NovelToon NovelToon
FROM FAT WIFE TO APOCALYPSE QUEEN

FROM FAT WIFE TO APOCALYPSE QUEEN

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Hari Kiamat / Fantasi
Popularitas:10k
Nilai: 5
Nama Author: blumoon

Di tahun 2030, hujan darah mengubah dunia menjadi neraka penuh monster.
Yara mati tragis… namun terbangun kembali lima bulan sebelum kiamat di tubuh seorang wanita gemuk bernama Elara Quizel, istri presedir yang tak dicintai.
Dengan bantuan Sistem NOX, ia diberi kesempatan kedua untuk mengubah takdirnya.
Dari wanita yang diremehkan, Elara perlahan bangkit menjadi sosok yang dingin dan tak tersentuh.
Kali ini, ia tak hanya ingin bertahan hidup tetapi menguasai dunia yang akan hancur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blumoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pasca pertempuran

Bau amis darah yang menguap di bawah terik matahari Sore berpadu dengan asap hitam dari truk taktis yang terbakar, menciptakan atmosfer yang menyesakkan di halaman tengah Sektor 7. Lapangan beton yang tadinya bersih kini berubah menjadi mosaik mengerikan dari sisa-sisa kedigdayaan Divisi Serbu Pertama Sektor 3. Ratusan mayat bergelimpangan dalam berbagai kondisi yang mengerikan terpotong, hancur, dan hangus.

Elara berdiri di tengah kekacauan itu tanpa menunjukkan ekspresi jijik sedikit pun. Baginya, pemandangan berdarah ini hanyalah sebuah langkah logis menuju tatanan dunia baru yang sedang ia bangun.

"Arkan," panggil Elara melalui interkom pergelangan tangannya.

"Ya, Nona? Saya mendengarkan," sahut suara Arkan dari ruang kendali utama, terdengar sedikit kelelahan namun penuh semangat setelah berhasil membajak sistem pertahanan musuh.

"Matikan Parit Elektro-Magnetik. Alihkan seluruh sisa daya dari Dark Matter Core untuk mengisi ulang pelindung pangkalan. Dan panggil Pak Jaka ke sini," perintah Elara dingin.

"Dimengerti, Nona. Parit dinonaktifkan dalam tiga... dua... satu."

WUUUSSSHHH...

Kilatan listrik biru neon bertegangan jutaan volt yang memagari halaman tengah perlahan meredup lalu padam, menyisakan parit baja yang menghitam karena panas. Udara yang tadinya terasa pekat oleh distorsi energi perlahan kembali normal.

Tak lama kemudian, pintu barak logistik terbuka. Seorang pria paruh baya dengan pakaian kerja lusuh dan sepatu bot karet setinggi lutut melangkah keluar. Pria itu adalah Pak Jaka, kepala divisi pertanian dan pengolahan limbah organik Sektor 7. Di belakangnya, puluhan pekerja yang membawa sekop, cangkul, dan gerobak besi besar mengikuti dengan langkah teratur.

Meskipun para pekerja di belakangnya tampak gemetar dan memalingkan wajah melihat potongan tubuh manusia yang berserakan, Pak Jaka justru menunjukkan ekspresi yang sangat bertolak belakang. Matanya berbinar-binar saat menatap lautan mayat di depannya. Bagi seorang ahli agronomi di masa kiamat, ini bukanlah pembantaian ini adalah rezeki nomplok.

"Aduh, Nona Elara..." Pak Jaka menjabat tangannya sendiri dengan gembira, berjalan mendekati Elara sambil menghindari genangan darah yang terlalu dalam. "Ini... ini luar biasa! Ini lebih dari cukup untuk persediaan pupuk organik kita sampai akhir tahun! Jenderal Markus ini benar-benar orang baik, mengirimkan bahan baku berkualitas tinggi dan segar seperti ini langsung ke pintu rumah kita."

Elara tersenyum tipis, memiringkan kepalanya. "Saya sudah berjanji pada Anda, Pak Jaka. Sektor 3 akan menyumbang banyak untuk ketahanan pangan kita. Ambil semua jaringan biologis yang bisa digunakan. Pisahkan pakaian, lencana, dan pelindung tubuh mereka sebelum dimasukkan ke dalam mesin penggiling."

"Siap, Nona! Laksanakan!" Pak Jaka berbalik ke arah anak buahnya, melambaikan tangannya dengan semangat. "Ayo semuanya! Gerak cepat! Pisahkan besi dan kain dari daging! Ingat, masukkan ke tangki dekomposisi nomor empat yang baru di dekat ladang jagung. Campurkan dengan larutan enzim mutasi dosis rendah agar penyerapannya lebih maksimal! Jangan sampai ada yang tersisa, bahkan sepotong jari pun sangat berharga untuk kesuburan tanah kita!"

Para pekerja segera bergerak. Suara seret sekop yang beradu dengan beton, hantaman kapak untuk memisahkan bagian tubuh yang tersangkut di puing kendaraan, serta bau antiseptik yang mulai disemprotkan untuk menekan bau busuk segera mendominasi lapangan.

Sementara divisi pertanian sibuk memanen 'pupuk', Leonard dan Tobi memimpin regu keamanan untuk mengamankan rampasan perang berupa persenjataan dan kendaraan. Tiga kendaraan lapis baja penghancur perimeter yang sebelumnya mogok akibat sistemnya dikunci oleh Arkan kini telah menyala kembali dengan lampu indikator berwarna hijau tanda bahwa hak akses penuh telah dialihkan ke Sektor 7.

"Gila... kendaraan ini memiliki lapisan baja komposit setebal sepuluh sentimeter," ujar Tobi sambil mengetuk bodi salah satu monster besi itu dengan belatinya. "Dengan sedikit modifikasi dari Bobi, kita bisa memasang meriam plasma di atasnya."

"Jangan mendahului perintah, Tobi," sahut Leonard sambil memeriksa manifes senjata yang berhasil disita dari truk-truk taktis musuh yang tidak hancur. "Kumpulkan semua senapan serbu kaliber 5.56mm, amunisi cadangan, granat fragmentasi, dan peluncur roket. Masukkan semuanya ke gudang persenjataan barat di bawah pengawasan Herra."

Di atas menara pengawas, Ken dan keempat temannya akhirnya turun setelah ditenangkan oleh Mia. Langkah kaki mereka tampak ragu saat melewati para pekerja Pak Jaka yang sedang mengangkut potongan tubuh mantan rekan satu sektor mereka dari Sektor 3. Kengerian yang mereka saksikan dari atas kini terasa begitu nyata di bawah kaki mereka.

Elara menyadari kedatangan kelima ilmuwan muda itu. Ia berbalik, menatap mereka dengan tatapan yang tidak lagi mengancam, melainkan tatapan seorang penguasa yang menyambut aset berharganya.

"Bagaimana tidurnya? Saya harap tontonan barusan tidak mengganggu pencernaan kalian," ujar Elara dengan nada santai, kontras dengan latar belakang pembersihan berdarah di belakangnya.

Ken menelan ludah, mencoba mengumpulkan keberaniannya sebagai juru bicara tim. Ia menatap lurus ke mata ungu Elara. "Anda... Anda benar-benar menghancurkan Divisi Serbu Pertama dalam waktu kurang dari lima belas menit. Markus akan menyadari hal ini dalam hitungan jam ketika laporan rutin mereka gagal terkirim."

"Aku memang sengaja membiarkan dia tahu, Ken," jawab Elara, melangkah mendekati mereka berlima. "Biarkan Markus tahu bahwa gigitannya tidak lagi mematikan di sini. Sekarang, kalian berlima sudah melihat apa yang terjadi pada orang-orang yang mencoba memburu kalian. Di bawah perlindunganku, musuh kalian akan berakhir menjadi pupuk di ladang jagung Pak Jaka."

Rian, sang ahli biokimia, melangkah maju sedikit, matanya menunjukkan rasa hormat yang bercampur dengan ketakutan mutlak. "Nona Elara... kami siap bekerja. Serum perak metalik yang kami bawa... kami bisa mulai menyempurnakannya di laboratorium bawah tanah sekarang juga. Kami akan membuktikan bahwa keputusan Anda menyelamatkan kami tidak salah."

"Bagus. Aku suka orang yang tahu menghargai kesempatan," ucap Elara puas.

┌────────────────────┐

SISTEM: UPDATE STATUS SINCRONISASI ASSET

[LIMA ILMUWAN: SEPENUHNYA TTERINTEGRASI KE DIVISI RISET]

[TINGKAT LOYALITAS: 95% (MUTLAK/KETAATAN TINGGI)]

[PROGRES PEMBANGUNAN KEKAIASARAN: 90%]

└─────────────────────┘

Elara menoleh ke arah Leonard yang berjalan mendekat setelah menyelesaikan tugasnya. "Leo, antarkan mereka ke Laboratorium B-2 bersama Arkan. Berikan mereka akses penuh ke semua material yang kita sita dari Sektor 3 hari ini. Aku ingin prototipe pertama dari serum evolusi yang aman siap dalam waktu tiga hari."

"Siap, Ratuku," jawab Leonard tegas. Ia memberikan isyarat kepada Ken dan yang lainnya untuk mengikutinya menuju lift bawah tanah.

Sebelum masuk ke dalam fasilitas, Ken sempat menoleh kembali ke arah lapangan yang kini mulai bersih dari mayat, menyisakan noda darah besar yang sedang disiram dengan air bertekanan tinggi oleh para pekerja. Ia tahu, dunia lama telah benar-benar mati, dan di atas genangan darah Sektor 7 ini, sebuah kekaisaran baru yang mengerikan sekaligus megah sedang bangkit di bawah kaki Elara Quizel.

🧟‍♀️🧟‍♀️🧟‍♀️

Langit di atas Sektor 7 perlahan berubah warna menjadi jingga keunguan saat matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Di halaman tengah, siraman air bertekanan tinggi dari selang para pekerja Pak Jaka akhirnya berhasil mengikis sisa-sisa darah yang sempat menggenang. Aspal yang tadinya merah pekat kini menyisakan aroma basah bercampur sisa antiseptik keras. Semua material biologis telah diangkut sepenuhnya ke tangki dekomposisi di area pertanian utara, menyisakan pangkalan yang kembali steril dan sunyi, seolah pembantaian brutal beberapa jam lalu hanyalah sebuah ilusi optik.

Di dalam fasilitas bawah tanah Level B-2, suasananya sangat berbeda. Ruangan laboratorium raksasa ini berpendar oleh cahaya putih kebiruan dari lampu LED spektrum penuh. Berbagai peralatan mutakhir yang ditenagai oleh energi Dark Matter Core berdengung halus, menciptakan simfoni teknologi yang menenangkan.

Ken, Rian, Mia, Bobi, dan Dika berdiri di tengah ruangan, terpana melihat fasilitas yang jauh melampaui apa yang pernah mereka miliki di Sektor 3.

"Ini... ini fusi nuklir dingin yang dikombinasikan dengan energi kosmik?" Bobi membelalakkan mata, tangannya gemetar saat menyentuh panel kontrol generator utama pangkalan yang tertanam di dinding laboratorium. "Jenderal Rian yang lama tidak mungkin memiliki kapasitas untuk membangun ini. Ini adalah arsitektur teknologi masa depan!"

"Ini adalah karya Nona Elara," sahut Arkan yang berjalan masuk bersama Leonard, membawa beberapa koper logam berisi sampel serum perak yang berhasil diselamatkan dari mobil taktis Marauder semalam. "Nona memiliki akses ke cetak biru teknologi yang tidak akan pernah bisa dipahami oleh otak kolot seperti Jenderal Markus."

Leonard meletakkan koper-koper itu di atas meja stainless steel utama dengan bunyi berdentang ringan. "Kalian diberi fasilitas terbaik bukan untuk mengagumi ruangan ini. Mulai malam ini, tempat ini adalah medan perang kalian. Nona Elara menginginkan hasil nyata."

Rian langsung mendekati koper tersebut, membukanya dengan hati-hati setelah memasukkan kode enkripsi biometriknya. Di dalam koper, sepuluh tabung reaksi berisi cairan perak metalik yang terus bergerak secara dinamis memantulkan cahaya lampu laboratorium.

"Formula dasar serum ini sebenarnya sudah selesai," ujar Rian, beralih ke mode profesionalnya sebagai ahli biokimia. "Masalah utamanya adalah ketidakstabilan pasokan energi saat proses integrasi selular. Di Sektor 3, Markus memaksa kami menggunakan radiasi nuklir mentah sebagai katalis. Itulah yang menyebabkan struktur DNA subjek hancur dan mengubah mereka menjadi mutan tanpa akal yang agresif."

Ken ikut mendekat, memperhatikan monitor analisis yang mulai menampilkan rantai heliks ganda dari struktur serum tersebut. "Tapi di sini... dengan adanya pasokan energi murni dari Materi Gelap, kita bisa menggunakannya sebagai stabilizer alami. Energi itu bisa mengunci mutasi genetik pada titik optimal, mencegah degradasi otak besar."

"Berapa lama waktu yang kalian butuhkan?" tanya Leonard, matanya menatap tajam ke arah kelima ilmuwan muda itu.

Ken dan Rian saling bertukar pandang sejenak, melakukan kalkulasi mental sebelum Dika, sang analis data, mengetuk tabletnya dengan cepat dan menyodorkan grafik simulasi.

"Dengan bantuan sistem komputasi kuantum milik Arkan, kami bisa memotong waktu simulasi kegagalan organik," ujar Dika percaya diri. "Tiga hari. Dalam tiga hari, kami akan menyelesaikan 'Serum Evolusi Murni' generasi pertama yang 100% aman untuk manusia tanpa kemampuan khusus."

"Bagus," jawab Leonard datar, namun ada kilat kepuasan di matanya. "Jika kalian berhasil, posisi kalian di kekaisaran ini akan setara dengan komandan divisi. Tapi jika kalian mencoba bermain-main di belakang kami..." Leonard sengaja menggantung kalimatnya, membiarkan aura Supreme Warrior nya menekan udara di ruangan itu selama beberapa detik, membuat kelima ilmuwan itu menelan ludah dengan susah payah.

"Kami tahu batasan kami, Tuan Leonard," jawab Ken tegas, menahan tekanan aura tersebut dengan sisa harga dirinya. "Kami tidak bodoh untuk mengkhianati satu-satunya orang yang bisa meremukkan satu divisi militer dengan jentikan jari."

Sementara itu, di lantai teratas menara komando, Elara berdiri di balkon luar, membiarkan angin malam yang dingin memainkan rambut hitamnya. Di tangannya, ia memegang sebuah lencana tengkorak merah milik Komandan Vane yang sengaja ia simpan sebagai suvenir.

Sistem di dalam kepalanya tiba-tiba berdengung, memunculkan proyeksi hologram tiga dimensi dari peta wilayah sekitar. Sebuah titik merah besar yang menandakan Sektor 3 tampak berkedip-kedip dengan agresif.

> ┌────────────────────┐

>SISTEM: STATUS POLITIK REGIONAL

> [PANGKILAN SEKTOR 3: STATUS DARURAT MILITER]

> [INDIKASI: JENDERAL MARKUS TELAH MENYADARI HILANGNYA DIVISI SATU]

> [TINGKAT KEMARAHAN MUSUH: MAKSIMAL]

> [PREDIKSI STRATEGI: SERANGAN BALASAN ALL-OUT DALAM 48 JAM]

> └───────────────────────┘

"48 jam..." Elara bergumam pelan, senyum tipis kembali terukir di wajahnya yang cantik namun dingin. Ia meremas lencana besi di tangannya menggunakan kekuatan gravitasi tingkat rendah hingga benda itu mengerut dan hancur menjadi butiran debu logam yang jatuh tertiup angin malam.

"Nona, semua persenjataan rampasan sudah dikategorikan," suara Herra terdengar dari balik pintu kaca balkon yang terbuka. Wanita penembak jitu itu melangkah maju, memberikan laporan tertulis. "Kita mendapatkan dua ratus pucuk senapan serbu otomatis model baru, tiga puluh peluncur roket anti-tank, dan amunisi yang cukup untuk bertahan dari pengepungan selama tiga bulan."

"Bagaimana dengan tiga kendaraan lapis baja penghancur itu?" tanya Elara tanpa berbalik.

"Bobi sudah memeriksa strukturnya sebelum turun ke laboratorium bawah tanah. Dia mengatakan sistem hidrolik bilah bajarnya bisa dimodifikasi untuk dipasangi pelontar api bertekanan tinggi atau pelindung energi portabel. Arkan sedang menjadwalkan mekanik pangkalan untuk pengerjaannya besok pagi."

Elara berbalik, menatap Herra dengan pandangan yang penuh wibawa. "Sektor 3 akan datang dengan seluruh kekuatan yang mereka miliki dalam dua hari ke depan. Markus bukan orang yang akan menerima kekalahan dengan mudah. Kali ini, dia tidak akan mengirim pion-pion lemah seperti Vane. Dia sendiri yang akan memimpin pasukannya."

Herra menyeringai, mengetuk laras senapan runduknya yang bersandar di dinding. "Baguslah. Saya sudah bosan menembak target yang tidak bisa membalas. Biarkan Jenderal egois itu datang, saya akan memastikan peluru saya menembus tepat di antara kedua matanya."

"Persiapkan seluruh pasukan, Herra," perintah Elara, matanya berkilat ungu pekat di kegelapan malam, memancarkan pesona berbahaya dari seorang Ratu Kegelapan yang siap menelan siapa saja yang menantangnya. "Aktifkan mode siaga satu di seluruh perimeter. Kita akan membiarkan Sektor 3 menguras seluruh energi mereka di jalanan gersang sebelum mereka menyadari bahwa mereka sedang berjalan menuju kuburan massal terbesar dalam sejarah pasca-kiamat ini."

Bersambung 🧟‍♀️🧟‍♀️🧟‍♀️

1
aku
kok aku ngeri lama2 sm kelompok el 😭 pupuknya terlalu organik torr 😭😭
Miu.Nuha
alon alon eleraaa... astagaa jangan dipacu maksimal, kasihan nanti malah masuk rumah sakit 😅
Miu.Nuha
sabar Yara,, asah skill kamu buat nurunin berat badann... atur deh pokoknya 😅👍
Cimol krispy
astaga, kebayang banget gimana chaos nya keadaan diluar mansion.
Filan
tambah OP aja kelompok Elara.
Cuma satu yang dipertanyakan. Apakah Elara memikirkan solusi? Atau hanya mengikuti misi dari sistem dan bertahan hidup?
Harusnya Elara memikirkan solusi untuk mengembalikan keadaan. Misalnya dengan mencari sebab dulu, baru menemukan solusi (walau masih belum pasti) dan menjadikan solusi itu tujuan cerita. Kita jadi tahu akan dibawa ke mana cerita ini pada akhirnya. Kedamaian hakiki walau ga bisa mengembalikan dunia secara utuh. atau mereka bisa mereset semuanya? Tapi kalau reset, Elara waktu rebirth pun ga ada niatan menghentikan terjadinya chaos. hanya sibuk menyiapkan 'payung'.

dan ke mana manusia-manusia pengkhianat itu? Kenapa Elara tidak pernah mencari mereka untuk balas dendam?
༺⬙⃟⛅MULIANA ѕ⍣⃝✰
dan sekarang, kamu bisa membalas semua dendammu elara
༺⬙⃟⛅MULIANA ѕ⍣⃝✰
kira-kira mereka menyelamatkan manusia-manusia lain gak ya? takut kalo mereka salah orang
Mega Siregar
nanti kalo udah langsing dan seksi, jangan mau ama suami macam dia 😤
Three Flowers
bonusnya makin besaar🥳
Three Flowers
habisnya dulu kamu sama sekali nggak peduli padanya, Leo
Three Flowers
jadi di sini sudah jelas Leo nggak menginginkan kamu lg, Rachel
Three Flowers
sekarang Elara yang pegang kendali, menjadi penasehat utama perusahaan Leonard
-Thiea-
Gak susah membujuk mereka, karena elara udah tahu apa yg diinginkan mereka.
-Thiea-
Masa sih, bukannya dulu kamu kayak jijik lihat dia gendut.
Mingyu gf😘
sekarang leonard bner bner bucin ya🤭
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
Ela semangat yok bisa berubah yok. ntar kalo udh proporsional bakal byk cowok ngantri pgn jd bucinmu
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
mampir kak
Mega Siregar
penasaran, jika jiwanya telah berpindah ke tubuh orang lain, tubuh yara mana ya??
Xlyzy: musnah kah entitas Yara di musnahkan hanya jiwa nya yang di selamatkan sama sistem
total 1 replies
PrettyDuck
setelah ini kalian akan jadi power couple yang melawan akhir zaman /Angry/
PrettyDuck
emang dasar gak pernah puas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!