Aluna terjebak dalam pernikahan neraka. Di mata dunia, dia adalah istri Arvino Hardinata. Namun di balik pintu tertutup, dia dianggap sebagai "pembunuh" oleh suaminya sendiri. Aluna bertahan demi Lili, satu-satunya sumber kekuatannya, sambil berharap suatu hari Arvino melihat ketulusan cintanya—sebelum penyakit dan kelelahan batin menggerogoti Aluna sepenuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: Penolakan dan Perjuangan
Pagi hari berikutnya terasa begitu tenang, terlalu tenang untuk sepasang suami istri yang akan menandatangani surat perpisahan.
Aku membawa surat gugatan cerai yang sudah kusut itu ke kamar Arvino di lantai bawah. Arvino sedang duduk di kursi rodanya, memandangi taman. Dia terlihat lelah, tetapi matanya memancarkan ketenangan yang aneh.
Aku meletakkan surat itu di meja sampingnya, bersama dengan pulpen.
"Aku sudah menunggumu, Kak. Besok pagi aku akan membawa ini ke Pengadilan Agama," kataku, suaraku profesional, tanpa emosi. "Tanda tangani saja di kolom persetujuan, dan kita bisa menyelesaikan ini secara baik-baik, tanpa mempublikasikan aib keluarga."
Arvino mengambil pulpen itu. Tanganku menegang, bersiap menerima kebebasan yang menyakitkan itu.
Namun, Arvino tidak menandatangani.
Dia mengambil surat itu, lalu merobeknya menjadi dua bagian dengan gerakan lambat dan disengaja. Setelah itu, dia merobeknya lagi hingga kertas itu menjadi serpihan kecil yang bertebaran di lantai.
Aku terkejut. "Apa yang Kakak lakukan?!"
"Aku tidak akan menceraikanmu, Aluna," jawab Arvino, nadanya tenang, tanpa amarah. Ini bukan ancaman, tapi sebuah keputusan.
"Kenapa? Karena takut Papa mengambil Lili?" tanyaku, mencoba menembus pertahanannya.
"Bukan hanya itu," Arvino menatapku, tatapannya kini dipenuhi dengan kebenaran yang tak terhindarkan. "Aku memang takut kehilangan Lili. Tapi aku lebih takut hidup dengan fakta bahwa aku menghancurkan satu-satunya orang yang tulus mencintaiku, hanya untuk memeluk bayangan kebohongan. Aku tidak bisa membiarkanmu pergi, Aluna. Aku tidak bisa hidup dengan rasa bersalah ini."
Dia mencoba meraih tanganku. "Aku salah. Aku akui aku adalah monster. Tapi tolong, beri aku kesempatan. Izinkan aku membuktikan bahwa aku bisa menyembuhkan lukamu. Izinkan aku menebus dosa-dosaku."
"Penebusan tidak akan mengembalikan satu tahun yang hilang, Kak," kataku, air mataku mulai menggenang. "Kau sudah mencabut akar kebahagiaanku. Dan aku tidak percaya padamu."
"Kalau begitu, aku akan membuat akar itu tumbuh lagi," Arvino bersikeras. "Aku akan melakukan apa pun yang kau minta. Apa pun. Bahkan jika kau memintaku berlutut di depan umum, aku akan melakukannya."
Aku menatapnya. Aku tahu dia tulus. Tetapi kesulitanku bukan lagi memaafkannya, melainkan mempercayai bahwa dia tidak akan kembali menjadi pria yang jahat saat ia merasa terancam.
Aku teringat akan malam-malamku yang penuh teror. Nyctophobia-ku.
"Baik," kataku. "Aku akan memberimu kesempatan. Tapi Kakak harus membuktikan kalau Kakak sudah benar-benar meninggalkan rasa bersalah itu. Buktikan kalau Kakak tidak lagi memproyeksikan Sarah pada diriku."
"Apa pun, Aluna. Katakan."
"Malam ini, Kakak naik ke atas, ke kamar utama," perintahku. "Dan Kakak harus tidur di ranjang itu. Dan... Kakak harus mematikan semua lampu. Semua lampu di kamar itu harus mati total. Termasuk lampu tidur Lili."
Arvino tertegun. Permintaanku ini adalah pedang bermata dua. Mematikan semua lampu adalah puncak dari nyctophobia-ku, dan hal yang paling ia paksakan padaku selama ini. Tapi mematikan lampu juga berarti ia harus sendirian di kamar itu, tanpa cahaya, tanpa bisa melihat bayangan Sarah—menghadapi kegelapan dan traumanya sendiri.
"Aku takut gelap, Aluna," bisik Arvino jujur, suaranya sedikit bergetar. Dia takut akan memori, takut akan keheningan yang ia rasakan sejak Sarah meninggal.
"Aku tahu. Sama seperti aku. Tapi aku adalah dokter, Kak. Aku bisa mengatasi ketakutan fisiku. Kakak harus mengatasi ketakutan emosional Kakak. Jika Kakak bisa tidur di kamar itu dalam kegelapan, maka Kakak telah membuang bayangan Sarah. Dan Kakak telah menghapus trauma yang Kakak tanamkan padaku."
Aku menatapnya dengan dingin. "Itu syaratku. Aku akan tidur di kamar Lili malam ini, untuk berjaga. Jika Kakak berhasil, kita akan bicara tentang masa depan kita. Jika Kakak menyerah dan menyalakan lampu, besok pagi aku akan membawa gugatan baru ke pengadilan, dan Kakak akan kehilangan aku selamanya."
Aku berbalik dan pergi. Aku tahu bahwa persyaratan yang kuberikan adalah penyiksaan psikologis. Tetapi hanya dengan cara itulah Arvino bisa membuktikan bahwa penebusannya nyata, bukan hanya didorong oleh ketakutan kehilangan Lili. Dia harus menghadapi kegelapan di dalam dirinya sendiri.
...****************...
Bersambung....
Terima kasih telah membaca💞
Jangan lupa bantu like komen dan share❣️