NovelToon NovelToon
Zayn'S Obsession

Zayn'S Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Fantasi / CEO
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: ValerieKalea

Dia melihat sisi gelapnya, dan seharusnya tidak selamat.
Tapi Zayn tidak menghapusnya dari dunia.
Dia memilih sesuatu yang lebih berbahaya menjadikannya miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ValerieKalea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cemburu yang Disembunyikan

Pagi itu datang tanpa banyak memberi ruang bagi Aurora untuk benar-benar tenang.

Sisa-sisa kegelisahan semalam masih terasa, meskipun ia sudah mencoba menguburnya dalam tidurnya. Cahaya matahari masuk melalui celah tirai, menyentuh wajahnya dengan lembut, seolah berusaha meyakinkan bahwa hari ini akan berbeda.

Aurora duduk perlahan di tepi tempat tidur. Ia menghela napas panjang, lalu mengusap wajahnya pelan.

“Kerja lagi…” gumamnya.

Tidak ada jawaban, tentu saja. Hanya dirinya sendiri dan pikiran yang belum sepenuhnya rapi.

Aurora mengambil ponselnya untuk melihat jam, “Baru jam enam.”

Aurora menaruh kembali ponselnya di ranjangnya. Ia kemudian beranjak dari ranjangnya dan masuk ke kamar mandi.

Beberapa menit kemudian, Aurora keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah rapi. Ia berjalan ke arah lemarinya untuk mengeringkan rambutnya.

Beberapa saat kemudian, suara klakson pelan terdengar dari luar rumah.

Aurora menoleh ke arah jendela. Tanpa perlu melihat pun, ia sudah tahu siapa itu.

Rayden.

Aurora bergegas mengembalikan pengering rambutnya ke lemari, kemudian meraih tasnya, lalu berjalan keluar rumah.

Udara pagi terasa segar, kontras dengan perasaannya yang masih setengah berat. Namun begitu melihat Rayden bersandar santai di mobilnya, Aurora sedikit tersenyum.

“Pagi, sayang” sapa Rayden ringan.

“Pagi” balas Aurora.

“Masuk. Aku anter kamu.”

Aurora tidak banyak protes. Ia masuk ke dalam mobil, duduk di kursi penumpang.

Perjalanan mereka tidak terlalu lama, dan diisi dengan obrolan ringan. Rayden beberapa kali mencoba mencairkan suasana, dan Aurora sesekali menanggapi dengan senyum kecil.

Tidak sehangat kemarin, tapi cukup untuk membuatnya tidak terlalu tegang.

Beberapa menit kemudian, mobil itu memasuki area parkiran kantor.

Aurora membuka sabuk pengamannya, “Makasih ya.”

Rayden mengangguk, “Kerja yang bener, tapi kalau capek jangan dipaksain.”

Aurora tersenyum tipis, lalu membuka pintu mobil dan turun.

Namun begitu kakinya menyentuh aspal parkiran, langkahnya sedikit terhenti.

Beberapa meter dari sana, seseorang berdiri.

Zayn.

Aurora langsung menegang.

Tatapan pria itu sudah tertuju padanya sejak tadi. Datar, seperti biasa. Tapi kali ini terasa lebih tajam.

Rayden tidak menyadari apa pun. Ia hanya melambaikan tangan singkat sebelum mobilnya perlahan menjauh dari parkiran.

Dan justru di momen itulah, saat mobil itu benar-benar pergi, Zayn mulai berjalan mendekat. Langkahnya tenang.

Aurora menggenggam tasnya sedikit lebih erat.

Zayn berhenti tepat di depannya, “Kamu dianter siapa?”

Nada suaranya datar, tidak tinggi, tidak juga terdengar memaksa.

Aurora menatapnya sebentar, lalu mengalihkan pandangan.

“Itu bukan urusan kantor, Pak” jawabnya pelan, tapi tegas.

Keheningan datang menyelimuti mereka.

Zayn tidak langsung merespon. Ia hanya menatap Aurora beberapa detik, seolah mencoba membaca sesuatu dari ekspresi itu.

Lalu, tanpa peringatan, ia mengalihkan pandangannya, “Masuk.”

Satu kata. Seolah pertanyaan tadi tidak pernah ada.

Aurora sedikit mengernyit, tapi tidak berkata apa-apa lagi. Ia berjalan lebih dulu menuju pintu masuk gedung.

“Ini orang kenapa dah? Tadi nanyain, eh sekarang malah kayak nggak pernah nanyain itu. Tapi kenapa dia nanya itu ya tadi?” batin Aurora.

Di belakang Aurora, langkah Zayn berhenti sesaat.

Rahangnya mengeras tipis. Bukan karena jawabannya. Tapi karena sikapnya.

Dan tanpa Aurora sadari, itu cukup untuk memancing sesuatu yang tidak terlihat.

Beberapa menit kemudian, suasana kantor kembali seperti biasa.

Aurora sudah duduk di mejanya, mencoba fokus pada pekerjaannya.

Namun pikirannya masih kembali ke kejadian di parkiran tadi. Tatapan itu, pertanyaan itu, dan cara Zayn berhenti menanyakan setelah ia tidak menjawab.

“Aneh…” gumamnya pelan.

“Baru pertama ini aku liat dia ikut campur urusan orang kayak tadi? Kenapa dia peduli siapa yang anterin aku?” batin Aurora.

Di sisi lain, di dalam ruangannya, Zayn berdiri di dekat jendela. Ponselnya sudah berada di tangan.

Ia hanya diam menatap ke luar jendela, tidak menghubungi siapa pun. Lalu tanpa ragu, ia menekan satu nomor.

“Ya” Suara di seberang langsung menjawab.

Zayn tidak perlu menjelaskan panjang alasan dirinya menghubunginya.

“Cowok yang kemarin, sekarang nganterin Aurora ke kantor” jawab Evan singkat.

Zayn menatap lurus ke depan, “Siapa dia.”

Evan diam sebentar, sebelum akhirnya menjawab, “Nggak tau.”

Zayn menghela napas pelan, “Cari tau.”

Panggilan itu terputus setelah Zayn memberi perintah.

Zayn menurunkan ponselnya perlahan. Tatapannya kembali dingin. Tapi kali ini, ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar dingin.

Ia berbalik. Dan tanpa pikir panjang, menekan tombol interkom, “Masuk.”

Aurora sedikit terkejut saat mendengar panggilan itu.

Ia menatap ke arah pintu ruang CEO. Perasaannya langsung tidak enak, “Kenapa lagi nih?” batinnya.

Namun, Aurora tetap berdiri dan berjalan ke sana.

Beberapa saat kemudian, ia sudah berdiri di dalam ruangan itu lagi. Tempat yang sama, suasana yang sama, dan perasaan yang sama.

“Ada apa, Pak?” tanya Aurora hati-hati.

Zayn duduk di kursinya, menatapnya sebentar, “Kerja di sini.”

Aurora langsung mengernyit, “Pak…?”

“Bawa berkas kamu.”

Aurora terdiam, “Pak, saya bisa kerja di meja saya” ucapnya pelan, mencoba menolak dengan halus.

Zayn tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Aurora. Tatapannya tidak marah, tapi cukup untuk membuat suasana berubah, “Bawa berkas kamu” ulangnya.

Nada suaranya masih datar, tapi kali ini lebih tegas.

Aurora menelan ludah. Ia tahu, ini bukan permintaan.

Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia mengangguk pelan, “Iya, Pak…”

Aurora keluar dari ruangan itu, mengambil beberapa berkas dari mejanya, lalu kembali lagi.

Dan seperti kemarin, ia berjalan ke arah sofa panjang.

Ia duduk dengan canggung, meletakkan berkas di depannya.

Zayn tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia kembali ke laptopnya, seolah semuanya normal.

Namun Aurora tahu, ini tidak normal.

Tangannya mulai membuka berkas pertama. Pikirannya mencoba fokus. Tapi tetap saja, ada satu hal yang terus mengganggu.

Kenapa harus di sini lagi?

Kenapa harus dekat seperti ini?

Dan kenapa rasanya seperti diawasi bukan sebagai karyawan?

Pertanyaan itu terus berputar di kepala Aurora. Ia menggigit bibirnya pelan mencoba mengabaikan semuanya.

Namun beberapa menit kemudian, ia merasakan hal yang sama seperti kemarin. Tatapan itu.

Aurora mengangkat kepalanya sedikit. Dan benar saja Zayn sedang menatapnya.

Aurora langsung menunduk lagi. Jantungnya berdetak lebih cepat, “Kalau aku disuruh kerja di ruangannya cuma buat diawasi kayak gini, aku mending milih di ruangan sendiri. Tapi sayangnya nggak bisa dipilih” batinnya.

“Fokus” ucap Zayn.

Aurora mengangguk cepat, “Iya, Pak…”

“Kamu nyuruh fokus, tapi kamu awasi aku? Gimana coba aku fokus? Grogi yang ada” batin Aurora.

Waktu terus berjalan. Namun suasana itu tetap sama.

Hanya ada keheningan dan ketegangan di dalam ruang kerja Zayn. Tidak ada satu pun dari keduanya yang memulai percakapan.

Di sisi lain, tanpa Aurora sadari, sesuatu sedang bergerak di luar kendalinya.

Seseorang sedang mencari. Seseorang sedang memperhatikan. Dan seseorang tidak menyukai apa yang ia lihat.

Dan pagi itu, tanpa disadari oleh Aurora, batas antara pekerjaan dan sesuatu yang jauh lebih rumit perlahan mulai hilang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!