NovelToon NovelToon
Sistem Petani: Mengubah Sampah Menjadi Cairan Dewa

Sistem Petani: Mengubah Sampah Menjadi Cairan Dewa

Status: tamat
Genre:Sistem / Harem / Bertani / Tamat
Popularitas:186.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: R.A Wibowo

Aris adalah definisi pecundang di mata dunia. Dipecat dari pekerjaan kasarnya, dikhianati oleh kekasih yang paling ia cintai, dan dihina oleh teman-teman sekolahnya saat reuni karena hanya mengendarai motor butut.

Satu-satunya harta yang ia miliki hanyalah sebidang tanah warisan kakeknya di pinggiran kota.

Namun, harapan Aris hancur saat ia kembali. Tanah yang ia impikan menjadi tempat tinggal yang tenang, telah berubah menjadi gunung sampah ilegal—sebuah "borok" kota yang dikuasai mafia dan oknum korup.

Di titik terendah hidupnya, sebuah suara dingin bergema di kepalanya:

[Ding! Sistem Petani Sultan Diaktifkan!]

[Misi Pemula : bersihkan 10 KG sampah]

[Hadiah : alat penyulingan esensi Cairan dewa]

[Mulai Proses Penyulingan... Menghasilkan: Cairan Dewa Tingkat 1!]

Satu tetes cairan itu mampu mengubah tanah beracun menjadi Lahan Surgawi.

. Satu tetes lagi mampu membuat tanaman mati tumbuh kembali dengan khasiat luar biasa, dengan cairan ini dia menjadi petani sultan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14--Runtuhnya Kesombongan Malik

“Jangan main-main denganku dasar bocah sialan!” Malik meraung marah sambil melangkah maju, urat di lehernya menonjol seperti tali yang siap putus. Tangannya mengepal keras, seolah benar-benar ingin menghajar Aris di tempat.

Namun sebelum tinjunya sempat terayun, kegaduhan dari depan rumah Aris lebih dulu memecah suasana.

Suara langkah kaki ramai terdengar dari jalan tanah desa. Gemerisik sandal, hentakan sepatu bot karet, hingga bunyi kayu dipukulkan ke telapak tangan menggema bersahut-sahutan di udara sore yang mulai dingin.

Gerakan Malik dan kedua anteknya langsung terhenti. Mereka menoleh bersamaan.

Puluhan warga Desa Sukacita berdatangan dari berbagai arah seperti gelombang air bah. Wajah mereka penuh kemarahan yang selama ini dipendam bertahun-tahun. Ada yang membawa cangkul, kayu, bambu, bahkan sekop bekas. Beberapa ibu-ibu ikut berdiri di belakang sambil menunjuk ke arah Malik dengan tatapan tajam.

Mustahil. Warga yang biasanya takut dan memilih diam sekarang justru berdiri bersatu di depan rumah Aris.

Dan semua itu terjadi hanya karena satu hal: keberanian. Keberanian dari seorang pemuda desa yang berani melawan lebih dulu.

Keberanian Aris saat menendang anak buah Malik tempo hari seperti percikan api kecil yang jatuh ke tumpukan jerami kering. Dalam hitungan menit, percikan itu berubah menjadi kobaran semangat warga yang selama ini hidup tertindas oleh limbah dan ancaman.

Vina yang berdiri di samping Aris sampai sedikit terdiam melihat pemandangan itu. Angin sore meniup rambut hitamnya perlahan, sementara matanya memandang punggung Aris dengan rasa kagum yang samar.

Tanpa perlu dijelaskan pun, ia tahu.

Anak muda inilah pusat semuanya. Aris mungkin bukan pejabat, bukan polisi, bahkan bukan orang kaya. Namun cara warga memandangnya sekarang berbeda. Tatapan mereka penuh kepercayaan.

'Sungguh pemuda yang menarik...' batin Vina pelan.

Di sisi lain, Malik mulai menelan ludah gugup. Jakunnya bergerak naik turun melihat massa yang perlahan mengepung halaman rumah Aris. Aura mengintimidasi yang biasanya selalu berhasil membuat warga ciut mendadak lenyap tanpa sisa.

Sekarang justru dirinya yang terasa kecil.

"Woi, Malik! Berani-beraninya kamu mau ngeracunin tanah kami lagi!" teriak salah satu warga sambil mengangkat kayu.

“Udah ditendang masih balik lagi! Muka badak!”

“Gimana kalau sekarang gantian kamu yang dibuang ke parit limbah?!”

“Tahun-tahun kami diam bukan berarti takut! Kami cuma capek ngurus orang kayak kamu!”

Suara teriakan itu bercampur menjadi tekanan besar yang menghantam mental Malik sedikit demi sedikit.

Kedua anak buah Malik bahkan sudah kelihatan pucat. Salah satu dari mereka diam-diam menjatuhkan jeriken limbah ke tanah. Cairan hitam pekat tumpah dan mengeluarkan bau menyengat menusuk hidung.

Namun tidak ada lagi yang takut.

Malah beberapa warga maju selangkah.

Malik mundur perlahan. Sepatu kulit mahalnya kini terkena lumpur pekarangan desa. Wajahnya yang tadi penuh amarah berubah pucat pasi.

Aris kemudian melangkah maju.

Satu langkah.

Dua langkah.

Ia berdiri tepat di depan Malik yang kini tersudut di dekat parit kecil pinggir jalan. Angin sore membuat jaket flanel Aris berkibar pelan. Tatapannya dingin namun mantap.

“Lihat sekelilingmu, Malik,” ucap Aris tenang, tapi suaranya terdengar jelas sampai ke kerumunan warga. “Kamu pikir uang dan koneksi bisa beli semuanya?”

Malik mengepalkan tangan gemetar.

“Kamu lupa satu hal,” lanjut Aris. “Kamu cuma satu orang. Sedangkan desa ini... punya ratusan warga yang sudah capek diinjak-injak.”

Kalimat itu membuat beberapa warga mengangguk keras.

Wak Darmo bahkan sampai menitikkan air mata kecil. Selama bertahun-tahun mereka hidup berdampingan dengan bau limbah, tanah rusak, dan ancaman preman Malik. Namun baru hari ini ada seseorang yang benar-benar berdiri di depan mereka tanpa takut.

Vina ikut melangkah maju ke samping Aris. Sikapnya tetap tenang, profesional, namun tangan kanannya sudah berada dekat pinggang—siap mengambil tindakan kalau situasi berubah kacau.

“Pak Malik,” ujar Vina dingin. “Saya sarankan Anda menyerah secara kooperatif. Kalau warga di sini sampai bertindak sendiri, saya tidak bisa menjamin keselamatan Anda sebelum tiba di kantor polisi.”

“K-kalian gak bisa melakukan ini!” Malik membentak, meski suaranya sudah tidak segarang tadi. “Saya punya koneksi! Saya kenal orang-orang atas!”

“Koneksi Anda tidak ada artinya di depan bukti video, limbah ilegal, dan ratusan saksi mata,” balas Vina tanpa ragu.

Kalimat itu seperti palu terakhir yang menghancurkan mental Malik.

Tepat saat itu—

Ngiung! Ngiung! Ngiung!

Suara sirine polisi terdengar dari kejauhan.

Semua orang menoleh ke arah jalan utama desa.

Tiga mobil patroli melaju cepat membelah jalan tanah Desa Sukacita. Debu beterbangan di belakang ban mereka. Lampu rotator merah-biru berkedip terang, memantulkan cahaya di dinding rumah-rumah warga.

Rupanya, sejak tadi Vina diam-diam sudah mengirim titik koordinat ke unit pusat.

Begitu mobil berhenti, beberapa polisi bersenjata langsung turun dengan sigap.

“Amankan tersangka!”

Dua polisi segera membekuk kedua anak buah Malik yang bahkan tidak sempat melawan. Malik sendiri mencoba mundur, namun kakinya terpeleset lumpur hingga jatuh terduduk dengan menyedihkan.

Jas mahalnya kini penuh tanah becek.

Tidak ada lagi aura bos besar.

Yang tersisa hanyalah pria panik dengan wajah pucat.

Seorang inspektur polisi berjalan menghampiri Vina lalu memberi hormat singkat.

“Lapor, Kak Vina. Bukti awal sudah kami terima. Tersangka akan langsung dibawa ke Polres Kota untuk pemeriksaan lebih lanjut terkait limbah B3, perusakan properti, dan dugaan pencemaran lingkungan.”

“Bagus. Pastikan semua barang bukti diamankan,” jawab Vina tegas.

Aris hanya diam memandangi Malik yang kini diborgol.

Pria yang selama ini merasa jadi penguasa desa akhirnya jatuh dengan cara paling memalukan: diseret warga yang dulu ia remehkan.

Entah kenapa, dada Aris terasa lega.

Bukan karena menang semata.

Melainkan karena akhirnya tanah peninggalan kakeknya benar-benar bebas.

Ia teringat bagaimana dulu lahan itu perlahan rusak oleh limbah. Bau busuk memenuhi udara. Pohon-pohon mati satu per satu. Dan kini... semua itu seperti mendapatkan kesempatan kedua.

“Terima kasih, Kak Aris.”

Suara lembut Vina membuat Aris menoleh.

Tatapan polisi wanita itu kini jauh lebih hangat dibanding sebelumnya.

“Kalau bukan karena keberanianmu, mungkin aku gak akan pernah tahu ada kebusukan sebesar ini di balik laporan desa.”

Aris tersenyum kecil.

“Justru aku yang harus berterima kasih,” jawabnya santai. “Beruntung banget Tuhan ngirim polisi cantik dan dermawan kaya kakak ke desa ini. Kalau nggak, urusan beginian bisa molor lama.”

Vina langsung tersipu.

Wajahnya yang biasanya tegas mendadak memerah tipis. Ia buru-buru berdeham sambil merapikan rambutnya yang tertiup angin.

Aneh.

Biasanya ia kebal terhadap gombalan murahan laki-laki.

Namun entah kenapa, saat Aris yang mengucapkannya, rasanya berbeda.

“Ah, jangan mulai deh,” gerutu Vina malu-malu. “Aku cuma menjalankan tugasku.”

“Tapi serius,” lanjutnya pelan. “Keberanian warga desa ini muncul karena kamu.”

Di belakang mereka, suasana berubah meriah.

Warga bersorak saat mobil patroli membawa Malik pergi meninggalkan Desa Sukacita. Anak-anak kecil sampai bertepuk tangan melihat iring-iringan polisi menjauh.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, desa itu terasa lega.

Udara sore terasa lebih ringan.

Tidak ada lagi rasa takut.

Wak Darmo berjalan mendekati Aris dengan mata berkaca-kaca. Tangannya yang kasar menepuk pundak pemuda itu penuh kebanggaan.

“Ris... kita menang,” ucap Wak Darmo lirih. “Akhirnya kita bisa tidur nyenyak tanpa takut bau limbah lagi.”

Aris mengangguk pelan.

Namun matanya tetap memandang lurus ke arah matahari jingga yang perlahan tenggelam di balik perbukitan desa.

Angin sore meniup pelan hamparan lahan milik kakeknya.

“Ini baru awal, Wak,” ucap Aris tenang. “Sekarang gak ada lagi yang ganggu. Artinya... bisnis pertanian kita bisa mulai serius.”

Wak Darmo tertawa kecil sambil menggeleng.

“Hahaha... disaat suasana begini kamu masih mikirin bisnis juga. Dasar anak muda.”

“Tentu dong,” jawab Aris santai sambil menyeringai. “Tanpa uang susah hidup, Wak.”

Dengan ini dia membalaskan dan membebaskan tanah sang kakek, sekarang tinggal cara dia mengelola tanah miliknya.

Dia sudah punya relasi dengan seorang chef dan besok pasti akan bertambah dengan seiring

1
Cui Lan Seng
iya ga seru mending rokok tingwe
Cui Lan Seng
hmmm pemuda perokok, bukan idaman bangsa
Choky Ritonga
aning cerita sampah 🤣🤣, harus di blokir
Manusia Biasa: dih banyak cakap blokir blokir aja😁 lo juga gue blokir
total 1 replies
Cui Lan Seng
nyiraminnya satu satu tiap tanaman ya ...bocos Ndro👍 pakai otak lah, irigasi tetes lah atau sprinkle dg kolam air penampungan
BaksoEnak
capek, tiap geser satu bab ada iklan
BaksoEnak
hahaha cacingnya dikantongin🤭😄
BaksoEnak
enakan yg punya aplikasi novel toon versi lama, tanpa iklan. sekarang setiap saat selalu iklan, bikin malas dan mau uninstall
BaksoEnak
emang enggak perlu mandi dulu di kamar mandi stasiun atau pasar ya? ga bawa baju ganti pula
Manusia Biasa: mau bikin orang pingsan satu krl
total 2 replies
BaksoEnak
alat penyulingan sampahnya diceritakan setinggi dada manusia, jadi Aris punya cincin penyimpanan spacial dong ? minimal kantong doraemon
Manusia Biasa: kam ada sistem bang, sistem pasti punya inventorynya sendiri
jadi tinggal keluarin kayak di game
total 1 replies
BaksoEnak
lebih lucu mbak KRL wkwk
BaksoEnak
wkwkwk benihnya saja belum direlease dan di Eli tapi konsumennya udah tahu nama benihnya...kocak dan kocluk
Manusia Biasa: sawi ungu giok perasaan semua orang juga tahu🗿
total 1 replies
BaksoEnak
sebelumnya kan juga ikut???
Ita Xiaomi
Suka ama ceritanya. Meski pakai sistem tetap kerja keras berjuang. Dan akhirnya yang indah dan bahagia. Tq Kk. Semangat berkarya. Berkah&Sukses selalu.
Ita Xiaomi: Sama-sama Kk.
total 2 replies
Ita Xiaomi
Tq Kk ceritanya keren. Semangat berkarya. Berkah&Sukses selalu.
Ita Xiaomi
👍👍👍
Ita Xiaomi
Berubah menjd flash😁
Ita Xiaomi
Maaf Kk Ibunya Aris ada titip kain jarik jg ya, selain Bu RT?
Manusia Biasa: salah harusnya bu rt doang belum direvisi itu😁
total 1 replies
Ita Xiaomi
Pelan-pelan aja Mel hitung nolnya🤣
Ita Xiaomi
Makin seru.
Ita Xiaomi
Senangnya sarapan bersama keluarga.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!