NovelToon NovelToon
Ikatan Takdir

Ikatan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Suami Tak Berguna / Anak Haram Sang Istri
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: si ciprut

Perjalanan hidup Kanaya dari bercerai dengan suaminya.
Lalu ia pergi karena sebuah ancaman, kemudian menikah dengan Rafa yang sudah dianggap adiknya sendiri.
Sosok Angela ternyata mempunyai misi untuk mengambil alih harta kekayaan dari orang tua angkat Kanaya.
Selain itu, ada harta tersembunyi yang diwariskan kepada Kanaya dan juga Nadira, saudara tirinya.
Namun apakah harta yang di maksud itu??
Lalu bagaimana Rafa mempertahankan hubungannya dengan Kanaya?
Dan...
Siapakah ayah dari Alya, putri dari Kanaya, karena Barata bukanlah ayah kandung Alya.

Apakah Kanaya bisa bertemu dengan ayah kandung Alya?

Lika-liku hidup Kanaya sedang diperjuangkan.
Apakah berakhir bahagia?
Ataukah luka?

Ikutilah Novel Ikatan Takdir karya si ciprut

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon si ciprut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Akhir Dari Angela

Angela mengemudi tanpa tujuan.

Mesin meraung saat pedal gas diinjak habis. Jarum speedometer menanjak liar. Lampu kota berubah menjadi garis-garis cahaya yang kabur oleh air mata yang tak sempat jatuh. Klakson bersahutan—ia tak peduli. Lampu merah diterobos. Setir diputar tajam, nyaris menyambar pembatas jalan.

Untuk pertama kalinya, kontrol—hal yang selalu ia banggakan—hilang sepenuhnya.

“Berhenti… berhenti…,” gumamnya, entah pada mobil, entah pada pikirannya sendiri.

Bayangan Prayuda menempel di kaca depan. Tatapan dingin Barata terpantul di spion. Dokumen-dokumen itu—map tipis yang rapi—seakan beterbangan di kursi belakang, menertawakan ketenangannya yang palsu.

Angela tertawa pendek, histeris.

“Jadi begini rasanya… dibuang.”

Ia membelok tajam ke jalan kecil. Ban menjerit. Mobil oleng, hampir kehilangan kendali. Jantungnya berdegup keras, bukan karena takut mati—melainkan karena tak ada lagi tempat pulang. Tak ada nama. Tak ada peran. Tak ada orang yang menunggu.

Ponselnya bergetar di konsol. Tak diangkat. Ia tahu siapa pun di ujung sana, jawabannya sama: sunyi.

Gas diinjak lagi. Lebih dalam. Lebih nekat. Angin menerpa wajahnya lewat jendela yang terbuka. Rambutnya acak. Maskara luntur. Ia berteriak—teriakan yang hilang ditelan malam.

Di tikungan gelap, lampu sorot tiba-tiba menyilaukan. Angela membanting setir, rem diinjak sekuatnya. Mobil berputar setengah, berhenti dengan hentakan keras di bahu jalan. Mesin mati. Debu mengepul.

Hening.

Angela terdiam, napasnya tersengal. Tangan gemetar di atas setir. Detak jantung perlahan melambat, meninggalkan kehampaan yang dingin.

Ia menyandarkan kepala ke kemudi.

“Aku hidup,” bisiknya. “Dan itu… hukuman terburuk.”

Ia keluar dari mobil, berdiri di pinggir jalan yang sepi. Lampu kota jauh di belakang. Di depan—gelap yang tak menjanjikan apa pun. Angela menatap malam lama-lama, lalu tertawa kecil yang patah.

Untuk pertama kalinya, ia bukan alat.

Bukan pengendali.

Bukan apa-apa.

Angela kembali ke mobilnya dengan langkah goyah. Tangannya masih gemetar saat memutar kunci. Mesin menyala—terlalu mudah, seolah jalan masih terbuka untuknya. Ia tak tahu bahwa sejak rumah dinas itu, setiap geraknya sudah diarahkan.

Ia melaju lagi.

Lebih cepat.

Lebih nekat.

Di layar dashboard, sebuah notifikasi kecil menyala—error sensor. Angela mengumpat pelan. Ia tak sadar, sistem mobilnya sudah diubah. Bukan untuk membunuh. Tidak langsung. Hanya cukup untuk mengelabui.

Di jalan layang yang sepi, lampu-lampu kota berkilau seperti janji palsu. Angela menginjak rem saat tikungan tajam mendekat—

Pedal kosong.

“Tidak… tidak…” bisiknya panik.

Setir terasa berat. Ban kehilangan traksi. Dalam sepersekian detik yang memanjang seperti keabadian, Angela memahami semuanya. Wajah Prayuda muncul jelas—bukan sebagai algojo, tapi sebagai arsitek.

Dia tidak membunuhku, pikirnya.

Dia membiarkanku membunuh diriku sendiri.

Mobil menghantam pembatas. Besi berderit. Kaca pecah. Tubuh Angela terhempas. Suara keras memecah malam—lalu sunyi.

Ketika petugas tiba, mesin sudah mati. Lampu masih menyala. Angela tergeletak di balik kemudi, tak bernapas.

Meninggal di tempat.

Laporan resmi keesokan paginya singkat dan rapi:

Kecelakaan tunggal akibat kecepatan tinggi. Tidak ditemukan unsur pidana.

Nama Prayuda Wicaksono tak pernah disebut.

Di ruang kerjanya, Prayuda membaca laporan itu tanpa ekspresi. Ia menutup berkas, berdiri, lalu menatap jendela.

“Setiap aset memilih akhirnya sendiri,” katanya pelan. “Aku hanya memastikan jalurnya.”

Di tempat lain, Barata menerima kabar itu dari James. Ia menutup mata sejenak—bukan karena sedih, bukan karena puas.

Karena ia tahu, ini bukan akhir.

Ini pembersihan.

Angela telah pergi.

Perantara lenyap.

Dan kini, permainan benar-benar menyisakan dua pihak yang terlihat.

Prayuda—yang tak lagi bersembunyi.

Dan mereka yang tersisa—yang kini tahu,

bahwa jika ingin menghentikannya,

tidak ada lagi bayangan yang bisa disalahkan.

Barata tahu ia target berikutnya bahkan sebelum kabar itu resmi.

Bukan dari ancaman.

Bukan dari pesan.

Melainkan dari ketiadaan.

Angela sudah mati. Perantara dibersihkan. Jalur dipotong. Dan ketika Prayuda Wicaksono membersihkan papan catur, selalu ada satu bidak terakhir yang harus disingkirkan—yang tahu terlalu banyak dan tak lagi bisa dikendalikan.

Barata.

James mengirim satu kalimat pendek yang tak butuh penjelasan:

“Pattern berubah. Ini direct. Kamu berikutnya.”

Barata menutup ponsel. Ia berdiri di rumah lamanya yang kini terasa terlalu sunyi. Tak ada lagi negosiasi. Tak ada lagi umpan. Jika ia bergerak salah satu langkah saja—mendekat ke Kanaya, ke Rafa, ke Alya—Prayuda akan mendapat apa yang ia inginkan: akses.

“Aku tidak akan memberimu itu,” gumam Barata.

Ia mulai merapikan jejaknya sendiri. Dokumen lama ia pilah—yang bisa menjerat Prayuda disalin, dienkripsi, dan disebar ke beberapa dead drop. Yang bisa menyeret Kanaya ia musnahkan. Ponsel diganti. Rute diubah. Wajah diturunkan—topi, jaket, bayangan.

Barata mengirim satu pesan terakhir ke James:

“Jika aku jatuh, aktifkan paket B. Jangan biarkan mereka mendekat ke keluarga Rafa.”

Balasan datang cepat:

“Rafa setuju. Kamu tarik api. Kami jaga perimeter.”

Malam turun. Di kejauhan, sebuah mobil hitam melintas pelan—sekilas saja. Terlalu rapi untuk kebetulan.

Barata tersenyum tipis.

Jadi begini akhirnya, pikirnya. Bukan lari. Bukan bersembunyi. Tapi berdiri tepat di garis tembak—sendirian.

Ia melangkah keluar rumah. Mengunci pintu. Menyatu dengan gelap.

Karena jika Prayuda ingin menutup permainan dengan darah, maka Barata akan memastikan darah itu tidak membuka pintu ke Kanaya.

Target berikutnya sudah ditandai.

Namun kali ini, target tahu—

dan orang yang tahu dirinya diburu adalah orang yang siap mengubah perburuan menjadi jebakan.

Jebakan itu disusun Barata dengan presisi—terlalu rapi untuk disebut nekat, terlalu berani untuk disebut aman.

Ia memilih gudang tua di tepi sungai, tempat sinyal lemah dan kamera kota jarang menoleh. Umpannya sederhana: satu dead drop yang sengaja ia biarkan “tercium”, berisi potongan dokumen lama yang cukup menggelitik selera Prayuda, tapi tak cukup berbahaya bila jatuh.

Barata datang lebih awal. Mematikan lampu. Mengukur sudut. Menentukan jalur keluar. Ia tahu, kalau Prayuda mengirim orang, mereka akan datang diam-diam—dan itu justru yang ia inginkan.

Jam lewat. Udara lembap. Sungai berdesir pelan.

Langkah kaki terdengar.

Barata menahan napas. Bayangan bergerak di ambang pintu. Satu… dua… tiga orang. Terlatih. Tanpa suara. Ia tersenyum tipis—sesuai rencana.

Ia menyalakan pemicu cahaya, memaksa jarak. Bergerak cepat ke posisi tembak—

dan saat itulah ia menyadari kesalahannya.

Tidak ada yang mengejar dead drop.

Mereka menutup semua jalur keluar.

Dari sisi lain gudang, pintu besi menggeser pelan. Dari atap, bunyi logam halus—kait pengaman dilepas. Ini bukan tim pemburu. Ini tim penutup.

Barata berbalik. Terlambat setengah detik.

Gas menyebar tipis—tak berbau, tapi membuat dada berat. Ia memaksa diri bergerak, menahan napas, tapi lututnya melemah. Seseorang menghantam bahunya, menjatuhkannya ke lantai. Senjata terlepas, meluncur ke kegelapan.

“Jangan dibunuh,” suara dingin terdengar. “Perintah jelas.”

Barata tertawa lirih di antara batuk.

“Tentu,” katanya. “Aku masih berguna.”

Ikatan mengunci pergelangan tangannya. Penutup mata dipasang. Gudang berputar.

Di dalam mobil yang melaju, ponsel seseorang bergetar. Satu pesan singkat masuk—tanpa nama.

“Umpan tidak diperlukan. Target diambil.”

Jebakan Barata gagal karena satu hal yang ia remehkan:

Prayuda tidak datang untuk bukti. Ia datang untuk mengakhiri fase.

Ketika penutup mata dilepas, Barata berada di ruangan yang asing—bersih, sunyi, tanpa jendela. Di hadapannya, sebuah kursi kosong menunggu.

Barata menghembuskan napas panjang. Tidak marah. Tidak panik.

“Baik,” gumamnya pelan. “Giliranmu.”

Karena kegagalan ini bukan akhir.

Ini hanyalah bukti bahwa permainan sudah sampai pada titik di mana kesalahan kecil tak lagi diberi kesempatan kedua—dan satu-satunya jalan keluar adalah memaksa kebenaran muncul tanpa perantara.

.

.

.

BERSAMBUNG

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
ᴳᴿ🐅𝒊𝒏ᷢ𝒅ⷶ𝒊ⷮ𝒓ᷡ𝒂ⷶ🍒⃞⃟🦅
hehehe yo tarik aja biar simpulnya lepas kab trus benang kusit terurai kembali repot amat gntek mumet
ᴳᴿ🐅𝒊𝒏ᷢ𝒅ⷶ𝒊ⷮ𝒓ᷡ𝒂ⷶ🍒⃞⃟🦅
haoalh mumet asline tp yo wis lanjut wae lahh
ᴳᴿ🐅𝒊𝒏ᷢ𝒅ⷶ𝒊ⷮ𝒓ᷡ𝒂ⷶ🍒⃞⃟🦅
oalah
tp mboh aq asline mumet
ᴳᴿ🐅𝒊𝒏ᷢ𝒅ⷶ𝒊ⷮ𝒓ᷡ𝒂ⷶ🍒⃞⃟🦅
jd kok mlah rit gini yaa
ᴳᴿ🐅𝒊𝒏ᷢ𝒅ⷶ𝒊ⷮ𝒓ᷡ𝒂ⷶ🍒⃞⃟🦅
lho jadi barata blm mati trus di mana dia saat itu knp tiba2 hilang aja ku kira mati sudah
ᴳᴿ🐅𝒊𝒏ᷢ𝒅ⷶ𝒊ⷮ𝒓ᷡ𝒂ⷶ🍒⃞⃟🦅
ohh jd ini hanya ulah 1 orag nya
ᴳᴿ🐅𝒊𝒏ᷢ𝒅ⷶ𝒊ⷮ𝒓ᷡ𝒂ⷶ🍒⃞⃟🦅
jadi emang udah di atur sedemikan rupa ya
ᴳᴿ🐅𝒊𝒏ᷢ𝒅ⷶ𝒊ⷮ𝒓ᷡ𝒂ⷶ🍒⃞⃟🦅: ya itu inseden itu
total 2 replies
ᴳᴿ🐅𝒊𝒏ᷢ𝒅ⷶ𝒊ⷮ𝒓ᷡ𝒂ⷶ🍒⃞⃟🦅
kek udah di tata rapi ya kira2 siapa yg me jebak nya
ᴳᴿ🐅𝒊𝒏ᷢ𝒅ⷶ𝒊ⷮ𝒓ᷡ𝒂ⷶ🍒⃞⃟🦅
ohh jadi ini lah alasan barata marah3 mulu tp knp kanya sama barata bisa nikah ya
ᴳᴿ🐅𝒊𝒏ᷢ𝒅ⷶ𝒊ⷮ𝒓ᷡ𝒂ⷶ🍒⃞⃟🦅
jadi tes dna juga
ᴳᴿ🐅𝒊𝒏ᷢ𝒅ⷶ𝒊ⷮ𝒓ᷡ𝒂ⷶ🍒⃞⃟🦅
jadi ini benaeran anak rafa
venezuella
benang misteri ayah alya mulai terurai, siapa barata atau rafa?
kogoro mouri, siap beraksi memecahkan misteri 🧐
ᴳᴿ🐅𝒊𝒏ᷢ𝒅ⷶ𝒊ⷮ𝒓ᷡ𝒂ⷶ🍒⃞⃟🦅
jadi bisa saja wktu itu emang kanaya sama rafa ya kan bukan sm barata
kek nya dr situ jelas deh siapa ayah alya
ᴳᴿ🐅𝒊𝒏ᷢ𝒅ⷶ𝒊ⷮ𝒓ᷡ𝒂ⷶ🍒⃞⃟🦅
nahh yo knp g di tes dna aja sih biar tau gtu
ᴳᴿ🐅𝒊𝒏ᷢ𝒅ⷶ𝒊ⷮ𝒓ᷡ𝒂ⷶ🍒⃞⃟🦅: ish2 sllu gtu
total 2 replies
ᴳᴿ🐅𝒊𝒏ᷢ𝒅ⷶ𝒊ⷮ𝒓ᷡ𝒂ⷶ🍒⃞⃟🦅
jadi insiden apa itu hayoo
ᴳᴿ🐅𝒊𝒏ᷢ𝒅ⷶ𝒊ⷮ𝒓ᷡ𝒂ⷶ🍒⃞⃟🦅
jd blm tau ayah alya ya kira2 mengejutakn bukan faktanya
ᴳᴿ🐅𝒊𝒏ᷢ𝒅ⷶ𝒊ⷮ𝒓ᷡ𝒂ⷶ🍒⃞⃟🦅
jadi dia aman dr apa sih sebenarnya aq sebarny pusing lho
ᴳᴿ🐅𝒊𝒏ᷢ𝒅ⷶ𝒊ⷮ𝒓ᷡ𝒂ⷶ🍒⃞⃟🦅
kira2 semua terbingkar kapan ya
dan akan musnah semua musuh2 nya dan sebeneranya yg di buru apa coba
ᴳᴿ🐅𝒊𝒏ᷢ𝒅ⷶ𝒊ⷮ𝒓ᷡ𝒂ⷶ🍒⃞⃟🦅
jadi bertemu juga ya
ᴳᴿ🐅𝒊𝒏ᷢ𝒅ⷶ𝒊ⷮ𝒓ᷡ𝒂ⷶ🍒⃞⃟🦅
wow lantas rumah yg dlu di tempati bibi nya alias mamak angkatnya rafa kemana
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦✍️⃞⃟𝑹𝑨💫⃝ˢᶦ𝐂ɪᴘяᴜт: sabar, nanti akan terungkap semua
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!