"Satu tahun aku dihina sebagai supir sampah. Satu tahun aku diam saat istriku dijajah keluarganya sendiri. Tapi hari ini, kesabaranku habis."
Arka Pratama bukan sekadar supir. Dia adalah pewaris tunggal Klan Naga Utara, penguasa ekonomi dunia yang memilih hidup melarat demi sebuah janji suci. Menikah dengan Nadia Atmaja lewat wasiat misterius, Arka harus menahan diri dari serangan politik kotor, sihir hitam, hingga pengkhianatan keluarga.
Namun, saat Kakek Wijaya dan Reno mencoba merampas harga diri Nadia di depan publik, sang Naga tidak lagi bisa diam.
"Kalian ingin melihat kekuasaan? Aku akan memulainya dengan membeli hotel ini, lalu menghapus nama kalian dari kota ini."
Saat identitas aslinya terungkap, apakah Nadia akan tetap mencintai supirnya, atau justru ketakutan pada sosok Naga yang sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Husein. R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamboja yang Gugur
Pagi itu udara pemakaman terasa lembap. Wangi bunga kamboja yang jatuh di atas nisan-nisan tua bikin suasana makin melankolis. Arka dan Nadia berdiri di depan makam Papa Nadia yang bersih, kontras sama makam di sekelilingnya yang agak terbengkalai.
"Pa, Nadia datang," bisik Nadia sambil menaburkan bunga mawar merah. "Nadia sudah ambil kembali rumah Papa. Maafin Nadia kalau selama ini Nadia lemah."
Arka berdiri selangkah di belakang, membiarkan Nadia punya waktunya sendiri. Gue menatap nisan itu, ada rasa hormat yang mendalam. Papa mertua gue ini orang hebat, dia berhasil nyembunyiin identitasnya bertahun-tahun demi jagain putrinya sendirian.
"Tugas saya belum selesai, Pa," ucap gue dalam hati. "Masih ada 'S' yang harus saya bereskan."
Pas suasana lagi tenang-tenangnya, tiba-tiba HP Nadia yang ada di tas kecilnya bunyi berkali-kali.
Drtt... Drtt... Drtt...
Nadia ngeraih HP-nya dengan dahi berkerut. "Siapa ya pagi-pagi begini? Nomornya nggak dikenal."
Dia buka chat itu. Seketika, tangan Nadia gemeteran. Wajahnya yang tadi tenang langsung pucat pasi. HP itu hampir jatuh kalau nggak langsung gue tangkep.
"Nad? Kenapa?!"
Nadia nggak bisa jawab, dia cuma nunjuk layar HP-nya dengan jari yang lemas. Di sana ada sebuah foto yang dikirim lewat pesan singkat. Foto Bu Lastri yang lagi diikat di sebuah kursi di ruangan gelap, mulutnya dilakban, dan di sampingnya ada seseorang yang memegang belati kecil sambil membelakangi kamera.
Di bawah foto itu, ada satu baris pesan yang bikin darah gue mendidih:
"Naga Utara mungkin menang di dermaga, tapi Naga Selatan lebih suka bermain di halaman rumah. Bawa dokumen brankas itu ke alamat di bawah ini dalam satu jam, atau Ibu mertuamu akan pulang dalam bentuk potongan perhiasan."
"Arka... Mama, Ka! Mama diculik!" Nadia histeris, dia mencengkeram lengan kaos gue kuat banget sampe kuku-kukunya nancep.
Gue narik napas panjang, berusaha nahan emosi biar tetep jernih. Ini manuver yang bener-bener kotor. Surya Kencana atau Reno, salah satu dari mereka bener-bener udah ngelanggar kode etik 'permainan'.
"Nad, dengerin aku. Tarik napas," gue pegang kedua bahunya, natep matanya langsung. "Ini taktik mereka buat bikin kita grasah-grusuh. Mereka nggak akan berani apa-apain Ibu sebelum mereka dapet apa yang mereka mau."
"Tapi itu Mama, Arka! Meskipun dia galak sama kamu, dia tetep Mama aku!" Nadia mulai nangis sesenggukan di depan makam ayahnya.
Gue nengok ke arah pepohonan di pinggir pemakaman. Gue liat Kian muncul tipis dari balik pohon, ngasih kode kalau dia udah tau lokasi sinyal pengirim pesan itu.
"Aku janji, Nad. Ibu bakal balik dengan selamat. Nggak akan ada satu helai rambut pun yang hilang," ucap gue dengan suara rendah yang penuh penekanan.
Gue keluarin HT kecil dari saku. "Baron, kunci area koordinat 72. Kian, lu ikutin bau amis itu. Gue bakal dateng lewat pintu depan."
Gue nuntun Nadia balik ke mobil. Pemakaman yang tadinya damai sekarang kerasa kayak arena pertempuran baru. Di kepala gue cuma ada satu pikiran: Mereka pikir nyulik Bu Lastri itu ide bagus? Mereka nggak tau kalau mereka baru aja ngebuka pintu neraka yang paling panas.
"Kita ke alamat itu sekarang, Ka?" tanya Nadia sambil nyeka air matanya.
"Kita ke sana, Nad. Tapi bukan buat nyerahin dokumen," gue starter mesin mobil dengan hentakan keras. "Kita ke sana buat ngajarin mereka kalau Naga Utara nggak pernah negoisasi sama penculik murahan."
Gue natep layar HP Nadia sekali lagi. Amarah gue udah nggak di ubun-ubun lagi, tapi udah meluap jadi dingin yang mematikan. Gue nggak boleh ceroboh. Musuh kali ini mainnya keroyokan dan nggak punya aturan.
Gue ambil HP khusus, lalu mencet satu kode panggil internasional.
"Kenji, time to pay your debt," ucap gue singkat.
Nggak butuh waktu lama, di persimpangan menuju lokasi penyekapan, sebuah truk tertutup berhenti. Begitu pintunya terbuka, dua puluh orang dengan pakaian taktis hitam tanpa atribut muncul seperti hantu. Di depan mereka berdiri Kenji, sohib lama gue dari Jepang yang pernah gue tolong pas insiden di Kyoto. Dia ninja modern, tipikal orang yang bisa ngebunuh lu tanpa bikin lu ngerasa sakit.
"Jaga istri gue. Jangan ada satu debu pun yang nempel di dia," perintah gue ke Kenji.
Gue balik ke arah mobil. Nadia mukanya udah kacau banget. Gue pegang pipinya. "Nad, kamu tunggu di sini sama Pak Maman. Jangan turun apa pun yang terjadi."
"Tapi Arka—"
"Dengerin aku," gue potong ucapannya sambil natep Pak Maman lewat spion. Pak Maman nggak senyum kayak biasanya. Dia ngeraih sesuatu dari bawah jok—sebuah precision pistol yang udah dimodifikasi. Gue tau, dalam jarak 100 meter, Pak Maman nggak pernah meleset. Dia bukan cuma supir, dia adalah mantan top agent yang gue tarik dari pensiunnya.
"Ayo, Ron. Kian," ajak gue.
Kami bertiga masuk ke gudang tua yang baunya apek itu. Begitu pintu gue tendang, cahaya lampu sorot langsung nyerang mata gue.
"Selamat datang, Tuan Muda!" Suara Reno menggema, dia berdiri di balkon lantai dua bareng beberapa orang bersenjata lengkap. Di bawahnya, Bu Lastri terikat, mulutnya masih dilakban, matanya melotot ketakutan.
"Lepasin Ibu, Reno. Jangan bikin gue bener-bener ilang sabar," desis gue.
"Bacot! Mana dokumennya?!" Reno teriak, dia ngasih kode ke anak buahnya.
Tiba-tiba, dari kegelapan muncul sekitar lima puluh orang. Ini jebakan. Mereka nggak mau negosiasi, mereka mau kita mati.
"Sikat!" teriak gue.
Pertempuran pecah. Kian bergerak kayak bayangan, jarum-jarum emasnya terbang ke sana kemari. Baron jadi tameng di depan gue, mukanya sangar banget sambil ngehajar siapa pun yang mendekat. Tapi kali ini, jumlah mereka terlalu banyak.
DOR!
"Baron!" teriak gue. Gue liat bahu Baron berdarah, dia kena tembak dari arah balkon. Tapi dia tetep berdiri, nahan luka itu biar nggak ada yang nyentuh gue.
Kian nyoba buat naik ke balkon lewat tiang penyangga, tapi tiba-tiba satu balok kayu gede diayunin dari arah belakang yang nggak terduga sama salah satu algojo bertubuh raksasa.
BRAK!
"KIAN!"
Kepala Kian kena telak. Darah segar ngucur nutupin matanya. Tubuhnya ambruk, dia pingsan di lantai beton yang dingin. Sekarang tinggal gue. Baron udah lemes karena pendarahan, dan Kian udah nggak sadarkan diri.
Gue terpojok di bawah tangga. Sekitar sepuluh orang ngepung gue dengan senjata tajam dan beberapa moncong pistol yang udah siap narik pelatuk. Gue bisa denger suara ketawa puas Reno dari atas.
"Gimana, Arka? Naga Utara ternyata cuma cacing kalau nggak ada pelindungnya, ya?" Reno ngejek, wajahnya bener-bener kayak setan.
Gue nunduk, liat tangan gue yang gemeteran bukan karena takut, tapi karena nahan ledakan amarah yang hampir nggak terkendali. Gue bisa denger detak jantung gue sendiri yang makin kenceng. Gue sendirian. Baron tumbang, Kian kritis.
Gue narik napas panjang, ngerasain perih di beberapa bagian tubuh gue yang kena sabetan tadi. Gue nengok ke arah Bu Lastri yang nangis histeris liat gue dikepung.
"Kalian salah satu hal," ucap gue dengan suara yang sangat rendah, hampir seperti bisikan. Gue perlahan ngelepas kaos oblong gue yang udah robek, nunjukin tato naga hitam yang melingkar di punggung gue—tanda yang cuma keluar kalau gue udah bener-bener siap buat mati atau membunuh.
"Kalian nggak ngepung gue. Kalian cuma lagi ngantri buat ngasih nyawa kalian."
Gue liat Kenji dan anak buahnya masih sibuk di luar nahan bantuan musuh yang lain. Di dalam sini, cuma ada gue, amarah gue, dan sisa-sisa napas pengkhianatan mereka.
"Ayo," tantang gue sambil masang kuda-kuda paling dasar dari bela diri terlarang klan gue. "Satu per satu, atau barengan, terserah."