Kelahiran Senja Putri Baskara bukanlah awal, melainkan akhir.
Awalnya, ia adalah janin yang dikandung ibunya, janin yang membawa badai-badai kehadirannya merenggut nyawa kakak laki-lakinya, Fajar Putra Baskara, menghancurkan bisnis keluarga, dan melenyapkan kebahagiaan sang ibu. Sejak hari pertama dirinya hadir, Senja adalah bayangan yang dicap sebagai pembawa sial.
Satu-satunya cahaya di hidupnya adalah sang ayah. Pria yang memanggilnya 'Putri' dan melindunginya dari tatapan tajam dunia. Namun, saat Senja beranjak dewasa, cahaya itu pun padam.
Ditinggalkan sendirian dengan beban masa lalu dan kebencian seorang ibu, Senja harus berjuang meyakinkan dunia (dan dirinya sendiri) bahwa ia pantas mendapatkan kebahagiaan.
Apakah hati yang terluka sedalam ini bisa menemukan pelabuhan terakhir, ataukah ia ditakdirkan untuk selamanya menjadi Anak pembawa sial? ataukah ia akan menemukan Pelabuhan Terakhir untuk menyembuhkan luka dan membawanya pada kebahagiaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
Damar berdiri di balkon kamarnya, menatap siluet kota Jakarta yang berkilauan. Pikirannya melayang pada sebuah laporan rahasia yang ia terima setelah satu tahun Paramita ditahan. Laporan tentang pembebasan bersyarat Paramita.
Seharusnya, Paramita masih mendekam di penjara untuk waktu yang lama akibat skandal dan kejahatan masa lalunya. Namun, uang dan koneksi adalah bahasa universal yang bisa membengkokkan jeruji besi. Paramita, meski hartanya banyak yang disita, ternyata masih memiliki simpanan rahasia di luar negeri. Ia membayar pengacara papan atas dan melakukan "negosiasi" mahal dengan oknum-oknum tertentu untuk memangkas masa hukumannya secara drastis.
Damar sebenarnya tahu. Sebagai pria dengan insting militer dan jaringan intelijen luas, ia bisa saja menjatuhkan Paramita lagi sebelum wanita itu melangkah keluar dari gerbang penjara. Namun, Damar memilih diam.
"Aku ingin memberinya satu kesempatan terakhir untuk menjadi manusia. Aku berharap penjara telah mencuci ambisinya yang beracun. Aku ingin dia sadar bahwa kedamaian Senja adalah garis merah yang tidak boleh ia lewati lagi." ya Batin Damar saat itu berniat untuk memberikan satu kali kesempatan untuk ibu mertuanya.
Namun, harapan Damar ternyata terlalu optimis. Begitu bebas, Paramita yang sudah mulai jatuh miskin segera menghubungi "teman lama" seorang kolektor seni sekaligus miliarder eksentrik di Eropa bernama Marcus Valerio. Marcus dulu pernah sangat memuja Paramita, dan wanita itu menggunakan pesonanya sekali lagi untuk meminta bantuan.
Dengan modal dari Marcus, Paramita membangun kembali kerajaan seninya di luar negeri, tepatnya di Florence, Italia. Ia tidak lagi menggunakan namanya sendiri di awal, namun kejeniusannya dalam memanipulasi pasar seni membuatnya bangkit dengan sangat cepat. Dalam waktu singkat, ia kembali sukses dan disegani di galeri-galeri internasional.
Tapi, sukses saja tidak cukup bagi Paramita. Ia merasa "mahakarya" terbesarnya, yaitu Senja, telah direbut darinya. Dan ketika ia mendengar kabar tentang kejeniusan luar biasa dari cucu kembar tiganya, ambisinya yang mati suri mendadak berkobar kembali.
...flashback on...
Momen krusial itu terjadi saat Tiga Cahaya berusia dua tahun. Damar dan Senja sedang merayakan ulang tahun kecil-kecilan yang privat. Saat itulah, sebuah paket misterius tiba. Bukan berisi mainan, melainkan sebuah kontrak perwalian dan surat ancaman halus yang menyatakan bahwa Paramita akan mengambil alih pendidikan anak-anak tersebut.
Itulah saat pertama kali Paramita mencoba menyetir si kembar secara jarak jauh. Ia mengirimkan guru-guru "pilihan" yang menyamar sebagai pelamar kerja di rumah Saputra, mencoba menyusupkan kurikulum ambisinya ke dalam rumah tangga Damar.
Senja hampir hancur saat mengetahui ibunya sudah bebas dan mulai mengintai anak-anaknya. Namun, Damar berdiri tegak di depan istrinya.
"Dia boleh punya uang Marcus Valerio, Senja. Tapi dia tidak punya cinta yang kita miliki. Aku akan memastikan setiap langkahnya menuju anak-anak kita akan berakhir di jalan buntu," janji Damar saat itu.
...flashback off...
Kembali ke masa sekarang, ketegangan itu tidak pernah benar-benar hilang. Meskipun Paramita berada di luar negeri, bayangannya tetap ada.
Damar mengetahui bahwa Paramita sering mengirimkan mata-mata digital untuk memantau perkembangan IQ si kembar. Itulah sebabnya Damar memperketat keamanan siber di rumah mereka, yang kemudian justru menjadi tempat latihan bagi Binar untuk belajar tentang keamanan sistem.
"Papa tahu Nenek Paramita masih melihat kita, kan?" tanya Cahaya Surya suatu hari saat mereka sedang duduk di taman.
Damar tertegun. Cahaya, di usianya yang masih sangat muda, memiliki intuisi yang tajam. "Kenapa Cahaya berpikir begitu?"
"Karena setiap kali ada burung gagak yang hinggap di pagar, Mama selalu terlihat sedih. Papa bilang gagak itu burung yang pintar, tapi bagi Mama, itu seperti mata yang mengawasi," jawab Cahaya polos namun menusuk.
Damar menyadari bahwa membiarkan Paramita bebas mungkin adalah kesalahan atau mungkin juga sebuah ujian. Namun satu hal yang pasti Paramita kini bukan lagi wanita tua yang putus asa. Dengan dukungan dana dari grup Valerio, ia menjadi ancaman nyata yang lebih besar dari sebelumnya.
Damar menatap Senja yang sedang tertidur lelap. Ia mengusap rambut istrinya. "Aku membiarkannya bebas dengan harapan dia sadar. Tapi jika dia memilih untuk kembali menjadi badai, maka dia akan menghadapi Jenderal yang tidak akan memberikan ampunan untuk kedua kalinya."
Sementara itu, di sebuah kantor mewah di Florence, Paramita menyesap wine-nya sambil menatap foto si kembar tiga yang sudah tumbuh besar. "Kalian adalah masa depanku. Senja mungkin gagal menjadi mahakaryaku, tapi kalian... kalian akan menjadi penguasa dunia di bawah arahanku."
Gak suka lah/Cry/