NovelToon NovelToon
Amore E Caos: Tertukar Di Sarang Singa

Amore E Caos: Tertukar Di Sarang Singa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia
Popularitas:940
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Bianca, seorang gadis asal Indonesia yang hidup dengan prinsip "hidup santai, otak agak miring," tidak pernah menyangka liburan murahannya ke Italia akan berakhir dengan bencana kosmik. Saat sedang asyik memakan gelato di depan gereja kuno, Bianca tersandung kaki sendiri dan menabrak Lorenzo De Luca, sulung dari tiga raja mafia kembar yang paling ditakuti di Eropa.
​Sebuah kutukan kuno dari artefak yang mereka bawa aktif, mengakibatkan jiwa Bianca tertukar ke dalam tubuh Lorenzo yang kekar dan bertato. Bianca yang "semprul" kini harus memimpin organisasi kriminal kelas kakap, sementara Lorenzo yang dingin harus belajar memakai skincare dan menghadapi drama teman-teman kos Bianca.
​Kekacauan semakin memuncak ketika dua kembar lainnya—Valerio yang gila senjata dan Dante yang manipulatif—mulai mencurigai "kakak" mereka yang tiba-tiba suka joget TikTok di tengah rapat strategi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bianca Tertembak dan Emosi yang Meledak

Kemenangan taktis di kastil tua Venesia seolah menjadi akhir yang sempurna bagi pembersihan dewan klan De Luca yang korup. Fabrizio telah tewas, Kardinal Pierre bertekuk lutut, dan dana segar senilai jutaan euro telah berhasil dialihkan oleh Dante ke rekening operasional Aegis Esports. Fajar yang menyembul di balik perairan Venesia pagi itu seharusnya membawa aroma kebebasan bagi mereka semua yang bersiap untuk kembali pulang ke tanah kedamaian baru di Palmerah.

​Namun, di dunia bawah tanah yang dipenuhi intrik berdarah, kepuasan sebelum badai reda adalah sebuah kelalaian yang fatal.

​Saat tim lapangan yang dipimpin Valerio dan Reno sibuk mengevakuasi para tahanan faksi Prancis melalui jalur logistik bawah tanah, mereka melupakan satu variabel kecil yang luput dari pemindaian termal Dante. Di atas menara lonceng kuno yang berjarak tiga ratus meter dari aula utama kastil, seorang pembunuh bayaran cadangan faksi Prancis—yang sejak awal diperintahkan untuk menjadi eksekutor cadangan tanpa menggunakan perangkat elektronik yang bisa diretas—masih setia mengintip dari balik teleskop senapan runduk militer jenis CheyTac M200 Intervention.

Aula utama kastil mulai terasa tenang. Sisa-sisa asap mesiu bercampur dengan keharuman parfum mewah yang menguap di udara. Lorenzo masih mendekap Bianca dalam pelukan protektifnya, merasakan tubuh mungil gadis itu yang mulai rileks setelah ketegangan yang luar biasa. Dante berada beberapa meter di samping mereka, sibuk menutup laptopnya dan memastikan semua jejak digital mereka bersih tanpa sisa.

​"Kita harus segera bergerak ke helipad, Lorenzo," kata Dante, menaikkan letak kacamatanya yang sedikit melorot. "Otoritas penerbangan sipil Venesia akan mulai mendeteksi lonjakan aktivitas abnormal di area ini dalam waktu dua puluh menit."

​Lorenzo mengangguk perlahan. Ia melepaskan pelukannya, menatap wajah Bianca yang masih tampak pucat namun sudah bisa tersenyum. "Ayo, Bianca. Kita pulang ke Jakarta. Aku akan membelikanmu seblak ceker yang kau inginkan itu sebanyak satu truk jika kau mau."

​Bianca tertawa kecil, melangkah mundur satu langkah dari Lorenzo. "Halah, Mas Bos ini bisa aja kalau ngerayu... Tapi beneran ya, saya kangen banget sama gorengan depan ruko—"

​Kalimat Bianca tidak pernah selesai.

​PHUT!

​Sebuah suara desingan udara yang sangat tajam membelah keheningan aula, disusul sekejap kemudian oleh suara benturan logam yang keras saat peluru kaliber .408 menembus kaca jendela patri setinggi sepuluh meter di bagian atas kastil.

​Lorenzo, dengan insting militernya yang berada di tingkat tertinggi manusia, langsung mengenali suara ikonik tersebut. Itu adalah lintasan peluru dari penembak runduk jarak jauh. Saraf motoriknya berteriak untuk melempar tubuh Bianca ke lantai. Namun, lintasan peluru itu bergerak jauh lebih cepat daripada kecepatan suara.

​Peluru itu melesat membelah ruang udara aula, mengincar tepat ke arah jantung Lorenzo.

​Namun, karena posisi Bianca yang baru saja melangkah mundur dan sedikit bergeser, tubuh mungil gadis Palmerah itu justru berada tepat di jalur lintasan peluru.

​THUD.

​Suara hantaman peluru yang mengenai daging terdengar begitu pekat di dalam ruangan yang sunyi. Tubuh Bianca tersentak hebat ke belakang, seolah-olah dihantam oleh palu raksasa yang tak terlihat. Senyum di wajahnya lenyap dalam sekejap, digantikan oleh ekspresi keterkejutan yang murni saat matanya melebar menatap Lorenzo.

​Darah segar berwarna merah pekat langsung merembes keluar dengan sangat cepat, menodai gaun malam merah marunnya yang mewah tepat di bagian dada sebelah kanan, hanya beberapa sentimeter di atas ulu hatinya. Tubuh kecil itu limbung, kehilangan seluruh kekuatannya, dan ambruk ke arah lantai marmer.

Bagi Lorenzo De Luca, detik itu adalah detik di mana seluruh dunianya berhenti berputar. Suara bising di sekitarnya mendadak sunyi total. Ia melihat tubuh Bianca jatuh dalam gerakan lambat (slow motion).

​Selama lima belas tahun memimpin klan De Luca di bawah desingan peluru, Lorenzo pernah melihat ratusan orang mati di depannya. Ia pernah melihat tangki bahan bakar meledak, ia pernah melihat sekutunya dimutilasi, dan ia tidak pernah meneteskan air mata sedikit pun. Baginya, kematian adalah konsekuensi logis dari sebuah bisnis.

​Namun melihat cairan merah itu keluar dari tubuh Bianca—gadis berisik yang sering mengomel tentang iuran kos, gadis yang pernah berbagi jiwa dengannya, gadis yang menjadi satu-satunya alasan mengapa hatinya yang mati bisa kembali merasakan kehangatan manusia—sesuatu di dalam dada Lorenzo pecah berkeping-keping.

​"BIANCA!!!"

​Sebuah raungan histeris, sebuah suara batin yang penuh dengan keputusasaan yang murni dan mengerikan, lolos dari tenggorokan Lorenzo. Ia melompat ke depan, menangkap tubuh Bianca sebelum kepala gadis itu menghantam lantai marmer yang keras.

​Lorenzo berlutut di atas lantai, memangku kepala Bianca di atas pahanya. Tangan kanannya yang besar dan dipenuhi tato segera menekan luka tembak di dada Bianca dengan sangat keras, mencoba menahan laju darah yang terus keluar bagai air pancuran. Tangannya yang biasanya stabil saat menarik pelatuk senjata, kini bergetar hebat tak terkendali.

​"Dante!!! Medis!!! Panggil tim medis sekarang juga, sialan!!!" teriak Lorenzo, suaranya parau, matanya memerah penuh dengan urat-urat kemarahan dan ketakutan yang bercampur menjadi satu.

​Dante yang melihat kejadian itu langsung menjatuhkan laptop mahalnya begitu saja ke lantai hingga layarnya retak. Wajah sang genius siber yang biasanya selalu tenang dengan kalkulasi logisnya, mendadak berubah pucat pasi bagai mayat. Sisi rasionalitasnya runtuh seketika. "Valerio! Sniper di menara utara! Evakuasi medis darurat di helipad, sekarang!" teriak Dante melalui komunikatornya dengan nada yang sangat panik.

​Di dalam pangkuan Lorenzo, Bianca terbatuk kecil, mengeluarkan sedikit darah dari sudut bibirnya yang pucat. Matanya yang sayu menatap sayu ke arah wajah Lorenzo yang kini sudah basah oleh air mata—sebuah pemandangan yang belum pernah dilihat oleh siapa pun di dunia ini.

​"Mas... Lorenzo..." bisik Bianca, suaranya sangat lemah, hampir tak terdengar di antara deru napasnya yang terputus-putus. "Dada saya... rasanya... perih banget... dingin..."

​"Jangan bicara, Bianca! Tetap buka matamu! Aku memerintahkanmu untuk tetap membuka matamu, kau dengar?!" Lorenzo mendekap wajah Bianca dengan tangan kirinya yang bebas, mengusap darah di bibir gadis itu dengan saputangannya yang sudah basah kuyup oleh darah. "Kau adalah manajer klanku! Kau tidak boleh mati di tempat terkutuk ini! Kita akan pulang ke Palmerah, Bianca! Kita akan membeli seblak, kita akan bertemu Kopral Gatito... demi Tuhan, tetaplah bersamaku!"

​"Mas Bos... jangan... menangis..." Bianca mencoba menggerakkan jari tangan kanannya untuk menyentuh rahang kaku Lorenzo, namun kekuatannya habis di tengah jalan. Matanya perlahan-lahan mulai meredup, dan kesadarannya perlahan terseret ke dalam kegelapan yang dingin.

Melihat mata Bianca yang perlahan tertutup dan tubuhnya yang mendadak mendingin, sesuatu yang sangat mengerikan bangkit dari dalam diri Lorenzo De Luca. Sisi kemanusiaan yang baru saja ia pelajari selama di Jakarta menguap tanpa sisa, digantikan oleh insting monster Sisilia yang paling murni, paling kejam, dan paling haus darah.

​Aura di sekeliling Lorenzo berubah menjadi begitu pekat, begitu menakutkan hingga Dante yang berada beberapa meter di dekatnya pun harus mundur selangkah karena merasa terintimidasi oleh tekanan energi pembunuh (killing intent) yang dikeluarkan oleh kakaknya.

​Valerio dan Reno masuk kembali ke dalam aula dengan tergesa-gesa bersama dua orang petugas medis militer klan De Luca yang membawa tandu darurat.

​"Urus dia!" perintah Lorenzo kepada tim medis dengan suara yang sangat rendah, namun memiliki getaran ancaman yang mutlak. "Jika sampai detak jantungnya berhenti sebelum kita mencapai helikopter, aku sendiri yang akan memastikan seluruh keluarga kalian di Italia lenyap dari muka bumi."

​Para petugas medis itu gemetar ketakutan, namun mereka langsung bergerak dengan kecepatan penuh, memasang masker oksigen dan menekan luka Bianca untuk menghentikan pendarahan sebelum menaikkannya ke atas tandu.

​Setelah tubuh Bianca dibawa keluar dari aula dengan pengawalan ketat dari Dante dan Reno, Lorenzo berdiri perlahan. Jas tuksedo hitamnya yang mewah kini telah berlumuran darah merah pekat milik Bianca di bagian dada dan lengannya. Ia tidak memedulikan penampilannya yang menyerupai hantu jagal.

​Lorenzo berjalan mendekati meja kayu besar di sudut aula, tempat di mana kotak penyimpanan senjata cadangan milik klan tersimpan. Ia membuka kotak tersebut dengan satu sentakan keras, lalu mengambil sebuah senapan serbu taktis jenis FN SCAR-H kaliber 7.62mm lengkap dengan empat magasin cadangan.

​"Valerio," panggil Lorenzo, suaranya terdengar sangat datar, namun kedataran suara itulah yang justru menandakan bahwa ia sedang berada di tingkat kemarahan tertinggi yang bisa dicapai oleh seorang manusia. "Penembak itu... masih ada di menara?"

​Valerio yang baru saja selesai menganalisis lintasan peluru mengangguk dengan wajah kaku. "Ya, Lorenzo. Tembakannya meleset dari target utama karena angin laut Venesia. Dia sedang mencoba membongkar senapannya untuk melarikan diri melalui jalur atap menara lonceng."

​"Jangan biarkan dia mati dengan mudah," ucap Lorenzo, mengokang senapan serbunya dengan suara klik logam yang tajam. "Aku tidak ingin ada satu pun potongan tubuhnya yang utuh saat aku selesai dengannya."

Malam itu, menara lonceng kuno San Marco saksi dari kemurkaan seorang Capo dei Capi. Lorenzo bergerak bagai bayangan kematian yang berjalan di atas bumi. Ia tidak lagi menggunakan taktik siluman atau negosiasi. Pintu masuk menara lonceng dihancurkannya menggunakan granat peledak yang ia ambil dari sabuk taktis Valerio.

​BOOM!

​Dua orang pengawal faksi Prancis yang berjaga di lantai dasar menara langsung tewas seketika akibat berondongan peluru kaliber 7.62mm dari senapan Lorenzo sebelum mereka sempat mengangkat senjata mereka. Lorenzo melangkah melewati mayat-mayat itu tanpa berkedip, langkah sepatunya yang berlumuran darah meninggalkan jejak merah di atas anak tangga batu menara.

​Di lantai atas, sang penembak runduk Prancis yang menyadari bahwa monster paling ditakuti di Eropa sedang mengejarnya, mencoba melepaskan tembakan darurat menggunakan pistol meriam genggamnya.

​Namun Lorenzo bergerak lebih cepat. Ia menembak pergelangan tangan sang penembak runduk hingga hancur berkeping-keping, membuat senjata pria itu terlempar ke udara.

​"ARRGHL!" Pria Prancis itu menjerit kesakitan, jatuh terduduk di atas lantai kayu menara sambil memegangi tangannya yang buntung.

​Lorenzo melangkah maju, mencengkeram leher pria itu dengan tangan kirinya yang kuat bagai jepitan besi, lalu mengangkat tubuh pria itu hingga kakinya tergantung di udara. Wajah Lorenzo yang dingin kini berada hanya beberapa sentimeter di depan wajah sang pembunuh yang ketakutan setengah mati.

​"Siapa yang memerintahkanmu?" tanya Lorenzo, suaranya terdengar seperti bisikan iblis di dalam lubang kubur.

​"L-Le Coq... Dia... Dia yang membayar kami..." rintih pria itu di antara sisa napasnya yang tercekik.

​"Sampaikan salamku padanya di neraka," ucap Lorenzo datar.

​Tanpa memberikan kesempatan lagi, Lorenzo melempar tubuh pria itu keluar dari jendela menara lonceng setinggi tiga puluh meter, membiarkannya jatuh bebas dan menghantam permukaan dermaga batu di bawah dengan suara benturan yang mengerikan.

​Kemurkaan Lorenzo malam itu resmi menghancurkan seluruh sisa-sisa eksistensi faksi bayangan Prancis di Venesia. Namun, bagi Lorenzo, kematian seribu musuh pun tidak akan pernah cukup untuk menebus satu tetes darah yang keluar dari tubuh Bianca. Dengan napas yang memburu dan senapan yang masih mengeluarkan asap tipis di tangannya, Lorenzo berbalik arah, berlari sekencang mungkin menuju helipad di mana helikopter medis kini telah bersiap membubung membelah langit Eropa, membawa jantung hatinya yang sedang bertaruh nyawa di antara batas tipis antara hidup dan mati.

1
lin sya
thor dari awal bab smpe bab 41, aku menikmati alur yg dibaca, kocak ceritanya apalagi pemeran bianca dan ke 3 mafia kaku, smgat thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!