NovelToon NovelToon
Identitas Rahasia Nyonya Yang Terbuang

Identitas Rahasia Nyonya Yang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Perjodohan / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Dulu ia dibuang bak sampah, kini ia kembali untuk mengambil semuanya.
Setelah dikhianati dan dicampakkan begitu saja oleh keluarga serta suaminya, sang "Nyonya" menghilang tanpa jejak. Dunia mengira dia sudah hancur, namun mereka salah besar.
Ia kembali dengan wajah baru, kekayaan yang tak terhitung, dan identitas rahasia yang mematikan. Bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas, ia datang untuk menjatuhkan mereka yang pernah tertawa di atas penderitaannya.
"Satu per satu akan hancur, dan mereka bahkan takkan sadar siapa yang melakukannya."
Bersiaplah menyaksikan pembalasan dendam yang dingin, cerdik, dan penuh kemewahan. Siapa yang akan bertahan saat rahasianya terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: Tamu Tak Diundang

​Matahari pagi di Jakarta tidak pernah terasa seramah ini bagi Elena.

Dari jendela penthouse lantai 45 yang menghadap langsung ke arah gedung-gedung pencakar langit, ia menyesap kopi hitamnya tanpa gula.

Pahit, persis seperti kenangan yang ia simpan selama dua tahun terakhir.

​Di atas meja marmer di belakangnya, tumpukan berkas mengenai Adiguna Group sudah terbuka.

Elena sudah hafal luar kepala setiap angka yang merosot di laporan keuangan mereka. Sejak ia "pergi", perusahaan Adrian tidak sehebat dulu.

Adrian mungkin pandai berakting sebagai suami idaman, tapi dia payah dalam mengelola krisis tanpa bantuan otak Alana yang dulu selalu bekerja di balik layar.

​"Nona, mobil sudah siap. Jadwal pertemuan dengan direksi Mall Grand Indonesia tiga puluh menit lagi," suara Paman Han memecah keheningan.

​Elena meletakkan cangkirnya. "Bagus. Dan jangan lupa, kita mampir sebentar ke butik Le Sancy."

​Paman Han mengernyit sedikit. "Butik milik Siska Pratama?"

​"Kenapa tidak? Aku butuh gaun baru untuk pesta pertunangan mereka besok malam, Paman. Dan aku ingin melihat sejauh mana 'sahabatku' itu menikmati uang hasil rampasannya."

​Butik Le Sancy adalah simbol kesuksesan Siska saat ini. Terletak di kawasan elit, butik itu menjadi tempat nongkrong sosialita papan atas.

Siska merasa dirinya sudah berada di puncak dunia sejak ia berhasil menyingkirkan Alana dan naik takhta menjadi calon nyonya Adiguna.

​Saat Elena melangkah masuk, lonceng di atas pintu berdenting halus. Harum parfum peony mahal langsung menyambutnya.

Siska sedang berdiri di tengah ruangan, memerintah beberapa asistennya dengan suara melengking.

​"Bukan yang itu! Sudah kubilang kristalnya kurang berkilau! Adrian akan marah kalau penampilanku biasa saja!" bentak Siska.

​Elena tersenyum di balik kacamata hitamnya. Masih kasar seperti dulu, pikirnya.

​"Permisi, apakah ada yang bisa membantuku?" Elena bersuara, sengaja merendahkan oktaf suaranya agar terdengar lebih serak dan elegan, berbeda dengan suara Alana yang dulu lembut dan tinggi.

​Siska menoleh. Matanya memindai Elena dari ujung rambut hingga ujung sepatu. Sebagai pengamat mode, Siska tahu betul bahwa tas Hermès Birkin edisi terbatas yang ditenteng wanita di depannya bukan barang palsu.

Sikap angkuhnya langsung berubah menjadi senyum bisnis yang manis—namun palsu.

​"Oh, selamat datang! Saya Siska, pemilik butik ini. Ada yang bisa saya bantu, Nona...?"

​"Elena. Panggil saja Elena," jawabnya singkat sambil melepas kacamata hitamnya.

​Siska sempat tertegun selama beberapa detik. Ia merasa seperti melihat hantu.

Struktur wajah wanita di depannya ini... sangat cantik, namun entah kenapa terasa familiar. Tapi tidak, Alana sudah mati di dasar jurang, hancur berkeping-keping.

Wanita di depannya ini memiliki mata yang tajam dan dingin, berbeda dengan Alana yang selalu tampak memelas.

​"Nona Elena... wajah Anda mengingatkan saya pada seseorang. Tapi tentu saja, Anda jauh lebih menawan," ujar Siska, mencoba menepis rasa gelisahnya.

​"Oh ya? Kuharap itu bukan seseorang yang punya nasib buruk," Elena menyentuh sebuah gaun sutra merah di manekin dengan ujung jarinya.

"Aku sedang mencari gaun untuk pesta besok malam. Kudengar ada pesta besar di kediaman Adiguna?"

​Jantung Siska berdegup kencang.

"Benar! Itu pesta pertunangan saya dan tunangan saya, Adrian. Anda... tamu dari pihak mana?"

​Elena berbalik, menatap langsung ke dalam mata Siska.

"Aku baru saja mengakuisisi saham mayoritas di bank yang mendanai proyek apartemen Adrian. Jadi, kurasa aku adalah 'tamu kehormatan' yang ia tunggu-tunggu untuk menyelamatkan perusahaannya."

​Wajah Siska memucat, lalu berubah sumringah.

Ia sudah mendengar dari Adrian bahwa ada investor misterius dari Singapura yang akan datang. Jadi ini orangnya?

​"Jadi Anda adalah pemilik The V Group? Ya Tuhan, suatu kehormatan! Mari, silakan duduk. Saya akan ambilkan koleksi rahasia saya yang paling mahal!"

​Elena duduk di sofa beludru, memperhatikan Siska yang sibuk berlarian kesana-kemari seperti pelayan.

Lihatlah dirimu, Siska. Kau menjilat kaki orang yang kau benci hanya karena uang.

​Malam harinya, Elena duduk di meja kerjanya sementara Paman Han memberikan laporan terbaru.

​"Adrian sudah menerima bunga duka cita itu, Nona. Dia sangat murka dan memecat dua satpam karena dianggap lalai membiarkan orang mengirim barang sampah ke kantornya."

​Elena tertawa kecil, suara tawa yang tidak mengandung kebahagiaan.

"Dia selalu mudah terpancing. Biarkan dia gelisah semalaman. Besok, di pesta pertunangannya, kita akan memberinya kejutan yang lebih besar."

​"Nona, apakah Anda yakin ingin menampakkan diri secepat ini? Adrian mungkin tidak mengenali wajah Anda setelah operasi rekonstruksi itu, tapi dia pria yang penuh curiga."

​Elena menyentuh pipinya. Dua tahun lalu, wajahnya hancur terhantam kaca mobil dan batu cadas.

Para dokter terbaik di Swiss tidak hanya mengembalikan wajahnya, mereka menciptakan mahakarya baru.

Wajah yang begitu indah namun sanggup membekukan darah siapa pun yang menatapnya terlalu lama.

​"Justru itu seninya, Paman. Aku ingin dia jatuh cinta padaku lagi. Aku ingin dia memuja wajah ini, lalu saat dia sudah berlutut dan menyerahkan segalanya, aku akan membisikkan siapa aku sebenarnya di telinganya."

​Elena berdiri dan berjalan menuju papan besar yang tertutup kain hitam di sudut ruangan.

Ia menyibak kain itu, memperlihatkan foto-foto Adrian, Siska, dan beberapa pejabat korup yang membantu mereka menjebaknya dulu.

​Ia mengambil sebuah spidol merah dan menyilang wajah Siska.

​"Siska sudah masuk perangkap. Dia pikir aku adalah tiket emasnya menuju kehidupan sosialita dunia.

Dia tidak tahu bahwa gaun yang aku pilih tadi pagi adalah kain kafan untuk reputasinya."

​Malam Pembalasan...

​Pesta pertunangan di kediaman Adiguna berlangsung sangat megah. Lampu gantung kristal berkilauan, sampanye mengalir deras, dan musik klasik mengalun lembut.

Adrian berdiri di atas panggung kecil, tampak gagah dengan tuxedo hitamnya, meski lingkaran hitam di bawah matanya tidak bisa sepenuhnya disembunyikan oleh makeup.

​"Terima kasih sudah datang," ujar Adrian di depan mikrofon.

"Malam ini bukan hanya tentang cinta saya dan Siska, tapi juga tentang masa depan cerah Adiguna Group dengan mitra baru kami..."

​Tepat saat itu, pintu besar aula terbuka.

​Semua mata tertuju ke arah pintu.

Elena melangkah masuk. Ia mengenakan gaun hitam backless yang memeluk tubuhnya dengan sempurna—sangat kontras dengan Siska yang memakai gaun merah menyala yang terlalu ramai.

Elena tampak seperti dewi malam yang misterius.

​Bisik-bisik mulai terdengar. "Siapa dia?" "Cantik sekali!" "Apa itu investor dari Singapura?"

​Adrian terpaku.

Saat Elena mendekat ke arah panggung, Adrian merasa dunianya berhenti berputar.

Ada sesuatu pada cara wanita itu berjalan, cara dia menatap... itu mengingatnya pada Alana. Tapi tidak mungkin.

Alana sudah mati. Dan wanita ini... wanita ini memiliki aura kekuasaan yang tidak pernah dimiliki Alana.

​Siska segera berlari menyambut Elena dengan wajah ceria yang dipaksakan.

"Nona Elena! Anda datang! Adrian, kenalkan, ini Nona Elena dari The V Group."

​Elena mengulurkan tangannya yang halus.

"Senang bertemu denganmu, Tuan Adrian Adiguna. Kuharap aku tidak terlambat untuk pestanya."

​Adrian menjabat tangan Elena. Tangannya gemetar sedikit saat bersentuhan dengan kulit dingin wanita itu.

"Sama sekali tidak, Nona Elena. Kehadiran Anda adalah kehormatan terbesar bagi kami."

​Elena tersenyum manis, namun matanya melirik ke arah layar besar di belakang Adrian yang menampilkan foto-foto kemesraan Adrian dan Siska.

​"Pesta yang indah," ucap Elena pelan, cukup untuk didengar Adrian dan Siska saja.

"Tapi bukankah di rumah semegah ini... terkadang ada rahasia yang terkubur di bawah lantainya?"

​Raut wajah Adrian berubah sedikit tegang. "Apa maksud Anda?"

​"Oh, hanya kiasan. Di Singapura, kami percaya bahwa sukses besar selalu diawali dengan pengorbanan yang... berdarah."

​Elena lalu mengangkat gelas sampanyenya.

"Mari kita bersulang. Untuk pertunangan kalian, dan untuk segala sesuatu yang akan segera terungkap."

​Siska ikut mengangkat gelasnya dengan bangga, tanpa menyadari bahwa di saku Paman Han, sebuah remote kecil sudah siap ditekan untuk mengganti slide foto romantis di layar itu dengan.

Dokumen-dokumen penipuan pajak yang akan menghancurkan hidup mereka dalam hitungan menit.

​Pembalasan dendam Alana baru saja dimulai dari satu tegukan sampanye ini.

Bersambung....

1
gaby
Aq baru gabung thor, sepertinya menarik. Smoga upnya rajin jgn kelamaan, biar pembaca ga kabur
Alya Alya
Saya baru saja rilis Karya baru....
Ayo buruan baca...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!