Arumi kehilangan segalanya dalam satu malam bayinya yang baru lahir tewas dalam kecelakaan tragis, dan ibunya kini kritis di rumah sakit tanpa biaya. Namun, takdir mempermainkannya; meski bayinya tiada, ASI Arumi tetap mengalir deras—sebuah pengingat menyakitkan akan kehilangan yang ia alami
Di sisi lain, Arlan Arkananta, seorang CEO dingin yang berkuasa, menyimpan rahasia besar. Ia memiliki seorang putra bayi bernama Leon yang keberadaannya disembunyikan dari dunia dan pihak keluarga besar. Leon menolak semua susu formula dan perawat, hingga hanya aroma tubuh Arumi yang mampu menenangkannya.
Terdesak oleh biaya rumah sakit, Arumi terpaksa menandatangani kontrak "Iblis". Ia bersedia menjadi ibu susu rahasia di mansion tersembunyi milik Arlan dengan aturan ketat: Dilarang mengungkap identitas bayi, dilarang keluar tanpa izin, dan yang paling berat—dilarang memiliki keterikatan emosional.
Namun, di balik tembok mansion yang dingin, Arumi menemukan bahwa Leon bukan sekadar bayi biasa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: PENYUSUP DI ALMAMATER HARAPAN
Mentari pagi di kawasan Sentul menyinari hamparan rumput hijau yang luas, di mana gedung-gedung bergaya futuristik dengan aksen kayu alami berdiri megah. Itulah Universitas Medis Salsabila (UMS). Berbeda dengan kampus kedokteran pada umumnya yang terkesan kaku dan eksklusif, UMS dirancang Arlan sebagai "Paru-paru Ilmu Pengetahuan"—tempat di mana anak-anak cerdas dari keluarga prasejahtera bisa belajar tanpa memikirkan biaya sepeser pun.
Arumi berdiri di podium auditorium utama yang dipenuhi oleh 500 mahasiswa angkatan pertama.
Mereka adalah anak-anak nelayan, petani, dan buruh yang lolos seleksi ketat berbasis kecerdasan dan empati. Di barisan depan, Arlan duduk bersama Leon yang kini sudah mulai bisa berjalan tertatih-tatih, didampingi Dante yang tetap waspada dengan jas hitamnya.
"Kalian tidak di sini untuk menjadi mesin pencetak uang," suara Arumi bergema, tenang namun penuh otoritas. "Kalian di sini untuk menjadi tangan Tuhan yang menyembuhkan. Di universitas ini, nilai tertinggi bukan diberikan kepada mereka yang hafal buku teks, tapi kepada mereka yang mampu merasakan denyut nadi penderitaan pasiennya."
Tepuk tangan membahana. Namun, di barisan tengah, tiga orang mahasiswa laki-laki dengan jaket almamater yang tampak terlalu kaku tidak ikut bertepuk tangan. Mata mereka tidak menatap Arumi dengan kekaguman, melainkan dengan kalkulasi yang dingin.
Di balik layar monitor ruang kendali keamanan, Raka mengerutkan kening. Ia memperbesar citra wajah ketiga mahasiswa tersebut melalui sistem pengenalan wajah biometrik terbaru yang dikembangkan Arlan.
"Dante, kau lihat mereka? Sektor C, baris ke-12," ucap Raka melalui earpiece.
"Aku sudah mengunci mereka sejak mereka turun dari bus," jawab Dante, suaranya parau. "Ada yang aneh dengan postur tubuh mereka. Cara mereka duduk... itu bukan cara duduk mahasiswa. Itu posisi siap siaga seorang prajurit."
Raka menjalankan pemindaian database kepolisian internasional. Detik berikutnya, wajahnya memucat. "Sial. Mereka bukan mahasiswa. Itu adalah anak buah Aditya Wicaksana, pengacara Victoria. Mereka menggunakan identitas palsu anak-anak panti asuhan yang sudah meninggal. Dante, salah satu dari mereka membawa tas ransel dengan sinyal radio frekuensi tinggi."
"Jammer?"
"Bukan. Itu pemicu jarak jauh. Mereka tidak mengincar Arumi di podium. Mereka mengincar sistem ventilasi laboratorium pusat riset yang ada di bawah auditorium ini!"
Ketegangan di Laboratorium Bawah Tanah
Arlan, yang menerima kode bahaya melalui getaran di jam tangannya, segera berdiri dengan tenang agar tidak memicu kepanikan massa. Ia berbisik pada Arumi yang baru saja selesai berpidato.
"Sayang, bawa Leon ke ruang VIP sekarang. Jangan bertanya, ikuti instruksi Raka," bisik Arlan.
Arumi menatap mata suaminya, melihat kilatan bahaya yang sangat familiar. Tanpa ragu, ia menggendong Leon dan melangkah menuju pintu belakang panggung.
Sementara itu, Dante bergerak melalui lorong servis. Ia mendapati salah satu penyusup sedang mencoba memasang tabung gas cair ke dalam sistem sirkulasi udara utama yang menuju ke laboratorium, tempat di mana sampel antibodi asli Arumi disimpan.
"Tangan di atas, Nak. Kuliah hari ini dibatalkan," ucap Dante dingin, menodongkan senjatanya.
Penyusup itu tidak menyerah. Ia melepaskan tasnya dan menyerang Dante dengan pisau komando yang disembunyikan di balik jaket almamaternya. Pertarungan pecah di ruang mesin yang sempit. Suara dentuman besi dan napas yang memburu memenuhi ruangan.
Penyusup itu ternyata sangat terlatih. Ia berhasil menyabet lengan Dante, namun Dante tidak bergeming. Dengan satu gerakan bantingan judo yang brutal, Dante mematahkan lengan lawan dan menghantamkan kepalanya ke pipa uap.
"Siapa yang mengirimmu? Aditya atau Victoria dari balik jeruji?" desis Dante sambil menekan leher pria itu.
"Ini... ini untuk kejayaan Arkananta yang sebenarnya..." rintih pria itu sebelum jatuh pingsan.
Di ruang kendali, Raka berteriak frustrasi. "Arlan! Mereka melakukan peretasan tingkat tinggi! Mereka tidak hanya ingin merusak laboratorium, mereka sedang menyalin seluruh data riset antibodi ke server luar negeri secara paksa!"
Arlan berlari menuju ruang server utama. Di sana, ia melihat bilah progres pengunggahan data sudah mencapai 85 persen. Jika data ini jatuh ke tangan Aditya, mereka bisa mematenkannya di negara-negara yang tidak terikat perjanjian Jenewa, dan seluruh kerja keras Arumi akan dikomersialkan secara ilegal.
"Putuskan koneksi fisiknya, Raka!" perintah Arlan.
"Tidak bisa! Mereka memasang virus dead-man switch. Jika koneksi diputus secara paksa, seluruh data di server lokal kita akan terhapus permanen termasuk formula penyembuh tumor Banyu!"
Arlan terdiam sejenak. Ia harus memilih: membiarkan rahasia itu dicuri dan dimiliki oleh musuh, atau menghapusnya dan kehilangan harapan bagi ribuan pasien yang sedang dalam perawatan.
"Arlan! Jangan hapus datanya!" suara Arumi terdengar dari interkom. Ia sudah berada di ruang VIP bersama Leon. "Biarkan mereka mengambilnya! Formula itu ada di kepalaku! Aku bisa menulisnya kembali, tapi pasien-pasien itu tidak bisa menunggu!"
Arlan tersenyum bangga. Keberanian istrinya selalu menjadi kompas moralnya. "Raka, biarkan pengunggahan selesai. Tapi selipkan 'kado kecil' di dalam paket datanya."
"Kado kecil, Tuan?"
"Enkripsi racun digital. Begitu mereka mencoba membuka formula intinya di server mereka, virus itu akan menghapus seluruh database mereka dan mengirimkan lokasi koordinat GPS mereka langsung ke markas Interpol."
Dua jam kemudian, di sebuah villa mewah di pinggiran Puncak, Aditya Wicaksana tertawa penuh kemenangan saat melihat pesan "Upload Complete" di laptopnya. Ia segera menghubungi klien gelapnya di Singapura.
"Aku sudah mendapatkannya. Siapkan uangnya di akun Panama-ku," ucapnya sombong.
Namun, saat ia mencoba membuka file utama untuk verifikasi, layar laptopnya mendadak berubah menjadi merah darah. Sebuah logo bunga Salsabila muncul, diikuti oleh tulisan: TERIMA KASIH TELAH MEMBERIKAN LOKASI ANDA PADA KAMI.
Sirine polisi dan deru helikopter mendadak terdengar mengepung villa tersebut. Arlan, yang ikut dalam operasi penggerebekan bersama tim taktis Polri, turun dari helikopter dengan perlahan.
Aditya keluar dengan tangan di atas, wajahnya pucat pasi. "Kau... kau menjebakku, Arlan!"
Arlan melangkah mendekat, merapikan kerah baju Aditya yang lusuh. "Kau bermain di liga yang salah, Aditya. Victoria membangun Arkananta dengan rahasia, tapi aku membangun Salsabila dengan transparansi. Kau tidak bisa mencuri sesuatu yang sudah aku berikan secara gratis pada dunia."
Malam harinya, kampus UMS tetap tenang. Insiden tersebut berhasil diredam tanpa sepengetahuan para mahasiswa agar tidak mengganggu proses belajar mereka. Di taman kampus, Arlan dan Arumi duduk di bawah pohon beringin besar yang diterangi lampu gantung mungil.
Leon berlari-lari kecil di rumput, mengejar kunang-kunang di bawah pengawasan Sarah dan Dante yang kini tampak lebih akrab.
"Hari yang panjang," bisik Arumi, menyandarkan kepalanya di bahu Arlan.
"Ini baru permulaan, Sayang," jawab Arlan, menggenggam tangan Arumi yang kini terasa lebih hangat. "Besok, 500 mahasiswa itu akan mulai belajar anatomi. Sepuluh tahun lagi, mereka akan menjadi tentara kemanusiaan kita."
Arumi menatap gedung universitas yang megah itu. "Arlan, aku ingin kita membuat satu tradisi di sini. Setiap tahun, mahasiswa terbaik tidak diberikan medali emas, tapi diberikan kesempatan untuk mengabdi di desa paling terpencil dengan dukungan penuh dari kita."
"Setuju. Dan kita akan menamainya 'Beasiswa Ibu Susu'," goda Arlan.
Arumi tertawa, mencubit pinggang suaminya. "Kau tidak akan pernah membiarkan aku melupakan bagian itu, ya?"
Arlan menarik Arumi lebih dekat, mencium keningnya dengan penuh pengabdian.
"Bagaimana aku bisa lupa? Itu adalah kontrak terbaik yang pernah kutandatangani. Seratus juta untuk mendapatkan dunia, dan wanita yang mengubahku menjadi pria sejati."
Di kejauhan, suara tawa Leon memecah kesunyian malam. Kontrak itu memang sudah lama hangus, namun janji yang mereka buat di atas puing-puing kehancuran kini telah tumbuh menjadi hutan harapan yang tak akan pernah kering.