"Adek itu penerang hidup kami semua. Mas janji, Mas akan melakukan cara apapun agar Adek bisa sembuh dari kanker. Mas janji, Sayang."
Apalah daya jika janji yang terucap, akan terkalahkan jua oleh takdir yang mutlak. Manusia memang punya rencana, tapi tetap Tuhan yang mengambil kendali dalam segalanya.
Berurai air mata, Ammar berusaha menenangkan sang adik tersayang. Ditemani Sadha dan Dhana yang tak kalah sedih melihat kesedihan sang adik. Dhina menatap ketiga masnya dengan mata yang sembab. Tak menyangka akan hal yang kini terjadi pada dirinya, membuatnya takut, suatu saat nanti penyakit mematikan itu akan merenggut nyawanya.
Ammar, Sadha dan Dhana pun tak kalah terpukul akan kabar buruk yang menimpa sang adik. Takut, khawatir, dan sedih semuanya bercampur aduk. Membuat ketiganya harus tetap kuat dan tegar menerima semua ini, demi sang adik dan kedua orang tua mereka yang tak kalah lebih terpukul.
Akankah Dhina bisa sembuh dari sakitnya?
Apakah Dhina sanggup melewati semua ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DN YM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29 ~ Hilang
...🍀🍀🍀...
Kenyataan tentang penyakit Dhina kini telah diketahui oleh seluruh anggota keluarga. Pak Aidi, Bu Aini, Ammar, Sadha dan Dhana merasa terpukul dengan kondisi Dhina saat ini. Mereka semua tidak pernah menyangka kalau Dhina akan mendapatkan penyakit yang parah seperti ini. Padahal waktu kecil, di antara anak-anak Pak Aidi dan Bu Aini hanya Dhina yang jarang sakit. Kini semuanya berubah, Dhina yang dulu jarang sekali sakit namun sekarang menjadi Dhina yang penyakitan. Sungguh malang.
Ammar dan keluarganya masih berada di dalam ruangan Dokter Ronald. Sementara Ibel sudah keluar karena ada panggilan untuk membantu pasien yang ingin melahirkan. Butuh waktu yang cukup lama untuk keluarga Pak Aidi agar bisa menerima semua ini.
Setelah semua mulai tenang, Dokter ronald yang tadi hanya diam melihat kesedihan mereka pun mulai melanjutkan pembicaraan pada Ammar, Sadha dan Dhana. Sementara Pak Aidi masih berusaha menenangkan Bu Aini yang masih menangis.
"Saya ikut merasakan kesedihan yang menimpa keluarga kamu, Am. Tapi saya juga yakin kalau kamu bisa menghadapi semua ini. Saya pasti akan membantu kamu, sampai Dhina sembuh. Kamu tenang saja, Am." tutur Dokter Ronald seraya berjalan ke arah Ammar.
"Terima kasih banyak, Dok. Dari awal saya mulai curiga pada adik saya, sampai sekarang Dokter selalu memberi saya semangat. Terima kasih Dokter." jawab Ammar seraya memeluk sahabatnya itu.
"Sama-sama, Am. Kamu sudah seperti adik bagi saya, jadi adik kamu, adik saya juga. Saya akan membantu dia untuk sembuh. Kita harus bisa, Am." ujar Dokter Ronald yang membalas pelukan Ammar.
"Kita pasti bisa Dok." ucap Ammar seraya menepuk bahu Dokter Ronald dan tersenyum.
"Sekarang saya akan menjelaskan tentang kondisi Dhina. Setelah melihat hasil tes laboratorium yang saya cek tadi, kondisi Dhina saat ini tidak terlalu baik. Kita harus segera melakukan kemoterapi. Kalau tidak stadium kanker dalam tubuh Dhina akan naik lagi dan itu sangat berbahaya." jelas Dokter Ronald pada Ammar, Sadha dan Dhana.
Pak Aidi yang duduk di sudut sana pun tetap mendengarkan penjelasan Dokter Ronald sambil menenangkan istrinya. Lalu...
"Kapan kita bisa melakukan kemoterapi Dok?" tanya Sadha seraya berjalan mendekati meja Dokter Ronald.
"Saya usahakan dalam minggu besok. Kalau dalam minggu ini, kondisi Dhina belum begitu stabil. Kita harus pastikan kondisi Dhina baik saat melakukan kemo." jawab Dokter Ronald pada Sadha lalu menoleh ke Ammar dan Dhana.
"Apa saat ini Adek belum boleh pulang Dok?" tanya Ammar pada Dokter Ronald.
"Belum, Am. Kondisinya belum stabil. Jika dipaksa untuk pulang risikonya akan lebih besar." jawab Dokter Ronald pada Ammar.
"Lalu apa yang harus kita lakukan Dok?" tanya Dhana yang duduk di samping Ammar.
"Biarkan Dhina menginap di rumah sakit malam ini agar saya dan Ammar bisa memantau kondisi Dhina secara teratur. Jika besok pagi kondisinya membaik, maka Dhina bisa dibawa pulang." jawab Dokter Ronald pada mereka bertiga.
"Baiklah, Dok. Kami mengerti." ujar Dhana yang melihat ke arah Sadha seraya menganggukan kepalanya.
"Saat ini kita harus memindahkan Dhina ke kamar rawat. Sebaiknya kamu urus untuk pemindahan Dhina, Am. Saya akan mengurus yang lainnya." ujar Dokter Ronald yang beranjak dari tempat duduknya.
"Baik, Dokter. Saya akan urus semuanya. Kalau begitu saya permisi, Dok. Nanti saya kembali lagi." ucap Ammar yang berlalu keluar sambil membantu Pak Aidi memapa sang ibu.
"Kita permisi dulu ya, Nak Ronald. Om berterima kasih sekali karena kamu sudah mau membantu Ammar dan putri Om. Terima kasih." ujar Pak Aidi sebelum keluar dari ruangan dan bersalaman dengan Dokter Ronald.
"Itu sudah menjadi tugas saya, Om. Saya minta do'anya saja agar saya dan Ammar bisa menyembuhkan Dhina secepatnya." balas Dokter Ronald seraya membalas salaman Pak Aidi.
"Aamiiiin... Om akan selalu mendo'akan yang terbaik. Kalau begitu Om keluar dulu. Permisi." ujar Pak Aidi yang berjalan keluar dan dibalas anggukan oleh Dokter Ronald.
Ammar dan keluarganya pun sudah keluar dari ruangan Dokter Ronald. Mereka berniat untuk kembali melihat Dhina di ruang UGD, namun melihat kondisi Bu Aini yang begitu lemas membuat Ammar meminta Pak Aidi untuk pulang terlebih dahulu agar Bu Aini bisa istirahat.
"Ayah... lebih baik Ayah bawa Ibu pulang saja. Urusan Adek biar Ammar dan adik-adik yang mengurusnya. Kasihan Ibu sepertinya terlalu banyak menangis jadi lemas seperti ini." ujar Ammar seraya membantu Bu Aini yang berdiri lemas.
"Ibu tidak mau pulang, Ibu mau di sini." jawab Bu Aini dengan suaranya yang lemas dan menatap Ammar.
"Ibu jangan memaksakan diri seperti ini. Ibu juga harus jaga kesehatan. Ini sudah mau maghrib, Bu. Lebih baik Ibu istirahat di rumah, besok Ibu datang lagi ke sini." timpal Sadha yang memegang tangan Bu Aini.
"Iya, Bu. Mas Ammar dan Mas Sadha benar. Ibu ingin Adek melihat kondisi Ibu seperti ini? Adek pasti akan sedih melihat kondisi Ibu. Ibu pulang ya. Percayakan Adek sama kita bertiga. Ayah dan Ibu istirahat saja di rumah." ujar Dhana yang berusaha meyakinkan sang ibu.
"Apa kalian yakin bisa mengurus semuanya?" tanya Pak Aidi pada ketiga putranya.
"Ayah tenang saja. Adek akan aman bersama kita." jawab Sadha yang begitu percaya diri dengan kemampuannya dalam mengurus Dhina.
"Bagaimana Bu? Ibu mau ya, kita pulang sekarang." tanya Pak Aidi pada istrinya yang masih menyandar di dada bidang Ammar.
Bu Aini tidak menjawab apapun namun memberikan isyarat dengan menganggukan kepalanya karena ia tidak bisa berkata apa-apa sejak mendengar berita buruk tentang putrinya. Pak Aidi yang melihat anggukan itu langsung menopang tubuh istrinya dan memapa sang istri untuk membawanya pulang.
"Ayah bawa mobil saja. Kalau salah satu di antara kami ada yang ingin pulang, kita bisa pakai taksi online. Tapi sepertinya kami tidak ada yang pulang malam ini." ujar Ammar sambil mengambil kunci mobil di dalam saku bajunya.
"Ya sudah, kalau begitu Ayah dan Ibu pulang dulu ya. Nanti kalau ada sesuatu cepat beritahu Ayah. Kalian hati-hati di sini. Assalamualaikum." seru Pak Aidi yang memapa Bu Aini untuk berjalan keluar dari rumah sakit.
"Wa'alaikumsalam, hati-hati Ayah." teriak Dhana seraya melambaikan tangannya pada ayah dan ibunya yang sedang berjalan keluar.
Melihat orang tua mereka yang sudah pergi, mereka bertiga pun kembali ke rencana selanjutnya, yaitu mengurus pemindahan Dhina ke kamar rawat. Lalu mereka pergi ke ruangan Ammar terlebih dahulu untuk mengurus berkas pendukung sebelum kembali lagi ke ruangan UGD.
Saat berjalan menuju ruangan Ammar tiba-tiba Sadha teringat dengan sesuatu yang sebenarnya dari tadi sudah mengganggu pikirannya. Karena merasa tidak senang hati, Sadha pun bertanya pada Ammar.
"Mas... apa Ayah nanti tidak bertanya? Kenapa Adek bisa pingsan tiba-tiba? Kalau Ayah tiba-tiba bertanya Adek pingsan di mana, bagaimana Mas?" tanya Sadha yang menghentikan langkahnya.
Ammar dan Dhana pun terkejut dengan pertanyaan Sadha. Mereka berdua juga tidak berpikiran sampai ke sana. Lalu mereka melihat ke arah Sadha dan menenangkan Sadha.
"Kamu tenang saja, Sadha. Ayah pasti akan mengerti karena orang yang sakit kanker memang sering tiba-tiba pingsan. Jadi Mas rasa itu bukan masalah." ujar Ammar seraya meraih bahu adik tengahnya itu.
"Kalau pun Ayah bertanya, Mas. Kita jawab jujur saja agar semuanya jelas dan tidak ada yang ditutupi lagi." timpal Dhana yang menghampiri Sadha.
"Ya sudah, berarti hal ini tidak terlalu serius. Hanya di antara kita berempat saja yang tau." ucap Sadha pada Ammar dan Dhana.
"Kamu jangan khawatir lagi ya. Kita fokus sama Adek saja dulu saat ini. Ayo kita lanjut jalan ke ruangan Mas." ujar Ammar yang menenangkan Sadha.
Ammar, Sadha dan Dhana pun melanjutkan jalan menuju ruangan Ammar.
***
Di taman rumah sakit, Dhina masih saja berdiam diri sambil duduk di kursi taman dengan air mata yang terus saja mengalir. Langit yang sudah mulai gelap, menjadi saksi kesedihan gadis malang itu. Lesu dan pipi yang basah terlihat sangat nyata di wajah Dhina.
Entah apa yang sedang ia pikirkan. Sejak mendengar kebenaran yang dikatakan oleh mas sulungnya itu, membuat Dhina tidak lagi bersemangat. Hanya ada air mata yang terus mengalir di pipi cubby nya itu.
"Kenapa? Kenapa Engkau memberikan aku keluarga yang sangat sempurna, sementara Engkau memberikan aku cobaan seperti ini. Apa rencanamu? Kenapa Engkau menghukum keluargaku seperti ini."
Tangis Dhina pecah saat teringat dengan keluarga yang sangat ia cintai.
"Aku tidak ingin membuat Ayah, Ibu dan ketiga Masku susah. Penyakit ini akan menyusahkan mereka semua. Kalau Engkau ingin menghukumku, jangan melibatkan keluargaku. Aku mohon."
Dhina tidak bisa menahan kesedihan di hatinya saat ini. Tidak ada seorang pun yang tau kalau ia sedang berada di taman. Hatinya hancur dan Dhina terus saja menangis dan mengeluarkan isi hatinya di taman itu sambil menatap ke langit.
***
Waktu pun sudah masuk maghrib, Ammar dan kedua adiknya pun langsung melaksanakan salat berjama'ah di ruangan Ammar. Setelah melaksanakan salat, Ammar pun kembali ke ruangan Dokter Ronald untuk memberikan semua berkas yang sudah ia urus bersama kedua adiknya tadi. Sementara Sadha dan Dhana masih berada di ruangan Ammar untuk istirahat sambil menunggu mas sulungnya itu kembali. Ammar pun langsung masuk ke ruangan Dokter Ronald.
"Permisi, Dok." ucap Ammar seraya membuka pintu dan memasukan kepalanya untuk melihat kondisi di dalam ruangan.
"Am... masuklah. Apa kamu sudah mengurus semua berkasnya?" tanya Dokter Ronald yang membalikkan tubuhnya.
"Sudah, Dok. Ini berkasnya. Apakah kita bisa memindahkan Adek sekarang?" jawab Ammar yang memberikan sebuah berkas pada Dokter Ronald.
"Berkasnya sudah lengkap. Oke, ayo kita pindahkan Dhina sekarang. Nanti semua berkas ini akan diurus oleh asisten saya." ujar Dokter Ronald yang beranjak dari tempat duduknya seraya melihat isi berkas.
"Baiklah, Dok. Terima kasih banyak, Dok. Maaf kalau saya banyak merepotkan Dokter." ucap Ammar pada Dokter Ronald.
"Tidak merepotkan, Am. Dhina pasien saya, Dhina adik kamu, kamu adik saya, otomatis Dhina juga adik saya. Jadi tidak perlu meminta maaf seperti itu. Santai saja, Am." ujar Dokter Ronald seraya menepuk bahu Ammar.
"Baiklah, Dokter. Ayo Dok. Kita ke UGD untuk memindahkan Adek." ujar Ammar pada Dokter Ronald seraya beranjak dari tempat duduknya.
"Ayo, tapi di mana Sadha dan Dhana?" tanya Dokter Ronald seraya berjalan ke arah pintu.
"Sadha dan Dhana masih di ruangan saya, Dok. Mereka sedang istirahat. Sejak siang mereka di sini, jadi saya menyuruh mereka untuk istirahat sebentar." ujar Ammar yang keluar dari ruangan Dokter Ronald.
"Ya sudah, biarkan mereka istirahat. Ayo, Am." ujar Dokter Ronald seraya menutup pintu ruangannya lalu pergi bersama Ammar ke UGD.
Ammar dan Dokter Ronald pun pergi ke UGD untuk memindahkan Dhina ke kamar rawat. Saat mereka sedang berjalan menuju UGD, tiba-tiba Sadha dan Dhana datang dari arah belakang. Lalu Sadha dan Dhana menghampiri mereka.
"Mas, Dokter..." panggil Sadha yang sedang berjalan dari arah ruangan Ammar bersama Dhana.
"Sadha, Dhana... kenapa kalian ke sini? Mas minta kalian istirahat, bukan?" ujar Ammar yang menghentikan langkahnya.
"Kita tidak bisa istirahat, Mas. Kepikiran sama Adek terus. Kita pindahkan Adek dulu, setelah itu baru kita bisa istirahat." jawab Dhana yang melihat ke arah Ammar.
"Kamar rawat Adek di mana mas?" tanya Sadha pada Ammar seraya melihat ke sekeliling.
"Kamar rawat Adek di lantai tiga. Mas ambil yang VIP agar kita semua bisa istirahat di sana sambil menjaga Adek." jawab Ammar seraya menunjuk ke arah atas.
"Ya sudah, ayo Mas kita pindahkan Adek." ujar Dhana yang berjalan duluan di depan karena sudah tidak sabar ingin menikmati ruang VIP.
"Mari, Dok." ujar Ammar seraya mengelengkan kepalanya melihat tingkah Dhana yang aneh.
Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju UGD. Dokter Ronald merasa senang saat melihat ekspresi Ammar yang sudah mulai tertawa karena tingkah aneh Dhana. Itu artinya Ammar sudah bisa menerima semua masalah yang menimpa adik perempuannya dengan ikhlas.
Kini mereka sudah sampai di depan UGD bersama dengan beberapa orang suster untuk membantu memindahkan Dhina. Lalu Ammar dan Dokter Ronald pun masuk ke dalam. Sedangkan Sadha dan Dhana hanya bisa menunggu di luar karena tidak boleh terlalu banyak orang yang masuk ke UGD.
Saat Ammar, Dokter Ronald dan beberapa suster sudah masuk ke dalam. Ammar terkejut saat melihat tempat tidur itu kosong dan tidak ada Dhina di sana. Lalu dengan panik Ammar menelusuri ruangan itu berharap menemukan Dhina.
"Dokter... Adek tidak ada di sini. Bagaimana ini Dok?" ujar Ammar yang panik pada Dokter Ronald karena melihat ruangan itu kosong.
"Kamu tenang, Am. Kalau kamu panik kita akan sulit mencari Dhina. Lebih baik kita cari di luar." seru Dokter Ronald yang menenangkan Ammar.
Lalu mereka berdua dan para suster pun keluar. Melihat Ammar keluar dari ruang UGD dengan ekspresi yang panik, Sadha dan Dhana pun langsung menghampirinya.
"Ada apa Mas? Kenapa Mas panik seperti ini?" tanya Sadha pada Ammar yang juga mulai panik.
"Adek... Adek tidak ada di dalam, Sadha. Apa kamu melihatnya keluar?" jawab Ammar dan membuat kedua adiknya itu terkejut.
"Adek tidak ada di dalam? Sadha tidak lihat Adek keluar, Mas." jawab Sadha yang melihat sekitar.
"Mas yakin Adek tidak ada di dalam?" tanya Dhana yang terkejut sambil melebarkan kedua matanya.
"Yakin, Dhana. Tadi terakhir kali Mas keluar bersama Ayah dan Ibu, Adek masih ada dan belum sadar. Apa jangan-jangan Adek sudah sadar?" ujar Ammar yang melihat ke Sadha, Dhana dan Dokter Ronald secara bergantian.
"Bisa saja, Am. Kalau memang benar, Dhina tidak akan mampu berjalan jauh karena kondisinya masih lemah." jawab Dokter Ronald pada Ammar.
"Kalau begitu kita cari Adek, Mas. Siapa tau Adek masih di sekitar rumah sakit. Kita berpencar saja agar lebih mudah mencari Adek." ujar Dhana pada Ammar, Sadha dan Dokter Ronald.
"Ya sudah, kita berpencar. Sadha, kamu cari adek di depan sana. Dhana, kamu cari di belakang. Mas dan Dokter Ronald akan mencari di dalam rumah sakit." ujar Ammar seraya menunjuk ke arah yang dibagikan.
"Nanti kalau di antara kalian ada yang bertemu Dhina, langsung hubungi kami ya." timpal Dokter Ronald lalu langsung pergi bersama Ammar.
"Baik, Dok." ujar Sadha dan Dhana sambil berjalan ke arah masing-masing.
Mereka pun berpencar untuk mencari Dhina. Mulai dari depan, samping, dalam hingga belakang rumah sakit. Mereka terus menelusuri setiap sudut rumah sakit.
Semua orang sedang mencari Dhina, sementara Dhina masih berada di taman belakang rumah sakit. Ia duduk, melamun dan menangis saat mengingat penyakit yang ada di dalam tubuhnya.
.
.
.
.
.
Happy Reading All❤️❤️❤️
biasanya klau tokoh utamanya sakit, ya udah pasti bakal kesana mikirnya
tapi ngeliat kebahagiaan, canda tawa, rasanya gak rela bgt kalau dhina dah gak ada
thanks buat author yang membuat cerita keren dan membuat banjir air mata
ttp aja nangis...
tingglkn jejak dulu ya