-apa, Bintang. A-aku paham. Jangan khawatir!”
“Aluna, lo—”
“Iya! Jangan khawatir,” potong Aluna tanpa sadar. “A-aku harus kembali ke kelas sekarang. Aku sudah terlambat. Senang bisa bertemu denganmu, Bintang. Sampai jumpa lagi,” lanjutnya kalang kabut.
“E! Aluna—”
Aluna mendengar itu. Tapi, dia harus pergi.
Berjalan tergesa dan dengan menggenggam erat lengan yang lain, dirinya berlalu.
“Kamu akan baik-baik saja, Aluna. Kamu akan baik-baik saja. Tolong, jangan menangis.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...